
" Angkat wajahmu perempuan." Perintahnya yang tidak lain adalah Wiliam Ricard dan Mutia tetap menundukkan wajahnya karena Mutia tidak menuruti wajah laki-laki itu langsung marah sehingga dia mendatangi dan langsung mencengkram dagu Mutia dengan kencang agar dia dapat melihat wajahnya.
" Deg." Detak janntung lRicard berdetak dengan cepat saat menatap mata Mutia sedangkan Mutia jantungnya juga berdetak dengan cepat saat melihat wajah laki-laki yang ada dihadapannya ini.
" Wajah ini." Gumam Mutia di dalam hati matanya yang menatap wajah yang begitu dia kenali matanya mulai berkaca-kaca langsung memalingkan wajahnya.
" Kenapa wajahnya." Gumam Ricad dalam hati dia terkejut saat melihat wajah Mutia.
" Bawa perempuan ini ke kamar tidak dengan anak-anaknya." Perintah Wiliam.
" Enggak jangan pisahkan saya dengan anak-anak saya." Tolak Mutia dia takut anak-anaknya diapa-apain masih dengan mendekap Rea erat dan seorang laki-laki berpakaian hitam memaksa mengambil Rea hingga dia menjambak rambut Mutia.
" Aaakhh." Teriak Mutia merasakan kalau rambutnya akan lepas dari kepalanya membuat laki-laki yang memerintahkan anak buahnya menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap penuh amarah melihat perempuan yang baru dilihatnya disakiti merasa kalau dirinya yang disakiti, dia mendatanginya dengan mengambil samurai dengan salah satu anak buahnya, lalu memengal kepala anak buahnya yang telah menyakiti Mutia. Mutia yang melihatnya seluruh badannya bergemetaran ketakutan menutup matanya dan dia merasa kalau tubuhnya dipeluk oleh seseorang, Mutia yang merasakannya terasa nyaman dan pada saat dirinya sudah tenang dia melihat siapa yang memeluknya.
Deg.
" Jangan takut aku ada disini." Ucap Wiliam menenangkan Mutia dengan memeluknya erat tanpa rasa bersalah sama sekali.
" Apa dia bilang jangan takut? sedangkan dia dengan santainya memengal orang dihadapanku bagaimana aku gak takut coba? ini orang masih waras atau sudah gila sih?." Gumam Mutia bertanya-tanya, tapi dia hanya bisa bicara di dalam hati.
" Gimana saya bisa tenang kalau anak-anak saya dipisah dengan saya." Ucap Mutia dengan suara bergetar dan terdengar suara nafas yang dibuang kasar.
__ADS_1
" Ok kamu akan dikamar yang sama dengan anak-anakmu." Ucap Wiliam menuruti kemauan Mutia dan dia juga tidak tega, jika melihat wajah Mutia yang bersedih dan dia langsung pergi menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
" Aaaaakhh........ aku ini kenapa sih? kenapa aku gak tega melihat wajahnya? ada apa dengan perempuan itu?." Teriak Wiliam di dalam kamar mandi mengacak-ngacak rambutnya bingung sendiri dengan dirinya sendiri.
Di dalam kamar
" Hiks hiks hiks mi Rey takut." Ucap Rey sambil menanggis memeluk tangan erat Mutia.
" Yoy juga tapi Yoy gak nanggis kayak aka." Ucap Roy yang bingung melihat Rey yang dari tadi tidak mau berhenti menanggis sedangkan dirinya walaupun takut dia tetap menahan tanggisnya karena dia masih mengingat perkataan Nino kalau laki-laki tidak boleh menangis.
" Ckck bukannya menenanggin adiknya malah nangis begitu tu lihat Roy aja gak cengeng masa kakaknya cengeng gimana sih masa adiknya yang nenanggin kakaknya gak malu apa." Ucap Ray sebenarnya tau kalau Roy sedang menahan tangisnya dari matanya yang berkaca-kaca.
" Anak-anak mami jangan takut ya disini ada mami yang akan selalu melindungi kalian dan mami gak akan membiarkann mereka melukai kalian sebelum mereka melewati mami, jadi jangan menangis lagi ya sayang mendingan kalian tidur pasti kalian kecapen menanggis kan." Ucap Mutia menenangkan Rey yang memiliki mental lemah ketimbang adiknya Roy yang masih bisa menutupi ketakutannya dengan tidak menunjukkannya walau semua itu dapat dilihat oleh orang-orang terdekatnya.
