
Ternyata rumor tentang penangkapan dan penyelidikan sekolah sudah menyebar luas di kalangan murid dan guru tanpa terkecuali.
Kini suasana sekolah sedang tidak baik baik saja, keadaan sekolah sangat tidak tenang. Karena rata rata murid pasti melakukan Pembullyan dan hampir setengah guru pelajar disana sudah pernah menerima suap dari orang tua murid.
"Haish! Sialan si Barra, cowok cowok kok cepuan sih! Pake ngadu bokap segala!" Umpat kesal salah satu siswi di lorong sekolah.
"Lo jangan salahin si Barra, salahin tuh si Alana. Gara gara cewek itu, semuanya jadi kebongkar. Cewek yang gak tahu diri, udah enek enak kita biarin, ehh malah ngelunjak. Sialan!" Balas temannya.
Alana memang harusnya kena bullyan dari murid lain, karena rumor yang pernah tersebar itu. Namun, mereka tidak berani mendekati Alana, setelah mendapatkan ancaman langsung dari Barra saat itu.
Dan, satu lagi yang membuat keterkejutan itu begitu sempurna adalah Ayah Barra ternyata mantan ketua yayasan sekolah ini. Sungguh benar benar plot twist yang sangat tidak di tebak.
Berbeda dengan murid dari kasta bawah, mereka sangat senang dan sangat sangat berterimakasih pada Barra dan Alana. Mereka semua akan terbebas dari pembullyan dan yang lebih senang lagi, mereka akan menuntut ilmu dengan tenang tanpa merasa takut akan pembullyan yang biasanya sudah menunggu mereka dengan setia.
...📍📍📍...
Vallen, Dion dan anak buahnya kini sedang berada di ruangan rahasia mereka. Tampak kemarahan dan kekesalan di wajah mereka semuanya.
"Arghhh! Sial!" Kesal Dion, lelaki itu mengacak ngacak rambutnya frustrasi. Dengan cepat lelaki itu menyambat gelas kaca yang ada di atas meja, lalu melemparkannya ke tembok dengan keras.
Prang!
"Liat aja! Kalo sampe gue di keluarin dari sekolah ini gue gak akan tinggal diem, anj!" Bentak Dion dengan menunjukkan telunjuknya tepat di wajah Vallen.
Dengan cepat Vallen menepis tangan itu dari depan wajahnya. "Kenapa lo jadi nyalain gue, ha?! Gak tahu malu banget lo jadi cowok, ini semua kan ide lo—
"Apa?! Ide gue?! LO DULUAN YANG MAU BUAT ALANA CELAKA, ANJ. Dan, sekarang lo malah nyalahin ke gue?!" Serobot Dion. Lelaki itu tampak sangat sangat marah, ia menyesal sudah melakukan itu semua.
Pasalnya, kedua orang tuanya sudah mengeluarkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Agar Dion selalu mendapatkan nilai sempurna dan absen selalu bagus, walau Dion sering bolos.
Dion sangat takut pada Ayahnya. Dion takut kalau Ayahnya akan mengirim dirinya sekolah ke luar negeri. Dion tidak mau hidup sendiri, sudah cukup ia menderita ketika hidup dengan kakek dan neneknya dulu. Ia ingin hidup bahagia dengan Ayah dan Ibunya sekarang.
Dion berjalan mendekati Vallen dan mencengkram kedua pipinya. "Apapun yang terjadi sama gue nanti, gue gak akan tinggal diam. Inget lo!" Ancam Dion.
__ADS_1
Entah ancaman untuk Vallen atau Barra, yang pasti jika sama dirinya dipindahkan ke luar negeri. Dion akan balas Dendam nya sebelum melanjutkan hidup yang menderita di negeri orang.
...📍📍📍...
Selama sekolah tadi Alana dan Kyra, menutup telinganya rapat sesuai perintah Barra. Karena lelaki itu tahu akan lebih banyak orang yang membenci mereka di banding orang yang akan berterimakasih.
Ya, tidak sedikit orang yang akan terkena imbasnya saat penylidikkan nanti. Mereka hanya perlu bertahan sampai saat itu dan sampai akhirnya mereka terbebas dan bersekolah dengan aman, tenteram dan sentosa.
