PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 48


__ADS_3

" Ya itu dulu sekarang aku gak mau lagi setelah aku hampir kehilangan kamu saat melahirkan Rea dan mulai dari situ kamu gak perlu hamil lagi dan kamu juga bukannya gak mau hamil lagi kalau sudah mendapatkan anak perempuan yang kamu inginkan, jadi sekarang aku mewujudkan keinginanmu sayang lagian menurutku 4 orang anak saja sudah cukup ." Jawab Ricki panjang lebar dan tersirat ketakutan dari nada bicaranya.


" Lah terus kemarin gak pakai pengaman." Ucap Mutia mengingat kalau mereka melakukan hubungan suami istri sama sekali tidak memakai pengaman.


" Aku sudah vasektomi." Ucap Ricki santai dan dia tidak tau kalau setelah di vasektori dalam waktu 3 bulan dia harus tetap memakai pengaman karena masih ada ****** yang masih tertinggal.


" Vasektom apaan itui." Ucap Mutia mengenyitkan keningnya bingung dan dia tidak mengerti dengan apa yang Ricki bicarakan.


" Vasektomi intinya aku gak akan pernah bisa lagi memiliki anak seumur hidupku kecuali keempat anakku ini." Jelas Ricki santai.


" Apa? kenapa kamu gak meminta persetujuanku terlebih dahulu? aku kan mau anak perempuan 1 lagi terus aku mendapatkannya bagaimana." Ucap Mutia terkejut dan dia sebenarnya berencana untuk menambah anak perempuan 1 orang lagi.


" Gak ada anak perempuan lagi selain Rea itu sudah cukup bagiku." Ucap Ricki tegas dan tidak mau dibantah membuat Mutia memanyunkan bibirnya kecewa, tapi dia bersyukur kalau dia sudah mendapatkan anak perempuan walau kecewa karena dia mau memiliki anak perempuan lagi sebagai teman Rea.


" Assalamu'alaikum." Ucap Ricki di luar pagar saat melihat ada  satpam yang berjaga di dalam pos dekat gerbang.


" Walaikumsalam cari siapa pak?." Jawab satpam menghampiri Ricki dan langsung bertanya kepada Ricki.


" Apa benar ini rumahnya pak Zainal." Ucap Ricki.


" Iya benar pak ada apa ya pak?." Tanya satpam itu sambil memperhatikan penampilan Ricki.


" Saya mau bertemu dengan pak Zainal apakah beliau ada di rumahnya?." Tanya Ricki yang muai risik diperhatikan seperti seorang pencuri.


" Apa sebelumnya bapak sudah buat janji kalau belum saya tidak bisa membuka pagarnya." Ucap satpam itu karena sudah di peringatkan kalau ada yang menanyakan orang rumah atau ingin bertemu harus sudah membuat janji terlebh dahulu.


" Belum, tapi bisa minta tolong memberitahu dulu karena yang ingin bertemu itu adalah putri kandungnya yang sudah lama tidak bertemu." Jelas Ricki agar satpam itu mau mengizinkan mereka masuk.


" Putrinya? setau saya mereka tidak mempunyai putri bapak jangan menipu." Ucap satpam itu tidak percaya.


" Bapak lapor dulu ke majikan bapak kalau putrinya yang bernama Mutiara Arifin ingin bertemu dengannya saya akan menunggu diluar." Ucap Ricki memberi saran


" Baiklah, tapi bapak tunggu dulu sebentar saya masuk dulu ke dalam melapor dulu." Ucap satpam itu lalu meninggalkan Ricki yang masih berdiri di depan pagar.


 


Di dalam rumah

__ADS_1


" Maaf bu menganggu waktunya, tapi di luar ada yang mencari bapak katanya dia suami dari putri bapak kalau gak salah namanya Mutiara Arifin." Ucap satpam melapor.


" Tiara." Ucap tante Sarah terkejut karena anak tirinya itu mau mendatangi mereka setelah bertahun-tahun menghilang bagai di telan bumi dan pak satpam yang melihatnya mengenyitkan keningnya tanpa bersuara.


" Pak biarkan masuk mereka masuk dia memang putri kami." Ucap tante Sarah bahagia kalau itu benaran terjadi dia juga bisa meminta maaf atas apa yang telah dia perbuat di masa lalu.


" Baik bu saya permisi dulu." Ucap pak satpam pamit.


" Pak silahkan masuk." Ucap pak satpam mempersilahkan Ricki masuk.


" Terima kasih pak." Ucap Ricki, lalu masuk ke dalam mobil.


" Assalamu'alaikum." Ucap Ricki, Mutia dan kedua anaknya melihat papah Zainal dengan Sarah ibu tiri Mutia.


" Walaikumsalam." Jawab keduanya melihat Mutia dengan wajah senangnya menyambut putrinya yang sudah lama pergi menghilang tanpa jejak langsung memeluknya Ricki yang melihatnya sedikit bergeser agar Mutia bisa melepaskan rindunya yang sudah lama di pendamnyawalau Mutia tidakbicara dengannya, tapi dia merasakannya di saat menceritakan apa yang terjadi kepadanya tatapan Mutia menyiratkan kerinduan di dalam kekecewaannya.


