
Rasa pusing nya seketika hilang setelah mendapat izin untuk berlibur bersama Alana. Barra langsung menghampiri Alana ke kamarnya untuk menyampaikan berita baik ini.
Barra mengetuk pintu kamar Alana, namun tidak ada balasan dari dalam sana. Barra meraih knop pintu ternyata tidak dikunci. Barra masuk perlahan takutnya Alana sudah tidur dan Barra malah mengganggu.
Barra mengerutkan keningnya, ternyata Alana tidak ada di ranjang nya.
"Alana..." panggil Barra seraya menyisir setiap sudut di kamar itu.
"Al..." panggilnya sekali lagi.
Barra mengalihkan pandangannya ke balkon kamar. Dan ternyata Alana ada disana. Barra bernafas lega. Tadi ia sempat berpikir negatif perihal Alana, tapi sekarang tidak.
Barra langsung menghampiri Alana yang sedang duduk di kursi malas dengan segelas susu hangat di tangannya.
"Baby..." ucap Barra seraya memeluk Alana dari belakang, menggulung tanganya di leher jenjang milik Alana dan mengecup hangat gadis itu.
Alana menoleh ke belakang dan tersenyum manis setelah melihat Barra di belakangnya.
Barra melepaskan tangannya, beralih duduk disamping Alana.
"Ada apa? Kok seneng gitu?" tanya Alana penasaran.
"Seneng dong, aku udah dapet izin dari Papa sama Mama. Kita di bolehin pergi ke kampung halaman kamu akhir pekan ini,"
Alana membulatkan matanya tidak percaya. manik hitam itu berbinar senang.
"Serius?" Barra mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Aaa, berarti aku bisa ke rumah dong? Makasih," Alana langsung memeluk Barra erat. Alana sangat bahagia bisa pulang. Sudah lama sekali rasanya tidak berkunjung kesana.
Barra membalas pelukan Alana dan mengusap punggung gadis itu.
"Ternyata, buat kamu bahagia sederhana ya," ujar Barra.
***
Malam sudah semakin larut, tapi satu pasangan ini masih betah duduk di balkon dengan cerita cerita random mereka semasa kecil.
Malam ini sangat di penuhi tawa bahagia dari keduanya. Sungguh malam yang indah.
"Ohh iya, kamu pernah nyesel gak ikut ke Jakarta dan nikah sama aku? Atau kamu marah gak dengan kejadian buruk yang menimpa kamu?" tanya Barra.
Alana tahu apa yang di maksud dari pertanyaan Barra. Rasa bersalah yang amat besar terpancar jelas di mata Barra.
Alana menggelengkan kepalanya dan menatap Barra lekat.
__ADS_1
"Ngga, aku yakin kalau takdir aku memang harus seperti ini untuk ketemu sama lelaki baik seperti kamu. Dan, aku juga yakin kalau perginya Ayah memang salah satu takdir yang sudah tertulis disana buat Ayah."
"Jadi, kamu gak perlu terus terusan ngerasa bersalah sama aku. Itu semua sudah tuhan atur, kita hanya perlu menjalani dan menerima."
Tangan kanan Alana bergerak perlahan menuju pipi kanan milik Barra. Dan, mengusapnya dengan lembut.
"Mulai sekarang, kamu gak boleh nanya kayak gitu lagi ya? Aku gak suka," Kini kedua tangan mungil Alana mengusap lembut kedua pipi Barra.
Barra tersenyum. "Makasih ya. Aku memang cowok paling beruntung yang bisa dapetin kamu, walau caranya salah. Tapi aku bersyukur banget. Semoga, habis ini gak ada masalah lagi ya dalam hubungan kita,"
Alana mengangguk. Kini Barra menangkup kedua pipi Alana dan mengusapnya dengan ibu jari.
Perlahan tapi pasti, Barra mendekatkan wajahnya pada Alana dan manik matanya menatap bibir mungil milik Alana. Barra terus mendekat pada Alana.
Alana menghentikan pergerakan Barra. "Bar, gak boleh," ucap Alana. Jarak wajah keduanya hanya satu jengkal, sangat dekat.
Barra tersenyum. "Gak papa, aku gak akan lakuin lebih dari ini,"
Barra kembali bergerak. Barra langsung menempelkan bibirnya pada bibir Alana dan menyesapnya lembut. Barra menutup bola matanya.
Alana membulatkan matanya terkejut, diam membeku. Tangan kiri Barra bergerak dan menutup mata Alana.
