PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 37 : AWAL


__ADS_3

Semakin malam, semakin banyak orang yang datang. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, sebelumnya Barra sudah izin akan pulang malam pada Damar dan Barra.


Alana dan Barra kini berjalan menuju biang lala, salah satu wahana favorit Alana dan yang pastinya harus ada dan wajib yaitu permen kapas dengan bentuk yang lucu.



"Barra... Liat alis kayak sinchan, ahahaha" Ujar Alana gemas melihat permen kapasnya yang begitu lucu.


Barra menoleh seraya tersenyum tipis melihat Alana yang begitu riang, berbeda dengan sebelum sebelumnya. Malam ini gadis itu tampak lebih riang dan lupa akan masalah yang mengendap di hatinya.


" Iya lucu kayak kamu." Ujar Barra spontan. Dan kata kata itu berhasil membuat pipi Alana berubah menjadi seperti udang rebus.


"iiiiβ€”Barra jangan gitu ahh, Al, Malu." Ujar Alana dengan nada yang mendayu dayu. gadis itu tersipu dan memukul gemas lengan Barra.



Barra menautkan kedua alisnya dan menggedik ngeri. " Gak lagi lagi deh gue gombalin lo. Geli!" Barra lalu mempercepat langkah kaki nya meninggalkan Alana yang masih tersipu di belakang.


" iiii, Barra, kok ninggalin sih" Alana merajuk, lalu menyusul Barra yang sudah di depan biang lala sana.


Saat sudah sampai, Barra langsung memesan 2 tiket untuk biang lala. Kemudian keduanya langsung menaiki biang lala yang hanya tersisa 1, untung saja Barra cepat kalau tidak bisa bisa ia menunggu kloter selanjutnya.


Biang lala perlahan mulai memutar, pemandangan dari atas sangat menakjubkan. Barra dana Alana kini berada di puncak, keduanya sangat menikmati pemandangan malam yang sangat indah.


"Barra! Nanti kita kesini lagi ya..." Ujar Alana yang manik matanya tidak lepas melihat langit langit indah yang di penuhi bintang. Dari atas biang lala ini, Alana merasa cukup dekat dengan langit.


Gadis itu menutup mata, menikmati semilir angin yang menyapu lembut kulit wajah lembut miliknya. Seraya mengucapkan beberapa kata rindu dan kabar pada Woody dalam hatinya.


Di sisi lain Barra malah sibuk memainkan ponselnya, pemuda itu merasa bosan. Karena di dalam biang lala ini hanya duduk dan menikmati pemandangan malam, sudah hanya itu. Ini benar benar membosankan menurutnya.


Alana perlahan membuka matanya dan beralih pandang Barra yang menundukkan kepala melihat pada ponsel yang di ada di genggamnya.

__ADS_1


"Barra... Aku ngerti ko ucapan kamu yang di rooftoop tadi. Tenang aja, di dalam kamus Alana Valerie itu tidak ada kata lemah dan takut. Aku bisa kok ngatasi semuanya sendiri, kamu gak perlu khawatir." Ujar Alana dengan penuh keyakinan dan tegas.


Barra mendongakkan kepala, beralih pandang pada Alana." Lo gak boleh bantah ucapan gue! Lo harus nurut." Perintah Barra dengan tegas.


" Ish! Kamu tahu kan aku itu atlet bela diri, jagonya bela diri. Aku sering dapet juara lho kalo ikut turnamen. Jadi, kamu gak usah khawatir sama aku. Aku tu pinter jaga diri ko, percaya ya?" Alana memohon pada Barra dengan memasang ekspresi yang memelas.


Jujur saja, Alana merasa risih jika Barra terus menguntitnya kemana pun ia pergi. Gadis itu tidak mau banyak orang yang curiga atau banyak orang yang tahu status mereka yang sebenarnya.


Karena ini adalah permintaan Damar dan Agatha. Begitu pun jika sekolah tahu bahwa salah satu muridnya sudah menikah pasti akan di keluarkan.


