
" Papah jahat kalau sampai terjadi apa-apa dengan mama dan adik-adik aku tidak akan pernah memaafkan papah." Ucap Mutia tidak digubris oleh papah Zainal yang fokus menyetir.
3 bulan kemudia hari yang di tunggu-tunggu oleh papah Zainal yaitu hari diputuskannya perceraiannya.
" Kenapa aku sangat gelisah dan wajah bunda selalu datang? ada apa ini? semoga saja tidak terjadi apa-apa sama mama dan adik-adik." Gumam Mutia dalam hati dan Mutia menelvon papah Zainal karena Mutia tidak bisa pergi kemana pun papah Zainal menyuruh orang untuk menjaga dirinya, karena Mutia sempat mengatakan kalau dia melihat perempuan yang menjadi istri papanya dia akan langsung membunuhnya sehingga membuat papah Zainal di sebuah rumah yang entah itu rumah siapa.
" Aku pengen ikut ke pengadilan." Ucap Mutia saat telvon tersambung.
" Tidak kamu dirumah saja." Ucap papah Zainal yang langsung mematikan telvonnya dan menonaktifkan sehingga Mutia tidak bisa menelvonnya lagi.
Setelah penolakan itu Mutia tidak menyerah dia memikirkan cara untuk bisa keluar dari rumah itu setelah berhasil dia menuju ke pengadilan yang ternyata sudah selesai.
" Aku terlambat, tapi aku harus ikut dengan mama aku gak mau tinggal dengan mereka." Ucap Mutia menghampiri mama Jenny, tapi terlambat mama Jenny telah menaiki mobil. Mutia memperhatikan mobil yang di bawa mama Jenny dan tidak lama ada mobil truck bak fuso melaju kencang dari belakang mobil yang membawa mama Jenny dan adik perempuanku, kecelakaan bruntun tidak bisa dihindari.
" Mama." Teriak Mutia syok melihat semua itu dan akhirnya jatuh pingsan setelah sadar dia mendapati kenyataan bahwa mama Jenny dan adik perempuannya meninggal dunia di tempat kejadian.
Flashback Off
3 hari sejak kejadian itu Mutia memutuskan untuk pergi ke kota kelagirannya yaitu kota yang banyak menyimpan kenangan dan kesedihan.
" Mi kita mau kemana? kenapa tante Sifa gak ikut?." Tanya Rey.
" Kita akan ke Samarinda kalau tante Sifa gak bisa ikut kan kasihan anak dan suaminya kalau ditinggal ." Jawab Mutia.
" Oh, tapi bukan kah Samarinda itu kota kelahiran mami?." Tanya Rey lagi.
" Iya sayang kita juga akan mengunjungi makam nenek." Jawab Mutia sambil tersenyum.
" Mami jangan sedih ya disini masih ada kita yang akan jagain mami, nenek sudah tenang disana." Ucap Ray dan kata-kata terakhirnya membuat Mutia terkejut karena Ray adalah anak yang peka.
" Dan kamu Rey jangan banyak bertanya lebih baik tidur dari pada nanti kamu mengeluh ingin tidur." Tegur Ray kepada Rey yang ingin banyak tau.
" Kakak gak asik." Ucap Rey cemberut dan pada akhirnya dia tertidur juga, setelah melihat adiknya tertidur dia baru tidur.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan 2 jam mereka sudah sampai di Samarinda menuju ke Harris Hotel Samarinda tempat dimana Mutia sudah memboking untuk mereka menginap, mengingat Mutia yang sedang hamil jadi tidak langsung berjalan-jalan.
" Sayang bangun kita sudah sampai nanti lanjutkan lagi tidurnya kalau sudah sampai kamar." Ucap Mutia mengelus kepala kedua anaknya secara bergantian.
" Iya mi." Ucap Ray dan Rey bersamaan dengan mengucek kedua mata mereka dan keluar dari mobil.
Keesokan harinya
Hal pertama yang mereka datangi adalah makam banda Fatma dan mama Jenny.
" Mi ini makam nenek? ." Tanya Rey.
" Iya sayang ini makam kedua nenek kalian." Jawab Mutia sambil tersenyum
" Kok mami bisa punya mami 2 sedangkan aku tidak?." Tanya Rey.
" Pletak." Kepala Rey dijitak oleh Ray yang gemes dengan pertanyaan Rey.
" Sakit tau kak." Protes Rey sambil mengusap kepalanya yang di jitak oleh Ray.