Gadis itu mulai terbuai dengan apa yang di lakukan Barra. Barra bermain dengan lembut, menggigit pelan bibir bawah Alana agar gadis itu membuka sedikit mulutnya.
Terdengar pelan suara desah*n Alana. Kini Barra memasukan kedua tangannya ke dalam baju Alana. Tangan satunya berpindah ke depan menuju perut, lalu ke atas menuju benda kenyal yang di bungkus.
Ci*man itu terus berlanjut. Tangan Barra mengusap pelan pembungkus itu, bergerak menuju tengah dan masuk ke celah celah.
Alana sadar, langsung menghentikan Barra dan melepaskan tangan Barra dari dalam bajunya. Lalu mundur menjauh dari cowok itu.
Cowok itu diam menatap Alana.
"Jangan, kita udah janji sama---
"Maaf, Al."
"Ya---yaudah kamu keluar, aku mau tidur sekarang,"
Suasana nya menjadi canggung, benar benar canggung.
"Ka--kalo gitu, aku keluar ya. Selamat malam," Barra langsung melesat pergi dari kamar Alana. Sambil merutuki perbuatannya tadi, jika Alana tidak sadar. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Argh! Bisa bisa kebablasan.
Alana langsung mengunci pintu. Sedangkan Barra, langsung masuk ke dalam kamarnya dan membanting badannya ke atas ranjang.
Barra telungkup, memasukan kepalanya ke dalam bantal. Menggerak gerakan kdua kakinya.
__ADS_1
"Ahh, kenapa gue bisa lakuin itu sih? Besok gimana nemuin Alana, apa gak malu? Sialan Barra, lo bener bener mesum," rutuk Barra untuk dirinya.
Barra langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan memeluk bantal.
"Ehh, kan seharusnya itu wajar. Gue sama Alana udah nikah, kenapa gue harus ngerasa bersalah? Lagian, gue juga gak mungkin ngehamilin Alana sekarang kali, gue inget gue masih sekolah. Ahh udah lah, gue anggap ini hal wajar sebagai suami istri. Kenapa juga gue harus malu,"
Barra langsung mematikan lampu kamarnya dan menutup matanya. Besok, ia berencana mengajak Alana belanja untuk kebutuhannya nanti selama perjalanan menuju kampung Alana.
***
Alana bangun lebih pagi dari biasanya. Karena semalaman ia tidak bisa tidur gara gara Barra. Entah senang atau apa, gadis itu tidak bisa mendeskripkan perasaannya.
Tapi, tidak bisa dipungkiri. Apa yang di perbuat Barra semalaman mampu membuatnya melayang dan seperti ada ribuan kupu kupu di perutnya.
Alana menyeduh susu favoritnya. Susu hangat tidak pernah tertinggal setiap pagi, itu adalah hal wajib yang harus ia lakukan.
Damar dan Athena sudah pergi karena hari ini ada meeting di luar kota. Keduanya sedang merencakan bisnis di luar kota, maka dari itu mereka sibuk bulak balik ke luar kota.
Tiba tiba Kyra datang menyapa Alana dengan manis dan sudah mengenakan seragamnya dengan rapih.
"Hai, kak Al," sapa Kyra.
Alana membalikkan badannya dan membalas sapaan Alana. "Hai, tumben nih udah rapih jam segini,"
"Iya dong,"
"Kyra mau di jemput seseorang," bisik Kyra.
"Ci, pasti dijemput pacar ya?"
"Bukan, tapi otw jadi pacar," Kyra lalu menyambat susu milik Alana dan meminumnya, lalu pergi keluar setelah mendapat sebuah ponsel bahwa seseorang sudah di depan.
Kyra melambaikan tangannya pada Kyra, lalu menghilang di balik pintu. Kini di rumahnya tinggal Alana dan Barra, art nya sedang belanja ke pasar.
Alana cepat cepat menyelesaikan urusannya dan langsung pergi ke kamarnya sebelum Barra bangun. Entah apa yang akan ia lakukan kalau benar bertemu dengan Barra.
Alana tergesa menaiki tangga dan saat sudah sampai di tangga terakhir, ternyata Barra sudah bangun dan berdiri disana.
"E--ehh, kamu udah bangun? Tumben?" tanya Alana kikuk, Tapi berbeda dengan Barra yang terlihat santai.
Cowok itu tersenyum menatap Alana. Lalu mengecup bibir Alana sekilas.
"Kiss morning," setelah melakukan itu, Barra langsung kabur dari hadapan Alana.
"Ish! Barra!" Teriak Alana.
__ADS_1