PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 33 : TUDUHAN


__ADS_3

Alana berjalan dengan cepat menuju ruang BK, dengan perasaan yang tak karuan. Gadis itu terus berkutat dengan pikirannya sepanjang jalan, memikirkan kesalahan apa yang di perbuatnya. Namun, tidak ada satu kejadian pun yang buruk yang ia lakukan selama ini. Gadis itu selalu menjaga sikapnya di mana pun ia berada.


Saat sampai di depan ruang BK, Alana melihat Vallen dan teman temannya dan satu lagi oliv, murid yang selalu diam tidak melakukan interaksi pada siapapun. Gadis itu selalu memisahkan diri dari siapapun, entah apa alasannya, setiap ada yang mengajaknya bicara. Oliv hanya mengangguk dan menunduk, seperti menolak semua orang yang mendekatinya.


Tok... Tok... Tok...


"Silakan masuk..."


Alana membuka pintu dan duduk setelah di persilakan oleh Madam (Panggilan guru BK). Alana gugup, karena semua orang memperhatikannya dengan tatapan yang tidak biasa. Dan Vallen memberikan seringai tipis, Alana benci sekali ekspresi seperti itu.


Kemudian Madam meletakkan tas Alana di atas meja yang berada di tengah tengah. Lalu mengeluarkan semua isi tas Alana dan terdapat barang barang yang asing bagi Alana.


Alana tertohok akan barang barang yang ia lihat, pasalnya ia hanya membawa buku dan ponsel miliknya. Kenapa bisa jadi sebanyak itu barang di dalam tasnya.


"Alana, coba jelaskan pada Madam. Kenapa barang milik Oliv ada di tas kamu?" Tanya Madam.


"Sa--saya tidak tahu, Madam" Balas Alana dengan gugup.


" Bohong, Madam. Orang saya lihat sendiri kok dia duduk di kursi Oliv, ngapain lagi coba." Serobot Siska.


"Iya, Madam. Bahkan kita bertempat jadi saksinya." Ujar Tirisha.


Alana mengerutkan kedua alisnya, memikirkan barang barang itu. kenapa bisa ada di tasnya, padahal tadi ia langsung ke lapangan setelah dari toilet. Alana memperhatikan ekspresi Vallen dan teman teman, setelah itu ia hanya menganggukan kepalanya paham.


"Kenapa kamu diam saja? Cepat jelaskan pada, Madam." Tanya Madam sekali lagi.


Alana tidak tahu harus menjawab apa, ia bingung bagaimana menjawab kesalahan yang tidak ia perbuat namun ada saksi di belakangnya. Bahkan sekalipun ia berkata jujur sekarang itu akan jadi sia sia, tidak akan ada yang percaya padanya.


"Saya benar benar tidak tahu---


" BOHONG! LO TAHU ITU BARANG BERHARGA YANG NYOKAP GUE TINGGALIN SEBELUM DIA PERGI! KALO LO EMANG GAK AMBIL, TERUS YANG DI LIHAT MEREKA SIAPA?!" Bentak Oliv dengan suara yang bergetar, seperti menekan ketakutan yang ada di dalam dirinya.


Alana tersentak mendengar itu, setelah Vallen yang berkata kasar padanya. Sekarang ada Oliv yang menuduh seenaknya. Alana curiga Oliv sudah di peralat oleh Vallen untuk menjatuhkan dirinya---

__ADS_1


Brak!


Pintu terbuka dengan cukup kencang, membuat orang orang yang di dalamnya seketika terkejut. Barra sudah tidak tahan lagi mendengar orang orang itu memojokan bahkan menuduh Alana.


Barra melihat macbook, ponsel dan dompet di atas meja, tidak mungkin Alana mengambil itu semua. Alana terkejut, kenapa bisa Barra disini? Gadis itu mengukir senyuman tipis yang manis, saat melihat Barra di hadapannya.


"Alana tidak mungkin mengambil itu semua, Madam. Apakah Madam percaya Alana mengambil itu? Bahkan saksinya pun orang macam ni! Yang membuat saya ragu akan kejadian ini." Ujar Barra dengan nada tinggi dan tegas. Lalu menunjuk Vallen dan genknya dengan dagu.


"HEH! Maksud lo apaan orang kek gini?! Emang kita cewek apaan, jaga ya mulut lo!" Mereka tahu apa maksud perkataan Barra di akhir tu.


Vallen mengepalkan kedua tangannya, ia kesal bisa bisanya Barra membela Alana. Gadis itu tidak terima, ia merasa di rendahkan oleh gadis kampung yang belum ada 1 semester di sekolahnya, namun sudah merebut miliknya.


"Barra... Masa kamu gak percaya sama aku sih? Aku liat dengan mata kepala aku sendiri, aku gak mungkin bohong. Kamu kan tahu aku gak suka bohong. Kamu pasti percaya aku, kan?" Ujar Vallen dengan lembut, seraya memegang tangan Barra.


