PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 58: RAWAT


__ADS_3

Alana tidak bisa diam dengan tenang, ia terus mondar mandir kesana kemari.


Gadis itu pun sama khawatirnya seperti Barra. Tidak bisa di pungkiri, Alana menganggap Virgan sebagai sahabat.


Virgan selalu membantunya dan selalu perhatian pada dirinya.


Alana sudah beberapa kali menelpon Barra namun tidak ada jawaban dari lelaki itu. Alana pun sama menghubungi Elang, namun ponsel Elang tidak aktif.


Gilang? Ahh, gadia itu tidak mempunyai nomor ponsel Gilang.


“Kak, coba duduk dulu. Kak Virgan pasti baik baik aja kok.” Ucap Kyra yang berusaha menenangkan Alana.


Alana tidak menurut. “Gak bisa, Kyra. Aku terlalu khawatir sama Virgan dan juga Barra. Apalagi tadi waktu Barra pergi raut wajahnya tampak khawatir dan marah.” Jelas Alana.


Kyra menghela nafas pelan.


“Kakak percaya deh sama Kyra. Kak Barra tuh bukan orang yang sembrono melakukan hal apapun. Kak Barra pasti baik baik aja dan juga kak Virgan pun pasti baik baik aja.”


“Mending sekarang Kakak tidur deh, udah malem banget ini. Kalo kak Barra tahu, bisa bisa Kyra yang di amuk.”


Rayu Kyra dengan suara yang mampu menenangkan.


Akhirnya Alana menurut dan ia pun naik ke atas kasur dan berbaring di samping Kyra, walau matanya masih enggan untuk menutup.


***


Pagi ini Virgan masih belum sadarkan diri, matanya masih tertutup dan terbaring tidak sadarkan diri di atas brankar.


Semalaman Elang dan Gilang bergantian menjaga Virgan. Kini bagian Elang yang tidur di sofa dan Gilang duduk di samping Virgan.


“Gan, lo cepet bangun napa. Gue bosen banget sama si es batu itu, gak bisa di ajak ngobrol apalagi becanda. Garing banget sumpah ngobrol sama dia.”


“Ayo bangun, kita ledekin lagi si Barra sama si Alana. Pasangan suami istri yang gak tahu umur. Udah tahu masih sekolah, udah nikah aja dia.”


“Ehh, lo penasaran gak sih? Barra sama Alana udah itu-an belum ya?”


Gilang terus saja bergumam, berharap temanya itu mendengarkan perkataannya.


Dengan telaten Gilang menyeka tangan, kaki dan juga tubuh Virgan. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, ia menghiraukan tentang sekolahnya.


Toh, sekarang sekolah sedang kacau karena kasus kemarin, jadi tak apa lah jika bolos beberapa hari ini.


Mata Gilang terasa sangat berat, ia mengerjapkan beberapa kali matanya agar tidak menutup sempurna.


Gilang menahan agar dirinya tidak tertidur.


Tangan menggegam tangan Virgan dengan erat.

__ADS_1


Namun, apa daya ia tidak bisa menahan rasa kantuknya itu.


Akhirnya kepala Gilang bertumpu di samping tubuh Virgan dengan tangan yang masih menggegam tangan Virgan.


Gilang terlelap tanpa sadar.


Kini Gilang dan Elang tertidur di ruangan itu. Keduanya terlelap.


Beberapa saat dirinya tertidur, tiba tiba Gilang merasakan sesuatu yang mengusap ngusap kepalanya.


Perlahan ia mengangkat kepalanya, berharap seseorang yang mengusap kepalanya adalah Virgan.


Gilang memutar bola matanya malas, ternyata itu adalah tangan Barra.


“Ish! Ngapain sih lo.” Gilang menepis tangan Barra dari kepalanya.


“Santai, Bro. Di kepala lo tuh ada kutu, jadi gue ambil.” Alasan Barra.


Elang yang mendengar keributan pun bangun dari tidurnya dan menghampiri sahabat sahabatnya.


“Gimana, Bar? Ada hasilnya?” Tanya Elang to the point.


