PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 56 : MESUM


__ADS_3

Pemuda itu membulatkan matanya terkejut, tiba tiba Alana memeluk dirinya. Jantung kini berdegup kencang, hatinya kini berbunga bunga.


"Makasi udah bawa aku kesini, makasi Barraaaaa. Aku seneng bangetttt." Ujar Alana di dalam pelukan Barra dengan kegirangan.


Pelukkan itu berlangsung cukup lama, karena Barra tidak mau melepaskan Alana di momen yang langka ini. Alana tentunya berontak ingin keluar dari Pelukkan Barra, tadinya ia memeluk Barra sebagai tanda terimakasih, tapi lelaki ini malah nhelunjak dan tak mau melepaskan dirinya.


"Barra! Lepasin aku, ihh." Berontak Alana seraya memukul mukul bahu Barra.


Pemuda itu malah meraih tengkuk Alana dan menatapnya lekat. Namun satu tangannya lagi tetap menahan pinggang Alana, agar gadis itu tidak lepas dari pelukannya.


"Gak mau, aku gak mau lepasin kamu." Ujar Barra.


Tiba tiba pemuda itu mendekatkan wajahnya perlahan, matanya sedari tadi memandang bibir ranum milik Alana.


Gadis itu memejamkan matanya dan dalam pikirannya berkecamuk beberapa pertanyaan dan kekhawatiran.


Jarak wajah mereka kini sudah hampir setengah jengkal, sudah sangat dekat. Barra mendekat dan terus mendekatkan wajahnya pada Alana.


Tiba tiba Alana menggeleng kan kepalanya dengan cepat dan mendorong dada bidang milik Barra.


Barra terpental jauh, wajahnya terlihat kebingungan sekaligus malu. "Al, kamu kenapa?" Tanya Barra.


Alana menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jangan macem macem kamu! Aku gak mau, aku takut, aku takut hamil. Aku masih pengen sekolah, masih pengen kejar cita cita aku. Awas ya kalo kamu berani kayak tadi lagi, Barra!" Bentak Alana.


Barra mendengar itu sontak tertawa kencang, benar benar lugu sekali Alana. Alana benar benar polos bahkan sangat polos. Masa bisa hamil cuma karena di cium? Konyol sekali.


"Apa? Hamil? Masa dicium doang bisa hamil sih?" Barra tertawa kecil.


"****** aku tuh bukan di mulut. Tapi disini." Ujar Barra seraya matanya menunjukkan 'miliknya' yang ada dibawah dengan usil.


Mendengar itu Alana membulatkan matanya. "Iiiii... Barra mesum!" Alana langsung lari menjauh dari Barra.


"Alanaaaa, tunggu. Aku sekarang janji gak akan kaya tadi lagi!" Teriak Barra yang berusaha menghentikan Alana dan benar saja gadis itu langsung menghentikan kakinya dan membalikkan badannya.


"Janji ya? Gak akan kaya gitu lagi? Aku masih kecil tahu!" Balas Alana dengan berteriak.


Mendengar itu Barra mengeluarkan smirknya dan berlari menuju Alana. Barra langsung menggenggam tangan Alana ketika sudah berada disampingnya.


"Janji ya jangan kaya gitu lagi?" Tanya Alana sekali lagi seraya mengeluarkan kelingkingnya pertanda janji.


Barra terkekeh. "Iya janji." Lalu Barra menautkan kelingkingnya pada milik Alana.


"Awas aja kalo ingkar." Ancam Alana.


"Ya... Kalo ingkar tinggal janji lagi. Hahha"

__ADS_1


"ISH! NYEBELINNNNN!" Alana memukul mukul bahu Barra beberapa kali dengan kesal.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Semakin malam tempat wisata ini semakin ramai. Walau jauh dari kota, wisata ini tetap menjadi favorit bagi si pecinta laut.


Kini Barra dan Alana sedang menjajal kuliner yang ada disana. Walaupun mereka sudah memakan beberapa makanan tadi, tapi rasanya masih kurang jika belum memakan sushi. Sepertinya perut mereka terbuat dari karet.


Saat akan menuju kedai sushi, tiba tiba ada sebuah bola yang menggeling kearah Barra dan ada seorang anak kecil yang berlari mengejar bolanya, anak kecil itu sungguh terlihat sangat menggemaskan.


Barra mengambil bolanya dan menghampiri anak kecil itu.