" Ray juga ya tidur biar mami yang menjaga kalian." Ucap Mutia mengelus rambut Ray yang masih tetap duduk tidak seperti kedua adiknya yang langsung membaringkan tubuhnya.
" Ray aja yang menjaga mi biar mami yang tidur." Ucap Ray yang tidak tega meninggalkan Mutia sendirian untuk menjaga mereka berempat.
" Gak kamu aja ya sayang yang tidur biar mami yang jaga atau kita tidur barengan, tapi harus waspada." Ucap Mutia memberikan saran karena dia tau putranya yang satu ini keras kepala dan akan tetap kekeh dengan apa yang dia inginkan tanpa memperdulikan dirinya.
" Kita sama-sama tidur aja, tapi waspada aja mi biar sama-sama istirahat." Jawab Ray dan mereka merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, mereka tidak menyadari ada seseorang yang mengawasi kamar itu dan dia mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan tidak lain adalah Wiliam dengan sudut bibir yang melengkung.
__ADS_1
Di kamar yang berbeda Wiliam melihat cctv yang ada di dalam kamar yang ditempati Mutia dan keempat anaknya
" Ternyata mereka adalah keluarga yang kompak saling melindungi satu sama lainnya, tapi kenapa aku merasa ada kedekatan dengan istri dari Ricki ini ditambah wajahnya yang begitu mirip denganku walau tidak semuanya." Ucap Wiliam karena merasa ada yang berbeda di saat dia berdekatan dengan Mutia dia yang tadinya ingin menyiksanya, tetapi setelah melihatnya ada rasa ingin melindungi serta dia tidak ingin Mutia terluka sedikitpun.
" Kamu cari tau siapa sebenarnya istri dari Ricki Wicaksono saya beri kamu waktu setengah jam." Perintah Ricard pada seseorang yang ada disebrang dan tanpa menunggu jawaban dari orang di sebrang sana dia langsung mematikan telvonnya.
" Shitttt... mentang-mentang bos seenak jidatnya saja perintah gak tau apa kerjaanku menumpuk." Umpat seseorang yang ada di sebrang sana, tapi dia tidak berani langsug berbicara kepada orangnya yang ada dia bisa langsung digantung hidup-hidup.
Di tempat lain
" Tuan istri dan anak-anak tuan ketangkap dengan anak buahnya Wiliam." Lapor anak buahnya atau lebih tepatnya asisten pribadinya yang bernamanya Dio.
" Apa? kenapa bisa? kalian kemana saja? kenapa tidak melindungi mereka?." Tanya Ricki yang terkejut marah saat tau istri dan anak-anaknya ketangkap oleh Wiliam Ricard menjadi panik, khawatir dan takut istri dan anak-anaknya kenapa-napa.
" Maaf tuan kita kecolongan, tapi saya berjanji dengan cepat menemukan istri dan anak-anak tuan secepatnya." Ucap Dio menundukkan kepalanya tidak berani melihat kemarahan tuannya
" Baik temukan secepatnya karena saya tidak mau istri dan anak-anak saya kenapa-napa kalau harus kelamaan bersama dengannya atau bahkan sekarang mereka.... " Ucap Ricki terhenti karena tidak bisa melanjutkan kata-katanya ataupun membayangkan istri dan anak-anaknya disiksa, Dio yang mendengarnya mengerti perasan tuannya segera permisi.
Beberapa jam telah berlalu Dio sudah menemukan dimana tempat Wiliam bersembunyi di Indonesia segera melapor ke Ricki, Ricki yang mendengarnya dengan cepat melangkahkan kakinya untuk segera menuju ke tempat dimana istri dan anak-anaknya disekap.
" Tempatkan sebagian anak buah kita ke tempat-tempat dimana anak buahnya berada dan sebagian anak buah mengikuti kita pastikan tidak ada kesalahan satupun, apalagi ini menyangkut nyawa istri dan anak-anak saya yang dipertaruhkan. Bunuh siapapun yang mencoba menghalangi kita dan jangan libatkan polisi." Perintah Ricki yang langsung dilaksanakan sedangkan di tempat lain Mutia berserta keempat anaknya duduk di meja makan kecuali Rea yang terus digendong oleh Mutia.
__ADS_1