Gilang menautkan kedua alisnya dan menoleh bergantian pada Elang dan Barra.


“Hasil apaan?” Tanya Gilang penasaran.


Barra mendaratkan bokongnya di kursi sebrang Gilang. “Anak kecil gak perlu tahu.” Balas Barra.


“Sutt! Gak etis banget ribut di tempat kek gini.” Timpal Elang.


Orang tua dan sanak saudara Virgan tidak ada yang datang satupun. Ketika di hubungi pun mereka hanya bicara.


“Tolong rawat Virgan, ya. Om dan Tante masih ada urusan mendesak. Untuk biaya rumah sakit biar Tante kirim uangnya. Terimakasih sudah mau merawat anak, Tante.”


Begitulah kira kira percakapan Elang dengan Orang tua Virgan.


Lawak ga si? orang tua macam kek gitu.


Pemuda itu rasanya ingin sekali memarahi dan berkata kasar pada orang tua yang selalu mementingkan perkerjaannya. Bahkan kesehatan anaknya pun nomor kesekian dalam kamus hidup mereka.


“Gue udah lacak plat nomor mobil itu dan gue rasa ada sesuatu yang ganjal.” Jelas Barra.


Tentu saja penjelasan Barra yang singkat itu membuat jiwa penasaran Elang dan Gilang meronta ronta.


“Kalo ngomong tuh terusin! Jangan setengah setengah, Budi.” Protes Gilang.


“Bisa gak jangan berisik?! Ini rumah sakit, Jamal.”

__ADS_1


Gilang menoleh dan matanya seketika membola. Raut wajahnya dengan cepat berubah.


“Aaa, Virgan. Akhirnya lo bangun. Sia sia kemarin gue ngerangkai kata kata turut berduka cita.” Lantur Gilang dan langsung Virgan refleks.


Plak.


“Lo kalo ngomong gak pernah pake bismillah dulu.” Virgan menggeplak kepala Gilang.


Walaupun kaki dan badannya terasa sakit, namun badannya tidak terasa lemas. Walalupun kenyataanya tidak seperti itu, ia hanya ingin teman temannya tidak begitu khawatir pada dirinya.


Barra dan Elang hanya bisa tersenyum senang, melihat Virgan Virgan yang terlihat baik baik saja.


“Gimana badan lo? Aman kah buat 3 ronde?” Celetuk Barra.


“Aman, aman.” Balas Virgan seraya mengangguk nganggukan kepala.


Sementara Elang, pria itu tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Virgan dan Virgan memaklumi itu.


Dasar si es batu yang gengsinya selangit!


***


Setelah mendapat izin dari Barra, akhirnya Alana dan Kyra menjenguk Virgan ke rumah sakit.


Kyra dan Alana di antar ileh supir pribadi. Jadi, keduanya tiba di rumah sakit lebih cepat.


Tanpa menunggu lama lagi mereka langsung ke ruangan Virgan dengan sekeranjang buah-buahan dan beberapa cemilan.


Ceklek.


Pintu ruangan terbuka begitu saja saat Alana akan meraih gagang pintu.


Alana terkejut saat mendapati wajah Elang di balik pintu. Perasaan canggung keduanya dapat di rasakan oleh Kyra.


Keduanya terdiam tanpa kata. Yang satu mentapa lekat pada objek di hadapannya dan yang satu lagi menunduk antara rasa malu dan rasa bersalah.


“Hai, Kak Elang. Udah lama banget Kyra gak ketemu kakak.” Ujar Kyra memecah kecanggungan.


Gadis itu melambaikan tangan dan menyapa dengan begitu riang.


Elang hanya tersenyum getir. “Langsung masuk aja, Barra udah nunggu. Gue duluan.” Elang langsung melengos pergi dari tempatnya.


Alana dan Kyra pun sama, keduanya langsung masuk.


Baru beberapa langkah dari ruangan itu, Elang refleks menoleh ke belakang dan menatap gadis bersurai panjang yang baru saja ia temui.


Cantik.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE 💜


__ADS_2