
"Baraaaaaaa" Sapa seorang gadis cantik yang bernama Zea, gadis itu berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan Barra. Zea adalah sepupu Barra, keduanya seumuran, bahkan Zea mempunyai kembaran yang bernama Zio.
Setelah memeluk cukup lama Zea melepaskan pelukannya "Aku kangen banget sama kamu, Bar. Eh... Itu siapa?" Tanya Zea dengan menunjuk dengan dagunya.
"Kenalin—
"Ini kak Alana, cantikkan dia, apalagi hatinya" Serobot Kyra, saat Barra akan memperkenalkan Alana pada Zea. Kyra langsung memalingkan wajahnya dan menggandeng tangan kanan Alana. Alana berada di tengah tengah kakak adik itu.
Zea sedikit menyipitkan matanya pada Kyra. "Eh hai Kyra... Maaf kakak gak ngeliat kamu." Zea mendekat pada Kyra dan memeluknya. Namun Zea mendapatkan penolakan dari Kyra. Kyra dengan cepat masuk ke dalam pelukan Zio yang berada di hadapannya.
"Bang Zio, gak akan nyapa Kyra gitu? Kyra kan kangen." Zio membalas pelukan Kyra dan mengelus lembut puncak kepala Kyra. Zio sudah di anggap sebagai Abang kedua oleh Kyra, sebenarnya Kyra lebih berharap kalau Zio lah Abangnya bukan Barra. Karena perlakuan Zio begitu manis dan lembut.
" Bang Zio juga kangen sama Kyra, lagian Kyra sombong sekarang. Setiap Abang cbat gak pernah di bales." Ujar Zio seraya melepaskan pelukan Kyra dengan perlahan dan menyelipkan ajak rambut Kyra ke belakang telinga.
Kyra mengerutkan kedua alisnya dan mendongakan wajah nya menatap Zio." Apaan gak ada tuh chat yang masuk dari ab— Ohh iya Kyra kan ganti nomor. Hehehehe"
"Ish nyebelin. Ky kita ke belakang aja yuk? Sebelum makan malam." Ajak Zio.
"Ayok" Balas cepat Kyra.
Namun saat akan melangkahkan kaki, Zio membalikkan badannya dan mendekat pada Alana. Barra dan Zea sedikit terkejut melihat sikap Zio kali ini.
"Hai... Kenalin nama gue Zio. Gue udah tahu kok tentang lo sedikit." Ujar Zio seraya menjabat tangan Alana dan tersenyum manis. Alana hanya mengangguk dan tersenyum pada Zio, tadinya Alana ingin memperkenalkan diri juga namun sepertinya tidak perlu.
"Ya udah, Barra, Zea, Alana, gue tinggal dulu mau ke taman bareng Kyra." Pamit Zio dan melangkah menjauh bersama Kyra yang berjalan di sampingnya. Terlihat jelas Kyra sangat bahagia ketika bertemu dengan Zio, ekspresi itu selalu ia tampakan pada Zio.
__ADS_1
Kini tinggal bertiga Barra, Alana dan Zea. Zea sedari tadi sudah melirik lirik tipis pada Alana, walaupun Penampilannya tidak kalah jauh dari Alana. Tetap saja Zea merasa dirinya tersaingi, Zea menatap Alana tidak suka.
"Jadi, ini Bar, istri lo?" Tanya Zea. Alana sangat tidak suka akan tatapan Zea itu, rasanya ingin sekali Alana colok kedua bola matanya, menurutnya tatapan itu adalah tatapan jahat yang perlu di basmi.
"Hai... Kenalin aku Alana Valerie, aku istrinya Barra." Alana mengulurkan tangannya dan berbicara dengan tegas dan percaya diri. Barra tersenyum melihat sikap Alana tadi. Barra mengangkat tangannya dan menaruhnya di atas tangan Alana yang menggandeng lengan kanannya, kemudian mengusap tangan bagian atas dengan ibu jarinya.
Tanpa Zea bicara, Barra sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Zea. Dengan enggan dan terpaksa Zea membalas jabatan tangan Alana hanya sedetik dengan secepat kilat melepas kembali.
"Zea! Gak, lo bilang juga gue udah tahu." Zea memutar bola matanya malas.
"Ya udah, Ze, gue mau nyusul Zio aja ke belakang. Lo udah kenalan juga sama Alana. Sekarang gue pamit dulu ke belakang bareng Alana."
