
" Ngapain masih di sini cepat pergi cari anak-anak." Ucap Mutia dengan nafas yang naik turun menatap suaminya tajam.
" Aku pergi sayang hati-hati disini." Ucap Ricki yang tidak mau Mutia marah-marah kepalanya lebih baik dia pergi mencari ketiga anaknya.
" Cup." Ricki mencium bibir Mutia yang pucat karena dari tadi bibir itu terus mengodanya.
" Asaalamu'alaikum." Ucap Ricki sebelum keluar dari pintu.
" Walaikumsalam." Jawab Mutia.
Ricki berjalan dengan cepat menuju ind****** setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya yang menjaga dari kehauhan, dia membutuhkan waktu setengah jam sesampainya disana dia langsung ditatap tajam dengan anaknya Ray sedangkan Rey tertidur dipaha Ray dan Roy di stroller bayi.
" Asaalamu'alaikum anak gantengnya papi." Ucap Ricki dengan tersenyum memamerkan deretan giginya.
" Walaikumsalam." Jawab Ray dingin menatap tajam Ricki.
" Pak ini anaknya?." Tanya mbak kasir.
" Iya mbak." Jawav Ricki.
" Bapak ini bagaimana sih meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, gak kasihan apa dengan adik yang masih bayi dari tadi menangis." Ucap mbak kasir kesel Ricki membuang nafasnya kasar.
" Di rumah sakit maminya anak-anak sudah ngomel-ngomel eh disini diolelin juga sama orang belum lagi anak-anak pasti marah denganku." Gumam Ricki dalam hati mencoba bersabar menerima walau bagaimana pun itu semua salahnya, apa lagi di ind****** lagi banyak pembelinya sehingga membuatnya harus kebal menahan malu.
" Iya maaf ya mbak karena telah menyusahkan dan terima kasih telah menjaga anak-anak saya." Ucap Ricki mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya ke mbak kasir alas rasa terima kasihnya, lalu mengangkat Rey ke gendongqnnya pelan-pelan agar tidak membangunkan.
Setelah Rey berada digendongan Ricki Ray bangun dari duduknya karena dia merasakan kakinya keram akibat ditidurin Rey.
__ADS_1
" Aww." Ringkis Ray merasakan keram kembali duduk dan memijit kakinya.
" Ray sayang kamu gak apa-apa?." Tanya Ricki khawatir, tapi Ray tidak menjawab pertanyaan papinya karena masih merasa kesel setelah dirasa sudah mendingan dia kembali berdiri.
" Terima kasih mbak." Ucap Ray dengan diselipi senyun tipis dibibirnya setelah itu mendorong stroller Roy keluar dari ind****** diikuti Ricki dibelakangnya, disebrang sana ada seseorang yang memperhatikannya dengan senyum sinisnya.
Di rumah sakit Mutia yang sudah mengingat semuanya menghela nafasmya lelah.
" Kenapa mereka semua kembali lagi di dalam kehidupanku? padahal aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang bersama suami dan anak-anakku." Gumam Mutia dalam hati sebenarnya dia sudah memaafkan, tapi jika melihat wajah papah Zainal malah membuatnya mengingat kenangan pahit di masa lalunya dan beberapa kesalahan fatal yang di lakukan papah Zainal demi dirinya seperti menikahi mama Jenny karena wajahnya yang mirip dengan bunda Fatma.
" Sayang mami." Panggil Ricki dan Ray bersamaan tidak membuat Mutia tersadar dari lamunannya sampai Ricki menyentuh tangan Mutia baru membuatnya terkejut dan membuyarkan lamunannya.
" Sayang kenapa tidak istirahat malah melamun hm?." Tanya Ricki sambil mengelus rambut Mutia sedangkan Ray membuka kasur angin yang baru dibeli dan memompanya agar bisa mengistirahatkan badannya yang terasa lelah sedangkan Rey di tidurkan di sofa dan Roy masih di strollernya.
" Mana bisa aku istirahat sedangkan anakku tidak tau diluar keadaannya bagaimana." Jawab Mutia ketus.
" Aku sudah mengingat semuanya." Ucap Mutia pelan memberitahu, tapi masih bisa didengar oleh Ricki.
Degg...
Jantung Ricki berdetak dengan cepat rasa takut kehilangan memenuhi dirinya.
" Sayang kamu tidak akan meninggalkanku dan anak-anak kan?." Tanya Ricki dengan suara gemetar dan menatap Mutia harap-harap cemas, tangannya mengengam tangan Mutia erat.