Seperti biasa, pulang sekolah Kyra pasti pergi bersama ateman temannya dan membiarkan Barra dan Alana pulang berdua.
Barra mengeluarkan smirknya saat ada ide bagus yang melintas di kepalanya. Barra lalu membanting stir dan melaju cepat ke tempat yang ia tuju.
Alana menyadari bahwa ini bukan jalan menuju rumahnya, gadis itu mengerutkan kedua alisnya dan menoleh pada Barra.
"Barra, ini bukan arah ke rumah. Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Alana bingung.
"Diem, duduk manis aja. Kamu pasti akan suka sama tempat ini, percaya deh sama aku." Ujar Barra tanpa menoleh pada Alana seraya tersenyum tipis khasnya.
Mendengar perkataan itu, tentunya Alana hanya bisa menurut sesuai perintah. Alana tidak curiga dirinya akan dibawa kemana, tidak mungkin juga kalau Barra akan mencelakai atau akan berlaku jahat pada dirinya.
"Barra! Sebenarnya mau kemana sih? Ko jalan sepi gini sih? Mana hutan lagi." Ujar Alana yang mulai curiga pada Barra.
Barra terkekeh, lalu melirik sekilas menliha wajah kesal Alana yang menurutnya gemas.
"Kalo takut tutup aja matanya. Tuh ambil penutup matanya ada di dashaboard ambil. Aku gak akan macem macem, dijamin kamu bakal senang nanti." Ujar Barra.
Alana terus menelisik Barra, menatapnya curiga. Sadar akan diperhatikan, Barra melirik lagi.
"Aku janji gak akan macem macem, aku cuma pengen ngasih surprise aja. Percaya deh." Ucap Barra meyakinkan.
"Bener ya? Awas aja kalo aneeh aneh." akhirnya Alana menurut dan mengambil penutup matanya dan memakainya sendiri dengan mulut yang masuh mengerucut dan bahkan masih sedikit tidak percaya.
Barra menambah kecepatan mobilnya, agar cepat sampai di tujuannya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menit dalam perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat yang sangat indah. Barra langsung turun dari mobil, lalu membantu Alana keluar dari mobilnya.
"Barra! Liat aja kalo kamu macem macem atau aneh aneh, aku bakal pastiin hidup kamu setelah ini gak akan tenang." Ancam Alana.
"Huuu... Ngeri kali ancaman istri aku ini." goda Barra seraya terkekeh.
Seketika detak jantung Alana berdegup lbih kencang dari biasanya, ia terkejut akan pengakuan Barra tadi. Apa tidak salah? Barra mengakui dirinya sebagai istri? Ahh, sial. Kenapa dia malah bilang gitu sih, bikin salting aja. Batin Alana.
Tidak ingin berlama lama lag, Barra menuntun Alana menuju suatu tempat yang sangat indah.
"aku hitung sampai 3 ya, baru aku bua penutup matanya." Alana mengangguk mengerti, gadis itu sangat penasaran kemana da apa ang disiapkan Barra untuk dirinya.
Pemuda itu kini mulai menghitung.
1...
2...
3...
Barra membuka penutup dan TARA...
"Keren gak lautnya?" Tanya Barra.
Alana masih menetralkan penghilatannya dan beberapa detik setelah itu, mata gadis itu membulat. Alana sangat terkejut melihat pemandangan yang sangat cantik ini. Ia tidak percaya bisa melihat lagi, sungguh benar benar rindu pada suasana ini.
"Aku tahu kamu lagi kangen laut, kamu lagi kangen kampung halaman kamu. Jadi, aku ajak kamu kesini deh, ya walaupun bukan tempat yang seharusnya. Tapi aku pikir in cukup untuk mengobati rasa rindu kamu sama kampung halaman kamu." Ujar Barra.
Alana masih terpaku di tempatnya berdiri, sekana tidak percaya ia akan melihat laut kesukaannya. Gadis itu dengan cepat membalikkan badannya dan langsung memeluk Barra dengan erat.
Pemuda itu membulatkan matanya terkejut, tiba tiba Alana memeluk dirinya. Jantung kini berdegup kencang, hatinya kini berbunga bunga.
__ADS_1
"Makasi udah bawa aku kesini, makasi Barraaaaa. Aku seneng bangetttt." Ujar Alana di dalam pelukan Barra dengan kegirangan.