" Nak bagaimana kabarmu?." Tanya papah Zainal.


" Alhamdulillah baik, papah gimana kabarnya?." Jawab Mutia dan bertanya untuk mengurangi rasa canggungnya karena sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi bertahun-tahun.


" Papah baik juga dan ini." Ucap papah Zainal dan menunjuk anak-anak.


" Iya mi." Ucap ketiganya lalu menyelimi bergantian dimulai dari Roy sampai dengan Ray dan mereka langsung duduk di sofa ruang tamu.


" Uh cucu-cucu oma sudah pada gede semua ganteng-ganteng lagi." Ucap tante Sarah yang melihat anak-anak Ricki dan Mutia yang begitu gemes dan ganteng membuatnya merindukan anak-anaknya dan cucu-cucunya yang sekarang tinggal di kota berbeda.


" Iya dong siapa dulu yang buatnya papi." Ucap Rey dengan percaya dirinya.


" Uhuk uhuk." Ricki tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Rey membuat semua yang ada disana tertawa.


" Papi kenapa? kurang minum ya Rey juga haus." Ucap Rey saat mendengar Ricki tersedak dan dia juga memegang tengorokannya sendiri.


" Rey malu-maluin aja kamu." Tegur Ray dengan menatap tajam adiknya.


" Papi tu aku kan hanya kasihan melihat papi tersedak." Ucap Rey tidak terima dan malah menuduh Ricki membuat Ricki memasang senyum terpaksanya dan di dalam hatinya merasa kesel dengan Rey.


" Cucu oma sabar ya minumnya lagi dibuatkan mungkin sebentar lagi diantar eh sampai lupa ayo duduk dulu." Ucap tante Sarah mempersilahkan duduk dan mereka langsung duduk.

__ADS_1


" Bi cepetan antar minumnya cucu-cucuku pada kehausan." Ucap tante Sarah sedikit berteriak.


" Iya bu sebentar." Ucap pembantu dari arah dapur.


" Oma tenang aja Rey anaknya sudah ganteng penyabar lagi dan yang pastinya penyayang." Ucap Rey dengan masih percaya diri memuji dirinya sendiri.


" Gak ada yang ketinggalan cerewet, gerasak gerusuk, tukang ribut dan banyak mau tau urusan orang." Ucap Ray dengan nada sinisnya tanpa melihat lawan bicaranya mata dan tangannya fokus pada hp.


" Kakak kok gitu Rey kan masih kecil jadi wajar ingin banyak tau." Ucap Rey yang mengikuti ucapan Mutia pada saat menasehati Ray agar mengalah dengannya.


" Ck." Decak Ray kesel ingin menyimpan hpnya di saku celananya terhenti dengan ucapan Mutia.


" Udah-udah kok jadi berantem tuh di lihatin sama kakek dan neneknya kasihan melihat kalian yang berantem terus." Ucap Mutia memperingati dan mulai memasang wajah garang memuat keduanya menundukkan kepalanya.


" Maaf mami papi kakek oma sudah membuat ribut." Ucap Ray dan Rey bersamaan membuat keempat orang dewasa di sana mengelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kalau boleh tau kalian selama ini tinggal dimana?." Tanya papah Zainal.


" Amerika kek." Jwab Rey cepat.


" Rey jangan kebiasaan menjawab pertanyaan yang bukan ditunjukan untukmu mending Rey main dulu sama adik Rea." Ucap Ricki mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Rey yang baru saja diperingatin selalu saja melanggar.


" Iya pi maafin Rey." Ucap Rey dengan wajah cemberutnya menghampiri Roy yang sedang bermain bersama dengan Rea atau lebih tepatnya menoel-noek pipi Rea dan Rea tersenyum dengan mulut yang sudah belepotan dengan air liurnya yang dia keluarkan.


" Roy kenapa air liur Rea gak di lap kan belepotan gak cantik lagi." Ucap Rey yang baru saja datang menghampiri kedunya.


" Ndak dek Yon antik akak yang elek." Ucap Roy yang tidak terima kalau Rea dibilang jelek dan mendorong Rey.


" Aawww." Ringkis Rey kesakitan.


" Dek kenapa kakak didorong kan sakit." Ucap Rey dengan sabar tidak membalas mendorong Roy karena dia tau kalau dia melakukan itu akan menyakiti adiknya dan akan terkena omelan mami dan terkena hukuman papinya


" Aka elek." Ucap Roy tanpa rasa bersalah sama sekali.


" Ehem." Dehem Ray.


" Ada apa ini?." Tanya Ray yang melihat keduanya tadi terlihat bertengkar dan dia juga melihat kalau Roy mendorong Rey.

__ADS_1


" Akak Yei ilang de Ea elek." Adu Roy dengan wajah polosnya membuat Ray ingin mengigit kedua pipi adiknya itu yang seperti bakpau.


__ADS_2