
" Makanlah pasti kalian sudah lapar kan." Ucap Wiliam yang baru datang mendudukkan dirinya dikursi meja makan dan melihat dipiring keempatnya masih kosong yang artinya tidak ada di antara mereka yang mau mengambil makanan.
" Mi Rey lapar, apa makanan ini bisa di makan?." Tanya Rey pelan meminta persetujuan perutnya sudah lapar ditambah dengan melihat hidangan yang ada dihadapannya yang mengunggah selera dengan melihat Mutia, Ray dan Roy yang hanya melihatnya dari tadi tanpa menyentuh sama sekali makanan yang terhidang di hadapan mereka.
" Makanlah Rey kalau kamu lapar tidak baik membiarkan perut dalam keadaan kosong yang ada malah kamu jatuh sakit dan jangan mengikuti mami serta saudara-saudaramu yang hanya melihatnya, tenang aja di dalamnya tidak ada racun kalaupun ada saya juga akan mati bersama dengan kalian karena saya juga memakan yang kalian makan." Jelas Wiliam yang melihat kebaikannya malah membuat ketiga orang yang ada di hadapannya ini mencurigainya berusaha untuk tetap santai, dia tidak habis fikir dengan mereka bisa-bisanya berfikir kalau dia akan menaruh racun di makan yang sedang dia makan juga dari pada dia menaruh racun mendingan dia langsung menghabisinya seperti yang sebelum-sebelumnya atau menyiksanya terlebih dahulu.
Sontak ucapan Wiliam itu membuat Rey terkejut dan akhirnya terdiam tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang ada di hadapannya, dia menatap Mutia dan saudara-saudaranya meminta penjelasan, tapi tidak ada yang mau menjelaskan.
" Ck susah ya kalau mau jadi orang baik." Ucap Wiliam menghela nafasnya.
" Kalau orang baik tidak akan menculik kita dan memaksa mengikutinya dengan menodongkan pistol serta melukai orang lain." Ucap Ray yang baru membuka suaranya dengan tatapan tajamnya.
" Ok ok saya memang orang jahat, tapi apa kalian tidak bisa melihat ketulusanku kalau kalian tidak percaya juga saya yang akan mencoba terlebih dahulu semua makanan yang ada di meja." Ucap Wiliam menyerah karena kalau dia tetap memaksa percuma dan memilih membuktikan kecurigaan mereka dengan mencicipi semua makanan yang ada dihadapannya, Mutia dan ketiga putranya menatap Wiliam yang mencicipi makanan satu persatu yang ada di meja dengan menelan ludahnya.
" Hmm enak banget rugi gak ada yang mau makan sayang banget." Ucap Wiliam mengoda keempatnya yang mulai tergoda menahan senyumnya dan tidak berapa lama Ray dan Roy langsung mengambil makanan sedangkan Ray dan Mutia masih menahan dirinya.
" Ehemm.... karena dipaksa baiklah saya dan mami akan makan." Dehem Ray sebelum mengeluarkan ucapannya dengan memasang wajah datar dengan perlahan mengambil makanan, tapi tidak untuk dirinya melainkan untuk Mutia terlebih dahulu karena melihat Mutia mengendong Rea dia tau kalau maminya itu kesusahan lebih memilih menyuapi Mutia dari pada dirinya Wiliam yang melihatnya merasa terharu dengan perbuatan Ray.
" Uhh.... so sweetnya boy." Goda Wiliam, tapi tidak di perdulikan oleh Ray yang masih setia menyuapi Mutia.
" Gimana keponakan uncle enak gak makanannya?." Tanya Wiliam kepada Rey dan Roy yang dengan lahap makan dan mereka hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya karena mulut mereka berdua penuh dengan makanan.
" Hufff.... setelah makan nanti kita ngobrol sebentar ada yang mau saya bicarakan denganmu Tia." Ucap Wiliam memberitahu.
__ADS_1
" Bacalah." Ucap Wiliam memberikan sebuah map kepada Mutia dan Mutia menerimanya dengan kebingungannya menatap map itu dengan perlahan membukanya karena rasa penasaran dengan apa yang ada di dalam isi map itu, terlihat wajah terkejut dan sedih terlihat di raut wajah Mutia, lalu setelah membaca dia menatap wajah Wiliam lekat-lekat.
" Apakah yang ada di dalam berkas ini asli dan bukan rekayasa dari kalian?." Tanya Mutia menyelidik karena dia tidak begitu saja percaya dengn berkas yang sudah dia baca.
" Apakah kamu tidak melihat wajah kita yang hampir mirip?." Tanya balik Wiliam tanpa menjawab.
" Tapi." Ucap Mutia terpotong.
