PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAP 15 : MODUS


__ADS_3

Sepanjang film, Alana terus bersembunyi di lengan kekar milik Barra. Alana memegang erat tangan Barra, untuk kali ini Alana tidak bohong, gadis itu benar benar syok. Film the conjuring ini di penuhi dengan jumpscare, sering kali Alana berteriak kaget, membuat penonton memandangnya sinis. Karena mengganggu kenyamanan.


"Barraaaaa, ayok keluar. Aku bener bener takut ini." Lirih Alana dengan tangan yang gemetar.


"Tanggung bentar lagi. Lo udah ngumpet, masih aja takut." Ujar Barra yang tidak sedikit pun menoleh, ia tetap fokus pada filmnya.


"Ini loh suaranya kenceng banget. Tolong ke abang abangnya kecilin gitu volumenya, telinga ku masih dua jadi gak budeg."


Barra terkekeh mendengar ocehan Alana. Benar benar anak kampungnya terlihat banget, ini sudah di kota tolong kebiasaan waktu di kampung hilangin dulu, Al. Hahahaha


" Sini gue peluk lo biar gak takut" Barra melingkar tangannya di bahu milik Alana. Pemuda itu mendekap Alana dengan begitu lembut, memberi usapan yang menenangkan.


Ehh — tunggu. Alana mengangkat wajah nya dan menelisik wajah Barra. "Kamu pasti ngambil kesempatan dalam kesempitan ya kan?"


"Negatif mulu lo sama gue, ya udah sana." Saat Barra akan melepaskan pelukan, tangannya di tahan oleh Alana kemudian Alana masuk kembali ke dalam pelukan Barra. Tanpa di sadari Barra mengukir senyuman yang manis di wajahnya.


Setelah beberapa jam, akhirnya film pun selesai. Semua penonton mulai keluar dari teater 1. Barra baru menyadari kalau sedari tadi Alana tidak bersuara dan genggamannya pun longgar. Barra menoleh pada Alana dan mengangkat wajah Alana dengan perlahan.


"Bisa bisa nya nonton film jumpscare lo tidur." Barra terkekeh melihat Alana tertidur pulas dengan mata yang basah.


"Jadi lo beneran takut, Al, sampe nangis gini. Maaf." Bisik Barra, lalu ia membangun Alana dengan pelan dan mengusap pipi Alana dengan ibu jarinya.


"Al, bangun. Mau pulang gak lo?!" Alana mengerjap, dengan perlahan gadis itu membuka matanya.


"Barra sebentar, jangan marah marah mulu mata ku perih. Tolong tiupin." Tiba tiba Alana kelilipan, gadis itu terus menggosok gosok matanya.


Barra langsung menghentikan tangan Alana, pemuda itu mendekatkan wajahnya hingga jaraknya terkikis. Kemudian Barra meniup perlahan mata Alana yang sudah memerah. Setelah di rasa matanya sudah tidak perih, Alana membuka matanya.


Alana terkejut saat membuka matanya, ia mampu melihat dengan jelas ukiran ukiran yang terdapat di wajah Barra. Tatapan yang begitu lekat membuat nafas Alana terhenti seketika, wajah tampan Barra seperti mampu menghipnotis sesiapa saja yang melihatnya mata indahnya.


"Nafas dong, lo mau mati?" Suara berat itu menyadarkan Alana. Alana mengerjapkan matanya dan langsung menjauhi Barra.


"Ayok, pulang! Gak usah modus deh, kamu jelek." Ujar Alana seraya berjalan keluar dari teater.


Barra tersenyum kemudian mengikuti langkah Alana yang begitu cepat. Salting nya terlalu keliatan gemes. Barra menyamakan langkah kakinya dengan Alana, mereka jalan beriringan.

__ADS_1


" Tapi kok lo terpesona gitu? Muka lu kek udang rebus gemes. " Bisik Barra tepat di telinga Alana.


Alana terkejut dengan perkataan Barra, gadis itu berlari seraya menutup pipinya. Memang tidak bisa di pungkiri, Alana memang dibuat terpesona oleh Barra. Jantungnya sangat tidak bisa di ajak kompromi, kalau Barra sampai mendengar detak jantung nya bagaimana? Rasa malu nya akan bertambah.


...****************...


Gery


Hai.


Al, kamu lagi apa?


Satu pesan masuk pada ponsel Alana. Pesan itu dari Gery, murid kelas sebelah, entah dapat nomor Alana dari mana. Gery tiba tiba sering mengiriminya pesan, kalau tidak Alana balas, laki laki itu bisa mengirim puluhan pesan. Blokir? Tentu tidak, Alana tentu tidak enak kalau harus memblokirnya. Alana berusaha menghargai setiap orang yang ingin berteman dengan dirinya.


Lagi ngerjain tugas nih.


Setelah membalas pesan Gery, Alana lalu menyimpan ponsel nya di atas kasur. Gadis itu kemudian keluar dari kamarnya dengan membawa buku tugasnya. Kemudian berjalan menuju kamar orang yang akan di mintai bantuannya, Alana sedari tadi berusaha menurunkan gengsinya demi mendapatkan nilai sempurna. Untuk kali ini gengsi tidak penting, yang penting adalah nilai.


