PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 54 : TERJEBAK


__ADS_3

Mereka sengaja tidak masuk, karena Kyra menyuruhnya untuk tetap diam sampai Barra menyuruh Kyra untuk masuk.


Barra yang berada di dalam sana menyeringai, karena kekesalan dan kemuakan selama ini akhirnya akan berakhir. Banyak sekali anak anak konglomerat yang sok jagoan disini.


Sebentar lagi semua murid akan sama rata dan tidak akan ada lagi yang namanya kasta.


Barra sedari tadi duduk di sofa dengan tangan bersedekap dada dan kaki kanan nya di atas kaki kiri. Sungguh tengil gaya pemuda satu ini melihat kepala sekolah yang gelagapan saat menghadapi Ayahnya.


"Alana masuk!" Panggil Damar. Alana dan Kyra masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.


Alana masuk ke dalam dengan menunduk, tapi tidak dengan Kyra yang berjalan angkuh. Kyra dan Alana duduk di sebelah Barra. Kyra dengan tengil nya mengedipkan sebelah matanya pada kepala sekolah.


Seakan sudah muak dengan kepala sekolah yang haus uang ini. Jika tahu dari awal seperti ini, ia tidak sudi masuk ke sekolah yang katanya keren dan elite. Ya, elite, tapi elite untuk kasta atas, tidak untuk kasta bawah.


Benar benar tidak berperikemanusiaan!


Sementara Anggi di suruh untuk memanggil Oliv dan guru bk untuk ke ruang kepala sekolah.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya yang di tunggu tunggu datang. Ya, guru Bk dan Oliv. Damar akan menuntaskan nya hari ini, karena waktunya terbatas untuk mengurus nya di lain hari.


Kedua orang yang di panggil Anggi itu tentunya terkejut melihat Alana yang duduk bersebelahan dengan Damar. "Iya, ada apa memanggil saya kesini?" Tanya guru Bk.


Oliv hanya duduk dengan Anggi di sofa. "Angkat kepala lo, kalo lo gak mau dapet hukuman dari Alana." Bisik Anggi tepat di telinga Oliv.


Dengan cepat Oliv mengangkat wajahnya tinggi tinggi, karena ia tahu diri atas kesalahan apa yang ia perbuat pada Alana. Namun, bukankah itu bukan keinginannya? Mengapa jadi ia yang harus menuai hukuman?

__ADS_1


Kini kepala sekolah makin dibuat bingung dengan adanya guru Bk di ruangannya. Apalagi yang akan Damar ungkap? Apakah ia, smuanya akan berakhir hari ini?


"Kenapa bertanya? Apa ibu merasa kalau ibu itu tidak mempunyai salah?" Ujar Kyra yang merasa geram, karena Guru Bk itu memasang wajah polos tanpa dosa.


Barra menyenggol lengan Kyra dengan siku, pemuda itu paham kekesalan yang dirasakan Kyra. Tapi tetap saja sopan dan santun nya harus dijaga. Mau bagaimana pun Guru Bk itu adalah orang yang lebih tua dari dirinya.


Arghh! Benar benar kesel gue! Batin Kyra.


Kini mereka semua saling diam dan Damar menunggu ungkapan kejujuran dari guru Bk. Seharusnya guru bk itu sadar akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Kyra pada dirinya.


Guru bk itu sangat terlihat kelimpungan, karena hanya menatap sekilas mata Damar Bu Lia di buat takut akan tatapan tajam itu.


Setelah beberapa saat kehingan menyerbu di ruangan itu dan Damar sudah tidak bisa berlama lama lagi disini. Beliau akhirnya angkat bicara.


"Melihat kepala sekolah dan Bu Lia diam seperti ini, membuat saya semakin yakin untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Karena sedari tadi saya diam dan menunggu, tidak ada perkataan jujur yang keluar dari mulut anda."


Sontak mendengar itu kepala sekolah dan Bu Lia membulatkan matanya.


