
" Papa bangun maafin Mawar hiks hiks." Tangis Mawar sambil menguncang tubuh papanya yang tidak bergerak dr. Nando mendekat, lalu memeriksa dan menghela nafasnya.
" Sebenarnya anda tidak bersalah anda hanya menginginkan yang terbaik untuk putri anda adalah sesuatu yang wajar sebagai orang tua apa lagi anda orang tua tunggal menginginkan yang terbaik untuk putri semata wayang, tapi anda tidak mengetahui situasi yang sedang terjadi dan itu malah dimamfaatkan oleh putri anda sendiri semoga anda tenang dialam sana." Gumam dr. Nando dalam hati sangat menyayangkan sifat Mawar yang malah memanfaatkan orang tuanya untuk mendapatkan perlindungan.
" Inna lillahi wa inna lillahi raji'un." Ucap dr. Nando dengan menatap tajam Mawar istri yang tidak dia anggap.
" Tidak paaapaa." Teriak Mawar tidak terima dia menangis histeris.
" Ini semua gara-gara kalian papaku jadi meninggal, aku akan membalas perbuatan kalian." Ucap Mawar marah dengan air mata yang membasahi pipinya.
" Haha itu karma atas perbuatanmu yang telah merebut suami orang lain dan aku kasihan dengan papamu karena memiliki putri yang malah memanfaatkan dia demi mendapatka keuntungan untuk dirinya sendiri, sekarang kamu tau apa yang aku rasakan ketika kehilangan istri dan calon anak kami." Ucap dr. Nando tanpa belas kasihan dia menarik kasar tangan Mawar setelah berhasil memisahlannya dari mayat sang papa, tapi karena Mawar terus memberontak dia menjambak rambut Mawar hingga Mawar berteriak kesakitan.
" Aaaakh." Teriak Mawar saat merasakan sakit dikepalanya.
" Nando." Tegus papa yang tidak menyangka kalau anaknya akan melakukannya.
" Kalian jangan ikut campur atau kalian itu merasakannya juga dan lebih baik kalian urus besan kesayangan kalian itu." Ucap dr. Nando dingin dengan aura pembunuh karena dia sudah terlalu murka, lalu menaik Mawar memasuki sebuah ruangan dan mendorong dengan kasar tubuh Mawar hingga kepala Mawar kebentur tembok yang mengakibatkannya berdarah.
" Kamu tau kamu adalah perempuan pertama yang telah aku perlakukan kasar itu karena kamu telah membuatku sangat marah hahaha." Ucap dr. Nando dengan tertawa bahkan dia sekarang tidak perduli lagi dengan prinsipnya dulu untuk tidak akan pernah menyakiti seorang perempuan, yang dia inginkan sekarang adalah menyiksa Mawar sampai dia mati dengan perlahan.
" Tolong Nando biarian aku melihat papaku untuk yang terakhir kalinya." Ucap Mawar memohon masih dengan air mata yang terus membasahi wajahnya.
__ADS_1
" Membiarkanmu melihat." Ucap dr. Nando dengan tersenyum sinis Mawar mengangguk.
" Dalam mimpimu bahkan dalam mimpipun aku tidak akan mengizinkanmu." Ucap dr. Nando, lalu mendekatinya perlahan dan memulai penyiksaannya.
Di Amerika Serikat
" Sayang." Ucap seorang perempuan cantik yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat ke arah box bayi melihat anaknya yang sudah tertidur dia segera melangkahkan kakinya cepat keluar dari kamar setelah diluar dia kembali berteriak.
" Sayang." Teriaknya kembali.
" Iya sayang ada apa kenapa teriak-teriak dan kenapa wajahnya cemberut kayak gitu?." Tanya suaminya yang menghampiri istrinya yang tidak lain adalah Mutia.
" Ini kamu lihat sendiri." Uca Mutia ketus sambil memperlihatkan tespek kepada suaminya.
" Iya dan kayaknya kamu harus dikebiri masa anak baru 2 bulan lebih aku dah hamil lagi padahal kan kamu sudah pakai pengaman." Ucap Mutia tanpa pikir panjang karena dia tidak habis fikir anaknya yang paling kecil saja baru berusia 2 bulan dia malah hamil lagi sedangkan Ricki suami terkejut bahkan bergindik ngeri mendengarnya, apa lagi dia membayangkannya.
