
" Mah aku itu sudah mempunyai istri dan aku tidak ingin memiliki istri yang lain." Tolak dr. Nando.
" Istri? dia itu hanya gadis kampung yang telah mengodamu di desa dan lihatlah penampilannya kampungan sekali." Ucap mama dwi.
" mah di." Ucap dr. Nando terpotong.
" Nando kamu ceraikan dia dan menikah dengan Mawar." Ucap papa Nando yang bernama Renald tegas.
" Pah aku gak akan pernah menikah dengan Mawar aku sudah mempunyai istri yang aku cintai." Ucap dr. Nando tak kalah tegas sedangkan Mutia hanya terdiam dia masih melihat serta mendengar semuanya, sebenarnya Mutia sudah kebal dengan caci makian sehingga dia tidak mengambil pusing akan hal itu.
" Kalau begitu kamu tinggal pilih kedua orang tuamu atau dia, kalau kamu memilih dia jangan pernah lagi menganggap kami orang tuamu." Ucap papa Ronald tegas menatap tajam keduanya.
" Pah jangan begini." Ucap dr. Nando serba salah antara memilih kedua orang tuanya atau istri yang dia cintai dan calon anak yang dia nanti.
" Pilih kedua orang tuamu dan ceraikan aku." Ucap Mutia datar melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh suaminya, dr. Nando yang mendengarnya terkejut dan menatap tak percaya sedangkan mereka yang ada di sana tersenyum sinis menatap Mutia.
" Apa yang kamu katakan sayang itu tidak mungkin, aku pasti salah dengar kan." Ucap dr. Nando masih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
__ADS_1
Kamu tidak salah dengar, dengarkan aku baik-baik pilih kedua orang tuamu dan ceraikan aku." Ucap Mutia datar dan terdapat kemarahan yang dia sembunyikan sedangkan kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat menahan gemuruh yang ada di dalam hatinya.
" Tapi." Ucap dr. Nando terpotong.
" Gak ada tapi-tapian, aku akan urus segera surat perceraikan kita." Ucap Mutia datar.
" Dan aku pastikan dalam beberapa hari surat itu sudah sampai ke rumah ini." Ucap Mutia datar langsung menarik kopernya keluar dari rumah dan memasukinya ke bekasi mobil dengan kasar serta melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu, dr. Nando ingin menyusul istrinya langsung ditahan oleh papanya.
" Jangan kamu kejar lagi perempuan yang tidak punya sopan santun itu masuk dan persiapkan pernikahanmu dengan Mawar, kalau sampai kamu berani membatalkan pernikahanmu aku akan buat perenpuan itu lenyap dari dunia ini untuk selama-lamanya." Ucap papa Ronald penuh tekanan dan ancaman disetiap ucapannya, dr. Nando yang mendengarnya hanya pasrah dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan perempuan yang sangat dicintainya itu terlebih dia sedang mengandung buah cinta mereka.
----------
" Sayang kamu mulai sekarang kamu hanya mempunyai mama." Ucap Mutia dengan mengelus perutnya yang masih datar.
Mutia turun dari mobilnya memencet bel dan tak lama muncul soaok yang sangat dia rindukan selama 3 tahun sahabat yang dia tinggalkan untuk menenagkan diri serta bekerja untuk memperbaiki hidupnya.
" Mutia." Ucapnya terkejut Mutia yang sudah tidak tahan dia memeluk sahabatnya dan menanggis meluapkan seluruh kesediahan yang dia rasakan.
__ADS_1
" Sifa hiks hiks hiks." Tangis Mutia pecah dia sudah tidak tahan dengan situasi yang sedang dia alami sekarang.
" Kamu kenapa? apa yang terjadi denganmu sebenarnya? bukannya kamu ada di luar negeri dan kenapa kamu seperti ini lagi Mut?." Tanya Sifa bingung sahabatnya datang-datang dan langsung menanggis seperti dulu dia sebelum pergi ke luar negeri.