"Makacih, om." Ucap anak kecil itu.


"Sama sama. Kamu ko sendiri? Ayah sama ibu kamu kemana?" Tanya Barra yang sudah mensejajarkan tingginya dengan anak kecil itu.


"Bunda sama Papa ada kok. Meleka lagi makan." Anak kecil itu memalingkan matanya dan menatap Alana yang berdiri dibelakang Barra.


Tiba tiba anak kecil itu mendekatkan wajah ke telinga Barra.


"Om, Om, pelempuan itu siapa? Kok cantik banget cih." Bisik anak kecil itu tepat di telinga Barra.


Barra tersenyum mendengarkan dan bergantian kali ini Barra yang berbisik.


"Hei, kalian Bisik Bisik apa sih? Aku jadi penasaran." Timpal Alana seraya mensejajari tinggi dengan anak kecil itu.


"Ngga! Itu lahasia kita bedua ya, Om."


Barra sungguh benar benar gemas pada anak kecil yang pintar ini. Rasanya ingin sekali membawanya pulang.


"Farelllll." Tiba tiba ada seseorang yang memanggil.


"Ahh, Bunda manggil. Aku kesana dulu ya, Om, Tante."


"Dadah, Bidadali." Pamit anak kecil itu seraya mencolek genit dagu Alana. Anak kecil itu langsung berlari jauh menuju Ibunya.


Alana membulatkan matanya dan tersenyum seraya memegang dagu yang di colek anak kecil tadi.


"Ish kurang aja, kecil kecil udah genit sama istri orang." Gerutu Barra.


"Ish, udah ahh ayo. Keburu malem pulangnya." Alana langsung menarik Barra menuju kedai sushi dan setelah itu langsung pulang.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Jalanan begitu sepi, karena sekarang sudah pukul 10 malam. Apalagi sepanjang jalan penuh dengan pepohonan yang rindang dan tinggi, menambah rasa ketakutan.

__ADS_1


Alana sedari tadi terus mengoceh dan menutup matanya, karena ia tidak kuat untuk melihat jalanan yang menurutnya angker.


"Barraaaaa, aku takut." Rengek Alana.


"Jangan takut, kan ada aku. Lagian tadi siapa coba yang nolak buat nginep di hotel sana? Kamu, kan."


"Iya, tapi kanβ€” ah udah lah, masih lama ini ke jalan rayanya?"


"Ngga, udah deket kok."


Barra menambah kecepatan mobil nya, ia pun tidak tega melihat Alana yang ketakutan seperti itu. Barra tahu, Alana mempunyai trauma akan kegelapan. Entah, trauma atau apa yang pasti gadis itu tidak bisa berada di kegelapan.


Brak!


Tiba tiba dari belakang ada sebuah mobil yang menabrak mobil Barra. Alana yang sedang diam menutup matanya, langsung terpental dan kepalanya terbentur pada dashboard mobil.


"Aww!" Pekik Alana kesakitan.


Mendengar itu, Barra langsung menghentikan mobilnya. Namun, mobil yang menabraknya tadi langsung melaju cepat melewati Barra.


Ahh, mereka masih berada dijalan yang sepi. Barra menepikkan mobilnya dan segera mengecek keadaan Alana.


"Alana! Kamu gak papa?" Barra mengecek kepala Alana dan ia terkejut. Kening Alana mengeluarkan darah.


"Al, berdarah!"


Dengan cepat Barra meraih tissu dan menggelap Darah Alana yang mengucur. Benturan Alana sepertinya cukup keras, Barra pun tadi hampir saja terbentur kepalanya. namun untung saja kening ya terhalang oleh tangan yang berada di kemudi.


Barra panik, ia membersihkan darah Alana dengan telaten.


"Sshh... Sakit, pelan pelan, Bar." Ringis Alana.


"Sorry, Sorry. Darah kamu harus cepet di bersihin, kalo nggak nanti infeksi."


"Ahh, sial. Aku gak bawa kotak p3k lagi. Dasar tuh orang main nabrak nabrak aja, kamu jadi kesakitan gini kan." Barra terus mengobati Alana, walaupun seadanya.


Alana hanya diam, menyenderkan badannya pada jok kursi. Karena kepalanya kini mulai terasa pening sekali dan matanya mulai kabur.


"Sshhh..." Alana terus meringis kesakitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE


__ADS_1


__ADS_2