"Ti—tidak, Tuan. Saya berjanji akan mengembalikan semua uang yang orang tua murid beri pada saya. Saya akan akan mereka ulang peraturan sekolah, saya akan mendisiplin semua murid agar mereka menjadi lebih baik. Saya janji, saya tidak akan menerima uang suap dan saya akan menyama ratakan semua, tidak akan ada lagi yang memandang kasta." Ujar kepala sekolah yang ketakutan dan memohon.


"Yeah! Skak mat!" Ujar Barra seraya berdiri dan menunjukkan benda yang ia sembunyikan di balik tangannya.


Barra menggoyang goyangkan perekam suara yang berada ditangannya dengan seringai di bibirnya. Kepala dan guru bk itu semakin terkejut dan sangat sangat ketakutan.


"Ini pengakuan jujur Ibu ya, kita tidak pernah memaksa ibu untuk mengaku. Dan, Barra berterimakasih sama ibu, karena Ibu, tugas Barra menjadi sedikit lebih ringan." Barra mengeluarkan smirknya, ternyata ini adalah ide Barra untuk menjebak kepala sekolah dan guru bk.

__ADS_1


Karena ia tahu kalau melapor ke polisi untuk mengusut tuntas kasus sekolah, akan panjang sekali urusannya. Karena banyak yang harus diperiksa, seperti para murid dan para orang tua yang sudah menyuap guru. Itu sangat memakan waktu yang sangat lama.


Dengan mempunyai rekaman pengakuan tadi, kasus ini akan segera di beres kan dan akan mengganti seluruh guru yang terlibat dalam kasus suap menyuap ini.


Damar adalah mantan ketua yayasan. Jadi, ia paham dan memiliki hak untuk merekrut guru pengganti di SMA Alexandria ini. Sekolah yang sudah ia bangun dan besarkan dengan susah payah, kini dihancurkan oleh satu orang yang tidak tahu diri.


Damar adalah tipe orang yang tidak mau dikenal darimana asalnya dan siapa sebenarnya beliau. Maka dari itu Damar tidak dikenali oleh kepala sekolah, Damar sangat apik dalam menyembunyikan identitasnya.


Damar dan keluarga tidak mau dipandang sebagai orang kaya atau orang yang memiliki pengaruh besar dalam bidang apapun. Tetapi beliau ingin dikenali sebagai orang yang sederhana, berwibawa serta ramah oleh orang sekitar.


Ia tidak mau hidup dalam seganan orang lain, karena itu membuatnya tidak mempunyai teman yang tulus. Sejak dulu, Damar selalu mempunyai teman dan saudara yang hanya memanfaatkan uang dan kedudukannya. Itulah alasan Damar dan keluarga menutupi identitasnya dan hanya di kenal sebagai seorang pengusaha biasa.


"saya akan tunggu anda saat sidang komite kedisiplinan nanti. Sampai berjumpa lagi." Ujar Damar dengan suara bariton nya. Lalu melenggang pergi keluar dari ruangan yang membuatnya pengap itu.


Diikuti oleh anak anaknya dari belakang dan juga Anggi serta Oliv. Oliv masih menunduk, merasa bersalah dan takut akan kesalahan yang ia buat. Tapi bukankah perbuatan itu atas paksaan Vallen? Mengapa harus takut? Ia dari awal memang tidak berniat jahat pada siapapun.


Setelah sampai parkiran, Damar pamit pada ketiga anaknya untuk berangkat bekerja. "Papa, ke kantor dulu ya. Kalian baik baik di sekolah. Kalo ada yang jahat laporkan pada Papa, ya?" Ujar Damar dengan senyum tipis khasnya.


"Iya, Pa." Ujar Kyra lalu memeluk Damar, tentunya tidak tertinggal Barra dan Alana. Di tarik masuk ke dalam pelukan Damar.


Damar merasa, semenjak kehadiran Alana, ia menjadi lebih dekat dengan anak anaknya dan bisa mendengarkan curhatan serta Keluh kesah mereka. Selama ini Damar terlalu acuh pada putra putri, ia hanya fokus mendidik mereka agar menjadi orang yang sukses, tanpa mendengarkan Keluh kesah Barra dan Kyra.


Dan sangat sangat bersyukur dengan kehadiran Alana. Ia tidak bisa berkata apa apa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE



__ADS_2