PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 25


__ADS_3

" Memangnya ada apa dengan perenpuan itu? ini sudah 10 tahun apa perempuan itu kembali lagi?." Tanya Diki dengan raut wajah penasaran karena Rangga mengingatkannya dengan kisah pernikahan dadakan dan sesaat Nando.


" Ya dia kembali dan kamu mau tau ternyata perempuan itu adalah adik perempuanku yang selama ini kami cari." Jawab Rangga dengan tersenyum getir membuat Diki terkejut mendengarkan.


" Astaga kenapa hidup keluarga kalian serumit ini." Ucap Diki yang juga merasakan kesedihan yang di rasakan keluarga ini pasalnya dia sedikit tau ceritanya dan dia sekarang tidak bisa berkomentar.


" Aku doakan semoga semua akan membaik dengan berjalannya waktu." Ucap Diki tulu


" Semoga saja." Ucap Rangga dan Diki pamit untuk kembali ke rumah sakit.


Di Samarinda


" Bagaimana dok kondisi istri saya?." Tanya Ricki to the point.


" Ibu harus bedrest beberapa hari untuk menjaga kesehatan anak yang ada di dalam kandungannya." Jelas dokter dan dokter melihat ke arah Roy yang di gendong oleh Ricki.


" Ini anak kami yang ke tiga." Ucap Ricki yang mengerti tatapan dokter.


" Wah pasti rame rumah diisi oleh banyak anak-anak." Ucap dokter perempuan sambil menatap Ricki.


" Iya alhamdulillah kalau rezeki gak kemana." Ucap Ricki dengan tersenyum sedangkan Mutia wajahnya sudah cemberut melihat interaksi antara Ricki dan dokter tanpa aba-aba langsung berdiri serta keluar dari ruang dokter dengan menghentakkan kakinya.


" Laki-laki kalau lihat perenpuan bening sedikit aja istrinya langsung dilupain awas aja gak ada jatah sampai aku melahirkan." Gerutu Mutia sambil berjalan.


" Tapi aku gak mi aku laki-laki sejati." Ucap Rey menyela ucapan Mutia sambil mengikuti Mutia dari belakang membuat Mutia terkejut olehnya, bahkan wajahnya memerah karena malu.


" Rey kamu mengikuti mami?." Tanya Mutia.


" Jelas Rey ngikutin mami buktinya Rey ada di sini, sebagai anak laki-laki Rey akan menjaga mami bukan seperti kak Ray." Ucap Rey sambil menganggukkan kepalanya dengan melipatkan kedua tangannya didadanya, Mutia yang melihatnya menjadi gemes sehingga dia menciumi pipi Rey membuat Rey merenggut kesel.


" Mami jangan menciumi Rey diluar." Ucap Rey dengan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri.


" Memangnya kenapa?." Tanya Mutia tidak mengerti.

__ADS_1


" Rey kan sudah besar malu dilihatin orang banyak." Ucap Rey dengan memasang wajah serius.


" Oh sekarang anak mami ini sudah besar ya, jadi mulai sekarang harus mandi sendiri kalau tidur juga harus bangun sendiri dan kalau makan juga gak boleh disuapin lagi seperti kak Ray." Ucap Mutia dengan menahan senyumnya melihat wajah Rey yang menatapnya dengan wajah cemberut.


" Kok gitu mi Rey kan masih 4 tahun kakak kan sudah 7 tahun." Ucap Rey protes.


" Masa Rey masih mau seperti Roy mandi harus di mandiin makan harus disuapin, apa lagi sekarang Rey sudah mau tambah 1 adik lagi." Ucap Mutia yang membuat Rey terdiam.


" Baiklah Rey janji akan belajar seperti kak Ray yang nantinya akan menjaga adik-adik di saat mami dan papi sibuk." Ucap Rey dengan tersenyum walau dalam hatinya sedikit tidak iklas.


" Terus sekarang kita mau kemana mi?." Tanya Rey saat Mutia sudah membawanya keluar dari rumah sakit.


" Gimana kalau kita makan Ice cream." Jawab Mutia yang sudah menelan ludahnya membayangkan ice cream coklat memasuki mulutnya.


" Asik makan ice cream ayo mi." Ucap Rey ikut bersemangat.


Mutia dan Rey asik memakan ice cream di Samarinda Central Plaza atau sering disebut SCP membuat ibu dan anak itu lupa dengan ketiga laki-laki yang mereka tinggali. Saking enaknya Mutia sampai menghabiskan 4 cup ice cream sedangkan Rey 2 karena Mutia melarangnya memakan banyak membuat Rey kesel, tetapi tetap menurutinya.


" Hai kalian disini." Ucap seseorang langsung duduk di hadapan mereka yang tidak lain adalah Nando.


