PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 40 : MAMA


__ADS_3

"Abang! Plis kalo mau pake barang Kyra tuh, mbok ya ijin dulu toh. Jangan langsung pake gitu aja nyebelin! sini cepet balikin." Kyra langsung menyambat laptop miliknya yang sedari tadi di pakai oleh Barra untuk membuat makalah.


"Ya elah cuma laptop doang. Kemarin siapa coba yang jatohin laptop Abang dari lantai 2? Pecah pula." Ujar Barra.


"Orang gak sengaja. kan kemarin Abang juga udah maafin, Kyra, masa di ungkit lagi sih." Sungut Kyra.


Keduanya kini sedang berada di ruang tamu, karena Barra mengerjakan makalah nya di sana agar sekalian makan malam bersama. Alana, Damar dan Agatha hanya menonton kegaduhan kakak beradik itu.


Untung saja Barra sudah mengirim makalah itu ke ponselnya, jadi tidak perlu lagi meminjam laptop pada Kyra.


"Udah udah... Besok Abang kan mau beli laptop baru. Lagian Kyra, Abang cuma pinjam sebentar masa gak boleh sih, sayang. Udah ya sekarang udah malem dan kalian mending pergi ke kamar masing masing aja." Ujar Agatha menengahi.


"Bukan masalah di pinjemnya mah, tapi masalah izinnya. Mama kan tahu Kyra paling gak suka orang yang minjem barang Kyra tanpa izin sebelumnya." Kyra terus bersikeras agar tidak di salahkan dan tidak di bilang pelit.


Kyra langsung melengos pergi meninggalkan semua yang ada di ruang tamu.


Memang benar gadis itu paling tidak suka jika ada yang meminjam barangnya namun tidak izin terlebih dahulu, serasa tidak menghargai pemiliknya.


Alana melihat raut kesal di wajah Kyra dan bergegas menyusul Kyra ke kamarnya. "Ma, Pa, Al, mau nyusul Kyra ke kamar ya." Izin Alana dan mendapatkan anggukkan dari keduanya.


Setelah Kyra menghilang dari pandangannya, Barra pun pergi ke kamarnya. "Ma, Pa, Barra mau ke kamar ya. Good night." Pemuda itu meninggalkan orang tuanya yang masih duduk bersandar di sofa.


Ahh iya, Agatha baru inget ada beberapa pertanyaan dan nasihat yang akan di sampaikan pada Barra. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menghampiri anak bujangnya itu.


Agatha pun sama pamit pada Damar,lalu melengos menyusul anak lelakinya ke kamar di lantai atas. Dari pada sendirian di ruang tamu, Damar memilih masuk ke kamarnya untuk istirahat, lagi pula besok ada meeting pagi.


Tok... Tok... Tok...


Agatha mengetuk pintu kamar Barra dan tidak perlu menunggu waktu yang lama pintu itu pun terbuka. "Mama? Ada apa?" Tanya Barra.


"Kok nanya sih? Emang gak boleh ya kalo mama masuk ke kamar anak bujang Mama ini."

__ADS_1


"Ya boleh, tapi tumben aja mama kesini." Barra lalu mempersilahkan Agatha masuk ke kamarnya dan duduk di sofa yang ada di balkon.


Agatha duduk bersebelahan dengan Barra. Sudah menjadi peraturan, jika ada orang tua yang masuk kamar, berarti ada sesuatu yang akan di sampaikan. Maka dari itu ponsel dan segala apa pun yang berbau digital harus di simpan dan tidak boleh dekat dengan pemiliknya, itu lah adab yang baik.


"Sekolah kamu gimana, Bang? Lancar lancar aja kan? Sebentar lagi uas lho." Tanya Aghata.


"Lancar kok, Ma."


"Kalo Alana gimana?"


"Sama kok, lancar lancar aja." Sebenarnya Barra bingung akan jawaban yang ia berikan pada Agatha. Itu termasuk berbohong atau tidak?


