PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 38 : VALLEN


__ADS_3

Alana masih berpikir apa kesalahannya, tapi gadis itu tetap bersyukur karena Anggi tidak manjauhinya dan tetap duduk bersama.


Guru sejarah mengadakan ulangan harian dadakan, inilah hal yang paling di benci oleh para murid. Karena tidak ada persiapan sedikit pun, jikalau nilai jelek yang di salah tetap murid karena tidak belajar.


Apalagi saat menerangkan dan ulangan itu materinya berbeda, euhh! Guru kek gitu halal untuk sayang ga si?!


Setelah 1 jam melaksanakan ulangan, akhirnya semua beres dan guru sejarah pun sudah keluar dari kelas. Kini para murid di beri waktu 10 menit lebih awal untuk istirahat.


Semua siswa kelas Alana berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin. Alana dan Anggi memutuskan untuk tetap di kelas dan mengulang materi untuk mata pelajaran selanjutnya. Namun Alana kebelet, jadi ia beranjak dari kursi.


"Anggi, aku ke toilet dulu ya."


"Mau di anter gak?"


"Gak usah, aku bisa sendiri kok."


Alana langsung melengos pergi keluar kelas, ia langsung melesat ke toilet karena sudah tidak tahan lagi. Sampai sampai gadis itu tidak sadar bahwa semua orang di lorong memperhatikannya dengan tatapan yang tidak biasa.


Saat urusannya sudah selesai, gadis itu langsung keluar. Namun ia terkejut ada Vallen dan 7 orang lainnya yang menatap intens pada dirinya. Seperti biasa gadis itu selalu berpikir positif, ia menyangka kalau gadis gadis yang di hadapannya ini sama ingin ke toilet juga.


"HEH! Mau kemana lu?!" Ujar Vallen tegas. Vallen mencegah Alana saat gadis itu akan keluar dari toilet.


"Keluar dong." Ujar Alana santai.


"Suruh siapa lo keluar?!" Vallen bersedekap dada lalu perlahan menghampiri Alana.


"Emang keluar harus dapet ijin dulu ya?" Ujar Alana seraya melihat sekeliling, gadis gadis itu mengeram kesal.


"Waaaa ni anak berani banget."


"Hajar langsung, Val!" Teriak salah satu kawan Vallen.

__ADS_1


Suasana di dalam toilet ricuh, teriakan teriakan saling bersahutan dari geng Vallen. Mereka memprovokasi Vallen dan berhasil Vallen sekarang tersulut emosi, mengingat Alana sudah merebut Barra darinya.


Alana tetap pada ekspresi yang santai, ia berusaha tidak takut atau gemetar di situasi seperti ini. Alana menatap Vallen dengan santai namun gadis di hadapannya menatap dirinya begitu tajam.


Alana dengan cepat menangkis tangan Vallen saat lawannya itu akan menampar dirinya. Kaki Alana menendang kuat perut lawan lainnya yang akan memukul dari belakang.


Salah satu dari mereka ada yang membawa pisau. Alana terkejut dan langsung melepaskan tangan Vallen, lalu menangkis tangan gadis si pembawa pisau itu. "Aww!" Pekik Alana, satu goresan di lengannya dan darah mulai mulai bercucuran.


Semua gadis itu dengan cepat menyerang Alana bersamaan. "SERANGGGG" Suara gemuruh memenuhi toilet yang ukurannya cukup luas.


Alana dengan cepat meraih pisau yang terjatuh dan menarik Vallen ke dalam dekapannya. "Satu langkah lagi kalian maju! Darah segar mengucur di leher Vallen." Alana menyekap Vallen, dengan pisau yang di todongkan Alana ke leher Vallen.


Anak buah Vallen menghentikan langkahnya melihat posisi Vallen terancam. "LEPASIN! Jangan berani nya lo nyekap Vallen, Anj!"


Alana terkekeh mendengar ucapan itu. "Lo juga jangan beraninya keroyokan, pengecut!" Satu kalimat kasar itu pertama kali terlontar dari mulut Alana.


Semua terdiam melihat keberanian Alana yang tidak terduga, apalagi gadis itu lihai dalam berkelahi. "Mundur lo semua!" Ujar Vallen yang ketakutan, karena ia merasa pisau telah menyentuh kulit lehernya.


"Gue lepasin lo! Asal lo biarin gue keluar dari sini." Alana semakin menekan tangan yang melingkar di leher Vallen dan tidak sedikit pun melonggarkan sedikit pun pisaunya.


