PERNIKAHAN DI SMA

PERNIKAHAN DI SMA
CHAPTER 51 : PENGAKUAN


__ADS_3

Barra dan Alana kompak tersedak, terkejut saat mendengar pertanyaan Gilang. Barra dan Alana menoleh satu sama lain.


Keduanya kini berkutat dengan pikiran masing masing, memikirkan jawaban dari pertanyaan Gilang tersebut.


Sial, ngapain sih nanya nanya kek gitu, babi. Batin Barra.


Alana meraih ponsel yang tergeletak di depannya, lalu mengetik satu pesan yang akan di tujuan pada Barra.


Alana


Bilang aja, kalo aku anak angkat mama atau apalah. Asal jangan pacar atau ngaku aku istri kamu. Awas aja kalo ngaku 🤏🏻


Barra langsung membuka ponselnya saat mendapatkan sebuah kode dari Alana. Barra menyeringai, setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Alana.


Ketiga temannya hanya memperhatikan interaksi aneh yang di lakukan oleh Barra dan Alana. Seperti dugaan mereka, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ketiganya makin penasaran dan terus memandangi Barra dan Alana yang tidak henti henti ya saling memberikan kode.


"Ish! Malah kode kodean. Buru jawab, jangan bikin gue penasaran, kambing!" Ujar Virgan ketus.


"Kepo banget sih lo!" Balas Barra.


"Yeuuu, buru jawab. Gue lempar duit segepok juga nih." celetuk Gilang dengan mulut yang di penuhi oleh makanan. Sedangkan Elang, santai menunggu jawaban dari Barra seraya melahap sepotong pizza yang ada di tangannya.


Ehem...


Barra berdehem sebelum menjawab. Alana tidak tenang, takut jika Barra akan mengakui hubungan mereka yang sebenarnya.


"Gue sama Alana itu sebenernya...


Barra menjeda omongannya.


" Sebenarnya...


Lagi lagi lelaki itu menjeda omongannya. Alana mencubit paha Barra, benar benar gadis itu takut jika Barra akan mengatakan yang sebenarnya.


"Haishhhh, lama banget. Banyak drama banget si!" Ketus Gilang.

__ADS_1


"Sebenarnya gue sama Alana udah nikah." Jawab Barra dengan santai.


Uhuk uhuk


Gilang, Virgan, dan Elang kompak tersedak saat mendengar pengakuan dari Barra. Mereka tidak percaya bahwa Barra dan Alana adalah suami istri.


Begitu pula dengan Alana, gadis itu terkejut sekaligus kesal. Benar benar si kepala batu! Batin Alana.


"Se—serius lo, setan?!" Tanya Virgan dengan penuh intimidasi.


"Serius ngapain gue bohong, tanya aja tuh sama Alana."


"Ngga, ngga, Barra bohong—


"Bohong dosa lho, Al." Serobot Barra.


Elang merasakan ribuan jarum menusuk hatinya bersamaan. Rasa sakit yang luar biasa, lelaki itu tidak percaya dengan pengakuan Barra tadi. Elang berharap kalau itu hanya gurauan Barra semata.


"Al, serius?!" Tanya Elang dengan ekspresi tidak percaya.


Awas ya nanti di rumah, kamu gak akan tenang, Barra!


"Be—berarti lo udah belah duren dong, Bar?" Tanya Gilang kurang ajar.


"Anj! Lo kalo ngomong gak di saring dulu." Barra spontan mencomot mulut Gilang yang lemes itu.


"Gak mungkin belah duren sekarang lah, kalo gue punya anak gimana? Orang masih sekolah. Tapi sebenarnya gue pengen cepet cepet sih." Ujar Barra, lagi lagi lelaki itu berbicara santai dan tenang ketika mengucapkan hal itu.


Plak!


Alana menggeplak kepala Barra dengan cukup keras." Aww! Sakit, Al." Pekik Barra.


"Makanya kalo ngomong tuh yang bener!"


Kini keheningan menyapa mereka, semuanya tidak terlibat obrolan atau candaan. Semuanya terdiam, ketika melihat Elang pergi begitu saja dengan raut wajah yang masam.

__ADS_1


Gilang, Virgan dan Barra, mereka tahu kalo Elang mempunyai perasaan pada Alana. Pasalnya, pemuda itu baru kali ini berinteraksi dengan perempuan sesantai dan seramah itu.


Elang adalah tipe lelaki yang dingin dan cuek pada perempuan. Belum ada yang bisa mencuri hati Elang. Pada akhirnya Alana datang dan membuat perilaku lelaki dingin itu menjadi hangat.


Barra tersenyum tipis, puas dengan jawaban yang ia berikan. Barra kesal, karena Elang kerap kali mendekati Alana. Barra tidak suka jika Elang terus berada di sisi Alana, takut kalau posisinya akan tergantikan.


Alana beranjak dari tempatnya seraya menarik tangan Barra menuju keluar dan menjauh dari teman teman Barra. Alana berjalan dengan tergesa gesa, gadis itu tidak habis pikir. Kenapa bisa Barra dengan santainya mengaku dan memberi tahu yang sebenarnya.


Arghh! Bikin malu aja.


Barra dan Alana kini sudah berada di halaman belakang. "Ngapain sih ajak ajak kesini, aku kan lagi makan." Ujar Barra dengan suara yang lembut.


"Kamu ngapain sih ngaku hah?! Kita kan udah sepakat jangan ada yang bocorin status pernikahan kita. Arghh bikin malu aja!" Ucap Alana dengan penekanan di setiap katanya.


Barra membulatkan matanya saat mendengar kalimat terakhir yang di katakan Alana.


"Apa bikin malu? Di mana letak malunya? Jadi kamu malu nikah sama aku?!" Tanya Barra memburu.


Apa maksud Alana dirinya membuat malu? Barra tidak mengerti apa maksud dan tujuan perkataan Alana tadi. Barra terus memandang Alana serius, begitu pun dengan Alana.


" Bukan malu nikah sama kamu, Bar. Tapi malu karena kita masih sekolah dan kita udah nikah, apa gak bikin orang kaget? Kamu negatif bener pikirannya." Jelas Alana seraya mencubit perut Barra.


"Aww! Sakit Alana!"


"Makanya kalo ngomong tuh di pikir dulu, Jamal!" Umpat Alana seraya pergi masuk kembali ke dalam.


Sedari tadi Elang belum kembali ke markas. Para sahabat nya bertanya tanya, apakah Elang pulang? Atau ia ke kamar mandi? Tapi tidak mungkin selama ini. Apakah Elang benar benar mempunyai perasaan pada Alana? Memang selama ini, mereka perhatikan Elang selalu berada di dekat Alana.


Gilang dan Virgan pun tidak menghiraukan Elang, karena lelaki itu susah di tebak dan pasti tidak mau menceritakan masalah apapun pada sahabatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING AND HAPPY KIYOWO BESTIE


__ADS_1


__ADS_2