PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 68: IZIN


__ADS_3

Alana sempat terkejut melihat ketiga lelaki itu. "Ehh ada kalian. Sejak kapan disini?" Tanyanya.


"Baru sampe, Al." Sahut Virgan.


"Alana sini." Suruh Barra.


Alana dengan nurut menghampiri Barra.


"Al, aku mau mimi dong, boleh?" Tanya Barra dengan segala kejahilannya dengan raut wajah yang menyebalkan seraya menatap ketiga sahabatnya.


Virgan dan Gilang yang mendengar itu seketika membelalakan matanya terkejut. Mulutnya terbuka lebar, saling beradu pandang, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Wah, gila,"


Alana menatap Virgan dan Elang bingung. Padahal Barra hanya meminta susu, apa harus selebay itu reaksinya?


"Kok kalian berdua kaget sih? Emang ada yang salah sama permintaan Barra?" Tanya Alana polos. Sedangkan Elang hanya diam saja tidak ikut nimbrung dan sibuk bermain ponsel.


Seketika ledakan tawa mengisi kamar Barra. Berisik. Virgan dan Gilang benar benar tertawa keras melihat ekspresi Alana yang begitu polos.


"Polos banget sih lo, Al." ucap Gilang dengan tawa yang belum berhenti.


"Bisa bisanya udah nikah gak ngerti maksud Barra,"


"Emang maksud permintaan Barra apa? Dia kan cuma minta sus---


Alana menghentikan kalimatnya, otaknya sudah bekerja sekarang. Seketika gadis itu menoleh pada Bara yang cengengesan di ranjang, lalu mendekat.


"Barra! Otak kamu kotor Ish!" Alana refleks menoyor jidat Barra lumayan kencang, tidak peduli cowok itu sedang sakit. Alana memberengut, marah. Gadis itu meninggalkan kamar Barra dengan tergesa.


Ia tidak mau berlama lama dikamar ini, bisa bisa otak sucinya ternodai jika terus bersama mereka.


Barra memegang kepalanya, sungguh toyoran Alana kencang dan membuat kepalanya pusing kembali. Padahal beberapa menit yang lalu dirinya sudah membaik.


"Yah... Sukurin. Senjata makan tuan tuh namanya. Niat nya mau manasin malah dianya sendiri yang kena batunya. Makanya lo jangan dzolim sama jomblo, pamali" ujar Gilang yang puas akan apa yang dilakukan oleh Alana.


"Yah, gak jadi sembuh. Sakit kepala lagi kan jadinya, makanya jangan banyak tingkah lo," cibir Virgan gantian.


Si kulkas akhirnya tertawa meski kecil, tapi tak apa, yang penting Elang tersenyum.


***


Teman teman Barra sudah pulang sekitar 10 menit yang lalu. Sekarang sudah petang. Mereka merasa tersindir karena Barra beberapa kali menoleh ke arah jam dinding.

__ADS_1


Memang kurang ajar, itu sama saja seperti mengusir secara perlahan. Beberapa kali menoleh ke jam dinding, bukankah itu sama saja seperti mengusir?


Padahal Gilang enggan meninggalkan rumah Barra karena banyak makanan lezat disana.


Barra berguling guling di kasur, ponselnya ia genggam. Benar benar bosan seharian di kamar. Walaupun teman temannya datang menjenguk, tetap saja kalau tidak keluar rumah cowok itu tetap bosan.


Barra mengubah posisinya menjadi duduk dan berpikir sejenak. Cowok itu berpikir apa yang akan ia lakukan di sore yang cerah ini.


Tiba tiba ada sesuatu yang mampir di otaknya.


“Jam segini, Alana pasti lagi diruang lukisnya,” Barra tersyum, lalu beranjak dari kasurnya untuk bergabung dengan Alana jika benar gadis itu sedang melukis.


Barra melangkah dengan santai menuju ruangan yang ada di ujung lorong lantai dua. Eits, Barra menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Kyra. Lalu memegang knop pintu dan membukanya.


Barra menyembulkan wajahnya di pintu unutk melihat apa yang sedang Kyra lakukan.


“Sstt, lagi nonton apa?” tanya Barra.


Kyra menoleh dan menjawab datar. “Lagi nonton drama korea. Sana jangan ganggu,” balas Kyra.


“Yeh, sewot amat. Cuma nanya doang,”


Saat itu juga Barra mematikan lampu kamar Kyra dan tidak menutup kembali pintu kamar. Barra malah lari melanjutkan tujuan awalnya.


