PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 33


__ADS_3

Bu tante saya mau bicara." Ucap Ray saat sudah berada dihadapan istri pak Handoko yang bernama Retno dengan menyodorkan hpnya


" Iya nak." Ucap bu Retno dengan tersenyum ramah.


" Assalamu'alaikum." Ucap bu Retno memberi salam kepada orang berada disebrang sana.


" Walaikumsalam begini bu maksud saya menelvon tadi ingin menanyakan kondisi sahabat dan keponakan saya kepada Ray, saya yakin ibu bisa menjelaskannya kepada saya." Ucap Sifa to the poin berbicara dengan suara yang khawatir bagaimana dia tidak khawati Ray saja sebagai anaknya tidak tau mengenai kondisi orang tuanya danadiknya pasti kondisi Mutia sedang tidak baik-baik saja.


" Nak nenek pinjam dulu hpmu." Ucapnya yang hanya dijawab anggukan oleh Ray, dia langsung menuju kamarnya dan langsung menutup pintunya. Ray yang masih berdiri diposisinya berjalan mendekati pintu kamar untuk menguping dia penasaran kenapa berbicara saja harus sejauh itu? apakah ada yang dirahasiakan oleh orang dewasa itu kepada mereka mengenai kondisi mami dan adiknya Roy, betapa terkejutnya dia saat mendengar percakapan tersebut tangannya mengepal kuat dan saat dirasa langkah kaki yang mendekati pintu Ray buru-buru berjalan menjauhi.


" Nak ini hpnya terima kasih." Ucap bu Retno memberikan kembali hp kepada Ray sedangkan Ray hanya menggangukkan kepalanya dengan wajah datarnya tidak seperti tadi dan langsung pergi.


" Ada apa dengan anak itu? apa dia mendengarkan pembicaraanku tadi? aduh bagaimana kalau dia beneran mendengarkannya?." Gumam bu Retno dalam hati menyadari sikap Ray yang berbeda dari yang tadi.


" Aku harus segera ke rumah sakit untuk memastikan keadaan mami dan Roy." Gumam Ray dalam hati mulai menyusun rencana.


----------


Sifa sudah sampai ke rumah sakit Dirgahayu dimana Mutia dan Roy sedang dirawat dan dia menenyakan ruangan yang diberitahu oleh bu Retno tadi kepada suster yang sedsng lewat.


" Apa benar ini ruangan bu Mutiara Arifin?." Tanya Sifa ke ruang informasi diruangan itu.


" Sifa." Ucap Ricki terkejut karena kebetulan ingin masuk ke dalam ruangan Mutia mendengar nama istri dan ternyata ketika diamenengok ke belakang ternyata sahabat dari istrinya.


" Ricki." Ucap Sifa yang menyadari orang yang memanggil namanya.

__ADS_1


" Kamu ngapain ada disini?." Tanya Ricki yang masih terkejut akan keberadaan Sifa di rumah sakit."


" Masih tanya lagi aku ngapai disini yang pasti mau melihat kondisi sahabat dan keponakanku lucu sekali keponakanmu itu, kamu itu sudah tau sahabatku di dalam kondisi seperti ini gak ada ngasih kabar maka hp Mutia sama sekali tidak bisa dihubungi membuatku cemas."  Ucap Sifa marah dengan memukul dada bidang Ricki


" Darimana kamu tau." Ucap Ricki yang langsung dipotong.


" Kamu itu sebagai suami seharusnya menjaga istri dan anakmu baik-baik, apa lagi Mutia sekarang lagi mengandung." Ucap Sifa yang masih memaki Ricki sedangkan Ricki membiarkannya saja toh itu semua memang kesalahannya yang telah lalai menjaga mereka.


" Terus bagaimana dengan kandungannya?." Tanya Sifa yang melihat Ricki yang hanya terdiam.


Pak bu tolong tenang kasihan pasien-pasien yang lain pada terganggu." Tegur seorang suster yang melihat Sifa yang marah-marah.


" Iya aku memang suami dan ayah yang tidak berguna, Mutia kemarin sudah melakukan oprasi cessar dikarenakan mengalami pendaran dan keadaan putri kami juga masih sangat lemah dan memerlukan bantuan alat-alat untuk menompang hidupnya sedangkan Mutia masih dalam keadaan keritis." Ucap Ricki dengan wajah frustasinya membuat Sifa menyesal akan ucapannya yang pastinya menyakiti hati Ricki.