"Ya udah iya! Tapi lo harus hubungin gue kalo ada apa apa!" Ujar Barra Ketus.


Tanpa mengindahkan perkataan Barra, gadis itu hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya pada langit yang cerah.


...πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“...


Karena masa hukuman belum berakhir, seperti biasa Alana pergi ke sekolah pagi pagi sekali. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan gadis itu akan terus berkeringat setiap pagi.


Ahh... Akhirnya Zidny dan Viona datang juga, Alana sudah menunggu keduanya dari tadi. Karena gadis itu ingin mendiskusikan perihal materi sejarah.


Namun, sebentar, kok Zidny dan Viona pindah meja sih? Semulanya Zidny dan Viona duduk di meja depan, ko sekarang pindah ke pojok sana? Ahh itu tidak masalah bagi gadis itu, toh gak pindah kelas juga.


"Zidny, Viona, kita diskusiin bab 7 yang ini yuk?" Ajak Alana, ia menghampiri kedua sahabatnya itu.


Namun tidak ada respon dari keduanya, mereka malah fokus mainkan ponsel. "Zidny, Viona." Panggil Alana sekali lagi, namun responnya tetap sama.


"Vio, anter gue ke kantin yuk, pengen beli susu." Tanpa menoleh sedikit pun pada arah Alana, keduanya melenggang meninggalkan Alana yang menatap punggung Zidny dan Viona.


Mereka kenapa? Batinya.


Tidak lama murid yang lain membludak masuk kelas, mereka memandang Alana dengan pandangan yang tidak biasa. Bahkan tidak ada seorang pun yang menyapanya.

__ADS_1


Apa aku bikin salah? Tanyanya pada diri sendiri.


Alana bertanya tanya dan kembali ke tempat duduknya. "Alana!" akhirnya ada seseorang yang memanggilnya. Gadis itu langsung menoleh pada sumber suara.


"Barra..."


Pemuda itu menghampiri Alana dengan senyuman yang baru pertama kali di lihat oleh warga kelasnya. Barra memang di kenal sebagai lelaki yang super super dingin, bahkan jarang sekali tersenyum. Tapi semenjak kehadiran Alana, Barra perlahan berubah.


" Nih gue bawain sarapan buat lo, pasti lo laper kan tadi udah beresin lapangan."


Seketika seisi kelas terkejut melihat sikap Barra yang manis. Para siswi tidak percaya kalau Barra bisa bersikap seperti itu.


Barra memberi isyarat lewat mata agar Alana menerima kotak bekal yang di sodorkan oleh Barra. Alana terheran heran, kenapa sikap Barra seketika berubah padanya. Namun, di sisi lain gadis itu pun merasa senang akan sikap manis Barra.


Alana meraih kota bekal dan tersenyum. "Makasih, Bar."


Terdengar bisikan bisikan tetangga yang mulai menggosipkan Barra dan Alana. Keduanya menghiraukan itu dan kembali ke tempat duduk masing masing.


"Ehh iya, satu lagi. Nanti istirahat lo harus anter gue ke perpus, gue gak nerima penolakan." Perintah Barra, lalu melengos pergi ke bangkunya.


Di sisi lain Vallen mengeram kesal, seorang informan suruhan nya, menginformasikan sikap Barra tadi. Vallen tentu saja kesal, kenapa Barra tiba tiba seperti itu? Vallen tidak rela kalau Barra bersikap manis pada gadis lain, sikap manis itu hanya boleh di lakukan Barra pada dirinya, tidak boleh pada wanita lain.


Sebentar lagi lo akan menjauh dari Barra, liat aja nanti. Ancam Vallen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...*Penyakit hati hanyalah membuat diri sengsara dan mencelakai diri sendiri. Bahkan semua orang akan menjauh, karena aura negatif menguar dalam dirinya. ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Happy reading dan happy kiyowo bestie*

__ADS_1



__ADS_2