
" Udah ya marah-marahnya kasihan tu cucu-cucu papah mau lihat kakeknya bukan mau melihat sedih-sedih begini, apalagi marah-marah yang ada mereka takut dan tidak mau ke sini lagi peluk dong istrinya pah." Goda Mutia untuk mencairkan situasi yang tegang dan dia memeluk Ricki dan Ricki menyambutnya dengan senang hati bahkan tanpa malunya mencium kening istrinya dihadapan kedua mertuanya, diikuti kedua mertuanya yang tampak malu-malu melakukannya Mutia dan Ricki melihatnya saling pandang menahan tawanya.
" Ehem." Dehem Ricki yang membuat papah Zainal melihat ke arahnya.
" Papah maafkan aku karena sudah menikahi putri papah tanpa meminta restu papah terlebih dahulu malah menyuruh orang untuk meminta tanda tangan papah agar bisa cepat menikahi putri papah\, jujur dulu aku tidak mengerti yang namanya agama bahkan untuk sholat pun tidak pernah. Tapi setelah menikah putrimulah yang mengajariku tentang sholat\, mengji dan zakat karena aku hanya mengatahui yang namanya sedekah dan aku mengira sedekah dan zakat itu sama aja." Ucap Ricki tanpa malu menyebut papah Zainal dengan sebutan papah memberitahu masa lalunya karena walaupun dia beragama islam kedua orang tuanya tidak pernah mengajarinya tentang agama sedikitpun\, kedua orang tuanya hanya mengajari untuk bisa mempertahankan hidup dari banyaknya musuh yang menyerang. Jadilah dia anak yang tidak mengetahui agama bahkan bermain perempuan dan membunuhpun hal yang wajah sebelum menikah\, tapi kalau sudah menikah bermain perempuan sudah tidak boleh karena pernikahan adalah hal yang sakral dan tidak boleh dinodai oleh penghianatan. Untungnya Ricki tidak seperti saudaranya yang suka bermain dengan perempuan dia memegang teguh prinsipnya bahwa keperjakaannya hanya akan dia berikan kepada istrinya bukan kepada perempuan j****g dam kedua dia tidak akan membunuh sembarangan kecuali siapapun yang berani menganggu ketenangannya dan keluarganya harus menderita sebelum kematian dia berikan.
Papah Zainal terkejut mendengar kejujuran Ricki dan dia menatap Mutia meminta penjelasan karena dulu dia selalu mengtakan harus mencari suami yang taat agama untuk menjadi imamnya sekarang malah Mutia menikahi laki-laki yang tidak tau agama sama sekali.
" Aku tau papah terkejut, tapi aku punya alasan menerima untuk menikah dengannya. Ya walaupun aku tau dia tidak mengerti sama sekali soal agama, tapi dia mau berusaha untuk berubah lebih baik selain itu juga aku nyaman saat berada di dekatnya kita bisa saling bertukar fikiran saling menasehati kalau salah satu diantara kita melakukan kesalahan atau kita menegur dan lihatlah suamiku ini sudah banyak berubah bahkan dia yang selalu membujukku untuk terus ke Indonesia mendatangi papah." Jelas Mutia panjang lebar dan papah Zainal menatap keduanya yang saling mencintai serta terlihat diwajah putrinya itu kebahagian dia juga bisa melihat kalau menantunya itu adalah tipe laki-laki yang posesif dilihat dari dudunya yang berdempetan seperti perangko dan lem.
" Terima kasih nak sudah menjaga putri dan cucu-cucu papah dengan baik semoga kalian selalu bahagia dan terus bersama sampai ajal memisahkan." Ucap papah Zainal bersyukur putrinya mendapatkan orang yang tepat.
" Aamiin." Ucap semuanya yang ada disana.
" Papah tidak perlu berterima kasih itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suami dan ayah panggil aja Ricki pah." Ucap Ricki tersenyum ramah.
__ADS_1
" Iya Ricki." Ucap papah Zainal tersenyum juga.
" Lagian kalau aku menikah dengan orang alim gak ada sensasinya dong pah yang ada dia malah makai nama agama untuk menikah lagi mendingan suamiku ini kan." Ucap Mutia tersenyum dan melihat ke arah Ricki sambil menaik turunkan alisnya mengoda papah Zainal menanggapinya dengan tersenyum.
" Sayang jangan mengodaku disini kalau aku gak kuat bagaimana." Bisik Ricki di telinga Mutia serta hembusan nafasnya yang hangat membuat Mutia bergindik.
" Dasar mesum." Ucap Mutia.
" Mesum sama istri sendiri gak apa-apa kan pah dari pada sama istri tetangga." Ucap Ricki meminta bantuan sekaligus mengakrapkan dirinya dengan papah mertuanya.