" Roy juga harus dirawat karena dia mengalami trauma akibat benturan yang dia terima, dia ada diruangan yang sama dengan maminya." Jelas Ricki dan mempersilahkan Sifa masuk untuk melihat keadaan Mutia dan Roy.


4 jam kemudian


Pak Handoko yang baru saja dihubungi istrinya panik sekaligus khawatir, ya bagaimana dia tidak panik kalau kedua anak yang dititipkan kepada mereka atau lebih tepatnya dirinya yang memaksa untuk membawa kedua anak itu ke rumahnya sekarang tidak ada di rumahnya. Apa yang harus nanti dia jelaskan kepada ayahnya? terlebih ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit yang ada malah menambah beban fikiran ayahnya, sehingga dia buru-buru mengerahkan anak buahnya untuk mencari Raydan Rey.


" Shit.... kacau." Umpat pak Handoko mengacak-ngacak rambutnya.


Bapak sih berani banget bawa anak orang yang baru dikenal ke rumah, jadi pusing sendiri kan." Ledek kasat yang baru saja masuk malah terkekeh senang melihatnya.


" Niat saya kan baik pak mau nolongin, apa lagi mereka tidak mempunyai keluarga di sini terlebih ibunya itu mirip." Ucap pak Handoko menghentikan ucapannya membuat pak kasat penasaran.

__ADS_1


" Mirip mantan bapak." Tebak pak kasat membuat pak Handoko mengelengkan kepalanya.


" Ngapain juga aku mengingat mantan yang jelas bukan siapa-siapaku mendingan mengingan istri, anak,cucu dan akhirat." Gumam pak Handoko dalam hati.


" Bukan anaknya pak Zainal Arifin." Ucap pak Handoko meralat takutnya nanti yang ada kasatnya itu mikirin yang tidak-tidak.


" Apa? bagaimana bisa? bukannya dia dikabarkan menghilang setelah perceraian orang tuanya dan meninggalnya mamanya?." Tanya pak kasat menjadi penasaran.


" Kalau itu sih saya juga gak tau pak atau mungkin saya salah mengenali orang." Ucap pak Handoko malas.


" Bapak harus menyelidikinya siapa tau dia memang putrinya pak Zainal, jadi kita masih ada kesempatan mendapatkan soft coppy file tentang sengketa tanah itu." Ucap pak kasat yang mulai semangat, bagaimana tidak setelah papa Zainal dipindahkan dibagian penyelidik dan diserahkan ke penyelidik yang baru file sengketa itu hilang entah kemana. Sehingga sengketanya yang sudah bertahun-tahun harus diperiksa dari awal, hal itu membuat orang yang memiliki sengketa dirugikan bukan hanya material, tetapi imaterial melaporkan kepada pihak KPK membuat orang yang terlibat dalam pengalihan berkas-berkas yang tidak lain penyelidik baru dipanggil oleh KPK sedangkan papa Zainal sudah pengsiun dan berpindah tempat tinggal tanpa mengubah identitas di KTPnya membuat pihak kepolisian sulit untuk melacaknya.


" Iya pak." Ucap pak Handoko.


" Tapi kalau pak Zainalnya bersedia menyerahkannya ya kalau tidak mana bisa dia dipaksa." Gumam pak Handoko dalam hati yang tau betul watak papa Zainal yang tidak bisa dibujuk rayu oleh siapapun terlebih terhadap uang.


Di tempat lain


" Assalamu'alaikum." Ucap Ray dan Rey yang memasuki ruangan.


" Walaikumsalam." Ucap Ricki dan Sifa berbarengan sambil melihat orang masuk, Ricki menghampiri mereka berdua dan membuka pintu mencari seseorang


" Ray Rey kalian berdua datang ke sini sama siapa? jangan bilang kalian kabur dari rumah pak Handoko?." Tanya Ricki ketika tidak mendapati orang dibelakang kedua anaknya..


" Iya papi kok tau, tapi akak yang ajakin Rey kalau Rey sih ikut aja karena mau lihat mami dan adik Roy." Jawab Rey dengan cengegesan sedangkan Ray mengelus pipi Mutia yang masih belum membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2