PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 36 : PASAR MALAM


__ADS_3

Langit yang semula cerah dengan awan awan yang berwarna putih bersih, kini perlahan mulai berubah. Langit seakan memberi tanda bahwa matahari akan segera pamit.


Barra dan Alana masih saja berdiam diri di rooftoop, menikmati semilir angin yang di rasa sejuk dan tenang.


Selama beberapa waktu keduanya tidak ada interaksi sedikit pun, keduanya saling berkutat dengan pikirannya masing masing.


Dalam pikiran Alana di penuhi dengan kerinduan pada sang Ayah, sedangkan Barra berpikir bagaimana cara menjaga Alana.


"Al, mulai besok lo gak boleh pergi sendiri. Lo harus selalu di sisi gue gak ada pengecualian." Ujar Barra dengan tegas


Alana menautkan alisnya. Tumben banget Barra bilang kayak gitu, bukannya dia selalu anti dekat dekat dengan Alana ketika di sekolah? Kesamber petir bagian mana nih anak.


Alana menempelkan telapak tangannya di jidat Barra dan membandingkan suhu tubuh Barra dengannya. "Kamu normal Ahh, gak panas. Kepala kamu kepentok gak? Atau otak kamu yang bermasalah?" Tanya Alana terheran heran.


"Apa sih lo, gak jelas banget. Ikutin aja yang gue bilang tadi." Pemuda itu membenarkan posisi duduknya dan menyenderkan punggungnya ke tembok.


Alana menyipitkan matanya dan menatap Barra perlahan mendekatkan wajah pada Barra. "Pasti kamu sekarang udah mulai suka ya sama aku? Sampe gak mau jauh gitu."



Barra memutar bola matanya malas dan menjauhkan wajah Alana dari hadapan nya dengan mendorong keningnya mengunakan jari telunjuk. "Ck, gak usah Kepedean. Lo kan tahu, gue bilang gitu karena rasa tanggung jawab gak lebih." Jawab Barra malas.


"Ish! Bohong dikit kek biar aku seneng. Gak ramah bintang 1!" Alana mendengus. Pemuda itu menghiraukan Alana dan menatap jauh ke depan memandang langit jingga yang sangat di sukainya.


Tidak lama gadis itu kembali menatap wajah Barra. "Btw, kita mau sampe kapan diem di rooftoop,udah mau gelap lho ini. Sekolah juga udah sepi gini."


"Sengaja! Lo mau senengkan? Ayok ikut gue." Alana mengangguk dengan antusias, mimik wajah Alana berubah dengan cepat, gadis itu merasa sangat senang. Barra kemudian berdiri dan memegang tangan Alana untuk membantunya berdiri.


Keduanya kini turun dari rooftoop setelah beberapa jam berada disana. Suasana sekolah sekarang sudah sepi dan gelap. Barra sengaja menahan Alana di rooftoop sampai semua murid pulang, pemuda itu tidak ingin merusak hari Alana sekarang.


Kini keduanya menaiki mobil dan Barra bergegas membawa Alana ke tempat tujuannya. Tempat yang dapat memberikan kebahagiaan dan juga melupakan sejenak masalah masalah yang datang.

__ADS_1


Jalanan Ibu kota malam hari begitu indah sangat indah. Namun sayang sekali, karena terlalu banyak kendaraan jadi membuat jalanan macet. Pasti yang pacaran banyak keluar nih sampe bikin macet seperti ini, yang jomblo mending di rumah aja deh jangan jadi beban. Stay halal bestie 😝


Akhirnya setelah bermacet macet ria, Barra dan Alana sudah sampai di pasar malam. Pengunjung pasar malam kini sangat ramai, karena pasar malam ini hanya di adakan 1 minggu sekali.


"Wah... Bagus banget, Barra." Alana takjub melihat pasar malam itu, matanya langsung tertuju pada biang lala yang menjulang tinggi di hadapannya.


"Lo mau tetep mandangin biang lala dari sini? Lo gak mau naik?" Ujar Barra saat baru saja keluar dari mobilnya, pemuda itu langsung pergi masuk menuju pasar malam.