"Jadi, gue di tinggal sendiri gitu." Ujar Zea, seraya menunjuk dirinya sendiri.
Tanpa mengindahkan kalimat Zea, Barra menoleh pada Alana dan mengusap puncak kepala Alana. "Sayang, ayok kita samperin Kyra ke taman belakang."
"Ayok, sayang..." Tanpa menoleh sedikit pun pada Zea, keduanya melangkah pergi menuju taman belakang. Zea terlihat sangat kesal, baru kali ini seorang Zea tidak di hargai oleh pendatang baru, apa lagi sekarang ia di tinggal sendirian.
Awas aja lo, gue gak akan biarin hidup lu tenang. Gue gak sudi punya ipar kek lo! Liat aja nanti! Batin Zea.
...****************...
Semua orang kini sudah berkumpul di meja makan, karena makan malam telah tiba. Jajaran menu makanan yang di tata begitu cantik dan mewah. Para pelayan kini tengah sibuk mempersiapkan makanan di atas meja makan yang panjang. Benar benar seperti sedang mengadakan pesta.
Di mulai dari dresscode warna putih dan decoran rumah yang indah. Para pelayan yang tidak biasa, seperti pelayan di kerajaan. Setelah para pelayan siap. Menyajikan makan, Eyang selaku orang yang sangat di hormati, mempersilahkan untuk para tamu menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Alana... Eyang mau nanya sesuatu boleh, Nak?" Alana terkejut mendengar namanya di sebut, apa lagi oleh Eyang. Alana mengurungkan niat untuk melahap steak di hadapannya yang sangat menggoda iman.
Alana menoleh seraya tersenyum pada Eyang yang berada di kursi paling ujung." Silakan Eyang, dengan senang hati Alana akan mendengarkan pertanyaan Eyang." Ujar Alana dengan begitu lembut. Yang mampu menciptakan senyuman di tiap tamu yang hadir,yang pastinya kecuali Zea.
"Ehem... Maaf jika sedikit menyinggung. Eyang hanya ingin tahu, bagaimana Alana bisa memaafkan perihal musibah yang menimpa pada keluarga kamu, Nak? Eyang sampai tidak percaya masih ada orang sebaik itu."
Uhuk!
Kyra tersedak akan pertanyaan yang di ajukan oleh Eyang, Kyra memang di melupakan perihal itu, tapi kalau di bahas lagi. Kyra merasa ingin menangis dan rasa bersalah itu muncul kembali.
" Eyang... "Rengek Kyra. Alana yang duduk di sebelah Kyra, perlahan mengusap bahu Kyra. Pertanda 'tidak apa apa Alana akan menjawab, Kyra tidak usah merasa hal itu kembali, karena semuanya memang sudah berlalu' selembut itulah Alana.
Alana menarik nafas nya perlahan bersiap untuk menjawab pertanyaan yang membuat hatinya sedikit sakit, jika mengingat kejadian yang mati matian Alana lupakan.
"Eyang... Ayah sering mengajarkan Alana perihal Berdamai dan Memaafkan. Menurut Ayah, itu adalah kunci utama agar hidup tenang. Jangan sampai kita mengotori hati dengan rasa benci dan dendam yang tersimpan di dalam hati. Karena itu akan membuat hidup kita hancur."
" Kita harus percaya pada takdir. Semua hidup kita sudah di atur oleh Tuhan, kita tidak bisa menyalahkan apa yang menimpa pada kita, kepada siapapun. Karena tidak ada satu pun orang yang menginginkan hal tersebut. Kalau tidak berdamai dan memaafkan, apakah Ayah akan bersama Alana disini? Tentu tidak. Namun, Alana hanya ingin membuktikan pada Ayah, bahwa putrinya ini kuat seperti didikanya dulu."
Jawaban Alana itu sukses membungkam orang orang yang bersamanya sekarang. Mereka tampak kagum pada Alana, benar kata Damar dan Agatha. Alana adalah gadis yang luar biasa, sungguh luar biasa.
"Dia tahu kalo keluarga Om Damar tajir, makanya minta di nikahi Barra dari pada di kasih pesangon." Cibir Zea.
"ZEA!" Bentak Barra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
SEPERTI BIASA JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA BESTIE, HAPPY KIYOWO