
Anggi terlihat panik saat melihat Tirisha menghampiri Alana, gadis itu menguping percakapan Tirisha dan Alana. Ternyata Tirisha meminta tolong untuk menolong kucing kecil yang terluka, padahal kucing tidak bisa masuk ke gudang belakang, karena benteng yang menjulang tinggi, jadi itu mustahil jika kucing kecil bisa melewati benteng itu.
Anggi dengan diam diam mengikuti keduanya, ia terkejut saat sampai gudang. Gadis itu Melihat beberapa lelaki bersembunyi di balik meja dan juga ia melihat Vallen disana.
Anggi dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menyimpan nya di sudut jendela yang tidak akan terlihat dari dalam. Anggi merekam semua kejadian yang ada di dalam sana.
Dan tanpa pikir panjang Anggi pergi berlari mencari Barra, nafas Anggi terengah engah, karena Barra tidak di temukan di mana pun.
Anggi kemudian berlari menuju toilet lelaki, gadis itu berharap Barra ada disana.
Dug.
Saat akan belok ke lorong selanjutnya Anggi menabrak dada bidang milik seseorang. “Ahh maaf maaf.” Ujar Anggi, lalu menengok ke lelaki di depannya.
Ekspresi wajahnya seketika berubah, melihat lelaki di hadapannya ternyata Barra orang yang ia cari. Anggi bernafas lega melihat Barra di depannya.
“Gi, lo kenapa kek panik gitu?” Tanya Barra santai.
“Barra! Cepet lo ke gudang belakang. Alana—Alana di jebak sama Vallen di sana, gue juga liat ada beberapa osis cowok yang sembunyi di belakang meja.”
“ CEPET LO KESANA BUKANNYA CENGO KEK GITU!” Bentak Anggi.
Awalnya Barra menganggap Anggi hanya becanda, karena raut wajahnya terlihat becanda. Namun ia sadar ini betulan, saat Anggi membentak dan wajahnya berubah seketika.
“ Ishhh! Sialan! “ Umpat Barra.
Lalu pemuda itu berlari dengan cepat, karena jarak toilet cowok dan gudang belakang lumayan jauh. Hati Barra begitu khawatir, tidak tenang, saat Anggi mengatakan ada osis disana. Dan Barra pikir pasti ada Dion si pembuat onar.
Saat sudah sampai, tanpa pikir panjang Barra langsung menendang pintu gudang dan langsung menyerang Dion yang sudah melakukan ancang ancang menyerang Alana. Barra menendang dengan tendangan yang cukup kuat.
“Lo pengecut, ANJ!” Barra terus menerus menyerang Dion tanpa ampun.
Barra puas menghajar Dion hingga pemuda itu sudah tidak berdaya. Barra berdiri dan membalikkan badannya menatap para lelaki yang tadi akan mengeroyok Alana.
“Maju lo semua!!!” Ujar Barra dengan tegas namun santai.
Barra menatap satu per satu orang yang ada disana dan sudah beberapa waktu tidak ada juga yang berani maju, mereka hanya diam di tempat dengan kepala yang menunduk.
Karena kesabarannya sudah habis, Barra berjalan mendekat pada 10 orang yang ada di depannya, termasuk Vallen.
Bugh
__ADS_1
Bugh
Bugh
Barra menonjok wajah satu per satu osis yang sudah kasar pada Alana. Dan yang terakhir Vallen, pemuda itu memandang Vallen dengan tajam, seperti pandangan yang menusuk masuk ke dalam kornea.
“Untung lo cewek, kalo nggak lo habis kek si Dion!” Ujar Barra tepat di telinga Vallen.
Barra lalu menghampiri Alana yang berdiri dengan tenang di sisi sana. Barra mengecek tiap jengkal, tiap inci tubuh Alana, ia takut jika ada luka atau memar yang terdapat di tubuh Alana.
“ Lo gak papa kan? “Tanya Barra khawatir.
Alana tersenyum dan menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dirinya baik baik saja.
“ Ada yang sakit gak?” Tanya Barra memastikan sekali lagi.
Alana menepuk pundak Barra dan menatapnya.” Aku gak papa ko aman. Kamu kan datangnya cepet, jadi semuanya aman terkendali.”
Kekhawatiran Barra berkurang dan emosinya sudah mulai terkendali. Barra lalu menghampiri Dion yang terduduk lemas di sisi sana, lalu menyeretnya dan melemparkannya pada teman teman Dion yang masih berdiri di tempatnya.
