PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 26 : TERBUKA


__ADS_3

"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Al? Aku gak maksa tapi dari mata kamu, kamu kayak gelisah banget. Santai aku bakal nunggu sampe kamu siap cerita."


Alana sudah terlalu lama diam dan bergelut dengan pikirannya. Alana mengerjap, lagi lagi membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Sebelum berbicara, Alana menyeruput minuman matcha yang masih tersisa.


Kemudian Alana menyenderkan punggungnya dan siap bercerita. Alana menghadap pada Elang dengan begitu santai, begitu pun dengan Elang yang sudah siap akan mendengarkan racauan Alana.


"Sebenarnya aku bingung harus bersikap seperti apa, jika ada seseorang yang merendahkan bahkan menghina ku. Apalagi posisi ku sekarang yang sudah tidak punya siapa siapa. Aku takut, kalo aku bertindak semauku, takut nantinya malah menyeret om Damar dan Tante Agatha dalam masalah ku ini." Alana memang belum terbiasa manyebut mama dan papa pada Damar dan Agatha, masih merasa asing menurutnya.


Elang masih belum mengerti apa maksud dan tujuan dengan perkataan Alana tersebut. Tapi Elang tidak berani juga untuk mempertanyakan lebih jelas pada Alana, ia menunggu perkataan selanjutnya yang akan di lontarkan oleh Alana.


"Aku bisa lawan, aku bisa buat Vallen buat gak bully aku lagi. Malahan aku berhasil buat Vallen gak ganggu Anggi, tapi aku bingung dia selalu membawa Ayahnya dalam masalah kita. Aku cuma gak mau kalo Om Damar & Tante Agatha terseret, aku gak mau ngecewain mereka, Elang."


Akhirnya Elang mengerti, sebenarnya permasalahannya hanya pada rasa tidak ingin mengecewakan. Sehingga membuat Alana lemah dan diam saja. Elang menarik kursinya untuk mendekat pada Alana.


" Menurut ku kalo kamu ngelawan pun dan benar mereka terseret, mereka akan bangga akan keberanian kamu. Kalo pun mereka tahu kamu diperlakukan seperti itu oleh Vallen dan kamu diem aja, mereka pasti merasa bersalah karena gak jaga kamu. Mereka pun pasti ngerti, kamu hanya membela diri."


Elang menatap Alana dengan lekat menjeda beberapa detik untuk meneruskan perkataannya. " Kamu tenang aja, aku pasti akan selalu bantu kamu, Al."


Pikiran Alana terbuka saat mendengarkan saran dari Elang tadi. Perkataannya memang benar, dia melawan karena dia benar bukan salah. Ia melawan karena membela diri, bukan karena ia sok jadi jagoan.


" Kamu benar, Lang. Makasih, kamu udah buka pikiranku. Aku akan jadi diri aku sendiri, sesuai nasihat Ayah dulu. Sekarang aku hanya bisa memegang prinsip dan nasihat yang Ayah berikan padaku."


Tutur kata dan tatapan Elang seakan akan mampu menghipnotis setiap orang yang bersamanya. Pemuda itu sangat lembut dan tulus, beruntung sekali jodoh ya nanti mendapatkan paket lengkap dari seorang Elang.


"Lain kali jangan sungkan sungkan sama aku, Al. Santai aja. Pulang yuk, keburu malem nanti kamu di cariin lagi." Ajak Elang

__ADS_1


Alana mengangguk dan membereskan barang barangnya ke dalam tas. Mereka bersiap untuk pulang karena langit sudah hampir gelap. Mereka melenggangkan kakinya meninggalkan cafe tersebut. Dan mereka pulang ke rumah masing masing, Alana lebi memilih menaiki ojek online di banding di antar oleh Elang.


Di sisi lain Barra merasa khawatir ketika dirinya pulang, namun tidak menemukan Alana di mana pun. Barra ingin menanyakan pada orang rumah namun gengsinya terlalu gede. Barra mengalihkan pikirannya pada game, namun tetap saja yang ada di pikirannya itu Alana.