" Apa dikebiri? masa kamu tega sih sama aku sayang nanti aku gak bisa muasin kamu lagi, lagian kalau kamu hamil itu berarti aku topcer masih menginginkan banyak anak buktinya saja pakai pengaman kamu sudah hamil lagi kan." Ucap suaminya terkejut dengan apa yang dikatakan istri dan mencoba mengelaknya dengan bergindik ngeri membayangkannya.
" Mati aku kalau dia sampai tau aku hanya memakai pengaman saat pelepasan pertama dan untuk pelepasan selanjutnya tidak, bisa-bisa aku beneran dikebiri." Gumam suaminya mulai gelisah serta berkeringat dingin.
" Terus aku harus gimana sekarang aku hamil lagi hiks hiks." Ucap Mutia dan mulai menangis.
__ADS_1
" Sayang maafin aku, aku yang salah jangan nangis. Tapi apa kamu menyesal hamil lagi bukannya Allah masih mempercayakan kita hingga membuatmu hamil lagi, apa kamu ingin menolak rezeki yang telah diberikan kepada kita? bahkan banyak pasangan yang ingin memiliki anak hingga melakukan segala cara agar mendapatkannya sedangkan kita dipermuda bahkan sekarang kita sudah mempunyai 3 orang anak." Ucap Ricki memberi pengertian yang sebenarnya dia tidak tega, tapi harus bagaimana lagi semuanya sudah terjadi mau menggugurkannya juga tidak mungkin karena dia tidak mau jadi pembunuh darah dagingnya sendiri serta mengambil resiko.
" Aku gak menolak, tapi apa aku bisa merawat mereka sedangkan Roy anak kita yang paling kecil saja masih berusia 2 bulan lebih." Ucap Mutia kesel tidak bisa membayangkan akan repotnya mengurus anak, apa lagi dia memiliki bayi dan juga harus mengurus kedua anaknya yang berusia 7 tahun dan 5 tahun.
" Kamu tenang saja ada aku yang akan selalu menjaga kalian dan membantumu merawat anak-anak kita kamu tidak perlu khawatir, lebih baik kamu istirahat ya sayang nanti aku panggilkan dokter untuk mengecek calon anak kita." Ucap Ricki memeluk Mutia dan mengusap lembut pungung Mutia tanpa meminta persetujuan Mutia Ricki langsung mengendong Mutia ala bryde style ke kamar mereka merebahkan Mutia pelahan ke tempat tidur.
Setelah tenang Mutia jadi teringat akan telvon dari keluarganya yang ada di Indonesia.
" Oh ya tadi nenek nelvon memintaku untuk datang ke acara anniversery papa yang 13 tahun dan sekaligus memperkenalkan aku, malas banget deh ke Indonesia." Ucap Mutia dengan wajah ditekuk.
Cup
" Istriku ini gak boleh bicara seperti itu dan gak boleh lama-lama menyimpan dendam apa lagi kan kalian sudah lama gak ketemu bahkan pas papamu menikah kamu gak datang, keluarga kamu di Indonesia pasti kangen memang kapan acaranya?." Ucap Ricki menasehati.
" 5 bulan lagi, tapi aku gak yakin mereka kanget sama aku. Bukannya aku tidak pernah dianggap mungkin mereka mau memperkenalkanku untuk dipermalukan seperti yang sudah sudah, jadi aku malas datang lagian aku juga lagi hamil." Ucap Mutia yang kembali mengingat masa lalunya dan tersenyum kecut.
" Huss gak boleh berprasangka buruk, apa lagi dengan keluarga sendiri dan didunia ini tidak ada yang tidak mungkin pasti mereka sudah menyadari semuanya, oh ya apa kamu gak kangen dengan sahabatmu di Indonesia hmm." Ucap Ricki agar Mutia tidak terus memikirkan yang telah berlalu dan langsung mengalihkan pembicaraan agar Mutia nantinya tidak stres memikirkan hal-hal yang sama yang akan terus diungkit.
" Kangen." Ucap Mutia.
" Semoga saja yang kamu ucapkan benar." Gumam Mutia dalam hati memeluk Ricki erat.
__ADS_1
" Kamu tenang aja sayang apa pun yang terjadi nantinya aku akan selalu ada untukmu, aku gak akan membiarkanmu dipermalukan bahkan direndahkan lagi." Gumam Ricki dalam hati membalas pelukan Mutia tidak kalah eratnya serta mengecup pucuk kepala Mutia berkali-kali penuh kasih sayang.