
" Sabar pak, perbanyaklah berdoa semoga keduanya bisa sehat dan berkumpul kembali. Bapak jangan pesimis selalulah berfikir positif karena dari apa yang kita fikirkan bisa saja salah keajaiban itu pasti akan selalu ada bagi hamba-hambanya yang ingin berusaha." Ucap pak Handoko memberi semangat karena wajah Ricki yang tampak terlihat pasrah dengan keadaan.
" Apa maksud bapak? saya harus berusaha bagaimana?." Tanya Ricki mengerutkan keningnya bingung.
" Berilah kedua bidadari bapak semangat walau kondisi keduanya saat ini sangat mengkhawatirkan, dimana ikatan batin antara suami istri itu kuat apa lagi dengan anaknya semoga dengan begitu akan semangat hidup." Jelas pak Handoko membuat Ricki kembali bersemangat.
" Amin, terima kasih pak atas saran dan motivasinya saya akan memberikan semangat kepada kedua bidadari saya." Ucap Ricki dan beberapa waktu dia terkejut dengan ucapannya.
" Apa jadi anak saya perempuan?." Tanya Ricki terkejuttidak percaya pasalnya pada saat USG dokter mengatakan kalau anaknya laki-laki lagi.
" Iya pak anak bapak perempuan pasti ini anak perempuan pertama makanya bapak terkejut, tapi kalau tidak salah usia kandungan bu Mutia sudah 7 bulan pasti bapak dan istri sudah mengetahui jenis kelaminnya," Ucap pak Handoko bingung.
" Iya pas kami USG dokter mengatakan kalau bayi yang dikandung istri saya itu laki-laki lagi, tapi kok ini malah jadi perempuan apa bapak tidak salah dengar." Jelas Ricki dan memastikan kalau pak Handoko tidak salah mendengar yang membuatnya senang sekaligus sedih kalau memang benar bayinya perempuan, senang karena doa mereka berdua terwujud dan sedih kenapa malah musibah yang menimpa keluarganya saat mengetahui anaknya perempuan.
I" tu mungkin saja terjadi pak namanya juga alat karens tetangga saya juga mengalami hal yang sama dimana pas USG bayinya laki-laki membuat pasangan suami istri itu bahagia karena mengharapkan anak laki-laki, tapi ternyata pas keluar perempuan suaminya sudah marah-marah sama dokter dan dokter menjelaskan kemungkinan yang dia lihat adalah plasenta sehingga mengira bayinya laki-laki." Jelas pak Handoko panjang lebar Ricki menganggukkan kepala dan tersenyum.
" Teima kasih atas informasinya pak saya mau melihat istri dan anak saya dulu." Ucapnya sopan.
" Oh silahkan pak saya juga mau pamit pulang dan mengenai anak bapak bagaimana tinggal dulu sementara di rumah saya." Ucap pak Handoko membuat Ricki tersadar akan kedua anaknya yang masih berada di kantor polisi dia sebagai orang tua malah melupaka anaknya malah orang lainlah yang mengingatkannya.
" Aduh maaf pak saya sampai melupakan kedua anak saya, apa tidak apa-apa anak saya tinggal di rumah bapak." Ucap Ricki tidak enak, jika harus menitipkan kedua anaknya kepada orang yang baru dikenal walaupun dia adalah seorang polisi.
" Tidak apa-apa pak kami malah senang kalau anak-anak bapat tinggal dirumah saya, jadi rame maklum anak-anak saya sudah berkeluarga semua dan tinggal berjauhan." Ucap pak Handoko agar Ricki tidak merasa sungkan terlebih dia merasa mengingat seseorang yang begitu mirip, tapi dia tidak yakin kalau itu orang yang sama terlebih orang itu sudah lama menghilang mau menanyakannya juga ragu dan saat ini bukanlah waktu yang tepat.
" Sekali lagi terima kasih banyak pak sudah banyak membantu." Ucap Ricki terpotong.
__ADS_1
" Bapak apaan sih itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia memang harus saling membantu yaudah saya permisi dulu ya pak besok lagi saya akan datang lagi ke sini assalamu'alaikum." Ucap pak Handoko buru-buru menyela, dia juga ingin menyelidiki apa yang sedang diduganya.