" Tapi apa? apa kamu tidak percaya? bukan kah kamu sudah mengetahui kalau kakakmu yang itu bukanlah kakak kandungmu melainkananak dari selingkuhan papahmu? dan apakah kamu juga pernah melihat makan kakakmu atau sekedar ditunjukkan tidakkan?." Tanya Wiliam dengan beberapa pertanyaannya hatinya sakit melihat penolakan dari adiknya sendiri.
Berkas yang diberikan oleh Wiliam adalah berkas tentang keluarga Mutia mulai dari papah Zainal dan bunda Fatma menikah sampai dengan sekarang dan satu hal yang tidak pernah mereka sangka bahwa anak yang dulu dilahirkan oleh bunda Fatma ternyata masih hidup.
Beberapa puluh tahun yang lalu bunda Fatma yang sedang mengandung 7 bulan mengikuti sosialisasi tentang kehamilan di puskesmas pulang ke rumah mempraktikkan apa yang dikatakan oleh bidan tadi.
" Kucoba aja yang dibilangin bidan tadi siapa tau bisa memperlancar kelahiranku." Ucap bunda Fatma sambil memecahkan telur ayam kampung di dalam gelas dan dimasukkin madu 2 sendok, lalu meminumnya.
Beberapa jam kemudian
" Aduh kenapa perutku rasanya kok kayak diaduk-aduk begini? apa iya aku mau melahirkan bukannya baru 7 bulan?." Tanya bunda Fatma pada dirinya sendiri terlebih ini adalah kehamilan pertamanya, jadi dia gak tau apa yang harus dia lakukan terlebih dia di rumah sendirian.
Kenapa mulasnya gak berhenti-berhenti juga malah tambah menjadi ada apa ini sebenarnya? ya Allah aku sudah tidak kuat menahannya lagi." Ucap bunda Fatma yang wajahnya sudah pucat karena dari tadi bolak balik kamar mandi dan menahan sakit hingga membuatnya lemas.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Bunda Fatma mengetuk pintu rumah tetangga yang ada disebelahnya yang hanya terhalang oleh tembok yang tidak terlalu tinggi dan terdapat pintu kecil yang terhubung ke rumah tetangga.
" Assalamu'alaikum bu Akbar." Ucap bunda Fatma memberi salam dan memanggil pemilik rumah karena memang kebiasaan mereka selalu memanggil dengan nama anak pertamanya bukan dengan namanya sendiri atau memakai nama suaminya.
" Walaikumsalam tunggu sebentar." Sahut orang yang berada di dalam rumah.
" Bu Fatma ada apa bu?." Tanya bu Akbar.
" Aww." Ringkis bunda Fatma.
" Duduk dulu bu." Ucap bu Akbar menuntunbunda Fatma untuk dududk karena khawatir dengan bunda Fatma yang memegangi perutnya terus terlebih barusan dia mendengar suara ringkisan.
" Bu Akbar boleh minta tolong antarkan saya ke puskesmas karena dari tadi perut saya melilit." Ucap bunda Fatma membuat bu Akbar mengenyitkan keningnya bingung.
" Maaf sebelumnya bu Fatma bukannya kandungan ibu baru berusia 7 bulan, tapi kok perut ibu ini seperti bayinya sedang mencari jalan untuk keluar?." Tanya bu Akbar karena dia sudah berpengalaman terlebih dia sudah mempunyai 2 orang anak terkejut saat memegang perut bunda Fatma.yang dimana posisi bayinya berada di sebelah bukan ditengah.
" Iya usia kandungan saya memang baru 7 bulan, tadi saya ke puskesmas menghadiri sosialisasi mengenai ibu hamil kataya dengan meminum telur ayam kampung dengan madu dapat memperlancar melahirkan jadi setelah pulang saja mempraktikkannya langsung." Jelas bunda Fatma jujur karena dia juga merasa khawatir dengan anak yang ada di dalam kandungannya kalau terjadi apa-apa.
" Astagfirlloalazim bu Fatma salah pengertian telur ayam kampung dengan madu bisa dimunum kalau bu Fatma sudah mau melahirkan, tetapi pembukaannya lama jadu dengan meminumnya bisa mempercepat atau kelahiran." Jelas bu Akbar panik karena mendengar penjelasan yang diucapkan oleh bunda Fatma yang telah salah pengertian tentang apa yang dijelaskan oleh bidan.
" Ayo bu Fatma saya antarkan ke rumah sakit." Ucap bu Akbar yang langsung masuk ke dalam kamarnya mengambil kunci motor tanpa menganti pakaiannya yang hanya memakai daster dan membantu memapah menaiki motor honda astrea prima tidak lupa juga memakaikannya helm kan tidak lucu istri polisi di tangkap polisi.
__ADS_1