" Sayang mau lagi ice creamnya?." Tanya Nando yang melihat ice cream Rey sudah habis.


" Gak, om mau membuatku sakit tenggorokan apa." Jawab Rey dengan tatapan tidak suka.


" Om ngapain ada di sini? apa om ngikutin kita?." Tanya Rey dengan menatap Nando tajam.


" Gak tadi kebetulan aja om ada keperluan, jadi mampir ke sini." Ucap Nando lembut dengan senyum dipaksa.


" Sialan ini anak cerewet banget kalau aja dia bukan anaknya perenpuan yang aku cintai sudah ku buang ke laut." Gumam Nando dalam hati mengumpat dan menatap Rey tajam Mutia memperhatikan laki-lako yang ada di hadapannya dalam diam, dia tidak suka dengan Nando yang membuat anaknya Rey ketakutan.


" Sayang yuk kita jalan-jalan lagi, permisi dokter kami pergi dulu." Ucap Mutia langsung mengandeng tangan Rey.


" Tunggu." Ucap Nando memegang tangan Mutia dan langsung dilepaskan paksa oleh Mutia.

__ADS_1


" Anda yang sopan jangan sembarangan memegang tangan perempuan, apa lagi anda tau kalau saya sudah memiliki suami." Ucap Mutia dingin dan wajahnya datar.


" Aku minta maaf, aku hanya ingin berbicara berdua denganmu." Ucap Nando yang takut Mutia marah kepadanya.


" Maksud anda saya harus menyuruh anak saya tunggu ditempat lain? maaf saya tidak bisa melakukan itu kalau anda ingin berbicara suami saya juga harus ada karena kami tidak selalu terbuka satu sama lain." Ucap Mutia membuat Nando tersenyum sinis.


" Mutia sayang kenapa kamu seolah-olah melupakanku? kenapa kamu berubah? dimana anak kita? apakah dia selamat?." Tanya Nando yang membuat Mutia memegang kepala yang menjadi sakit Nando tidak menghiraukan dia terus menyudutkan Mutia karena memang dia tidak tau kalau Mutia mengalami amesia.


" Jawab Mutia, aku tidak menyangka kamu bisa secepat itu melupakan cinta kita, apa kamu sudah tidak mencintaiku? aku bahkan sampai sekarang masih mencintaimu dan sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu, aku memang salah telah membuat keputusan tanpa mempertimbangkan perasaanmu terlebih dahulu, tapi aku lakukan itu demi melindungimu dan aku tidak pernah berniat sama sekali menceraikanmu." Ucap Nando terhenti ketika melihat Mutia pingsan.


" Mami." Panggil Rey setengah berteriak.


" Mami mami bangun jangan tinggalin Rey, Rey takut." Ucap Rey menangis sambil memeluk Mutia membuat orang-orang melihatnya.


" Ini semua gara-gara om kalau saja tadi om gak datang mami gak akan jadi seperti ini, lepasin mamiku." Ucap Rey berteriak sambil menangis melihat Nando dengan tatapan marah.


" Ada apa ini?." Tanya keamanan yang sedang berjaga.


Di luar SCP


Ricki mengendong Roy dan Ray berjalan disampingnya.


" Pi itu rame sekali ada apa ya?." Tanya Ray yang melihat orang-orang bergerombolan membuatnya penasaran karena di luar negeri tidak ada yang seperti itu kecuali kecelakaan.


" Papi juga gak tau biarin aja yang terpenting sekarang kita cari mami dan adikmu." Jawab Ricki tidak mau tau yang ada di dalam fikirannya sekarang adalah anak dan istrinya cepat ketemu.


" Jangan memegang mamiku." Teriak Rey membuat langkah kaki Ricki dan Ray yang baru 2 langkah langsung terhenti karena mendengar suara yang tidak asing ditelinga mereka dan saat menyadari mereka langsung menerobos gerombolan orang-orang mendapati anak dan istrinya ada di sana.


" Rey." Panggil Ricki membuat Rey yang masih memeluk tubuh Mutia menolehkan kepalanya kearahnya.


" Papi mami." Ucap Rey dengan air mata yang membasahi wajahnya.


" Ray gedong adikmu." Ucap Ricki sebelum memberikan Roy kepada Ray, lalu mendekati Mutia dan mengendongnya membawanya keluar dari SCP dengan berjalan cepat.

__ADS_1


" Rey ayo apa kamu mau ditinggal disini." Ucap Ray kesel melihat adiknya itu masih berdiam diri tanpa berkata Rey berjalan duluan Ray mengikutinya dari belakan dengan mengendong Rey.


" Cih papi malah ningalin anak-anaknya." Decak Ray kesel papinya malah melupakan mereka dan meninggalkannya bersama kedua adiknya di kota yang tidak dia hafal jalannya.


__ADS_2