PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 9 : ANGGI


__ADS_3

Waktu jam pelajaran sudah habis sekitar 30 menit yang lalu. Para siswa dan siswi tentunya sudah beranjak pergi dari sekolah, kini sekolah mulai sepi.


Vallen and the genk menunggu kedatangan Alana dan Anggi sudah cukup lama di privat room yang hanya bisa di masuk oleh Vallen. Dan yang di tunggu kini belum juga datang. Vallen mulai kesal, karena ia sudah cukup sabar menunggu mereka berdua.


Sebenarnya Vallen hanya ingin memberi pelajaran pada Alana sedikit, agar murid baru itu tahu seberapa berpengaruh dirinya di sekolah ini.


"Arghh... Kenapa murid baru sama si upik abu gak datang juga! Bener cari masalah dia sama gue, liat aja nanti, gue bakal bikin dia kek si upik abu!" Ujar Vallen dengan marah.


"Kurang ajar banget tuh murid baru, berani permainin kita." Ujar Siska. Sedangkan Tirisha dan Alin hanya mengangguk setuju.


Sedangkan di sisi lain Alana sudah dalam perjalanan bersama Barra. Kyra? Ia tidak ikut pulang bareng karena sudah ada janji dengan teman temannya. Alana melirik Barra yang sedang fokus mengemudi, Barra tampak cool dengan ekspresi wajah yang serius.


Flashback on


"*Alana ayo, gue gak mau kena masalah lagi sama mereka. Tolong ayo ikutin gue nyamperin mereka!" Anggi sudah merasa sedikit kesal, karena Alana bersikeras tidak mau melakukan perintah Vallen tadi.


"Aku emang anak baru dan aku belum tahu apa apa tentang sekolah. Tapi satu hal yang pasti, aku tahu ketakutan kamu dan aku ngeliat seberapa tertekannya kamu. Jadi plisss jangan terlalu nurut sama mereka, kalo ada sesuatu terjadi sama kamu, biar aku yang tanggung jawab."


" Plisss Al, gue gak mau lo terlibat sama gue. Gue yakin lo bukan orang sembarangan gak kaya upik abu ini. Jadi tolong biarin gue lulus dari sekolah ini, gue gak mau dia ngeluarin gue dari sini."


Anggi memang sering diancam oleh Vallen, ia takut kalau nantinya harus di keluarkan di tengah jalan. Anggi berharap sekali bisa lulus dari sekolah ini dan mendapatkan prestasi untuk bekal nya nanti saat kuliah. Jadi Anggi mau tidak mau mengikuti apa yang di kata Vallen.


"Anggi tenang ya... Percaya sama aku, gak bakal ada yang terjadi lagi sama kamu. Aku gak akan biarin itu, jadi sekarang kamu pulang. Jangan pernah sedikit pun buat nyamperin mereka, besok kalo mereka datang lagi ke kamu biar aku yang samperin." Ujar Alana dengan yakin.


Alana sangat tidak tega melihat keadaan Anggi yang tidak seperti ini. Ia yakin gadis itu mempunyai banyak masalah yang menimpa dirinya. Saat Alana dan Anggi ke kantin, banyak sekali murid murid yang memandang dia dengan ekspresi yang tidak enak. Alana salut, Anggi masih bisa belajar dengan tekun dalam keadaan yang tidak baik baik saja saat di sekolah*.


Flashback off


"Emm— Bar, aku boleh nanya gak?" Alana tampak ragu akan menanyakan sesuatu pada Barra, namun rasa penasaran yang tinggi membuat Alana terpaksa berbicara.


Barra melirik dan mengangguk. "Apa?"


"Sebenarnya Anggi siapa? Dan apa yang terjadi padanya? Kenapa dia selalu menunduk dan ketakutan gitu? Bahkan tadi aku sempet cekcok sama dia, karena aku gak mau ketemu sama Vallen. Malah dia bilang 'Kalau aku gak mau punya masalah aku harus nurut apa yang di katakan Vallen'. Aku jadi penasaran, Bar."


Barra menghelas nafas, mendengar serbuan pertanyaan dari Alana." Satu satu kalo nanya"


"Ya maaf, kan itu yang ada di pikiran aku. Kalo satu satu keburu lupa." Alana memilin baju bagian bawahnya, ia takut sekaligus terpesona akan tatapan dingin Barra.

__ADS_1


"Murid Di sekolah kita itu mandang kasta dan Anggi anak beasiswa, orang tuanya buruh. Dia sering di bully gak ada yang mau nemenin, bahkan duduk sebangku aja gak ada yang mau. Kalo Vallen itu anak dari donatur terbesar di sekolah, jadi dia seenaknya di sekolah. " Jelas Barra dengan cepat.


Alana memang sudah tahu tentang Vallen dari teman temannya kalau dia itu pacar Barra, namun ia sedikit terkejut. Bahwa pacar Barra pembully ia sedikit terkejut.


Alana mengerutkan kedua alisnya, ia berusaha mencerna Apa yang di jelaskan oleh Barra. Laki laki itu emang nyebelin.