Ehh bentar, kok gue jadi kepikiran gini sih sama Alana. Gak mungkin gue suka sama dia, gak mungkin itu. Pernikahan ini pun terpaksa di lakukan, lagian dia juga anggap gue temen bukan suami. Ahh dah lah.


Barra berjalan menuju dapur, perut nya mulai berisik sekarang. Karena semenjak pulang dari markas, ia tidak mengisi perutnya. Barra melihat lihat setiap isi rak, berharap ada makanan, namun nihil tetap saja ia harus memasak.


Kebetulan sekarang jadwalnya mbak libur, jadi tidak ada yang masak di rumah. Barra meraih mie instan, telur dan susu, Barra akan membuat mie carbonara. Barra tengah asyik meracik makanan kesukaannya, tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


Barra melihat tangan mungil yang melingkar di perutnya, ia mengenal tangan ini. Saat Barra akan menyikirkan tangan itu dan melepaskan pelukan. Pemilik tangan malah mengeratkan.


"Biarin seperti ini sebentar aja, Al. Cuma kamu yang bisa aku peluk sekarang." Ucap Alana.


Barra mengerutkan kedua alisnya, tanpa sadar ia mengulas senyum. Namun, kenapa jantungnya kini berdegup dengan kencang tidak seperti biasanya.


"Apaan lo mau meluk gue sejam atau berjam jam pun gue tetep biasa aja kali." Ucap Barra gengsi.


"Mau sampe kapan meluk gue, ini mie gue mateng keburu lembek ini." Sebenarnya itu hanya alasan saja.


Alana melepaskan pelukannya dan mengendus ngendus aroma mie yang menggoda. Barra menjauhkan mie instan nya dari pandangan Alana, kemudian berjalan ke meja makan.


" Kalo mau lo bikin aja sendiri, jangan punya gue." Alana mendengus, karena mie yang di masak Barra sepertinya enak dan itu bukan mie instan yang biasa.


"Bikinin dong, aku cuma bisa masak mie yang biasa, aku pengennya kayak Kamu."

__ADS_1


"Apaan sih, bikin aja sendiri, perut gue udah keroncongan dari tadi." Ujar Barra, ia mengalihkan pandangannya pada mie carbonara di hadapannya. Yang sudah terlihat sangat menggiurkan dan siap di santap.


"Barra... Mau..."


"Bikin sendiri ahh sana."


"Barra... Mauuuu" mimik wajah Alana semakin memelas, gadis itu sangat menginginkan mie carbonara milik Barra.


Barra melirik ke samping, ia melihat Alana yang begitu memelas. Barra menghela nafas pelan, belum ia menyuapkan mienya. Namun Barra menggeser kan piring itu mendekat pada Alana.


"Nih makan, kasian gue takut lu menciut karna gak makan." Barra akhirnya mengalah, ia pun tidak tega melihat Alana seperti orang kelaparan.


"Aaaaa makasiiiii Barraaaaa." Ujar Alana dengan antusias dan langsung menyantap mie yang sedari tadi menggodanya.


Barra tersenyum kemudian berdiri untuk membuat mie carbonara yang baru. Dengan berat hati, lemas, lemah, lesu, ia pergi ke dapur. Barra kemudian mengambil kembali mie instan, telur dan susu yang ada di rak. Dengan keterpaksaan ia harus membuat yang baru dan demi menunjukan citra laki laki sejati, yeah.


Ish enak banget si jadi cewek. Masa si gue harus cosplay jadi betina biar di turutin apa ke mauan gue. Batin Barra


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...*Bukan karena masalah sepele, tapi karena kekecewaan yang mungkin besar. Aku hanya tidak mau di kata sebagai gadis yang tak tahu diri, karena datang ke keluarga orang dan hanya bisa membuat masalah di dalamnya. ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SEPERTI BIASA BESTIE JANGAN LUPA NINGGALIN JEJAK YA. HAPPY KIYOWO*

__ADS_1



__ADS_2