" Hiks hiks hiks." Tangis Mutia sambil terus memeluk tubuh sahabat yang dia rindukan erat
" Ayo masuk dulu gak enak dilihatin orang." Ucap Sifa saat melihat ada seorang tetangganya yang melihat mereka, perlahan dia melepaskan pelukan Mutia yang membuatnya sesak nafas dan membawanya masuk ke dalam rumahnya serta mendudukan sahabatnya disofa panjang ruang tengah rumahnya karena tidak mungkin mereka duduk diruang tamu pasti nanti ada yang mencoba mendengarnya.
" Suami? kapan kamu menikah? kenapa tidak mengundang aku? ayo ceritakan ada apa sebenarnya denganmu?." Tanya Sifa terkejut saat mendengar kalau sahabatnya itu telah menikah, dia juga kecewa sahabatnya itu tidak memberitahukannya masalah pernikahannya. Sifa melepaskan pemelukkan daritubuh sahabatnya, Mutia menjelaskan kenapa dia bisa menikah.
" Aku menikah 2 bulan yang lalu pada saat aku ditugaskan untuk memantau perkembangan proyek di puncak dan pada saat itu aku tersesat hingga hari menjelang malam bengsin juga habis, aku pada saat itu ingin bertanya pada para laki-laki yang sedang ngunpul dan tidak sengaja melihat mereka melakukan transaksi narkoba dan mereka melihat aku. Lalu mereka mengejar aku sampai aku melihat ada rumah kosong dan aku langsung masuk ke sana, tanpa aku sadari disana juga ada seorang laki-laki. Pagi harinya pada saat aku terbangun sudah banyak orang disekeliling kamu dan mereka meminta kami dinikahkan atau digiring keliling kampung tanpa mau menerima penjelasan dari kami terlebih dahulu karena yang mereka lihat sudah menjadi bukti yang akhirnya kami sepakat untuk menikah dan kamu tau laki-laki yang aku nikahi ternyata laki-laki yang pernah menolongku dulu yang pernah aku ceritain padamu." Carita Mutia panjang lebar, lalu menanggis kembali hingga membuat Sifa bingung dibuatnya.
" Ada apa dengannya?." Gumam sifa dalam hati bertanya-tanya.
Terus kenapa kamu menangis?." Tanya Sifa menatap lekat mata Mutia terdapat rasa sakit dan kemarahan.
" Hiks hiks tapi aku melihat laki-laki beren*sek itu dengan J****g pilihannya serta kedua anaknya Sifa." Ucap Mutia sambil menanggis.
__ADS_1
" Kok bisa? kamu ketemu dimana sama mereka? ayo ceritakan padaku." Ucap Sifa terkejut dengan apa yang dia dengar sekaligus penasaran.
" Awalnya tadi suamiku ingin memperkenalkan aku dengan keluarganya, tapi setelah sampai ke sana semua keluarganya menolakku, merendahkanku serta memintaku bercerai darinya. Aku masih tetap diam sampai keluarganya ingin menikah kan suamiku dengan perempuan pilihan mereka dan kamu tau aku tidak sengaja melihat foto laki-laki beren*sek itu dengan perempuan j""""gnya serta kedua anaknya, mentang-mentang mereka dari keluarga kaya raya sehingga dengan mudah mempermainkan hidup seseorang dengan mudahnya. Hatiku sakit melihat mereka bahagia diatas penderitaan kami semua, aku sangat membenci mereka semua." Jelas Mutia panjang lebar dengan tagisan yang memilukan terdapat luka yang cukup dalam yang mungkin tidak akan bisa diobati dengan mudahnya, dimana orang yang paling dia sayangi serta percaya telah menghancurkan hidupnya. Bertahun-tahun keluarganya menjadi keluarga yang harmonis bahkan banyak yang iri dengannya, tapi itu semua tinggallah hal yang menyakitkan dalam hidupnya sampai waktunya bom itu meledak menyisahka penderitaan, rasa sakit, perpisahan secara mendadak yang diledakan oleh 2 orang yang tidak ingin lagi cintanya dihalangin.