"Ehh... Barra tunggu... Aku ikut..." Alana lari menyusul pemuda yang sudah masuk ke pasar malam, lalu mensejajarkan langkahnya dengan Barra.


Mata Alana seketika berbinar binar, melihat jajaran stan makanan yang menyuguhkan banyak sekali menu menu yang membuat nya tergiur. Dan juga di pasar malam ini banyak sekali permainan, bukan hanya kora kora dan biang lala, masih banyak yang lainnya juga.



Namun, ada rasa sedih di hati kecilnya, Alana mengingat pada kenangan bersama Ayahnya. Setiap Anton memiliki bonus yang besar, ia pasti akan mengajak Alana ke pasar malam dan menaiki biang lala dengan permen kapas di tangannya.


Kerinduan kembali mencuat di hatinya, kali ini ia benar benar merasa kehadiran sang Ayah begitu nyata di sampingnya dan gadis itu benar benar merasa ini bukanlah halusinasi.


Barra sedari tadi memperhatikan Alana yang diam terpaku menatap biang lala di depannya. "Lo mau naik biang lala, Al?"


Saat akan menjawab pertanyaan Barra, terdengar perutnya begitu berisik. Sedari tadi pulang sekolah memang keduanya belum melahap makanan sedikit pun.


"Hehe... Beli makanan dulu boleh?" Alana mengusap ngusap perutnya yang tidak mau berhenti mengeluarkan bunyi, pun ia merasa malu lalu menundukkan kepalanya.


Barra terkekeh melihat Alana yang terlihat kikuk. "Ayok" Balas Barra membuat gadis itu mengangkat wajahnya dengan senyuman lebar di bibirnya.


Alana langsung melesat lari pada stan makanan yang sedari tadi sudah menggugahkan seleranya. Alana terlihat sangat senang seperti anak kecil yang di belikan balon oleh Ibunya.


"Mbak... Aku mau yang ini, ini, ini, ini, ini, dan ini." Barra tertohok saat Alana memesan makanan begitu banyak.


"Lo gak salah mesen sebanyak itu?"

__ADS_1


"Nggak, malah ini masih kurang lho."


"Aku lagi sedih jadi harus banyak makan biar kuat." Bisik Alana.


Tidak lama makanan pun sudah siap, kedua tangan Alana di penuhi oleh makanan, begitu pun Barra membawakan makanan Alana.


Tanpa pikir panjang Alana langsung melahap makanan yang ada di depannya. Meja bunda yang cukup besar itu, sekarang di penuhi oleh berbagai macam menu.


Alana melahap satu satu persatu makanan itu dengan semangat. "Emm... Enak..." Ujar Alana seraya menggoyangkan badannya ke kanan kiri, pertanda makannya itu sangat lezat.


"Pelan pelan makannya, lo mau keselek. Santai aja gue gak akan minta."


Mulut Alana sangat penuh, sehingga ia tidak menjawab perkataan Barra. Alana malah menyuapi Barra. "Cepet buka mulut kamu, cobain ini bener bener enak banget. Cepet Aaaa"


Barra menerima suapan itu, ia terkekeh melihat kedua pipi Alana yang menggebung lucu karena di penuhi makanan. Tanpa Alana sadari sedari tadi Barra terus menerus memperhatikan dirinya.


Gadis itu terlalu fokus menikmati makanan. Setelah beberapa saat, akhirnya semua makanan itu sudah raib dan tidak tersisa sedikit pun. Alana mengusap ngusap perutnya yang kini sudah terisi penuh.


"Kenyang" Ujar Alana singkat.


"Mau naik biang lala sekarang?" Tawar Barra.


"Ayok, tapi beli permen kapas dulu ya, sebagai penutup hehehe."


Barra mengangguk, lalu menggandeng tangan Alana untuk membeli permen kapas, lalu menaiki biang lala.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang mengawasi Alana dan Barra. Seseorang itu terus melakukan paparazi untuk di kirim pada bosnya. Entah apa tujuan dan alasan orang itu mengawasi Barra dan Alana, satu hal yang pasti orang itu berniat jahat pada kedua insan yang sedang bersenang senang sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE

__ADS_1



__ADS_2