“Abang! Kurang kerjaan banget, nyebelin!” amuk Kyra. Gadis itu lalu beranjak dari ranjang dengan memberengut kesal dan membanting pintu lalu menutupnya. Moodnya sudah jelek sekarang.


Barra malah cekikikan senang.


Ruang kecil di ujung sana sengaja diberikan pada Alana untuk melukis, karena itu hobinya. Barra mengintip kecil dari celah jendela dan benar saja, Alana sedang melukis disana.


Manik hitam milik Barra melihat lukisan indah di sebuah kanvas dengan ukuran cukup besar. Sangat indah, pemandangan yang menakjubkan. Senja memang selalu memberikan kesan berbeda.


Barra mengetuk kecil pintu itu dan berkata. “Alana, boleh masuk gak?” izin Barra.


Alana menoleh dan tersenyum lalu mengangguk. Tanpa lama lama, Barra masuk menghampiri Alana.


“Wow, keren. Lukisan kamu emang gak pernah gagal,” puji Barra. “Tapi, pemandangan ini kayak gak asing,” terka Barra.


“Iya, gak asing. Karena aku lukis kampung halaman aku, cantik kan?”


“Ohh, cantik banget. Kamu lagi kangen rumah?” tanya Barra.


Alana mengangguk. “Iya, aku kangen banget. Udah lama banget sejak kepergian Ayah, aku gak kesana,”

__ADS_1


Barra mengangguk ngangguk. Barra berpikir sejenak. “ Gimana kalau akhir pekan ini kita kesana? Sekalian aku pengen ke pantai. Itung itung liburan,” usul Barra yang mengundang binar di mata Alana. Gadis itu seketika menoleh girang pada Barra.


“Beneran?” Barra mengangguk.


“Janji yah?”


“Iya Janji, nanti aku izin sama Papa, Mama. Mereka pasti bolehin kok, tenang aja,” Alana refleks memeluk Barra erat.


Barra membalas pelukan Alana dan mengusap pundak kepala Alana. Barra sadar, selama ini yang didapatkan oleh Alana hanyalah masalah dan beban baru yang harus gadis itu pikul.


Jadi, tidak ada salahnya mengajaknya pulang. Alana gadis yang kuat, gadis yang mampu bertahan dengan segala luka yang ia toreh.


***


Makan malam sudah selesai, masing masing orang yang ada di meja makan berangsur pergi menuju kamar masing masing.


Tapi, Barra tidak menuju kamarnya, ia malah pergi ke kamar orang tuanya. Barra sudah janji pada Alana. Semoga saja orang tuanya mengizinkan.


Barra mengetuk pintu pelan, lalu membukanya perlahan.


“Ada apa? Tumben,” tanya Athena.


Barra tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih. “ Barra mau izin,” ucap Barra lalu masuk ke dalam kamar orang tuanya. Lalu duduk di tepi ranjang dengan kaki dilipat.


“Ha? Izin kemana?” tanya Damar.


“Akhir akhir ini, barra sering lihat Alana lukis kampung halamannya. Gak jarang juga Barra lihat Alana nangis di depan lukisannya. jadi, Barra mau izin akhir pekan ini Barra mau ajak Alana ke rumahnya, boleh?”


Athena tersenyum. lalu menghampiri Barra di ranjang dan duduk disampignya.


“Boleh, kalau emang itu yang Alana mau. Papa sama Mama gak akan larang kok, selagi kamu jaga Alana dan tidak terjadi sesuatu yang nggak nggak, kenapa tidak?”


Mata Barra berbinar, lalu memeluk Athena erat. “Makasih, Ma,”


Damar hanya tersenyum di meja kerjanya melihat Barra yang begitu senang.


“Nanti Papa akan tambahkan uang sakunya, jadi kalian bisa puas travelling disana. Kemana pun bebas, tapi ingat kamu harus jaga Alana dengan benar ya?”


Seketika Barra beranjak dari tempatnya dan menghampiri sang Ayah lalu memeluknya. “Makasih, Pah. Barra janji akan jaga Alana dan pulang tanpa ada lecet sedikit pun,”


Setelah itu, Barra keluar dari kamar orang tuanya dengan perasaan bahagia. damar dan Athena tersenyum melihat putra sulungnya seperti itu.


“Yes, gue bakal liburan bareng Alana!” ucapnya girang.

__ADS_1


__ADS_2