Pasalnya, di sekolah sedang tidak baik baik saja bagi Alana. Tapi gadis itu bisa mengatasi masalahnya sendiri dengan baik. Ahh sudah lah yang penting Alana baik baik aja. Pikir Barra.


Agatha masih bingung bagaimana mengawali pembicaraan dengan Barra, sedari tadi ia hanya basa basi.


"Ka—kalo hubungan kamu sama Alana gimana? Mama perhatiin Abang masih cuek cuek aja sama Alana, dia kan istri kamu, bang." Kalimat itu membuat Barra sedikit tersentak.


Kenapa mama bilang gitu sih?! Bingung kan gue jawab nya. Batin Barra.


Agatha memperhatikan raut wajah Barra yang kebingungan dan ia pun mengerti.


"Kalo kamu emang gak punya perasaan sama Alana, ya udah gak papa. Kalo emang kamu gak bakal punya perasaan sama Alana, biar mama cabut pernikahan kalian, toh belum ada yang tahu tentang hubungan kalian juga kan?"


"Kemarin, Mama liat Alana seneng banget waktu jalan sama Elang. Kayaknya Elang punya perasaan deh sama Alana. Mama yakin kalo Alana juga sama, namun karena status pernikahan kalian, dia tetap menjaga hatinya untuk kamu."


"Ma—


Barra mencoba memotong pembicaraan Agatha, namun Agatha tidak memberikan kesempatan untuknya berbicara.


"Mama sama Papa sudah sepakat kok, kalo kamu gak punya perasaan pada Alana. Pernikahan kalian cukup sampai sini saja, kamu tinggal ucap talak selesai deh pernikahan kalian."

__ADS_1


"Mama kasian sama Alana, gak ada yang perhatian padanya. Mama tahu, di umur Alana dia butuh seseorang yang bisa di jadikannya sahabat, teman, pacar, suami, bahkan Ayah. Tenang aja walaupun kalian sudah tidak menjadi suami istri, Alana tetap di sini kok, menjadi anak mama dan mama akan masukan dia ke kartu keluarga kita." Cakap Agatha panjang lebar.


Entah apa yang di rencanakan Agatha sampai sampai mengucapkan hal seperti itu pada putranya. Tentu saja Barra terkejut mendengar perkataan yang Mamanya lontarkan.


" Ko—kok gitu sih, Ma? Emang perceraian segampang itu? Cinta dan sayang itu akan tumbuh seiring waktu. Emang Barra belum cinta sama Alana sekarang, tapi masa depan siapa yang tahu, Ma." Ujar Barra.


Agatha terkekeh mendengar perkataan Barra. Tanpa di sadari cinta itu sudah tumbuh di hati Barra, namun karena gengsi pemuda itu enggan mengakuinya.


Itu lah tujuan awal Agatha mengatakan hal itu, memang sedikit sensitif, namun perlu dilakukan agar mengetahui isi hati anaknya. Sekarang Agatha tidak perlu khawatir, karena Barra pasti menjaga Alana dengan setulus hati, bukan karena rasa tanggung jawabnya pada Anton.


Agatha merasa gemas pada Barra, lelaki itu gengsinya cukup tinggi. Padahal jika di perhatikan matanya saat Barra menatap Alana, cukup jelas apa yang ada di hatinya.


"Iya iya, Mama tahu kok. Ya udah kalo gitu Mama mau ke kamar dulu ya." Pamit Agatha.


"Udah? Cuma mau ngomong itu? Bener bener, mama pasti gabut ya."


"Mama, tiba tiba ngantuk, sebel liat anak bujang mama gengsi nya ke gedean,gak mau mengakui. Bye, good night." Ujar Agatha seraya terkekeh.


Agatha lalu pergi meninggalkan Barra. Agatha masih terkekeh mengingat perkataan Barra tadi. Benar benar gengsi itu mengalahkan segalanya termasuk hati.


Gengsi? Tidak mau mengakui? Sebenarnya apa yang Mama maksud? Batin Barra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Haiii bestie 👋🏻


Makasii ya atas dukungannya untuk karya ku ini 🤗


Luvyu 😘


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO

__ADS_1




__ADS_2