" Pertanyaan apaan itu sayang? jelas aku tidak akan meninggalkanmu, apa lagi kita sudah mempunyai anak jangan bicara sembarangan. Walau ingatanku sudah kembali bukan berarti aku mau kembali dengan laki-laki yang sudah menghianatiku terlebih dia adalah keponakan dari istri papahku." Ucap Mutia yang tau akan ketakutan dalam diri Ricki terlebih dia sudah sangat mencintai Ricki, bagaimana tidak mereka sudah hidup bersama 8 tahun di setiap bangun tidur wajah Ricki yang pertama kali dia lihat saat membuka mata. Walau awalnya dia tidak mencintainya dan menerima pernikahan karena rasa balas budinya yang telah merawatnya selama koma dan masa pemulihan, seiring berjalannya waktu dia perlahan mulai mencintai Ricki dengan kelembutan, kesabaran dan perhatiannya membuat Mutia tidak bisa menolak rasa yang datang kepalanya terlebih ada anak di antara mereka sebagai penghubung.
" Benar kan sayang kamu gak akan meninggalkanku?." Tanya Ricki lagi memastikan dan Mutia mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
" Mana bisa aku meninggalkan suami yang baik, sabar, pengertian, mau menerimaku apa adanya walau aku janda sedangkan kamu masih perjaka." Ucap Mutia serius dengan mengelus pipi Ricki lembut.
" Apaan sih menurutku sama aja janda atau perawan karena yang masih perawan belum tentu beneran perawan mending janda yang sudah jelas statusnya dan yang terpenting sudah berpengalaman." Ucap Ricki mengoda Mutia dengan menaik turunkan alisnya dengan tersenyum mesum Mutia yang mendengarnya wajahnya memerah, lalu dia mencubit perut Ricki.
" Kamu itu ya sayang kalau bicara itu dijaga ada anak kita." Ucap Mutia dengan melototkan matanya.
" Ray apa kamu mendengarnya sayang?." Tanya Ricki sambil menatap Ray yang tertidur di kasur angin.
" Aku tidak mendengarnya pi." Jawab Ray datar tanpa membuka matanya.
" Tu kamu dengar sayang lebih baik kamu istirahat aku akan menjagamu." Ucap Ricki yang melihat Mutia yang menguap.
" Iya, tapi kamu tidur juga sayang pasti kamu capek apa lagi kamu baru sampai kemarin." Ucap Mutia menatap suaminya sendu.
" Iya aku akan tidur setelah kamu tidur dan nanti malam ada yang ingin aku beritahu kepadamu." Ucap Ricki membuat Mutia penasaran.
" Apaan sekarang aja." Desak Mutia
" Ok, tapi setelah itu kamu harus tidur dan aku ngasih tau ini bukan untuk membuatmu banyak fikiran apa kamu mengerti." Ucap Ricki memperingatkan dengan hati-hati.
" Iya." Jawab Mutia.
" 10 tahun yang lalu sebelum kamu bercerai dengan dokter Nando atau lebih tepatnya pada saat kamu berada di rumahnya dimana dokter Nando lebih memilih meninggalkanmu dan menikah dengan istrinya yang sekarang itu karena dia terpaksa melakukan itu demi melindungimu dan anaknya yang berada di dalam kandunganmu pada saat itu." Jelas Ricki terhenti dan dia melihat reaksi Mutia akan bagaimana, tapi Mutia biasa saja mendengarnya.
" Dia terkejut ternyata kamu melayangkan gugatan cerai sebelum dia menjelaskan semuanya kepadamu dan pada saat persidangan dia berharap kamu datang, tetapi harapannya musnah karena kamu malah mengirimkan pengacaramu yang tidak lain adalah sahabatmu sendiri Sifa. Kamu kehilangan anakmu bersamanya karena istrinya yang membayar orang untuk menabrakmu sehingga membuatmu koma serta hilang ingatan." Jelas Ricki panjang lebar Mutia menatapnya intens sehingga Ricki mengenggam tangan Mutia erat.
" Kamu memang laki-laki yang baik aku rasa tidak ada seorang suami mana pun yang mau menjelaskan masa laluku sepertimu." Gumam Mutia dalam hati menangis tidak menyangka Ricki akan memberitahunya hal yang akan membuat hatinya sakit sedangkan Ricki menyangka kalau Mutia menangis karena menyesali keputusannya di masa lalu sehingga melepaskan gengaman tangannya, Mutia yang merasakannya langsung menaik dan memeluk tubuh Ricki dengan isak tangisnya.
__ADS_1