"Okk fine! Lo semua minggir, kasih dia jalan." Alana lalu melangkah tanpa melepaskan Vallen dalam kungkungannya. Alana menatap tajam pada masing masing anak buah Vallen di sana.


Saat sudah sampai di bibir pintu, Alana menghempaskan Vallen ke arah anak buahnya, hingga Vallen tersungkur.


"Liat aja! Gue bakal bales atas apa yang lo lakuin sekarang!" Ancam Vallen.


"Gue tunggu pertunjukan lo selanjutnya nona Vallen yang cantik. Kalo bisa nanti satu lawan satu, biar gak terlalu keliatan pengecutnya! Hahha." Ujar Alana, lalu melengos pergi meninggalkan toilet seraya melambaikan tangannya pada Vallen. Hanya pada Vallen and the geng Alana memakai embel embel gue—lo, karena aku—kamu terdengar terlalu ramah bagi mereka.


" Ish! Sialan! " Vallen mendengus, lalu meninggalkan toilet bersama anak buahnya.


Alana berjalan dengan tenang, namun ada satu hal yang mengganggu di dalam kepalanya. 'yang tadi itu Pembully an? Kok aku mereka kalah sih? Kalo Pembully an harusnya aku yang kalah dong'. Pikir Alana.

__ADS_1


Alana bergegas menuju kelas, namun di depan sana ia melihat Barra yang berjalan dengan tergesa gesa. Sorot matanya sangat terlihat khawatir, pasalnya Anggi memberitahu Barra, kalau Alana di dalam toilet bersama dengan Vallen. Anggi melihat Vallen memasuki toilet saat Alana masih di dalam, dengan cepat gadis itu mencari Barra dan memberitahunya.


"Al, lo gak papa kan? Ada yang sakit gak? Ada yang luka?" Barra terlihat sangat khawatir, ia memeriksa setiap inci tubuh Alana sampai ke rambut rambut ia periksa, Barra takut Alana terluka.


"Aku gak papa, Bar." Ujar Alana malas, ia rasa laki laki di depannya terlalu berlebihan.


"Gak papa gimana, liat nih ada saytan di tangan lo! Darahnya masih ngucur lagi, ayok ke uks."


"Gue kan udah bilang lo jangan jauh jauh dari gue, ngeyel banget si!" Barra merasa sedikit kesal, Alana begitu bebal jika di beri tahu.


"Ish! Tadi kan kamunya gak ada di kelas. Gak mungkin juga kan aku mau ke toilet di anter kamu. Gak usah berlebihan deh, Barra Ardana Adiputraaaaa" Ujar Alana gemas, melihat raut wajah khawatir Barra seraya menangkup kedua pipinya.


"Kamu jangan raguin kemampuan aku, bisa jadi kalo kamu duel sama aku, kamu kalah." Ujar Alana bangga dengan bersedekap dada dan mengangkat sekali kedua alisnya.


"Dah lah jangan banyak omong, ayok cepet ke uks." Ujar Barra lalu menarik tangan Alana membawanya ke uks.


Setelah selesai mengobati luka Alana, Barra mengajaknya ke kelas, karena itu adalah tempat aman dan Barra bisa mengawasi Alana tiap jam, tiap menit dan tiap detik.


Alana berjalan manja dengan tangan yang di genggam oleh Barra." Traktir aku es krim dong, hari ini kan aku udah menang." Alana bergelayut di tangan Barra.


Barra memutar bola matanya malas. "Iya iya ayok... Tapi nanti lagi nurut ya." Alana hanya mengangguk kegirangan. Lalu keduanya berjalan bergandengan sepanjang lorong.


Sepulang sekolah nanti Barra akan mengajak Alana ke mall untuk memenuhi permintaan Alana. Barra akan membawanya ke tempat es krim langgananya, es krim disana sangat lezat sesuai dengan lidahnya.


Di sisi lain Vallen dan kawan kawan sedang merencanakan sesuatu untuk membalas Alana. Vallen tidak ingin kalah 2 kali oleh upik abu itu, kali ini Vallen harus berhasil melancarkan rencananya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf bestie baru up, othor pasti lanjutin sampe tamat ko gak akan berenti. Kemarin othornya so sibuk dulu makanya gak up xixixi 😋


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE

__ADS_1



__ADS_2