Dia ngerap? Cepet banget.


" Berarti dia pinter dong anak beasiswa, kenapa harus di bully? Emang si Vallen anak yang pintar? Ehh—bentar berarti kamu juga ikut bully dia dong? "


" Vallen itu menang di harta doang, kalo otak nya yang gitu lah. Ya kali gue bully cewek."


"Uang orang tua aja dia bisa sampe segitu nya, apalagi uang sendi—


Alana merasa seperti ada yang janggal, ia menyadari kalo ini bukan jalan menuju rumah. Alana meicingkan matanya menatap Barra. Yang di tatap sepertinya menyadari dengan tatap aneh itu.


" Kenapa lo?! Kesambet?! Biasa aja kali liatnya."


Alana terus menelisik Manik hitam milik Barra. "Ini bukan jalan ke rumah loh, sebenernya kita mau kemana? Awas jangan macem macem loh sama aku, nanti aku aduin kamu ke mama sama papa"


Barra terkekeh mendengar celotehan Alana tadi. "Gue mau bawa lo ke hotel" Ujar Barra dengan nada yang bercanda.


"HEH! Aku belum siap ngasih hak kamu sekarang, aku masih pingin sekolah, aku pingin kuliah. Aku gak mau kuliah punya anak, plisss jangan ke hotel. Pliss aku tahu kamu suami aku tapi jangan sekarang lah, tunggu aku 5 tahun, baru aku siap janji deh." Barra terkekeh melihat ekspresi ketakutan Alana, ia sangat menggemaskan.


" Mikir lo terlalu kejauhan, Al. Gue juga mana mau punya anak sekarang, masa depan gue masih panjang dongo. Gue mau ajak lo ke markas, soalnya gue udah janji sama mereka. "


Alana mengembuskan nafas gusar, ia tenang setelah mendengar itu. Barra bener bener ngeselin banget siii.


" Kamu ya bener bener ngeselin, awas aja nanti aku bisa lebih ngeselin dari pada kamu."


Setelah beberapa menit dalam perjalanan mereka akhirnya sampai di markas yang biasa Barra and friends kunjungi. Di dalam sana sudah terlihat kalau mereka sudah berkumpul, Biasa lah kumpulan para jomblo kalo gabut main barbie.


" Wiii... Akhirnya ada bidadari yang masuk markas kita coy. Sini masuk cantik" Ujar Gilang yang mendapatkan pelototan dari Barra.


"Sini sini Al masuk. Gue denger denger lo sekelas sama Barra & Elang ya? Kalo tau gitu gue mending pilih ips 1 dari pada ips 2." Ujar Virgan


"Wow! Pepet terus mamang kasep." Ledek Gilang.

__ADS_1


Alana terkekeh melihat keduanya, memang Gilang dan Virgan itu kelakuannya 11 12. Tapi Alana melihat ada perbedaan dari penampilan Gilang sekarang, ia terlihat lebih fresh dan ganteng.


"Gilang, kamu baru potong rambut ya? Pantes keliatan lebih ganteng." Puji Alana membuat Gilang salah tingkah.


Gilang menyipitkan matanya dan tersenyum geli pada Alana, pasalnya ia baru pertama kali di puji oleh bidadari seperti Alana.



"Ahh Alana bisa aja. Gue tahu gue ganteng jadi gak usah di sebutin gue malu." Semuanya pada bergidik ngeri melihat ekspresi macam itu, mereka semua geli mendengarnya.


"Yaelah Al, lu malah muji dia. Liat itu, dia kek orang mabok, sekalinya di puji terbang langsung ke kayangan." Ujar Virgan.


Suasana di markas memang seperti ini selalu hangat dan ramai. Solid mereka tidak perlu di ragukan lagi, 1 jatuh semuanya menertawakan, itulah budaya indonesia yang paling keren.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...*Tidak semua orang kalangan bawah itu rendah, mereka pasti memiliki kelebihannya tersendiri. Entah dari kemampuan atau hal lainnya, jadi tidak usah merendahkan siapapun dan tidak usah melihat orang dari kastanya. Kita semua sama di mata Tuhan ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


**Gilang : Thor, banyak banyakan lah adegan Alana muji gue. Gue kan jadi seneng gini, 7 hari 7 malam gue gak bisa tidur gara gara di puji sama bidadari.


Virgan : Aelah, lebay amat lu.


Elang : Baru pertama kali di puji cewek ya?


Barra : Kasian amat, gue sih udah bosen di puji gitu


Gilang : Iya iya lah lu pada emang cakep dan gue jelek. Ampun suhuuu


Author : Gue mau sih banyakan adegan Alana sama lu Gil. Tapi kalo di liat liat gue lebih kasian sama Alana kalo dia harus bohong terus. KABORRRR 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


Virgan : HAHAHAHAHAHA


Barra : hahahahaha


Elang : haha

__ADS_1


Gilang : Ini author bener bener ye lu, nanti gue minta ganti author tau rasa lu.


Jangan lupa ninggalin jejak ya bestie, luvyu 💋**


__ADS_2