PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 28 : BAHAYA


__ADS_3

"Ehh anjrit! Burung gue panas bego! MAMAKKKKK" Teriak Gilang kepanasan.


Semua pengunjung kantin otomatis menoleh pada sumber suara yang berisik itu. Mereka tertawa melihat Gilang yang jingkrak jingkrak kepanasan, celana nya pun basah tepat di bagian burung Gilang.


Baru saja mangkuk bakso di sajikan di meja oleh mang bakso yang otomatis masih panas. Namun, karena tingkah Virgan yang sering di luar dugaan, ia tidak sengaja menyenggol bakso milik Gilang dan jatuh tepat di tengah tengah nya.


"Aaaa sorry gue sengaj—ehh anjrit gak sengaja, Lang, seriusan." Ujar Virgan yang panik ia dengan cepat mengambil beberapa tisu dan mengelap celana Gilang yang basah.


"Lo kalo ngelap pinggirnya aja bego jangan sama burung gue lo lap juga. Kalo bangun lu mau tanggung jawab apa?!"


"Sorry sorry namanya juga panik, Anjrit" Ujar Virgan.


"Kalo gitu mau gue siram pake air es?" Tanya Elang.


"Atau mau gue kompres burung lu pake es?" Tanya Barra.


Elang dan Barra tampak biasa saja, tidak ada reaksi apapun melihat temannya seperti itu. Mereka hanya membantu Virgan mengambilkan tissu di atas meja. Dan dengan santai nya melihat Virgan dan Gilang yang sedang sibuk dan kesakitan.


" Mamak... Masa depan anakmu telah di hancurkan oleh Virgan."


Tak!


Virgan spontan menjitak kepala Gilang, hanya karena tidak sengaja menumpahkan kuah bakso panas pada celana Gilang. Bukan berarti Virgan sudah menghancurkan masa depan Gilang, di tiup pun panas nya sudah hilang. Emang lembek Gilang ni.


" Apa sih lu! Lebay amat. Bentar lagi juga panas nya ilang. Ayok gue anter ke toilet, ada celana cadangan di loker gue, lo bisa pake itu." Ujar Virgan.


"Kenapa lu baru bilang sekarang, Tapir! Gue kira bakal sampe pulang pake celana basah kek gini. Cepetan bopong gue."


Dengan terpaksa dan rasa bersalah, Virgan akhirnya membopong Gilang menuju toilet. Elang dan Barra hanya memberi semangat dan ucapan bela sungkawa, tanpa adanya tawaran untuk membantu.


Karena Gilang dan Virgan sudah paham akan sifat mereka berdua, kini mereka pergi hanya berdua meninggalkan 2 pria kulkas 32 pintu itu di kantin.


Saat Gilang dan Virgan sudah menghilang dari pandangan, tiba tiba seseorang menghampiri meja Barra dan Elang.


"Haii Barra." Vallen tiba tiba menghampiri Barra seorang diri, dengan tersenyum dan melambaikan tangan tanda menyapa Barra.


Barra menoleh pada gadis itu, ia memutar bola matanya malas. Tanpa ada niat membalas sapaan Vallen, Barra malah menoleh pada Elang.


" Lang, gue duluan ya ke kelasnya." Elang hanya mengangguk mempersilakan Barra pergi seorang diri. Elang tanggung makanannya belum habis, mubadzir kalau di tinggalkan.


Barra beranjak dari tempatnya. Dengan rasa kesal Vallen mengikuti Barra di sampingnya. Vallen bicara beberapa kali namun tidak di dengar oleh Barra. Barra hanya menganggapnya angin lalu.


"Barra... Plisss maafin aku. Aku bener khilaf, Bar, aku gak bermaksud selingkuh kok dari kamu. Aku bener bener sayang sama kamu Bar. Pliss terima aku lagi..." Mohon Vallen seraya bergelayutan di lengan Barra dan memasang wajah memelas.

__ADS_1


Barra menyingkirkan tangan Vallen dengan kasar." Kalo selingkuh ya selingkuh. Emang lu selingkuh dalam keadaan tidur apa?! Lo sadar 100%, Val. Udah mulai sekarang lo jangan ganggu gue lagi, ngerti!" Ujar Barra dengan tegas dan tatapan yang tajam.


Barra mempercepat pergerakannya, ia berjalan dengan cepat meninggalkan Vallen di belakang. Vallen sangat terlihat marah dan kesal sekali, tangannya mengepal keras.


Gue pastiin lo bakal balik lagi sama gue, Bar. Gue akan kejar lo sampe kapanpun dan gue gak akan biarin siapapun deket sama lo. Batin Vallen.


Saat Barra sudah dekat kelas, ia melihat Alana sedang berbicara dengan seorang siswa. Melihat ekspresi Alana, Barra sedikit curiga. Ekspresi yang tidak bisa di terjemahkan. Barra lalu mendekat menghampiri Alana, namun laki laki itu pergi melengos meninggalkan kelas Alana.


Barra pikir mereka hanya ngobrol biasa saja, jadi tidak perlu ada yang di khawatir kan. Barra kemudian masuk kelas dan duduk di bangku nya seraya memainkan ponsel. Bel istirahat sudah berbunyi dan Elang pun sudah ke kembali ke kelas.


Alana melamun dan berkutat dengan pikirannya, entah apa yang di pikirkan. Gadis itu hanya diam dan bersedekap dada.


...📍📍📍📍📍📍📍📍...


