PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 47


__ADS_3

" Gak ini kue yang Rey minta tadi malam dan aku membelinya agak banyakan dan kue kesukaan papahnya gak ada yang jual, tapi tenang aja aku sudah dapat kok alamat orang yang jual kue Ranginya jadi sekarang kita ke alamatnya ajalagian tidak jauh juga dengan sekolah anak-anak."


" Iya aku ngikut aja sayang." Ucap Ricki yang selalu menuruti semua keinginan Mutia kecuali yang bertentangan dengan prinsip yang telah mereka sepakati sebelum menikah.


" Ah suamiku memang yang terbaik." Ucap Ricki, lalu memeluknya.


" Iya dong yang penting jatahnya nambah." Jawab Ricki dengan mengedipkan matanya.


" Kalau itu tenang aja sayang yang  penting aku bahagia akan ku berikan sepuasnya." Ucap Mutia dengan senyum.


" Roy ada lagi yang mau dibeli sebelum kita jalan lagi?." Tanya Ricki dan Roy mengelengkan kepalanya dengan helikopter yang ada di tangannya.


 


Di tempat lain


" Ahhh.....  om.. pe lan- pelan." Desah seorang gadis yang sekarang tidak gadis lagi tidak lain adalah Indah.


" Ini juga sudah pelan sayang kamu aja yang lemah." Ucap Nando yang terus menghentak-hentakkan adik kecilnya dengan cepat karena dia akan mencapai puncaknya.


" Aaahhhhkk....." Desah keduanya saat keduanya telah mencapai puncak secara bersamaan Nando langsung mengeluarkan adik kecilnya dan berguling di sebelah Indah dengan nafas yang masih naik turun.


" Om Indah mau masuk ke sekolah yang populer." Ucap Indah setelah beberapa menit berhasil mengatur nafasnya yang naik turun meminta kepada Nando untuk menyekolahkannya di sekolah populer karena mengikuti gaya hidup mamanya yang tidak mau direndahkan, jika anaknya harus bersekolah di sekolah negeri.


" Bisa, asalkan kamu bisa terus memuaskanku dan yang pastinya kamu harus tinggal di Jakarta bersamaku bagaimana." Ucap Nando santai dengan seringai tipis.

__ADS_1


" Apa ke Jakarta? Indah mau om, tapi bagaimana dengan papa dan mama mereka ikut kan om." Ucap Indah terkejut sekaligus senang kalau dia akan tinggal di Jakarta dan senyumnya itu luntur saat dirinya teringat kedua orang tuanya.


" Gak, aku gak mau ada orang lain yang tau tentang hubungan kita ini termaksud kedua orang tuamu lagian kerjaanku di Jakarta dan kalau di sini hanya sekali-kali saja." Ucap Nando dengan sersenyum sinis melihat Indah yang sedang berfikir.


" Kalau aku tolak kan sayang keberuntungan ini kan gak akan datang dua kali terus bagaimana dengan masalah mama yang di penjara, apa lagi papah akan ikut aku ke Jakarta." Gumam Indah dalam hati dan Nando melihat ada keraguan di wajah Indah dengan cepat membuka suaranya.


" Kalau kamu enggak mau yasudah batalkan saja perjanjian kita lagian saya tidak mau menambah biaya lagi dengan membawa orang lain." Ucap Nando tegas.


" Eh jangan-jangan om, terus aku harus alasan apa dengan papa pasti papa tidak mengizinkanku terlebih sekarang mama berada di dalam penjara." Ucap Indah cepat ini kan keberuntungan yang harusnya dia mamfaatkan dengan sebaik mungkin dan dia tidak memikirkan nasib masa depannya atas keputusan yang telah dia ambil karena tergiur oleh sekola populer.


" Itu urusanmu dan saya akan memberikan kamu waktu 1 minggu atau gak perjanjian kita batal." Ucap Nando dan dia ingin turun dari tempat tidur langsung dicegat oleh Indah.


" Ok om aku akan ikut om jangan marah dong om." Ucap Indah membujuk Nando dan dia melupakan selimut yang membungkus dirinya dari tubuh polos tanpa sehelai benang pun membuat aliran darah di tubuh Nando menjadi panas.


" Baiklah itu tergantung kamu bisa memuaskanku beberapa hari ini atau tidak." Ucap Nando membuat Indah dengan cepat mencium bibirnya Nando hanya mengikuti apa yang Indah lakukan.