" Walaikumsalam." Ucap Ricki pasrah karena dari dari nada bicara pak Handoko dia tidak ingin dibantah, dia juga melihat dari mata pak Handoko yang tulus.
Masih di rumah sakit yang sama ada seorang laki-laki yang tidak lain adalah Nando memantau di sebuah ruang rawat yang terdapat laki-laki dewasa dan seorang gadis remaja yang terbaring di branka.
" Ayah dimana ibu? kenapa tidak ikut menjemputku?." Tanya anaknya membuat seorang laki-laki yang dipanggil ayah yang tidak lain adalah Bayu bingung harus menjawab apa.
" Em Indah sayang ibu lagi ada urusan sayang yang harus diselesaikan kalau sudah selesai ibu pasti temani Indah." Ucap Bayu gugup karena dia tidak mau anaknya tau kalau ibunya sekarang dimasukkan ke dalam penjara.
" Iya yah, tapi gimana dengan sekolah Indah?." Tanya Indah karena dia takut kalau dia harus putus sekolah.
" Maaf sayang kayaknya kamu harus pindah sekolah ayah gak mampu membiayai sekolahmu yang mahal itu sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saja kita masih kekurangan." Ucap Bayu memberikan pengertian kepada putrinya masalah ekonomi setelah dia terkena PHK.
" Tapi Indah gak mau pindah apa kata teman-temanku pasti mereka pada rendahin Indah." Ucap Indah tidak mau terima langsung berlari keluar ruangan hal itu membuat Nando yang melihatnya tersenyum sinis dan di dalam otaknya terdapat rencana licik.
" Ini semua gara-gara penundaan sialan itu seharusnya aku bisa lebih cepat sampainya bukan malah tengah malam begini, mana lagi ini mobil caterannya belum datang juga." Gerutu Sifa sambil menunggu mobi caterannya yang dia pesan sebelum naik pesawat, tidak berapa lama dia menemukannya dan langsung naik.
" Pak kita ke hotel yang dekat dengan kantor polisi di Samarinda dan nanti bangunkan saya." Ucap Sifa memberitahu dan memejamkan matanya.
" Kantor polisi yang mana mbak?." Tanya supir bingung bagaimana tidak bingung kantor polisi yang ada di Samarinda itu kan banyak bukan hanya satu.
" Dekat jembatan mahakam." Jawabnya malas tanpa membuka matanya dia merasa lelah walau perjalanannya tadi hanya memakan waktu 1 jam ditambah menunggu 2 jam karena menunggu adalah suatu yang membosankan terlebih tidak ada teman yang bisa dia ajak bicara.
" Iya mbak oh ya sekarang bukan jembatan mahakam lagi, tapi jembatan kembar." Ucap pak supir mengerti dan memberitahu kalau nama jembatan yang disebutkan oleh Sifa telah diganti.
__ADS_1
" Kenapa diganti?." Tanya Sifa dengan setengah kesadarannya.
" Ya mungkin karena disebelahnya ada jembatan lagi." Jawab pak supir asal dan tidak ada lagi percakapan diantara mereka.
Keesokan harinya
Sifa menghubungi Ray karena hp Mutia yang tidak bisa dihubungi.
" Assalamu'alaikum sayang." Ucap Sifa disebrang sana.
" Walaikumsalam." Jawab Ray.
" Sayang bagaimana keadaan mamimu sama adik Roy? dan dirawat dirumah sakit mana?." Tanya Sifa to the poin karena dia tau sifat Ray yang tidak suka basa-basi.
" Aku tidak tau keadaan pastinya karena belum melihatnya sendiri, tapi kata om polisi kita harus banyak berdoa."
" Memangnya kalian ada dimana sekarang?." Tanya Sifa penasaran.
" Aku dan Rey ada dirumah om polisi." Jawab Ray.
" Bisa tolong berikan kepada om polisinya sayang tante mau bicara sebentar." Ucap Sifa.
" Gak bisa sudah pergi berangkat kerja yang ada istrinya." Jawab Ray memberitahu.
" Yaudah gak apa-apa kasihkan aja hpnya ke istrinya." Ucap Sifa yang sudah tidak sabar melihat keadaan Mutia dan Roy.
__ADS_1
" Iya tunggu sebentar." Jawab Ray yang mencari istri dari pak Handoko..