" Oya pah aku bawa kue Ranggi loh apa papah masih suka makan kue itu?." Tanya Mutia mengalihkan pembicaraan karena menurutnya masalah itu sudah selesai dan tidak baik jika harus terus dibahas.
" Enggak lagi sayang bahkan papah lupa kapan terakhir kali memakannya, tapi papah masih menyukainya memangnya ada apa? kamu membawanya?." Tanya papah Zainal bersemangat menanyakannya siapa tau kan putrinya itu membawakan untuknya.
" Iya kebetulan aku membawakannya untuk papah dan papah harus makan banyak karena aku sudah membelinya dengan susah payah dan perjuangan." Jawab Mutia dan dia mengambil paper bag yang berisi banyak kue dan matanya menatap sekeliling seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
" Kenapa Tiara kayak mencari sesuatu? apa ada punyamu yang jatuh?." Tanya tante Sarah yang melihat Mutia ceinggukkan.
" Emm tante kalau boleh tau dimana kakak-kakak yang kok gak kelihatan atau mereka dirumahnya?." Tanya Mutia dengan tersenyum hanyat mencoba untuk mengakrabkan diri.
" Mereka tidak tinggal disini lagi." Jawab tante Sarah dengan raut wajah terlihat sedih.
" Oh iya aku lupa kalau mereka pasti sudah berkeluarga hehe." Ucap Mutia memaksa tertawa dan tangannya mengaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal merasa tidak enak.
" Iya Nicko tinggal di luar kota sedangkan Angga memutuskan untuk tinggal di pesantren dengan anaknya." Ucap tante Sarah dengan tersenyam juga Mutia yang mendengarnya mengenyitkan keningnya bingung karena tante Sarah tidak menyebut istri.
" Tinggal dipesantren dengan anaknya maksudnya bagaiaman ya tante masa istrinya ditinggal sendirian yang ada dia malah selingkuh." Ucap Mutia jiwa keponya meronta-ronta dan sifat itulah yang dia turunkan kepada Rey.
" Iya kamu memang benar Tiara Angga sudah bercerai karena istrinya berselingkuh dan dia membawa anaknya untuk mengenalkan ilmu agama karena dulu semasa kecil mereka tante tidak mengajarkan mereka agama dan malah mengejar kesenangan tante sendiri, bahkan dulu tante dengan teganya menitipkan mereka kepada pengasuhnya tanpa memberikan kasih sayang sebagai seorang ibu dan hanya menjenguknya mereka beberapa kali itupun bisa dihitung dengan jari dalam setahun sehingga hidup mereka menjadi bebas mempermainkan perempuan atau lebih tepatnya Rangga melampiaskan dengan bergota ganti pasangan untuk mendapatkan kasih sayang sampai dia mendapatkan seorang yang dia sayangi, tapi malah menghianatinya." Ucap tante Sarah bercerita dengan air mata membasahi wajahnya Mutia memeluknya mengusap punggungnya memberikan ketenangan sebelum tante sarah melanjutkan ceritanya..
" Jadi gak ada beban, jika mereka harus meninggalkan kami lagi karena kami memang tidak memberikan mereka kasih sayang dari kecil dan saat kami menjemputnya mereka sudah tumbuh dewasa sudah siap untuk meninggalkan kami untuk berumah tangan." Jelas tante Sarah menyesali perbuatannya dan Mutia hanya terdiam mencernanya tanpa terasa air matanya menetes ternyata dia masih beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya meskipun papahnya sibuk, tapi papahnya masih menyempatkan diri untuk pulang 3 sampai 4 hari dalam semnggu untuk menjengguknya dan melihat keadaanya. Dia tidak menyangka kalau hidup yang dijalani kedua kakak laki-lakinya begitu sulit dan menyedihkan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, padahal mereka ada karena kedua orang tuanya saling mencintai dan papah Zainal yang sudah lama menginginkan anak dari pernikahannya dengan bunda Fatma.
__ADS_1
Disini kita bisa mengambil hikmah kalau belum diberikan keturunan janganlah mengambil jalan dengan berselingkuh ataupun menikah lagi tanpa izin istri lebih baik kembalikan kepada orang tuanya dari pada menyakiti lebih dalam dengan kata-kata kasar maupun perbuatan karena kalau dari awal diawali dengan kebohongan seterusnya akan terus berbohong, lebih baik banyaklah berdoa, tawaqal kalau pun tidak diberikan keturunan masih banyak anak yang terlantar, yatim piyatu ataupun anak yang dibuang sama orang tuanya memerlukan kasih sayang karena ada alasan seseorang itu belum diberikan keturunan seperti durhaka kepada orang tua, selalu membuang titipan Allah SWT ( mengugurkan), tidak suka anak kecil, belum mampu merawat anak sehingga disuruh merawat dan mengurus anak orang lain dulu dan ada banyak lagi.