*Tok...


Tok*...


"Masuk" Terdengar suara berat yang khas.


Alana kemudian masuk, dengan ekspresi wajah yang memelas. "Aku mau minta tolong boleh?"


Barra menoleh, ia memutar bola matanya malas. Barra sedang asik bermain game, ia tampak fokus.


"Gak! Gue lagi sibuk." Ujar Barra dengan begitu dingin dan kembali pada game nya. Alana duduk tepat di sebelah Barra, kali ini ia harus berhasil membujuk Barra untuk membantu dirinya.


"Plisss, Barra. Aku bener bener butuh bantuan kamu sekarang, aku gak mau nilai aku jelek besok. Aku cuma nanya 1 rumus doang, udah itu udah aku gak akan nanya lagi." Alana menyatukan tangannya dan memohon pada Barra.


Alana sangat menyesal, tadi saat pelajaran fisika dirinya malah pergi ke perpustakaan untuk membantu Elang meminjam buku. Kalau saja tadi ia tidak pergi dengan Elang, mungkin saja Alana tidak akan memohon pada Barra.


Alana hanya tertinggal 1 rumas fisika saja, namun gadis itu seperti tertinggal seluruh rumus. Sifat perfeksionis itu kadang membuatnya susah kadang membuat ringan.

__ADS_1


Barra tidak menjawab ataupun menoleh pada Alana. Alana sekali lagi berusaha agar Barra mau mengajarinya. Alana berpindah tempat ke depan Barra dan menelisik Manik hitam milik Barra dengan lekat dan harapan yang begitu besar.


"Barra, pliss untuk kali ini aja aku minta tolong sama kamu. Tolong ajarin rumus yang ini, aku gak ngerti. Bentar lagi kan mau ulangan, aku harus dapet nilai bagus Bar." Alana kali ini berbicara dengan lembut, agar masuk ke hati Barra yang keras itu.


"Tapi ada syaratnya." Alana mendengus kesal. Kenapa di dunia ini gak ada yang gratis, bahkan untuk mengajari 1 rumus saja harus ada syaratnya.


"Ya Tuhan... Kenapa engkau kirimkan lelaki macam ni kat hidup hamba. Kenapa engkau memberi ku suami macam dia, yang selalu mempersulit hidup ku. Seakan tidak tenang hidupnya melihat hamba senang dan damai." Ujar Alana seraya menghadap langit.


"HEH! Gue baik gini, gue bahkan sering mempermudah hidup lu. Lu gak berterimakasih banget jadi orang. Dah lah gak jadi gue ajarin lu, lanjut main game aja." Ujar Barra seraya membaringkan dirinya di atas kasur.


Alana tampak frustrasi, ia harus ekstra sabar. Kenapa semenjak hidup bersama laki laki yang ada di depannya, hidup Alana tidak pernah tenang. Ada saja yang mengganggunya, mungkin ini takdir hidupnya.


"Ehh ehh jadi dong, tega banget gak jadi. Segitu aku udah mohon mohon ya dari tadi. Tapi bentar aku mau ke toilet." Tanpa mendengar balasan Barra, gadis itu langsung masuk ke toilet pribadi Barra.


Barra tentu saja masih fokus pada gamenya, namun sesekali pemuda itu melirik ke arah toilet, menunggu Alana.


Ceklek


Alana pun keluar dari kamar mandi setelah beres dengan urusannya. Alana berjalan menuju Barra, namun Alana tidak menyadari kalau sendalnya masih basah. Alana terpeleset ke arah Barra.


AAAAAA


Alana terjatuh telat di atas tubuh Barra, wajah keduanya sangat dekat. Bahkan hidung nya sudah menyentuh sama lain. Keduanya terkejut dan terdiam, memandang Manik mata yang indah di depannya. Dengan tangan Alana yang berada di dada bidang milik Barra, sedangkan tangan Barra ada di pinggang ramping milik Alana.


Di sisi lain, pintu yang tak tertutup dan ada sedikit celah. Tampaknya ada seseorang yang sedang memperhatikan keduanya di balik pintu. Agatha memperhatikan keduanya di balik pintu, begitu pun dengan Kyra yang ada di sebelahnya.


"Ma, kayanya bentar lagi kita punya dedek bayi deh." Ujar Kyra di barengi dengan tawa kecil.


"Hush, kakak kamu itu masih sekolah. Gak akan mungkin dia berani buat dedek sekarang, lagian dua duanya gila belajar pasti mereka akan ngejar cita cita dulu. Ayok kita pergi ahh, jangan ganggu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bestie, ini masih sehari harinya Alana dan Barra ya. Aku belum masukin konflik, karena ini juga masih awal. Aku mohon dukungannya untuk novel ku ini ya. 1 Like dari kalian berharga banget buat aku.


Terimakasih dan tetap kiyowo bestie

__ADS_1



__ADS_2