
Selama perjalanan pulang keheningan menyapa keduanya. Tidak ada satu kata obrolan yang di ucapkan keduanya.
Barra mengerutkan kedua alis nya karena tumben sekali Alana diam tidak berkicau seperti tadi. Beberapa menit yang lalu gadis itu sangat berisik dan tidak bisa diam sama sekali. Tapi kenapa sekarang malah tidak terdengar suaranya.
Barra melirik Alana dari ujung mata, penasaran apa yang gadis itu liat. Saat sudah di lihat, Barra terkekeh. Ternyata Alana tertidur pulang, dengan kepala yang mendongak ke atas, mulut yang terbuka sedikit dan mata yang teler.
"Cape ya pasti?" Ujar Barra yang menoleh sedikit pada gadis yang tertidur di sampingnya.
Kemudian Barra tersenyum, bagaimana ekspresi bahagia Alana saat bermain boneka capit dan gadis itu berhasil memenangkan boneka besar.
Alana loncat loncat dan berteriak kegirangan bahkan refleks memeluk Barra yang sedang tersenyum memperhatikan dirinya.
Sorry, Al. Dulu gue cuek ke lo, ternyata bahagiain lo sesederhana dan segampang ini ya. Batin Barra.
...📍📍📍📍📍📍...
Sepulang sekolah Barra dan teman temannya bergegas menuju markas, begitu dengan Alana, gadis itu ikut bersama Barra.
Rencananya Barra akan memberitahukan kejadian yang menimpa Alana beberapa hari lalu. Dan, mengajak teman temannya bekerja sama.
Kini semua orang berkumpul di ruang tengah, duduk melingkar. Barra mulai menunjukan rekaman itu pada teman temannya. Dan, benar apa sesuai prediksi, ketiga temannya itu terkejut dengan kejadian yang menurutnya keterlaluan bagi anak sekolah, apalagi mereka melakukan itu di gudang belakang yang masih area sekolah.
Ketiga nya bergumam mengucapkan sumpah serapah karena kesal. Mereka tahu alasan kenapa Alana di bully seperti itu, tapi tidak dengan cowok juga. Menurutnya lelaki yang berani ngebully cewek apalagi banyakan seperti itu, menurut mereka pengecut dan bukan lelaki sungguhan.
"Pengecut banget tuh si Dion!" Ujar Virgan kesal.
"Gila!"
__ADS_1
"Gila! Keren banget..." Ujar Gilang kagum.
Plak
Virgan mengeplak kepala Virgan. "Apanya yang keren, Bodo*!"
"Lo gak liat waktu Alana nantang si Dondon by one. Keren banget, bray. Gak ada takut takutnya tuh cewek." Ujar Gilang.
Virgan melihat ulang video itu dan keduanya alisnya tiba tiba mengerut, lalu mengalihkan pandangannya pada Barra dan Alana. Seakan ada sesuatu yang membuat Virgan penasaran.
" Ko aneh ya, gue gak ngerasa kalo kalian tuh sepupu an. Dari tingkah lo bedua, gak mungkin sepupu an..." Terka Virgan.
Mendengar perkataan dari Virga, Alana mulai kelabakan dan sekali raut wajahnya gelisah. Namun pemuda di sampingnya diam saja, seakan tidak peduli dari perkataan Virgan tadi.
" Gak usah banyak tanya! Kalian mau gak bantuin gue?" Ujar Barra Ketus. Karena mereka terlalu lama menjawab dan malah menimbulkan pertanyaan pertanyaan yang tidak penting untuk di bahas.
"Mau." Balas ketiganya kompak. Namun terlihat jelas di wajah Elang, pemuda itu seperti menerka nerka tentang hubungan Barra dan Alana.
Barra memberitahukan rencana nya pada ketiga temannya, sedangkan Alana hanya diam mendengarkan dan memperhatikan Barra.
Gilang, Virgan dan Elang hanya mengangguk mengerti, mereka pun memang setuju dengan aksi menurunkan kepala sekolah. Saat mereka kelas 10,suasana sekolah begitu tenang tidak ada aksi pembullyan dan hal lain semacamnya.
Dan, saat di ganti kepala sekolah semuanya jadi berbeda. Bahkan kepala sekolah pernah melihat aksi pembullyan di kamar mandi, namun beliau acuh dan hanya tersenyum pada pelaku lalu pergi begitu saja.
Mulai dari situ aksi pembullyan terhadap kasta bawah semakin marak di lakukan, bahkan sekarang sudah menjadi aksi sehari hari bagi murid nakal.
Setelah diskusi panjang selesai, akhirnya mereka bersantai di markas dan memesan makanan online. Menu makan cukup banyak, karena Barra mentraktir sebagai tanda terimakasih karena sudah mau membantu melancarkan rencananya.
"Uuuuu... banyak banget, Bar." Ujar Gilang antusias. Matanya sudah berbnar binar bahkan perutnya pun sudah berbunyi sedari tadi.
__ADS_1
Plak
Virgan menepak Gilang saat tangan nya akan menyambut makanan di hadapannya.
"Sabar dong, jing." Ujar Virgan.
"Ya maaf, abisnya makanan ini bikin gue kalap." Pandangan Gilang tidak hanya tertuju pada pizza yang ada di depannya. Sungguh, perutnya kini sudah demo di dalam.
Barra dan Alana hanya terkekeh melihat tingkah Virgan dan Gilang.
"Mumpung gue lagi baik hari ini, lo pada makan aja sepuanya." Ujar Barra, sontak membuat kedua manusia yang berseteru tadi langsung melahap makanan yang sudah di incar dari tadi.
Elang si lelaki dingin itu hanya diam dan terus memandangi ponselnya seperti sedang menunggu pesan dari seseorang.
Di sela sela santapannya ada satu pertanyaan yang ganggu pikirannya, Gilang masih penasaran akan sebuah jawaban dari pertanyaannya.
"Ehh jujur deh kalian sama gue." Gilang menatap Alana dan Barra dengan serius.
"Sebenarnya hubungan kalian tuh apa?! Jujur deh sama kita kita. Lo berteman sama gue dari sd, ege. Dan gue udah tahu semua sodara lo."
*Uhuk
Uhuk*
Barra dan Alana kompak tersedak, terkejut saat mendengar pertanyaan Gilang. Barra dan Alana menoleh satu sama lain.
Keduanya kini berkutat dengan pikiran masing masing, memikirkan jawaban dari pertanyaan Gilang tersebut.
Sial, ngapain sih nanya nanya kek gitu, babi. Batin Barra.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii bestie 👋🏻