
" Hahaha jangan bicara seperti itu kualat kamu sama suami." Ucap Sifa sambil terkekeh.
" Oh ya kamu perginya membawa anak-anak?." Tanya Sifa.
" Tidak aku pergi sendiri saja, lagian aku pergi hanya sebentar." Jawab Mutia.
' Mut apa kamu gak mau memperkenalkan anakmu kepada papamu?." Tanya Sifa hati-hati.
" Aku tidak tau Fa bagiku kedua orang tuaku sudah tiada bersama dengan perginya mama dan adik perempuanku." Ucap Mutia matanya mulai berkaca-kaca dan tidak lama air matanya menetes membasahi pipinya.
" Aku tau betapa hancurnya dirimu beberapa tahun yang lalu, tapi apa tidak ada maaf untuk papamu walau bagaimana pun papamu itu manusia yang tidak luput dari kesalahan serta dosa. Berikanlah kesempatan untuk menebusnya? papamu juga sama menderitanya dengan kalian, bahkan papamu mengorbankan kebahagiaannya untuk putri yang sangat dia sayangi." Ucap Sifa menasehati dan mengingatkan sahabatnya kalau pun dia menjadi Mutia mungkin dia tidak akan sanggup menghadapinya, tapi mengingat agama yang mengajarkan untuk saling memaafkan dan tidak memutuskan silahturahmi kepada sesama manusia.
" Ya dia memamg memanjakanku dari kecil dengan membelikan apapun yang aku minta, tapi dia tidak menyadari aku tidak terlalu membutuhkan barang-barang yang ku minta itu karena yang ku butuhkan adalah waktu berkumpul bersamanya. Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang aku membutuhkannya, tapi dia memilih menyibukkan dirinya untuk bekerja lalu apakah ini yang di namakan berkorban? lucu sekali. lalu bagaimana dengan mama Jenny yang selalu ada di sampingku mulai dari melakukan hal-hal kecil sampai yang terbesar apakah dia tidak menghargainya atau bahkan tidak menganggapnya ada." Gumam Mutia dalam hati geram dia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang bergejolak didadanya sebelum berbicara dengan sahabatnya.
" Mengorbankan kebahagiaannya?? aku tidak meminta itu kalau saja dia meninggalkanku pada saat aku masih kecil dan membiarkanku membencinya mungkin semua tidak akan seperti ini, kalau boleh memilih aku lebih baik dia meninggalkanku sejak kecil dari pada sudah dewasa. Banyak penyesalanku kepada mama Jenny kepada adik-adik, bahkan aku malu untuk bertemu dengan mereka karena aku adalah penyebab dari mereka menderita. Memaafkan adalah hal yang mudah, tapi melupakan semua itu rasanya aku tidak sanggup matipun aku tidak berani." Ucap Mutia panjang lebar mengeluarkan isi hatinya sambil menanggis hingga membuat matanya sedikit bengkak.
" Mut maafkan aku, aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan kejadian itu dan membuatmu sedih." Ucap Sifa menyesali atas ucapannya ketika melihat Mutia yang seakan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian beberapa tahun yang lalu, Mutia memaksakan senyumnya dan meninggalkan Sifa sebelum dia keluar dia menyeka air matanya.
" Banyak orang yang bilang jangan egois lebih baik memaafkan dan berdamai dengan masa lalu dari pada harus menyakiti diri sendiri, dimana mengucapkan kata memaafkan adalah sesuatu yang mudah diucapkan oleh manusia. Tapi apakah seseorang yang telah memaafkan tidak akan mengungkit atau mengingatnya kembali kejadiaan itu? pasti jawabannya mereka akan terus mengingat didalam hatinya bagaimana rasa kecewa yang begitu besar kepada laki-laki yang kita cintai pertama kali di dunia, orang yang begitu kita percayai akhirnya lebih memilih orang lain. Dan sekarang dari beberapa tahun untuk pertama kalinya aku akan melihatnya lagi wajah itu, wajah orang yang membuatku kecewa. Tapi aku tidak munafik rasa sayangku kepada tidak akan pernah berubah mungkin benar kata orang darah lebih kental dari pada air, tapi diminta untuk tinggal bersamanya aku tidak sanggup bahkan berdekatan dengannya akan selalu mengingatkanku kejadian itu kejadian yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun. Aku akui aku memang egois dan tidak melihat kasih sayangnya serta mengorbanannya kepadaku, tapi bukan kah sebagai orang tua itu memang kewajibannya untuk memberikan kasih sayang serta berkorban demi kebahagiaan anaknya. Mengapa sekarang pengorbanannya harus dihitung dan diucapkan seolah-olah menyalahkan aku yang telah mengambil keputusan tanpa memberitahunya terlebih dahulu, sehingga membuatnya sengsara. Bunda kenapa engkau tidak membawaku bersamamu dan kenapa aku harus dipertemukan dengan mama Jenny, sehingga aku tidak membawanya ke dalam lubang kesensaraannya hingga mama Jenny menutup mata, tapi aku hanya bisa berandai-andai karena semua ini sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali." Gumam Mutia dalam hati mengatakannya pada dirinya sendiri dan mencoba untuk kuat didalam mobil yang dia pesan dalam suatu aplikasi sambil merias wajahnya agar tidak kelihatan sembab yang akan membuatnya ditanyai oleh banyak orang nantinya. Mutia terus mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar didepan banyak orang dengan menutupi rasa sakit dan penyesalan mendalamnya.
