PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 47 : WEEKEND


__ADS_3

Kyra sedari tadi tidak berhenti mengoceh perihal kejadian yang di alami oleh Alana di sekolah dan rencana yang menurutnya keren. Kyra tidak sabar untuk memaki Vallen karena sudah mencelakai kakak kesayangannya.


"Awas aja ya kak Vallen, bakal Kyra maki balik. Berani berani nyelakain kak Al." Sungut Kyra kesal.


Alana dan Barra hanya terkekeh melihat wajah kesal Kyra yang menurut mereka menggemaskan.


Sarapan pun beres, Kyra dan Barra membantu Alana membereskan piring piring yang tadi di gunakan dan mencucinya.


Setelah semuanya selesai, kini ketiganya berjalan menuju ruang keluarga dan mengambil ponsel masing masing. Alana merasa bosan hanya duduk dan memainkan ponsel. Bukannya kemarin kakak beradik itu mengajaknya olahraga, kenapa sekarang malah bermalas malasan memainkan ponsel di kursi malas.


"Bukannya sekarang waktunya olahraga ya? Kenapa kalian malah main hp sih?" Barra dan Kyra tadinya sengaja tidak mengingatkan dan memilih main ponsel, berharap Alana lupa akan janji itu. Karena sarapan yang cukup banyak membuat keduanya terlalu kenyang, jadi malas melakukan aktivitas.


"Kalian pasti sengaja diem ya? Biar olahraga nya gak jadi?!"


"Ehh gak gitu!" Ujar Barra dan Kyra bersamaan.


"Ya udah ayo cepet." Tanpa lama lama lagi Alana langsung mengambil sepatu dan memakainya. Ketiganya sudah memakai stelan olahraga sedari tadi, jadi tinggal memakai sepatu.


"Beres... Ayok!" Ujar Alana semangat.


Kyra dan Barra kompak menghela nafas malas. Ini hari minggu harusnya di pakai malas malasan, bukannya di pakai capek capek an. Begitulah prinsip kakak adik itu.


Penyesalan selalu datang di akhir memang. kakak beradik itu menyesal telah menjanjikan kegiatan yang selalu di hindari nya kala minggu datang. Sudah lama sekali mereka tidak berolahraga di hari minggu, karena setiap weekend Damar dan Agatha selalu ke luar kota, jadi mereka terhindar dari olahraga yang membuat lelah.


Alana kemudian berjalan menuju pintu dan meraih kenop pintu untuk membukanya. Belum juga di buka Kyra sudah mencegah Alana.


"Kakak mau kemana?" Tanya Kyra dengan ekspresi yang sedikit aneh.


"ya olahraga dong kemana lagi." Ujar Alana dengan percaya diri.


"terus kenapa keluar? Dirumah juga bisa kali." Ujar Barra.


Alana tentunya menautkan alisnya bingung." kok di rumah?"


"Emang lo—kamu gak tau dirumah ada tempat gym?" Tanya Barra.


Alana terkejut tidak percaya bahwa dirumah Barra ada tempat gym pribadi. Kyra menarik tangan Alana dan membawanya ke lantai atas, lantai 3 khusus tempat gym dan rooftoop yang terdapat sebuah taman kecil favorit Agatha.


Mata Alana di buat takjub melihat taman mini yang indah terdapat berbagai jenis bunga yang bermekaran indah dengan variasi warna yang bermacam macam. Selama ini gadis itu memang tidak berani untuk room tour sendiri tanpa adanya tuan rumah yang menemani.


__ADS_1


"wah... Keren banget. Pasti taman nya sangat terjaga ya, ky."


"Iya dong, Mama ngejaga banget tanamannya. Ayok kita ke ruang gym." Ajak Kyra.


Barra hanya diam mengikuti 2 wanita itu dari belakang, karena semangatnya belum kumpul semua. Sebagian pikirannya masih ada di tempat tidurnya.


Kyra dan Alana masuk ke dalam ruang gym yang terlihat cukup simple dan elegan.



"Wow bener bener keren, kenapa gak ajak aku kesini dari kemarin kemarin sih?"


Tidak ada yang menjawab Alana, Barra dan Kyra malah langsung naik ke alat olahraga yang mereka incar. Begitu dengan Alana, gadis itu langsung naik ke treadmill alat yang sedari tadi terus melambai lambai pada dirinya.


Alana baru pertama kali menggunakan alat olahraga yang canggih dan biasanya gadis itu hanya melihat di tv, tapi tidak di sangka ia akan merasakan alat yang biasa di pakai oleh orang kaya.


"Barra, ini gimana cara nyalainnya." Barra yang sedang santai mengayuh sepeda statis, dengan berat hati harus berhenti untuk menolong Alana.


Sepertinya disini yang semangat hanya Alana, di samping sana terdapat Kyra yang sedang malas mengayuh sepeda statis. Hanya alat itu lah yang gampang dan tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih.


