
Selama di dalam kelas Alana hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Walaupun Anggi mengajaknya berbicara, Alana tetap tidak menjawabnya. Hanya dengan senyuman palsu dan anggukkan.
Mungkin ini masalah pertama kali yang menghampiri dirinya, sehingga Alana tidak mempersiapkan diri saat ia memutuskan untuk ikut ke kota bersama keluarga Barra. Saat di kampung halaman, semua warga di kampung maupun di sekolah, sangat menghargai satu sama lain. Saling segan dan tidak ada yang membuat onar, semuanya hidup rukun di sana.
Sehingga Alana sedikit terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya. Alana dengan lapang dada mencoba menerima dan bersiap atas semua yang akan datang.
Alana kamu harus kuat dan jangan lemah.
Di sisi lain Elang terus memperhatikan Alana, ia merasa khawatir pada gadis itu. Elang yakin, kalau ini pertama kalinya Alana menghadapi masalah. Dari cari bicara dan sikapnya, gadis itu seperti sangat terjaga dan berattitude.
Barra pun merasa curiga pada Elang, sahabatnya itu tidak melepaskan pandangan dari sang istri. Menimbulkan banyak pertanyaan yang timbul di kepala dan mencurigai sesuatu yang tidak seharusnya.
...****************...
"Abang... Tolong bantuin matematika Kyra dong, Kyra gak ngerti sama materi yang ini." Kyra berlari dan berteriak menuju kamar Barra dan membawa buku pelajaran di tangannya.
Barra memutar bola matanya malas saat mendengar suara cempreng yang sangat mengganggu ketenangan dalam kamarnya yang sangat sunyi ini. Sepertinya Kyra memakan toa deh, suara bisa menusuk sampai Koklea bagian paling dalam di telinga.
"Ahh... Berisik banget, ganggu orang aja si lo."
Kyra tidak memedulikan Barra berkata apa, gadis itu langsung duduk di sebelah Barra dengan membuka bukunya lebar lebar. Dengan menunjukan ekspresi wajah yang imut.
"Dih, biasa aja muka lo gosah sok cantik ege. Yang mana cepet, jangan buang waktu berharga gue."
"Ish jadi abang gak ada baik baiknya sih, kayak Kak Alana dong baik banget kek malaikat."
"Ya udah ke dia aja sana"
__ADS_1
"Gak mau, gak berani. Kak Alana kayak lagi sedih gitu, dia gak mau di ganggu, Kyra ga enak jadinya."
"Ya udah yang mana sini, tapi gak ada pengulangan kata lho."
Walaupun sedikit kesal, tapi mau bagaimana lagi, dari pada gak di ajarin sama sekali. Kyra dengan cepat menunjukannya dan Barra pun langsung mengajar ya. Mereka terus bergelut dengan matematika yang tidak mandiri itu, apa apa pasti nyuruh orang lain untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Matematika emang ngelunjak, nyelesain masalah 1, malah datang masalah lainnya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka beres dan Kyra sudah kembali ke kamarnya. Barra kemudian berjalan menuju balkon dan mengintip. Ternyata benar, gadis itu sekarang sedang berbaring menghadap langit dan mulutnya komat kami seperti sedang berinteraksi.
Barra tersenyum tanpa di sadari. Kemudian perlahan berjalan keluar kamar, sekarang waktu menunjukan pukul 10 malam. Angin yang berembus mulai terasa lebih dingin.
Di sisi lain Alana sangat menikmati malam yang indah seperti sebelumnya, gadis itu beberapa kali menghirup udara segar yang mampu menenangkan hatinya.
*Woody, mulai sekarang aku akan tetap menghadapi apa pun yang menghampiri hidupku. Aku sadar sekarang, bahwa mengalah bukan lah kalah, membalas bukan lah menyelesaikan masalah. Sekarang aku sedikit paham atas apa yang Ayah katakan dulu.
Woody, terima kasih sudah menenangkan hatiku malam ini. Terimakasih juga sudah menemani malamku yang sepi ini, aku akan sering sering menemui mu. Seperti biasa Woody, jaga aku dari atas sana dan katakan rinduku pada Ayah yang selalu ada di dalam hatiku*.
Suara deheman itu membuat Alana terkejut, ia langsung bangun dan menoleh pada sumber suara. Ahh sial... Ternyata Barra, Alana kira itu Adalah Damar.
"Ish, kamu ngangetin aja. Ngapain sih kesini?!"
"Belum apa apa udah ngambek aja. Sana minggir, gue juga mau duduk, pegel berdiri terus."
Alana menggeser bokong nya dan Barra duduk di sebelah Alana dengan menekuk lututnya dan tangannya di lingkaran pada lututnya, lalu menghadap langit. Barra menarik nafas seraya memejam kan matanya, merasakan udara yang masuk ke dalam paru parunya. Lalu mengembuskan dengan perlahan dan membuka matanya kembali.
"Pantesan lo sering ngelakuin ini, ternyata ini enak juga." Ujar Barra, ia terus memandang langit yang indah dan bulan yang terang benderang.
"Btw, apa yang terjadi sama lo? Gue liat liat lo sedih seharian ini, biasanya juga lo berisik banget. Gue takut kalo lo diem gini."
__ADS_1
Plak
1 pukulan melayang dengan mulus di lengan atas milik Barra. Alana mengerutkan Alisnya dan menatap Barra.
"Berisik salah! Diem salah! Sebenarnya mau kamu apa sih?!" Tanya Alana dengan Ketus.
"Ya ngga, diem nya lo sekarang tuh beda. Kayak sedih gitu, lo mah gue peka salah, gak peka makin salah. Apa sih yang lo mau?!" Embel Embel mengatakan jawaban, Barra malah tanya Balik pada Alana.
Alana memalingkan wajah, begitu juga Barra. Sekarang mereka jadi diem dieman. Bergelut dengan pikiran masing masing.
Alana tidak mau jujur pada Barra dan Barra sangat kepo apa yang sebenarnya terjadi pada Alana, sampai sampai Elang terlihat khawatir saat memlertikan Alana di kelas tadi.
"Lo gak mau jujur nih sama gue? Atau gue tanyain Elang aja?" Perkataan Barra membuat Alan menoleh pada dirinya secepat kilat.
"Ehh jangan dong, kamu kenapa sih kepo banget. Ohh aku ngerti, pasti kamu sekarang mulai peduli sama aku dan kamu mulai suka kan sama aku Bar?" Alana menggoda Barra dengan begitu semangat, berbeda sekali dengan Alana yang beberapa menit lalu.
"Apa sih lo! Udah ahh gue mau ke dalem, nikmatin aja tuh curhat sama Woodynya." Barra melengos pergi meninggalkan Alana sendirian.
Raut wajah Alana kembali seperti semula, tidak ada bahagia dan tidak ada kesedihan. Alana kemudian beranjak dari gazeboo, memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Karena angin malam katanya gak baik untuk kesehatan dan hati apa bila tidak ada yang menemani, dinginnya angin malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...**Tuan, tolong kau jujur saja padaku, kau pasti sudah menaruh hati kan pada ku? Aku hanya kau mengakui itu, jangan terlalu gengsi, Tuan....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Seperti biasa jangan lupa tinggalin jejak Bestie happy kiyowo
__ADS_1