PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 44 : RENCANA


__ADS_3

"Ehh ehh, gue punya rekaman gudang tadi lho. Gimana kalo kita laporin, biar tradisi hilang dan kepala sekolah di tuntut gara gara terlalu mementingkan uang dari pada kebenaran." Ujar Anggi.


Uhuk


Uhuk


Perkataan itu membuat Alana dan Barra tersedak. Tidak percaya, kalau Anggi mempunyai rencana yang sama dengan mereka berdua.


"Ka—kamu ngerekam?" Tanya Alana. Anggi hanya mengangguk seraya menyuapkan 1 sendok makanan yang ia pesan tadi.


Kemudian Anggi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video kejadian yang ia rekam tadi.


“Gue udah muak, Bar, Al, sama tradisi sekolah kita. Bahkan guru bk dan kepala sekolah selalu tutup telinga dan mengubur masalah yang di timbulin oleh murid berduit. Gue gedek sumpah.” Ujar Anggi dengan kesal.


Anggi terus menerus mengoceh perihal kekesalan atas sekolah nya sendiri, sudah hampir 3 tahun ia bersekolah di sana, selama itu pula gadis itu tidak merasakan kenyamanan dan ketenangan selama belajar. Namun semenjak kedatangan Alana kini keadaan nya mulai membaik, sudah jarang sekali orang yang membullynya.


Alana merasa ini bukan salah murid yang selalu membuat onar di sekolah, tapi guru guru yang selalu menutupi masalah karena uang. Jadi murid yang membuat onar akan merasa tenang, karena mereka mempunyai orang tua yang kaya dan bisa menutup masalah mereka dengan mudah.


Jika saja ada 1 guru yang jujur disana, mungkin SMA Alexandria ini tidak akan kacau dan pasti mencetak banyak sekali murid yang beratittude, karena peraturan di sana sangat lah bagus. Dan, Bahkan tidak akan ada tuh tradisi seperti sekarang.


Saat ini ketiganya sedang menyusun rencana, mereka akan mempergunakan video itu sebaik mungkin. Bila perlu, mereka akan ke kantor polisi langsung atas kasus suap menyuap dan pembullyan.


Barra tidak tanggung tanggung menuntut sekolahnya, apalagi beberapa saat waktu lalu Alana di hukum oleh guru BK dan guru itu malah langsung menyalahkan Alana tanpa mencari kebenarannya.


Dari situ Barra sudah tidak bisa bersabar lagi. Dan, 1 lagi, tadi sebelum pulang Virgan bercerita pada Barra soal Alana yang berlarian di kejar oleh osis dan penampilan Alan pun berantakan seperti sudah terjadi perkelahian. Virgan mendengar umpatan samar samar yang di ucapkan oleh para osis yang mengerjar Alana pagi tadi.


Barra benar benar ketika mendengar cerita Virgan tadi.


Barra tidak peduli jika harus di keluarkan dari sekolahnya karena membela kebenaran, toh itu pun perbuatan yang baik, jadi tidak masalah baginya.


Setelah selesai dan rencana nya pun sudah mereka tentukan, akhirnya Anggi pamit pulang karena matahari sudah pamit sedari tadi.


"Gue pamit pulang duluan ya, ibu negara udah nelponin dari tadi." Ujar Anggi. Semenjak Anggi mempunyai Alana, gadis itu jadi pribadi yang terbuka dan asik, bahkan sudah tidak ada kata canggung lagi jika mengobrol dengan Barra.

__ADS_1


Barra dan Alana mengangguk dan berkata 'hati hati'. Setelah itu Anggi pergi meninggalkan Barra dan Alana dengan beberapa bungkus makanan yang di belikan Barra untuk keluarga Anggi.


Anggi tentu saja senang mendapatkan begitu banyak makanan yang di belikan Barra sebagai tanda terimakasih atas kejadian tadi siang.


Kini tinggal Barra dan Alana berdua, beberapa saat keheningan menyapa keduanya. Alana kalut dalam pikirannya karena memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat sehingga hidupnya kini perlahan berantakan dan rasa damai kini jarang hinggap di hatinya.