Hari ini adalah jadwal ekskul, sebagian para murid sudah berkumpul dengan pelatih pelatih mereka. Ada ekskul dance, basket, futsal, dan karate. Sekolah kini ramai dan berisik karena dentuman musik dari ekskul dance dan teriakan teriakan ciwi ciwi dari ekskul olahraga.


Namun, Alana memilih baca buku di perpustakaan, tentu saja perpus sepi di waktu ekskul, yang datang pun bisa di hitung jari.


Alana sudah membaca buku sekitar 30 menit yang lalu, ia membaca buku sejarah. Sejarah adalah pelajaran kesukaannya, karena menurutnya masa lalu memang tidak boleh di lupakan, masa lalu ada untuk di kenang.


Alana menengok kanan, kiri, depan dan belakang, gadis itu merasa ada yang memperhatikannya sedari tadi. Perasaan Alana tidak enak dengan cepat ia mengembalikan buku sejarah pada tempatnya dan pergi dari perpus.


Alana melangkahkan kaki dengan cepat, ia berlari kecil. Sungguh perasaannya sekarang tidak enak, seperti ada mata elang yang tajam sedang melihat ke arahnya.


Ish siapa sih yang ngikutin, Barraaaaa.


Alana memberontak namun laki laki di belakangnya menahan tangan dan badannya sekuat tenaga.


"Aaaa lepasin aku—


Belum selesai Alana menyelesaikan perkataannya, gadis itu sudah lemas perlahan matanya tertutup, Alana lemas tidak sadarkan diri.


Sayangnya lorong menuju perpus ini kerap kali sepi, jarang para murid yang melewati lorong ini.


Laki laki itu menggendong Alana, membawanya ke gudang belakang. Laki laki menyeringai melihat gadis cantik ini ada dalam dekapannya.


"Gue gak akan biarin orang lain milikin lo, Al." Laki laki itu menampakkan seringai miring.


Saat sudah sampai di gudang laki laki itu mendudukan Alana di pojokkan dengan mengikat tangannya ke belakang dan mulut yang di tutup oleh solatip berwarna besar hitam.


Laki laki itu menepuk nepuk pipi Alana agar gadis itu bangun. "Alana... Sayang bangun, sekarang waktunya kita bermain main sayang"


Alana membuka perlahan matanya, tubuhnya terasa sangat lemas. Gadis itu merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Alana membulatkan matanya lebar, ia ingin berteriak sekencang mungkin tapi mulutnya di tutup rapat oleh solatip.

__ADS_1


"Hari ini kau jadi milikku sayang. Kau tidak mengabaikan ku ataupun meninggalkan ku dan aku pastikan semua orang tidak akan ada yang memilikimu sayang." Ujar Gery, ia membelai lembut pipi Alana.


Alana memberontak dan berteriak sekuat tenaga berharap ada yang mendengarnya. Tubuh Alana bergetar hebat, ia takut akan tatapan Gery. Air mata Alana kini mulai mengalir deras di pipinya.


"Memohon lah padaku sayang dan berjanji untuk tidak meninggalkan ku. Kalau begitu aku akan melepaskan kamu." Gery membuka solatip itu dari mulutnya Alana.


Alana mengerutkan kedua alisnya menatap tajam manik hitam milik Gery.


"Jangan berharap aku akan mengatakan itu padamu! Melihat mukamu saja aku tidak sudi!"


Plak!


Satu tamparan bebas mendarat di pipi Alana. Alana merasakan kebas dan panas, namun Alana tetap menatap tajam Gery.


"Kau tidak boleh mengatakan itu sayang, aku sangat sangat mencintai mu. Kau harus menjadi milikku, kalo pun aku tidak bisa memilikimu. Aku akan membuat orang orang jijik memandangmu." Gery menangkup kedua pipi Alana dengan keras.


"AAAAAAAA TOLONGGGG TOLONGGGG!" Teriak Alana sangat kencang berharap ada yang mendengarnya.


Plak!


Lagi lagi Alana mendapatkan tamparan, namun kali ini di pipi bagian kiri. "Berisik! Tidak akan ada yang mendengarmu sayang. Di sini hanya ada kita berdua, semesta mendukung kita sayang." Gery membelai pipi Alana yang kebas dengan lembut.


"DENGARKAN AKU SAYANG, HARI INI KAU JADI MILIKKU SEUTUHNYA!"


Gery Membelai pipi Alana dengan lembut kemudian beralih ke leher. Alana tidak bisa melakukan apapun, tangan dan kakinya di ikat dengan kencang.


Srek!


Gery merobek baju atas Alana hingga kancing kedua terpental jauh. Gery menyeringai merasa kan kemenangan.


"Tolong henti kan. TOLONGGGG AAAAAAA" Teriak Alana sekali lagi dengan sekencang mungkin.


BUG!


Seorang laki laki menendang tubuh Gery hingga terpental jauh. Alana memejamkan matanya dengan airmata yang terus mengalir dengan deras.


Alana mengerjap terkejut saat melihat Gery di tendang dan terpental jauh, gadis itu tersenyum saat melihat seseorang yang di depannya. Laki laki menghajar Gery habis habisan, pemuda itu membabi buta saat melihat kondisi Alana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menurut kalian yang seperti itu cinta atau obsesi?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


JANGAN LUPA NINGGALIN JEJAK BESTIE, HAPPY KIYOWO



__ADS_2