Di sisi lain Anggi masih berada di balik jendela dan terus menerus merekam kejadian di dalam sana.
“Sekali lagi kalian ganggu Alana, gue jamin akan ngebalas 2 kali lipat dari apa yang kalian perbuat!”
“GUE GAK MAIN MAIN SAMA ANCAMAN GUE! LIAT AJA, GUE BAKAL INGET MUKA DAN NAMA KALIAN SEUMUR HIDUP GUE!” Peringatan Barra.
Pemuda itu lalu berjalan mendekat pada Vallen. Barra menatap Vallen dengan tajam, lalu mendekat kan wajahnya pada telinga Vallen.
“Lo jangan berharap bisa misahin gue dan Alana, karena kita berdua gak akan bisa di pisahin. Alana adalah istri gue.” Bisik Barra yang sontak membuat Vallen tercengang, terkejut dan tidak percaya.
“A—apa?!” Vallen benar benar terkejut.
Alana penasaran, apa yang di bisik kan Barra pada Vallen, hingga membuat wanita itu terkejut seperti itu.
Barra lalu menghampiri Alana dan menggandeng Alana untuk pergi meninggalkan gudang yang berisi orang orang kotor itu.
Saat di luar gudang, Alana terkejut melihat Anggi disana. Anggi berlari memeluk Alana dengan bahagia.
“Al, lo gak papa kan?” Ujar Anggi di dalam pelukan Alana.
Alana melepaskan Pelukan Anggi. “Aku gak papa, kok kamu bisa tahu aku di sini sih?” Tanya Alana penasaran.
__ADS_1
“Ceritanya panjang, Al. Pokonya aku seneng, kamu baik baik aja.” Ujar Anggi kegirangan.
“Intinya, kalo Anggi gak kasih tahu aku, mungkin aku gak tahu kalo kamu ada di sini. Dia yang sebenarnya udah nyelamatin kamu, Al.” Ujar Barra.
Alana dan Anggi terkejut, tumben banget Barra bicara dengan embel embel aku—kamu.
Seketika Alana merasa senang, karena Barra tidak lagi bicara lo—gue pada dirinya. Perkataan tadi Sangat terdengar manis di telinga Alana.
“Ehem... Aku — kamu gak tuh.” Ledek Anggi.
Tidak mengindahkan perkataan Anggi, Barra lalu menarik lengan Alana dan membawanya ke parkiran. “Lo gak akan ikut, Nggi? Tadinya gue mau traktir lo ke Cafe, tapi kek nya lo gak mau, ya udah gue sama Alana duluan. Bye.” Ujar Barra.
“Yeeuu... Lo nawarin aja belum, Tapir!”Alana terkekeh mendengar percakapan mereka. Lalu Anggi mengikuti Barra dan Alana di belakangnya.
Ketiganya kini berjalan menuju mobil Barra dan pergi menuju cafe sesuai ajakan Barra tadi.
Sampai di cafe, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Tidak tanggung tanggung, Anggi memesan 3 makanan dan 3 minuman sekaligus. Gadis itu menganggap ini setimpal dengan perbuatan nya tadi.
“Gila! Kecil kecil gitu, lo makannya banyak juga, Nggi.” Ujar Barra.
“Eits jangan salah, bahkan perut gue masih bisa nampung 2 menu lagi, hahahah. Maklumin aja, tadi gue cape lari larian ke setiap sudut sekolah Cuma buat cari lo. Jadi gak usah protes deh, berisik.” Cakap Anggi.
“Udah, udah, Ish. Btw, makasii yang kamu udah nyelametin aku tadi, Nggi. Buat Barra juga makasii ya.” Ucap Alana dengan begitu lembut, membuat hati Barra begitu tenang mendengar suara Alana.
"Santai aja kali."
Tidak lama makanan pun datang, mereka mulai melahap makanan yang sudah menggugah seleranya.
"Ehh ehh, gue punya rekaman gudang tadi. Gimana kalo kita laporin, biar tradisi hilang dan kepala sekolah di tuntut gara gara terlalu mementingkan uang dari pada kebenaran." Ujar Anggi.
Uhuk
Uhuk
Perkataan itu membuat Alana dan Barra tersedak. Tidak percaya, kalau Anggi mempunyai rencana yang sama dengan mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE
__ADS_1