Barra terus mengajarkan Alana tentang alat olahraga yang lain. Alana pun dengan antusias memperhatikan Apa yang di bicarakan oleh Barra.


...📍📍📍📍📍📍...


Alana kini berjalan menuju kamar Barra dan berniat untuk meminta tolong pada pemuda itu.


Tanpa aba aba Alana langsung membuka pintu kamar Barra. Gadis itu seketika berteriak terkejut, karena Barra hanya menggunakan handuk yang di lilitkan pada pinggangnya.


"aaaaa... Barra telanj*ng!" Alana langsung membalikkan badannya agar tidak melihat dada bidang yang indah milik Barra. Walaupun di sisi lain Alana ingin sekali melihat kembali roti sobek itu.


Barra hanya memandang Alana heran dan tatapan nya begitu santai. "Lo gak sopan banget sii, masuk gak pake ketuk pintu dulu." Ujar Barra Ketus.


Alana langsung membalikkan badannya dan memandang Barra dengan tatapan yang tajam. "Kok ngomong gitu lagi si! Kemarin udah janji mau ngomong lembut sama aku." Alana lalu melangkah meninggalkan kamar Barra, namun baru beberapa langkah tangannya di tahan oleh pemuda yang di belakangnya.


"Iya iya aku minta maaf." Ujar Barra yang belum melepaskan cengkraman tangan Alana.


Alana membalikkan badannya, baru beberapa detik gadis itu kembali membalikkan badannya lagi. "Ish! Ko belum pake baju sih, sana pake baju dulu!" Ujar Alana.


Barra yang baru menyadari langsung melepaskan tangan Alana dan kemudian masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian.


Setelah beberapa menit di dalam kamar Barra lalu keluar, namun tidak di sangka ternyata Alana masih ada di depan kamarnya.

__ADS_1


"Kok masih disini?" Tanya Barra.


Gadis itu tersenyum, Barra pasti ada maksud di balik senyuman itu. "Jalan jalan yuk?" Ujar Alana. Nah kan, dugaan Barra tidak salah.


Barra memutar bola matanya malas, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Alana masih mengikuti Barra di belakangnya, serta mengeluarkan rayuan rayuan kecil untuk membujuk Barra agar mau jalan jalan bersamanya.


"Barra... Plisss... Ayok aku pengen jalan jalan." Namun pemuda itu tetap tidak menggubrisnya, malah terus meneguk air di gelas yang tadi di tuangkannya.


Alana sudah kesal dari tadi lelaki itu tidak menggubrisnya dirinya. "Okk fine!" Ujar Alana dengan nada yang sedikit meninggi, lalu membalikkan badannya bergegas kembali ke kamarnya, langkah gadis itu sengaja di hentak hentakkan, berharap Barra akan mencegahnya dan menuruti apa maunya.


Dalam hati Alana menghitung sampai 3 kalau tidak di panggil, dirinya akan masuk kamar dan kembali melukis, walaupun hatinya merasa dongkol. Dan, gadis itu berniat untuk mendiamkan dan marah pada Barra selama mungkin.


1...


2...


3...


Alana sudah selesai menghitung dan langkah kakinya kini sudah sampai tangga, namun lelaki itu tidak kunjung memanggilnya. Hati Alana semakin kesal dan langkahnya semakin cepat agar segera sampai ke kamarnya.


Alana membuka pintu kamar dengan cukup keras lalu meloncat ke atas kasur dan menyelusup kan wajah ke dalam bantal.


"Aaaa Barra gak romantis banget! Barraaaaa jahat. Emang jalan jalan susah apa? Kan aku bosen di rumah terus cuma ngelukis doang." Gerutu Alana di dalam bantal nya. Kakinya di hentak hentakan secara bergantian ke kasur.


Namun Alana merasakan ada yang mencolek colek lengannya. "Kyra diem kakak lagi kesel ini, jangan ganggu." Namun tangan itu tidak mau berhenti dan malah sekarang memainkan rambutnya dan mengacak ngacak.


Mata Alana membulat, tidak mungkin itu Kyra, Kyra tidak berani memegang kepala orang yang lebih tua dari nya. Dengan cepat Alana mengangkat tubuhnya, seketika ia terperanjat melihat Barra yang duduk di hadapannya.


"Ba—Barra, kamu ngapain disini? Sana keluar dari kamar aku." Ujar Alana Ketus.


Barra malah tersenyum melihat Alana yang terkejut. "Yakin nih ngusir? Gak akan jadi ke mall?" Ujar Barra.


Ekspresi Alana seketika berubah menjadi bahagia. "Jadi dong." Ujar Alana antusias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sengaja di gantung terus supaya up nya di tungguin xixixi


Chapter selanjutnya malem ya, Babay.


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE

__ADS_1



__ADS_2