CK, Barra berdecak. Ia sebenarnya malas kalau harus berdebat dengan cewek cewek yang ada di depannya ini. Barra sudah tahu sifat mereka seperti apa, apalagi Vallen. Mungkin sebutan untuk si muka dua itu tidak cocok baginya, karena gadis itu memiliki muka lebih dari itu. Vallen kerap kali menampilkan sisi berbeda pada tiap orang yang ia temui.


"Berisik! Kapan gue percaya sama lo?!"


"Sudah sudah. Madam, anggap ini hanya salah paham silakan kalian saling memaafkan."


Suasana makin keruh di ruang BK, semuanya tidak ada yang mau mengalah. Madam, pusing harus bagaimana menghadapi siswi yang ada di depannya. Memang Madam pun tidak percaya kalau Alana mengambil barang barang itu. Namun di sisi lain ada saksi, jadi Madam tidak bisa berbuat apa apa.


"Gabis dong, Madam—


" Udah gak papa, Bar." Serobot Alana dengan menarik Barra untuk mendekat padanya.


" Tapi lo gak salah, Al. Gue yakin lo di jebak."


" Nanti aku kasih tau kamu di luar, lagian aku di kasih peringatan 1. Setelah ini aku janji gak akan diem aja kalo kejadian kek gini terulang lagi." Bisik Alana pada Barra.


Tentunya Vallen merasa panas, melihat kedekatan Barra dan Alana. Mereka begitu dekat sangat dekat, Vallen tidak akan tinggal diam sampai mereka berpisah.


" Fine fine, Madam akan putuskan. Alana, Madam kasih kamu Surat peringatan 1 dan Madam kasih kamu hukuman sebagai gantinya. Kamu harus datang lebih pagi ke sekolah, bantu osis mempersiapkan pekan olahraga yang akan di adakan minggu depan. Satu lagi, setiap pulang sekolah kamu harus sapu lapang yang ada di sekolah selama 1 minggu." Itu adalah peraturan bagi siswa yang di berikan SP 1.

__ADS_1


" Ya udah silakan Barra dan Alana kalian keluar duluan. Untuk kalian, jangan dulu keluar dan tetap duduk di tempat."


Saat Barra akan mengatakan sesuatu, Alana langsung menahannya dengan mencubit lengan Barra. Mereka pun pamit, untuk kembali ke kelasnya. Karena jam pertama sudah hampir habis.


Alana mendekat pada Vallen saat akan pergi keluar. Gadis itu tersenyum pada Vallen dan mendekatkan wajah ke sisi Vallen.


"Permainan lo terlalu kuno! Lain kali kalo mau ngejebak cari cara yang lebih seru!" Bisik Alana tepat di samping telinga Vallen. sudah tidak ada lagi embel embel aku — kamu bagi Vallen, karena menurutnya terlalu sopan dan lembut ketika di dengar dan itu tidak cocok bagi seorang Vallen.


Vallen membelalakan mata saat mendengar bisikan Alana. Tangannya mengepal, benar benar ia merasa di rendahkan oleh gadis baru ini.


"Madam, Alana pamit."


Alana langsung menghampiri Barra yang sudah di luar menunggunya. Barra menatap Alana dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Lalu Barra menarik Alana menuju rooftoop sekolah, dengan berjalan cepat.


Lagi lagi Alana berhasil membuat banyak pertanyaan di dalam benak pemuda itu. Barra berjalan dengan cukup cepat, sehingga gadis yang ada di belakangnya kewalahan menyeimbangi langkah nya.


"Ish! Barra pelan pelan kenapa sih?!" Barra menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Alana yang kesakitan di pergelangan tangannya karena cengkraman Barra yang cukup kuat.


"Lo itu bodoh atau apa sih?! Kenapa bisa bisanya lo terima tuduhan macam itu?! Itu sama aja ngerendahin keluarga kita, bokap gue bahkan bisa beli tokonya kalo lo mau!" Damar memang kelewat tajir, bahkan ketiga anaknya di beri fasilitas yang tidak biasa.


"Barra tenang dulu, aku bisa jelasin kenapa aku diem aja dan terima tuduhannya."


"Ya udah ikut gue sekarang! Gue gak mau ada yang denger satu pun orang disini." Barra kembali menarik Alana.


Jam pertama masih ada 30 menit lagi sebelum berakhir, makanya Barra mengajak Alana ke rooftoop alih alih kembali ke lapang untuk mengikuti mata pelajaran penjas.


Alana sudah tahu konsekuensi nya jika ia menerima tuduhan itu, namun ada satu alasan yang memaksanya menerima itu. Alana tidak mungkin menerima tuduhan tersebut jika tidak alasan. Gadis itu hanya ingin menolong agar semuanya kembali seperti semula.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aduhhh senangnya, akhirnya othor ada yang nyariin xixixi 🤭. Nanti Ma mau up 2 hari sekali aja biar di cariin terus 😝


__ADS_1


Canda deng 😝😆


__ADS_2