Mutia terlambat menjemput anak-anaknya sampai dia melihat Ray,Rey, Nino dan Nindi duduk di taman sekolah yang pastinya menunggunya untuk menjemput, Mutia terpaksa turun sendiri karena Roy dan Rea tidur dan dia tidak mungkin membawanya turun, jadi dia menyuruh Ricki menunggu di mobil sedangkan Mutia keluar untuk menjemput anak-anaknya.


" Assalamu'alaikum." Ucap Mutia setelah sampai di depan mereka dan melihat wajah Rey yang cemberut.


" Walaikumsalam." Ucap mereka kecuali Rey yang membuang wajahnya dan Mutia mencoba untuk tidak memperdulikannya.


" Yuk sayang kita ke mobil langsung." Ajak Mutia.


" Mami Rey itu sedang marah bukannya dibujukin malah nyuruh masuk mobil." Ucap Rey kesel karena maminya tidak membujuknya Mutia menahan senyumnya melihat wajah mengemaskan Rey yang pengen sekali dia makan.

__ADS_1


" Marah aja terus Rey biar kamu nantinya cepat tua." Ucap Ray memutar bola matanya malas dan berjalan ke mobil yang terdapat Ricki di dalamnya.


" Is kakak ini yang tua Rey kan adek." Ucap Rey tidak terima.


" Lagian kemana mami sama papi Rey kan sudah nungguinnya lama sampai sudah mau lumutan." Ucap Rey dengan melipat kedua tangannya diatas dadanya.


" Iya maaf sayang jalanannya macet namanya juga Jakarta sayang." Ucap Mutia beralasan yang sebenarnya tadi mereka muter-muter mencari rumah ibu yang menjual kue Rangi.


" Alasan aja pakai bilang Jakarta macet bilang aja mau berduaan mendingan kamu tinggal di rumah om aja Rey." Ucap Nino yang mulai akan mengompori Rey membuat mata Mutia melotot menatap Nino kesel.


" Jangan jadi kompor deh No dan lagian bagaimana caranya kami berduaan coba orang ada Roy dan Rey mana bisa dibilang berduaan emangnya kamu yang sudah lama gak diberi jatah." Ucap Mutia tidak terima.


" Ckckck...... Roy nanti malam tidur sama papi mami ya sayang jangan mau di asingkan ke tempat kakak-kakakmu, yuk Nindi kita pulang disi panas nanti kamu terbakar nak assalamu'alaikum." Ucap Nino, lalu mengandeng tangan Nindi berlalu pergi meninggalkan keduanya.


" Walaikumsalam." Ucap Mutia dan Rey, Mutia mengandeng tangan Rey dan menuntunnya menuju mobil diamana Ricki dan Ray sedang menunggu kedatangan mereka.


Selama perjalanan hanya di isi oleh suara Rey yang terus bercerita membuat semua orang pengen tidur saking serunya bercerita Rey sampai tidak mengidahkan omelan Ray yang memintanya untuk diam dan akhirnya terjadi perkelahian diantara keduanya membuat Roy dan Rea yang sedang tertidur menangis mendengarnya.


" Ray Rey." Tegur Mutia dengan memasang wajah garangnya membuat keduanya terdiam Ray langsung mengambil Roy untuk dia tenangkan karena tidak mungkin Ricki yang sedang menyetir menenangkannya sedangkan Rea ditenangkan oleh Mutia.


" Kenapa sayang?." Tanya Ricki yang melihat Mutia memijit pangkal hidungnya.


" Kepalaku pusing punya anak 4 orang aja sudah pusing banget apa lagi tambah 2 orang lagi." Jawab Mutia membuat Ricki tersenyum mendengarnya.


" Sayang aku gak jadi mau punya anak 6 orang 4 orang saja sudah cukup." Ucap Ricki serius sambil sesekali melirik Mutia karena dia sedang menyetir.

__ADS_1


" Loh kok berubah fikiran?." Tanya Mutia bingung dan dia menatap Ricki intens karena dulu Ricki yang bersikeras mau memiliki anak 6 orang seperti jumlah pemain voly Ricki memberikan tatapan tajamnya membuat Mutia menelan ludahya dengan susah payah.


" Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? aku kan hanya bertanya, kenapa dia jadi marah?." Tanya Mutia di dalam hati bingung sekaligus penasaran kenapa Ricki bisa berubah fikiran.


__ADS_2