Berbeda dengan Barra, pemuda itu kalut dalam pikirannya karena memikirkan bagaimana caranya agar rencana yang mereka susun berjalan dengan sempurna dan sukses.


Tring....tring...tring...


Dering telepon itu menyadarkan sepasang manusia yang sedang kalut dalam pikirannya sendiri. "Angkat tuh, bunyi terus dari tadi." Ujar Alana.


Barra langsung menyambat ponselnya yang tergeletak di meja di hadapannya dan menjawab telepon yang masuk.


Barra mengerutkan kedua alisnya dan menjauhkan ponselnya dari telinga. Karena lawan bicara di sebrang sana berteriak kencang, mana suaranya cempreng membuat telinga Barra sakit.


"Abang!" Teriak Kyra.


"Abang ko belum pulang sih?! Pasti lagi jalan jalan ya sama kak Al ya? Curang banget gak ngajak, mana tadi ninggalin lagi di sekolah. Jahat banget!" Gerutu Kyra.


"Nih, lo aja yang ngomong." ya! Kira kira Seperti itu lah Barra saat ini. Pasti selalu cepat dan sigap memberikan ponselnya pada Alana jika Kyra sudah mengomel seperti itu.


"Kyra... Tenang, kita ga main kok. Nanti kaka cerita semuanya ke kamu, jadi jangan marah marah dulu ya?" Ujar Alana dengan lembut.


Di sebrang sana Kyra langsung menutup mulutnya ketika akan meneriaki Barra untuk kesekian kalinya. Namun ia urung kan saat mendengar Alana memanggilnya dengan begitu lembut.


"kakak... Janji ya? Pasti ajak Kyra kalo kaka sama abang jalan jalan lagi, Kyra akan marah beneran kalo kalian main tapi Kyranya di tinggal di rumah sendirian."


Memang benar gadis itu marah besar ketika mengetahui Barra dan Alana menaiki biang lala dan kulineran beberapa waktu lalu. Kyra mengancam Barra dengan banyak ancaman jika dirinya tidak di ajak lagi ketika mereka bermain.


"Ya udah kaka tutup ya telepon, kaka mau pulang sekarang ko. Jadi kamu tunggu di kamar aja jangan marah marah lagi ya..."


"Iya ka, maaf. Kakak cepet pulang ya Kyra kesepian ini, gak ada temen di kamar." Ujar Kyra dengan nada yang sedih.

__ADS_1


"Iya Kakak pulang cepet kok. Oh iya, mau di bawa martabak keju gak?" Rayu Alana agar mood adiknya itu kembali.


"Mau." Balas Kyra dengan antusias di sebrang sana.


"Iya... Nanti kaka bawain. Kalo gitu kaka matiin ya teleponnya. Byeee"


"Byeee." Kyra lalu mematikan teleponnya begitu pun Alana yang memberikan ponselnya kembali pada sang pemilik.


Alana langsung mengajak Barra untuk pulang karena sekarang sudah pukul 7 malam dan ia pun sudah janji akan pulang cepat pada Kyra tadi.


"Ayok pulang sekarang, kasian Kyra kesepian." Ajak Alana seraya membereskan barang barang ke dalam tasnya.


"Bagian gue yang kesepian lo gak kasian, hmm. bukannya di temenin ini malah di tinggal. Ish jahat!" Sahut Barra dengan nada yang geli menurut Alana.


Alana tersenyum malu, pertama kalinya Barra berbicara seperti itu. Alana sangat gemas melihat Barra.


"Ish gak baik cemburu sama adik sendiri. Hahha" Alana terkekeh.


"Dih pede banget gue cemburu." lagi lagi gengsi mengalahkan segalanya.


Dengan cepat Barra pergi keluar dari cafe tersebut menuju mobil dan diikuti oleh Alana di belakangnya dengan tergesa gesa karena Barra begitu cepat berjalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai bestie othor comeback......


Maaf bestie othor nya lagi sok sibuk makanya gak up xixixi. insyaallah besok up nya stabil lagi.


Boleh dong kali kali othor minta bunga atau vote atau kopi gitu biar tambah semangat hehehe 🤭


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE.


__ADS_1


 


__ADS_2