
Sudah Kyra prediksi dan benar saja. Virgan tidak terlihat seperti orang sakit. Pemuda itu hanya memiliki luka luka di tubuhnya, tapi tidak dengan energinya.
Sangat sangat terlihat sehat. Bercanda dan tertawa seperti biasa, tanpa terlihat lemas sedikit pun.
“Kak Virgan! Kalo lagi sakit tuh diem. Jangan banyak becanda dan jangan banyak bergerak. Nanti kalo tambah sakit gimana?”
Virgan memicingkan matanya ke arah Kyra. Pemuda itu menelisik seraya tersenyum licik pada Kyra.
“Aaa Kyra perhatian deh. Jadi, tambah suka.” Ucap Virgan.
Barra seketika menoleh. “Lo pilih tangan atau kaki yang gue gibeng, heu?” Barra sangat posesif jika mengenai adiknya, ya walau sering bertengkar.
“Ish! Posesif banget jadi Abang.”
“Awas aja, kalo lo jadi sama ade gue. Gue gak akan pernah kasih restu buat lo, Tapir!”
Kyra memutar bola matanya malas. Lagi dan lagi, Barra mengatakan hal itu.
Masa depan gak ada yang tahu. Bisa saja Kyra menikah sama Virgan, bukan hanya sekedar pacaran. Pikirnya.
Itu pemikiran Virgan sih. Pemuda itu sangat berharap bisa bersama Kyra. Bukan hanya cantik, tapi juga tajir. Hahaha.
“Sebegitu jyjyknya kah gue di mata lo, Bar?” Ucap Virgan dengan dramatis. Dengan di barengi tangis tangis bombay yang sangat tidak nyaman untuk di lihat.
Barra memutar bola matanya malas dan menoleh pada Gilang.
“Lang, ayo.” Ajak Barra. Gilang hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Gue titip Alana sama Kyra. Awas aja kalo lo macem macem. kalo ada sesuatu yang terjadi, gue pastiin keluar dari rumah sakit ini lo tinggal nama.” Ancam Barra seraya mengarahkan jari telunjuk dan jari tengah pada matanya dan Virgan secara bergantian.
Tanpa mendengar jawaban apapun, Barra langsung pergi begitu saja bersama Gilang.
Entah apa yang akan di lakukan oleh Barra dan Gilang. Namun, Virgan percaya pada mereka.
__ADS_1
Elang, Barra, dan Gilang, sudah dia anggap seperti keluarga sendiri. Karena di ibu kota yang seluas ini, hanya mereka lah yang Virgan punya. Sanak saudaranya tidak ada satupun yang peduli padanya.
Bahkan, orang tuanya pun malah sibuk berbisnis di luar kota. Tidak ada satupun yang menjenguknya.
Walau sakit, tapi Virgan tetap bersyukur masih ada orang orang baik di sekelilingnya.
***
Elang sudah sampai tempatnya terlebih dahulu dan di susul oleh Barra dan Gilang.
Barra mempunyai teman peretas yang handal. Mereka berencana akan melacak si pemilik plat nomor itu dan sangat berharap pelakunya tertangkap.
Mereka akan memaafkan si pelaku, jika ia bertanggung dan meminta maaf pada Virgan.
Namun, pelaku malah pergi. Inilah sikap yang paling Barra benci. Sikap tidak bertanggung jawab.
Ada satu hal yang Barra sembunyikan dari teman temannya. Barra merasa ada kejanggalan dan kemiripan plat nomor mobil.
Pemuda itu akan tetap merahasiakan sampai ia benar benar yakin atas dugaanya.
***
Alana sengaja tidak membiarkan Kyra ikut. Karena jika Barra ada disana, Kyra dan Virgan tidak akan bisa ngobrol berdua dengan tenang.
Alana memberi sedikit waktu agar keduanya jadi lebih dekat.
Kini Alana sedang mencari makanan untuk makan malam nanti. Gadis itu sangat ingin makan nasi padang, sudah lama rasanya tidak makan itu.
Di rumah Barra, semua menu makanannya sehat sehat seperti buah, sayur, dan juga cereal. Jarang sekali mereka memakan menu yang di kenal orang sebagai surganya dunia, contohnya nasi padang.
Gadis itu sangat bersemangat dan perutnya sedari tadi tidak henti hentinya mendemo untuk di beri makan.
Mata Alana langsung berbinar ketika melihat rumah makan padang di sebrang sana. Tanpa pikir panjang lagi, Alana menyebrang untuk masuk ke dalam rumah makan itu.
__ADS_1
Pftt!
Tiba tiba dari belakang ada seseorang yang membekap mulut Alana, gadis itu tidak bisa berteriak karena mulut di sumpel dan ia pun sekuat tenaga memberontak.
Namun, apa daya. Tubuhnya tiba tiba lemas, matanya mulai menggelap dan akhrirnya Alana tidak sadarkan diri.
Lelaki yang membekapnya itu langsung membawa Alana masuk ke dalam mobil dengan ada dua orang di dalam mobil itu.
Mereka langsung pergi ke markasnya.
“Kerja bagus.” Puji salah satu orang yang duduk di kursi depan seraya mengeluarkan seringainya.
***
Kepala Alana terasa sangat berat, tubuhnya lemas. Ia perlahan membuka matanya.
Saat matanya terbuka sempurna, Alana merasakan bahwa kaki dan tangannya telah diikat oleh tali yang cukup kuat.
“Arghhh! Lepas! Kalian siapa?!” Teriak Alana panik. Alana tidak menggerakkan kaki dan tangannya, karena di rasa cukup sakit.
Ketiga orang tadi yang membawa Alana, perlahan membalikkan badannya.
Ada dua orang lelaki dan satu orang perempuan.
Salah satu dari mereka menghampiri, mendekat pada Alana. Dengan smirk di bibirnya.
“Hai, Dear. Lama banget kan kita gak ketemu.”
Perempuan itu mengelus pipi Alana kemudian turun ke dagu dan mengangkat dagunya untuk menatap dirinya.
“L–lo?!” Pekik Alana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE 💜