" Sudah sudah gak baik kelahi di makam nenek kalian, Ray kalau bicara sama adiknya yang baik jangan pakai kekerasan." Tegur Mutia kepada anak pertamanya
" Rey sayang benar yang di katakan kakakmu apa Rey mau mempunyai ibu baru." Ucap Mutia yang langsung mendapatkan gelengan kepala cepat sambil menundukan kepalanya.
" Sekarang kita mau kemana?." Tanya Mutia kepada kedua anaknya.
" Keseluruh tempat wisata yang ada di sini." Jawab Rey dengan semangat.
" Pletak." Kepala Rey dijtak.
" Sakit tau kakak ini suka banget menjitak kepalaku." Protes Rey sambil mengusap kepalanya.
" Lagian kamu yang benar aja kita disini hanya 3 hari dan sekarang tersisa 2 hari, apa kamu gak kasihan apa melihat mami yang membawa Roy kemana-mana." Ucap Ray dingin menatap tajam Rey.
__ADS_1
" Maaf." Ucap Rey lirih matanya sudah berkaca-kaca.
" Masa gitu aja nangis laki-laki macam apa yang seperti ini." Ucap Ray mengejek.
" Ray." Tegur Mutia yang kasihan melihat anak keduanya.
" Kita tetap jalan ke wisata, tetapi yang dekat-dekat saja karena kasihan sama adik kalian." Ucap Mutia mengelus kepala Rey dengan tangan satunya mengendong Roy.
Akhirnya mereka jalan tempat yang pertama mereka kunjungi adalah Masjid Islamic Center Samarinda menjadi salah satu destinasi wisata religi paling terkenal di Samarinda, masjid ini memang memiliki daya tarik yang bikin wisatawan jatuh cinta. Daya tarik tersebut terletak pada gaya arsitektur bangunannya yang konon terinspirasi oleh Hagia Sophia, Turki.
Desa Budaya Pampang, yang masih dihuni oleh suku Dayak Kenyah asli. Disana juga bisa menyaksikan secara langsung bagaimana aktivitas harian dari suku tersebut dan dapat menikmati pertunjukan seni yang diadakan setiap hari minggu siang dibalai pertemuan atau lamin, sehingga membuat tempat ini memiliki keunikan yang ampuh menarik perhatian para pengunjung untuk bertandang kesini.
Dan tempat terakhir untuk menutup perjalanan selama 2 mereka hanya menyusuri tepian mahakam karena besok mereka akan kembali ke negara Jerman.
Tepian Mahakam menjadi salah satu tempat paling tepat bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung penampakan matahari terbenam. Selain itu, biasanya terdapat pula berbagai penjual makanan yang menyuguhkan camilan ataupun kuliner khas Kalimantan Timur. Lesehan menikmati senja sambil menyantap makanan terasa begitu asik dan romantis.
" Kok aku merasa ada yang mengikutiku selama beberapa hari ini." Gumam Mutia dalam hati dengan matanya memperhatikan sekitar.
" Mami ada apa?." Tanya Ray ketika melihat wajah Mutia yang gelisah.
" Tidak apa-apa." Jawab Mutia sambil tersenyum.
" Apa orang itu masih mengikuti kita." Ucap Ray pelan, tapi masih bisa didengar oleh Mutia.
" Orang apa maksudmu Ray?." Tanya Mutia menyelidik.
" Ini pada saat aku memfoto mami tidak sengaja memfoto orang yang beberapa kali aku lihat, kayaknya orang itu mengikuti kita." Ucap Ray menjelaskan sambil menundukan foto yang ada di dalam hpnya.
" laki-laki ini kan yang memelukku di acara anniversary? ngapain dia ada di sini? apa jangan-jangan dia mengikutiku?." Gumam Mutia dalam hati bertanya-tanya.
" Apa? terus kita bagaimana?." Tanya Rey ketakutan mendengarnya hingga dia berteriak.
" Dek kamu itu jangan teriak-teriak nanti orang itu datang bagaimana? apa kamu mau dibawa dengan orang itu?." Ucap Ray kesel membuat Rey terisak dan menghampiri Mutia, lalu memeluknya.
__ADS_1
" Kamu ini Ray bukannya menenangi adikmu malah membuat takutnya." Ucap Mutia menatap tajam Ray, tapi untungnya Roy yang berada digendongannya hanya mengeliat.
" Maaf mi, tapi Ray sudah kasih tau papi mungkin sebentar lagi papi nyampe." Ucap Ray yang membuat Mutia menghela nafasnya kasar melihat kelakuan kedua anaknya yang setiap hati berantem.