" Bu kita sudah sampai." Ucap Supir yang membawa Mutia membuat Mutia sadar dari lamunannya.
" Iya pak terima kasih." Ucap Mutia dan mengambil beberapa lembar uang ditasnya dan memberikannya.
__ADS_1
" Bu ini kebanyakan." Ucap Supir itu ketika melihat uang yang diberikan Mutia.
" Udah bapak ambil saja itu rezeki bapak assalamu'alaikum." Ucap Mutia sambil tersenyum, lalu meninggalkannya memasuki rumah bertingkat 3 dengan penjagaan ketat.
" Terima kasih bu walaikumsalam." Jawab Supir walau Mutia telah membalikkan badannya dan berlalu pergi.
" Perlihatkan undangannya bu." Ucap penjaga dibagian undangan.
" Undangan?." Tanya Mutia tak mengerti.
" Iya sebelum masuk ibu harus memperlihatkan undangan kalau tidak ada ibu tidak boleh masuk." Jawabnya ketus.
" Oh begitu, saya juga tidak berniat." Ucap Mutia ingin meninggalkan tempat pemeriksaan undangan.
" Siapa anda?." Tanya Mutia dingin.
" Saya Iksan anaknya pak Akbar sahabatnya papa mbak mungkin mbak tidak mengenali saya, tapi saya tau mbak anak pak Zainal." Jawab Iksan.
" Oh." Ucap Mutia malas.
" Mbak mau kemana acaranya kan baru akan dimulai?." Tanya Iksan.
" Pulang." Jawab Mutia.
__ADS_1
" Loh kok pulang sih mbak?." Tanya Iksan heran.
" Saya tidak membawa undangan, jangan memanggilku mbak emang sejak kapan aku nikah dengan kakakmu dan 1 lagi jangan banyak bertanya." Jawab Mutia ketus sedangkan Iksan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dia bingung sendiri dengan jawaban Mutia.
" Kenapa harus membawa undangan? bukan kah dia anak kandung om Zainal yang memiliki rumah dan acara ini atau dia sedang mengerjaiku atau kah dia memiliki masalah dengan keluarganya." Gumam Iksan dalam hati bingung sehingga dia menebak-nebak.
" Ok ok saya minta maaf, yaudah masuk pasti kamu capek membawa perut besarmu kemana-mana." Ucap Iksan menaik tangan Mutia dengan lembut untuk masuk ke dalam.
" Pak ibu ini tidak memiliki undangan." Ucap orang yang tadi menanyai Mutia.
" Tidak memiliki undangan? bahkan tanpa undangan pun dia bisa masuk apa kalian tidak tau dia ini siapa hah." Ucap Iksan kesel.
" Dia ini putri semata wayang pak Zainal Arifin pemilik rumah dan acara, jadi apa kalian sekarang akan melarangnya lagi untuk masuk ." Lanjut Iksan membuat orang-orang disana terkejut dan langsung melihat ke Mutia.
" Tidak pak, kami tidak berani." Ucapnya sambil mengelengkan kepalanya.
" Maafkan saya bu." Ucapnya ketakutan sedangkan Mutia melepaskan tangannya yang di gandeng oleh Iksan dengan kasar, lalu melenggang masuk sambil mengusap perutnya dengan wajah kesel tanpa dia menyadari ada beberapa tatapan mata yang menatapnya terkejut.
Deg
" Mutia dia ada di sini." Ucap seseorang menatap tak percaya orang yang sudah 10 tahun ini dia cari sekarang berada didekatnya dengan tatapan penuh kerinduan dia mendatangi Mutia, bahkan bukan hanya dia saja yang mencoba menghampiri Mutia.
" Mutia." Panggilnya membuat Mutia mau tidak mau melihat ke asal suara dan mengenyit keningnya.
__ADS_1