
"Barra, Alana, Kyra, Jangan lupa nanti lusa kita ada acara pertemuan keluarga besar ya. Jangan sampai ada yang tiba tiba punya janji, mama gak akan nerima penolakan atau gak akan izinin kalian untuk pergi kemana pun. Jangan lupa ya, Sayang." Ujar Agatha seraya pamit pergi kantor.
Pertemuan keluarga besar memang rutin dilakukan dan wajib untuk anak, menantu, Cucu, dan cicit datang ke pertemuan itu. Sebenarnya Barra dan Kyra malas setiap pertemuan rutin, tidak sedikit sanak saudara yang memamerkan hartanya dan anaknya.
"Iya, Ma." Balas Barra dan Kyra Malas.
"Iya, ma. Al, gak akan lupa, lagian ini pertama kalinya Alana ikut pertemuan." Alana tersenyum manis pada Agatha.
"Ya sudah kalau gitu mama pamit kantor dulu ya. Kalian hati hati ya ke sekolahnya, belajar yang benar. Bye, honey." Agatha melambaikan tangan pada ketiga anaknya dan masuk ke dalam mobil yang sudah di tunggu oleh Damar.
Kemudian ketiga adik kakak itu membereskan sarapannya dan beranjak mengambil tasnya masing masing. Lalu berjalan menuju mobil, pagi yang cerah membuat semangat membara. Apalagi hari ini ada ulangan, ugh semangat banget dong.
Jalanan Ibu kota seperti biasa macet, penduduk di ibu kota begitu padat dan masing masing penduduk mempunyai kendaraannya masing. Sehingga membuat ruwet jalanan dan polusi begitu tebal, padahal ini masih pagi. Coba kalau di bandung, pasti udara nya masih segar dan sejuk.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di sekolah tepat waktu. Dalam perjalanan tadi, tidak ada pembicaraan di antara ketiganya. Alana dan Kyra fokus membaca dan menghafal materi hari ini. Barra? Tentunya ia fokus menyetir, kalau fokus menghafal, bisa bisa nanti beda alam.
Saat sudah di sekolah Kyra berpisah, Alana dan Barra kali ini mereka bersama masuk kelas. Biasanya Barra ogah ogahan bareng ke kelas dengan Alana, namun kali ini Barra yang memaksa Alana untuk bersama dengannya.
Tidak ada hujan, tidak ada badai tiba tiba Barra seperti itu? Sungguh peningkatan yang pesat bagi Alana. Semua siswa dan siswi memperhatikan keduanya, yang jalan beriringan.
Alana sungguh merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini. Alana merasa aneh. "Barra besok kita bareng kayak gini lagi, aku risih di perhatiin sama anak anak lain." Ujar Alana seraya bergeser sedikit membuat jarak antara keduanya.
"Belum pernah jadi pusat perhatian ya? Kalo gue sih udah bosen, setiap hari banyak orang yang merhatiin gue." Bisik Barra seraya menarik lengan Alana agar mendekat kembali padanya.
__ADS_1
"Sombong" Cibir Alana pelan.
Keduanya masuk kelas dan saat Alana mendaratkan bokongnya di kursi ia menghela nafas lega. Alana seperti bebas dari penjahat yang mengurung dirinya.
"Al, kamu kenapa? Kayak bete gitu. Masih pagi loh ini." Tanya Anggi. Saat pertama masuk kelas sampai Alana duduk di kursi, Anggi terus memperhatikan mimik wajah Alana yang sedikit di tekuk.
"Aku risih, tumben banget Barra mau jalan beriringan sama aku. Aku jadi pusat perhatian tadi, gara gara jalan sama Barra deketan. Gak gak mau lagi aku deket dia di sekolah." Alana mendengus.
Anggi mengangguk dan menggeser kan kursinya agar lebih dekat dengan Alana.
" Emang kamu gak tahu? Semenjak Barra putus sama Vallen, banyak cewek yang berlomba lomba deketin Barra. Bahkan Vallen pun masih ngejar ngejar Barra sampe sekarang. Cuma itu sih gosip yang aku tahu. Barra itu pangerannya SMA Alexandria." Alana terkejut mendengar hal itu.
Bagaimana bisa ia serumah dengan Barra, bahkan hampir 24 jam dengan Barra. Namun Alana tidak tahu apa apa tentang Barra. Ini sih keterlaluan, ini gak bisa di biarin, Barra malah keenakan nantinya.
Tidak lama kemudian guru jam pelajaran pertama pun masuk dan mulai mengajar, membahas materi dan di akhiri dengan ulangan harian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Alana berjalan menuju perpustakaan, tiba tiba ada seseorang menarik tangannya dan membawanya ke toilet. Saat di dalam toilet ternyata sudah ada Vallen, Tirisha dan Alin, tentunya ada Siska juga. Mereka bersedekap dada, menatap Alana tajam dan Alana di dorong oleh Siska ke pojokan.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa bawa aku kesini! Awas aku mau ke perpus." Saat Alana akan melangkah kan kakinya. Lagi lagi Siska mendorong bahu Alana hingga terpental ke pojokan.
"Heh anak baru! Lo sok jagoan banget sih!" Vallen mengangkat dagu Alana hingga tatapan mereka bertemu. Mata Vallen seperti sudah di penuhi oleh amarah.
__ADS_1
"Masalah kemarin kita belum selesai dan sekarang lo bikin masalah baru lagi, sialan!"
"Ma—masalah apa? Aku gak ngelakuin apa apa!"
Vallen melepaskan tangannya dari dagu Alana, kemudian sedikit menjauh. Kali ini benar benar tatapan tajam yang di berikan pada Alana, sepertinya Vallen sudah tidak tahan dengan Alana.
"Maksud lo apa, tadi pagi lo pergi bareng sama Barra dan Kyra ha?! Lo jalan deketan sama Barra, ngapain lu?! Mau caper ha?! Dasar cewek gatel." Ujar Vallen dengan setiap penekanan di setiap katanya.
Alana terpaku saat mendengar hinaan yang di layangkan oleh Vallen pada dirinya. Tidak ada yang boleh menghina dirinya, Anton sudah mati matian menjaga harga diri putrinya. Dan sekarang Vallen dengan gamblangnya menghina Alana.
"Kamu gak berhak menghina aku! Tolong kamu ngaca dan liat diri kamu baik baik! Apakah pantas seseorang sperti kamu menghina?! Apa kamu merasa lebih baik dari aku?! Apa kamu merasa suci?! Bahkan untuk di sebut wanita baik baik pun, itu tidak cocok buat kamu!" Lagi lagi Alana terpancing emosinya oleh Vallen.
Vallen mengepalkan tangannya, mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Alana. Vallen mengangkat tangannya pada wajah Alana. Saat tamparan akan mendarat mulus di pipi Alana tiba tiba seseorang menahan tangan Vallen dari belakang.
Alana terkejut melihat sosok yang sangat ia kagumi ada di depan matanya. Lagi lagi pangeran itu menyelamatkan dirinya.
"E—Elang"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii bestie, bisakah aku meminta 1 komenan dari kalian. Walaupun hanya 'next' aku udah seneng kok. Terimakasih bestie, tolong dukungannya untuk novel ku yang satu ini yaaaa.
Luvyu and happy kiyowo
__ADS_1