PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 53 : TERUNGKAP


__ADS_3

"HEH! Lo dari mana aja, Kambing?! Bikin khawatir gue aja gak balik balik markas." Ujar Virgan saat sudah menemukan Elang yang sedang duduk di taman ujung jalan sendirian.


Elang sedang menikmati angin malam di taman, dengan isi pikiran yang di penuhi beberapa pertanyaan yang entah apa jawabannya.


Setelah mendengar pengakuan Barra tadi, hati Elang tak kunjung reda dari rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Perumpamaannya seperti ini, sudah akhir padahal belum di mulai.


Gilang dan Virgan sedari tadi sudah frustrasi mencari Elang yang kunjung tidak ketemu. Padahal Elang sudah besar, entah kenapa mereka berdua tidak tenang jika belum melihat batang hidung Elang.


"Lo kalo mau ngilang bilang bilang dulu dong, biar gue gak khawatir, setan!" Ucap Gilang gemas. Kini Gilang dan Virgan duduk di kanan kiri dan Elang duduk di tengah.


Orang yang di cari malah diam tidak berkutik dengan pandangan yang masih menatap jauh langit di atas sana.


Plak


Gilang memukul lengan kanan Elang untuk menyadarkan pemuda yang tidak tahu terimakasih setelah lelah mencari bayi besar ini kemana kemana.


"Aw! Apa sih lo?!" Pekik Elang seraya mengusap ngusap lengannya yang terasa nyeri.


"Respon dikit kek! Gue sama Virgan kan dah cape nyariin lo sampe penjuru negeri sono."


"Wahh parah! Lo gak ada makasi makasi nya sama kita kita." Keduanya merasa sedikit kesal pada Elang, tapi tak apa emang karakter kek setan gini susah di ubah jadi harap di maklumi aja.


"Makasih." Ujar Elang malas. Singkat, padat dan halal untuk di timpuk.


"Wahh Wahh, bener bener gue gak percaya, Gil. Ternyata gue punya temen yang gak punya hati kek gini. Lo kalo lagi patah hati jangan ke gue dong, bro."


"Lang, Lang. Bisa gak sih lo jangan dingin kek gini? Pantes aja gak ada cewek yang nyangkut." Ledek Gilang, keduanya tertawa terbahak bahak. Namun tetap saja lelaki yang sedang di tertawakan itu setia pada ekspresi yang datar dan tidak peduli.


Kali ini Gilang dan Virgan menyerah saja. Mereka merasa sedang berbicara dan menertawakan patung. Virgan dan Gilang kompak menghela nafas gusar, susah memang menghibur orang yang berdarah dingin ini. Rasa rasanya ingin sekali memasukkan Elang ke tong besar yang berisi air panas, agar lelaki itu menghangat.


...📍📍📍...


Seperti biasa, setelah selesai upacara wajah wajah para murid mulai kembali semringah. Sebagian berbondong bondong menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah berdemo sedari tadi.


"Anggi, kayak nya rencana kita sebagian di hapus deh." Ujar Alana yang berjalan beriringan bersama Anggi menuju kelas.

__ADS_1


Sampai saat ini masih ada beberapa murid yang mencela Alana, namun gadis itu tidak memedulikan apa yang di ucapkan mereka. Jikalau di balas dengan hal yang sama, berarti ia sama saja dengan murid yang mencelanya itu.


Anggi mengerutkan kedua alisnya bingung. "Kok dihapus? Kenapa?" Tanya Anggi.


"Kyra sudah lebih dulu memperlihatkan video gudang pada Papanya dan katanya sekarang beliau akan ke sekolah." Jelas Alana.


"Menurutku, itu bukan ide buruk. Malah justru bagus dong. Tapi Papanya Kyra siapa?"


"Om Damar Adiputra." Balas Alana.


Uhuk uhuk


Tiba tiba Anggi tersedak saat mendengar nama itu. "Se—serius lo? Itu nama bokapnya Kyra?" Ujar Anggi terkejut.


"Iya, biasa aja kali."


"Wahhh, Daebak... Emang lo gak tahu kalo—


" Kakak... " Serobot Kyra yang berlarian menghampiri Alana.


