
" Apa?? istri saya hamil?." Tanyanya dengan wajah terkejut dan tidak percayanya serta terdapat kebahagian yang tidak bisa dia sembunyikan.
" Iya, apa dokter tidak tau? seharusnya kan dokter tau mengenai hal ini kalau tidak salah janinnya sudah berusia 6 minggu dan untuk memastikan dokter bisa meminta dokter obgyn untuk memeriksanya." Ucap dr. Erwin.
" Saya tidak tau, tapi saya sempat curiga akan kemungkinan itu. Tetapi Istri saya selalu menolak jika saya mengajakny untuk periksa dan selalu bilang dia memang sering terlambat."
" Terima kasih dokter Erwin atas bantuannya." Ucap dr. Nando sambil tersenyun senang.
" Iya sama-sama dokter Nando dan selamat dokter sebentar lagi akan menjadi ayah." Ucap dr. Erwin, lalu menjabat tangan dr. Nando, dr. Nando tersenyum senang dan dia tidak sabar akan memberitahukan kabar ini kepada istrinya.
" Iya saya permisi dulu assalamu'alaikum." Ucap dr Nando.
" Walaikumsalam." Ucap dr. Erwin yang melihat punggung dr. Nando meninggalkan ruangannya.
" Alhamdulillah nyawaku masih selamat dan kenapa ni mulut gak bisa diajak kompromi lagi, tapi untungnya dia tidak terlalu mengambil pusing ucapanku." Ucap dr. Erwin mengelus dadanya yang rasanya jantungnya ingin keluar.
Di ruangan rawat
dr. Nando senantiasa menunggu istrinya yang belum siuman dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya serta mengenggam tangan istrinya karena dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Tidak berapa lama Mutia membuka matanya dengan perlahan dr. Nando yang melihatnya langsung menghujaminya dengan ciuman diseluruh wajahnya.
" Sayang gimana perasaanmu sekarang?." Tanya dr. Nando
" Kepalaku masih terasa pusing." Jawab Mutia ingin mengubah posisinya menjadi duduk, tetapi dr. Nando menahannya sehingga Mutia terbaring kembali.
" Kamu jangan bangun dulu istirahat aja, kamu masih lemah." Ucap dr. Nando.
" Aku kok ada di rumah sakit? memangnya aku kenapa?." Tanya Mutia saat melihat sekelilingnya dan terdapat infus ditangannya.
" Tadi kamu pingsan sayang dan aku langsung membawamu kemari." Jawab dr. Nando.
__ADS_1
" Aku juga ingin memberitahukan kabar gembira untuk kita." Ucap dr. Nando menatap intens wajah istrinya.
" Apa? oh, aku tau itu pasti hasil dari pemeriksaan anaknya pak rt kan." Ucap Mutia menebak-nevak dan dr. Nando mengelengkan kepalanya dan tersenyum.
" Terus apa? jangan tersenyum dan hanya mengelengkan kepala saja kalau mau kasih tau ya bicara aku mana tau kalau hanya dengan isyarat saja." Ucap Mutia kesel terlebih dia mengingat sebelumnya kalau suaminya itu sudah membuatnya marah hingga dia sadar dan sekarang berada di rumah sakit.
" Kamu hamil sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Ucap dr. Nando dengan semangat.
" Benarkah?." Tanya Mutia tidak percaya dan wajahnya sudah mulai berubah.
" Iya." Jawab dr. Nando dan melihat istrinya mengubah wajahnya menjadi sedih serta menanggis, hal itu membuat dr. Nando binggung apakah istrinya itu tidak mengingginkan anak yang berada di kandungannya itu dan banyak pertanyaan lainnya.
" Sayang kenapa kamu malah sedih? apakah kamu tidak mengingginkan anak ini?." Tanya dr. Nando, Mutia mengelengkan kepalanya.
" Aku sangat bersyukur dia hadir, tapi apakah aku pantas hiks hiks untuk menjadi seorang ibu? aku bahkan telah hiks hiks hiks membuat seorang perempuan menderita karena permintaanku hiks hiks hiks hiks." Ucap Mutia dengan menangis tersedu-sedu dan akhirnya Mutia histeris saat mengingat kembali masa lalunya bahkan memukul kepalanya, dr. Nando yang panik langsung memencet tombol disamping brangkar istrinya dan dokter masuk langsung membius Mutia.
" Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalumu? apa yang kamu sesali dari seorang perempuan? kenapa setiap ada yang tidak sengaja dia lihat dan dengar saja dia histeris? apa yang kamu sembunyikan sebenarnya sayang?." Gumam dr. Nando dalam hati bertanya-tanya dia bingung dengan kondisi istrinya, apa lagi ketika melihat ada ibu-ibu dari korban kecelakaan Mutia sama histerisnya dengan sekarang.
" Iya dok, silahkan." Ucap dr. Nando.
" Saya harap dokter jangan membuat istri dokter banyak fikiran dan saya rasa istri dokter sedang depresi, buatlah serileks mungkin dan dokter pasti tau jika istri dokter terus seperti ini apa yang akan terjadi."
" Baik dok saya mengerti." Ucap dr. Nando menghela nafasnya berat, meski pun dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. tapi yang dia tau dia harus menghindari yang namanya kecelakaan yang berhubungan dengan perempuan dan anak.
Beberapa hari kemudian
Mutia sudah diperbolehkan pulang dan untuk masalah di desa sudah selesai, dr. Nando dinyatakan tidak bersalah karena memang anak dari pak rt memamg dinyatakan hamil.
" Sayang kita hari ini ke rumahku." Ucap dr. Nando sambil merapikan pakaian Mutia dan dirinya ke dalam koper.
" Aku takut nanti kedua orang tuamu tidak mau menerimaku terlebih kita menikahnya mendadak." Ucap Mutia sehingga membuat dr. Nando menghentikan kegiatannya dan menatap istrinya.
__ADS_1
" Kamu tenang saja orang tuaku baik." Ucap dr. Nando dengan tersenyum terpaksa.
" Semoga saja." Gumam Mutia dalam hati karena dia sebelumnya tidak sengaja mendengarkan percakapan antara suaminya dan kedua orang tuanya di telvon sehingga membuatnya ragu, terlebih dia juga memiliki masalah dalam hal yang sama dengan keluarga dari papanya sehingga membuatnya trauma.
" Semoga saja setelah melihat istriku ini mama dan papa mau menerimanya." Gumam dr. Nando dalam hati.
Mereka berdua keluar menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil Mutia memilih diam dengan banyak pemungkinan yang akan terjadi nantinya.
" Apakah aku bisa kuat kalau keluarganya nanti tidak bisa menerima keberadaanku dan bayi yang ada di dalam kandunganku." Gumam Mutia dalam hati menutup matanya dan wajahnya menghadap jendela dan akhirnya tanpa disadari dia tertidur.
" Sayang meski pun kedua orang tuaku atau pun keluargaku nantinya tidak menerimamu aku tidak akan perduli yang terpenting bagiku kamu dan calon anak kita selalu berada disampingku, aku bisa gila bila kamu meninggalkanku untuk yang kedua kalinya." Gumam dr. Nando dalam hati menatap istrinya yang tertidur, lalu mengelus rambutnya pelan.
" Emm." Mutia membuka matanya saat merasakan sentuhan tangan suaminya.
" Ada apa? apa sudah sampai?." Tanya Mutia.
" Iya sayang, ayo kita turun." Jawab dr. Nando, lalu dia turun duluan dan berlari kecil membukakan pintu untuk istrinya serta membantunya untuk keluar mereka tidak menyadari ada beberapa tatapan tajam serta sinis yang menatapnya.
dr. Nando dan Mutia sudah masuk ke dalam rumah dr. Nando dan disana ada 7 orang yang menunggu mereka, entah siapa mereka itu Mutia tidak tau.
" Sayang aku kangen." Ucap seorang perempuan yang memakai dress selutut berwarna putih langsung memeluk dr. Nando serta mendorong Mutia.
" Kamu jaga sikapmu Mawar." Bentak dr. Nando.
" Nando kenapa kamu membentak Mawar dia itu calon istrimu." Ucap mama Nando yang bernama dwi.
Deg deg
Detak jantung Mutia berdetak lebih cepat, hal yang ditakutinya apakah akan beneran terjadi sekarang.
" Ya Allah apakah ini akhir dari pernikahanmu yang baru 2 bulan lebih ini." Gumam Mutia dalam hati yang dimana dia harus menghadapi disituasi yang pernah terjadi sebelumnya.
__ADS_1