Tumben sekali gadis ini menghampiri Alana di depan kelas. Padahal yang Alana tahu, Kyra paling anti menghampiri kelas Barra. Kyra ingin menghirup udara dengan tenang di sekolah tanpa ada gangguan dari sang Kakak yang menurutnya ngeselin.


"Ha—hai." Anggi melambaikan tangannya.


"Ada apa, Ky? Tumben nyamperin ke kelas."


"Disuruh Abang cariin, Kakak."


Karena hukuman belum berakhir, seperti biasa Alana pergi sekolah pagi pagi sekali diantar supir. Jadi, ia tidak pergi bersama dengan Kyra dan Barra.


"Di suruh ke ruangan kepala sekolah sama Kak Anggi juga, ayo." Ajak Kyra. Tentu Anggi terkejut, ke ruang kepala sekolah? Ada apa? Apakah dirinya membuat masalah?


"Sa—sama gue? Nga—ngapain?" Tanya Anggi tidak percaya.


"Ayo ahh, jangan banyak tanya. Ikutin Kyra aja ke ruang kepala sekolah sekarang." Kyra lalu menarik tangan Alana dan Anggi untuk membawanya ke ruang kepala sekolah. Karena mereka terlalu lama dan Kyra sudah tidak sabar.

__ADS_1


...📍📍📍...


"Mulai detik ini, saya akan tidak akan pernah menjadi donatur di sekolah ini. Oh iya dan 1 lagi—


"Saya akan menuntut sekolah atas peraturan dan didikan para guru yang tidak becus mendidik para murid di sekolah ini. Bahkan, Anda sebagai kepala sekolah pun menerima suap dari orang tua murid agar anaknya tetap memiliki nilai yang bagus walau jarang masuk sekolah dan sering membuat onar!"


Suara Damar begitu menggelegar di setiap penjuru ruang besar ini. Ruangan khusus kepala sekolah, terlihat jelas dari raut wajah kepala sekolah yang berada di hadapan Damar itu ketakutan dan gelagapan atas ancaman yang di layangkan oleh Damar.


"Se—sebentar, Pak. Pasti Pak Damar pernah merasakan remaja dan pastinya Anda tahu bahwa di usia segini dalam fase fase kenakalan remaja."


"Ja—jangan bawa kasus ini ke ranah hukum, Pak. Hanya karena 1 kesalahan murid, nama baik sekolah ini tercemar." Ujar kepala sekolah dengan gelagapan.


Tentunya Alana dan Anggi terkejut di buatnya, apalagi Alana. Apakah seberperngaruhnya itu Damar? Memang Damar siapa di sekolah ini? Sampai sampai kepala sekolah pun tunduk padanya.


Kyra menyeringai melihat ekspresi Alana seperti itu. "Papa tuh donatur terbesar di sekolah, bahkan tidak sedikit memberikan fasilitas ke sekolah. Tapi, aku sama Abang setuju buat nyembunyiin identitas sebagai seorang anak dari donatur terbesar di SMA Alenxandria."


"Karena aku gak mau di perlakukan istimewa sama teman teman dan aku juga gak mau kalo yang lain temenan sama aku karena uang dan mereka cuma mau manfaatin." pengakuan Kyra dengan santai.


Alana menganggukan kepala pelan. Ohh ini penyebab Anggi terkejut saat memberitahu Papa Kyra, pantesan Damar dengan begitu gampangnya bertemu kepala sekolah.


"Kayaknya kalo ngakuin identitas seru kali ya..."


"Biar gak ada yang gangguin and gak buat si Dion sama Kak Vallen seenaknya lagi sama Kakak." Ujar Kyra dengan bersedekap dada dan memandang ke arah pintu ruang kepala sekolah yang terbuka sedikit.


Mereka sengaja tidak masuk, karena Kyra menyuruhnya untuk tetap diam sampai Barra menyuruh Kyra untuk masuk.


Barra yang berada di dalam sana menyeringai, karena kekesalan dan kemuakan selama ini akhirnya akan berakhir. Banyak sekali anak anak konglomerat yang sok jagoan disini.


Sebentar lagi semua murid akan sama rata dan tidak akan ada lagi yang namanya kasta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO


__ADS_1


__ADS_2