
" Kak Rey takut, papi kenapa tinggalin kita." Ucap Rey memegang baju Ray dengan menangis membuat Ray menghela nafasnya berulang kali.
" Rey bisa tidak kamu jangan nangis buat telinga kakak sakit." Ucap Ray yang malah membuat Rey tambah kencang menangisnya.
" Rey kalau kamu gak berhenti menangis kakak tinggal kamu disini." Bentak Ray dengan menatap tajam Rey membuat Rey langsung terdiam beberapa orang yang melihatnya menghampirinya.
" Dek kenapa adiknya dibentak?." tanya seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluhan Ray tidak menjawab dia hanya menatapnya dengan tatapan tajam dengan wajah datar sedangkan Rey bersembunyi dibelakang Ray.
Roy menangis karena kehausan membuatnya kebingungan dia sama sekali tidak ditinggalkan susu Roy dan dia melihat ada ind****** mengengam tangan Rey dengan tangan satunya mengendong Roy karena dia harus menyebrang walau mereka tidak menyebrang pun dia akan mengengam tangan Rey dan masuk ke dalam ind****** mencoba mencari dot yang ada susunya, tetapi dia tidak menemukannya sedangkan Roy terus menangis membuat mereka didatangi orang.
" Dek ini adiknya menangis, dimana orang tuamu?." Tanya seorang perempuan paruh baya.
" Iya saya tau." Ucap Ray dingin dengan mata yang mencari-cari dot.
" Nak biar ibu saja yang mengendong adikmu kamu pasti capek." Ucapnya lagi karena Ray tak menjawab pertanyaannya tadi dan ingin mengambil Roy dari gendongan Ray membuat Ray menundukan langkahnya dan menatap tajam.
" Tidak usah saya tidak capek." Ucap Ray menolak sedangkan si bawel Rey memegang baju Ray ketakutan melihat orang yang tidak dikenalnya terlebih mereka hanya bertiga tanpa kedua orang tuanya.
"Bu bisa bantuin saya mencari dot untuk adik saya." Ucap Ray meminta tolong ketika melihat perempuan paruh baya itu tidak pergi juga dari hadapannya.
" Baiklah nak tunggu disini jangan kemana-mana." Ucapmya berlalu keluar dari ind****** Ray yang melihatnya mengenyit keningnya bingung dan dia tidak mau ambil pusing yang terpenting sekarang dia harus membuat Roy terdiam.
" Rey ambil itu keranjang." Ucap Ray yang melihat keranjang dorong berwarna merah.
" Aku takut kak." Ucap Rey cepat sambil mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Apa yang kamu takutkan disini ada kakak." Ucap Ray kesel.
" Takut diculik." Jawav Rey dengan menatap sekelilingnya.
" Mana ada orang yang mau menculik anak yang cerewet kayak kamu." Ucap Ray mengejek Rey memanyunkan bibirnya.
" Kalau Rey sampai diculik kakak akan dimarahin papi dan mami." Ucap Rey yang langsung berlari mengambil keranjang setelah mendapatkan tatapan tajam dari Ray.
" Ini." Ucap Rey memberi keranjangnya kepada Ray.
" Ya kamu bawalah kakak lagi mengendong adik Roy." Ucap Ray malas dan meninggalkan Rey yang masih mengerutu.
" Apa Roy dikasih susu kotak saja biar gampang." Gumam Ray dalam hati tanpa fikir panjang mengambil banyak susu kotak indom*lk dan memasukkannya ke dalam keranjang tidak lupa dia juga mengambil beberapa cemilan untuk menganjal perut mereka.
" Pegel juga kalau harus mengendong Roy terus." Ucap Ray pelan, tapi masih bisa didengar oleh Rey.
" Adek mana orang tuanya? kenapa kalian belanja banyak sekali?." Tanya mbak kasir yang berjaga agak takut karena yang berbelanja adalah anak kecil.
" Bisa pakai debit kan?." Tanya Ray tanpa menjawab mbak kasir.
" Bisa." Jawab mbak kasir dan Ray langsung mengeluarkan kartu visa infinite yang diberikan oleh papinya untuk berjaga-jaga sedangkan mbak kasir yang berjaga terkejut melihatnya, bagaimana dia tidak terkejut anak yang baru berusia 7 tahun sudah memegang kartu visa infinite yang hanya sedikit orang saja yang bisa memilikinya dengan ragu-ragu mbak kasir menerimanya dan mengeseknya.
" Adek masukin pinnya." Ucap mbak kasir setelah menghitung semua belanjaan mereka Ray memasuki pin dengan santai.
" Anak sultan mah bebas mau anaknya masih kecil sudah dikasih kartu dan dibiarin keluyuran kalau ada orang jahat yang tau mereka membawa kartu debit bagaimana nasib mereka." Gumam mbak kasir dalam hati mengelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan fikiran orang kaya.
__ADS_1
" Mbak boleh numpang duduk sebentar." Ucap Ray meminta izin.
" Iya boleh Na ambilkan 2 kursi pelastik dibelakang." Ucap mbak kasir kasihan melihat mereka bertiga dengan Roy yang masih menangis tersedu-sedu, mbak kasih yang merasa kasihan ingin menenangkan Roy, tetapi Ray melarangnya sehingga mbak kasir menyuruh temannya untuk mengambilkan 2 kursi untuk Ray dan Rey duduki
Ray memberikan 1 susu kotak kepada Rey dan membuka 1 susu kotak lagi menyodorkan sedotan kepada mulut Roy.
" Dek adiknya belum bisa minum pakai sedotan dia harus memakai dot." Ucap mbak kasir memberitahu Roy yang pusing Roy terus menangis tanpa fikir panjang Ray menyedot susu dari sedotan dan menyodorkannya ke mulut Roy pelan-pelan Roy yang merasakan ada air yang masuk ke dalam mulutnya perlahan diam walau masih sesegukan, Rey yang melihat kakaknya melakukan itu mengikutinya hingga Roy tertidur kembali.
" Aduh kalau kayak gini terus bisa sakit lidahku." Ucap Rey, tetapi dia tetap melakukan hal yang sama dengan Ray sedangkan perempuan paruh baya yang di minta tolong oleh Rey tadi melihat yang di lakukan oleh Ray dan Rey terharu.
Sedangkan di rumah sakit
Mutia sudah sadar dia mengedarkan pandangannya.
" Sayang kamu sudah sadar?." Tanya Ricki dengan pertanyaan bodohnya saat melihat mata Mutia terbuka.
" Iya dimana anak-anak?." Tanya Mutia saat hanya mendapati suaminya yang ada di sana.
" Anak-anak." Ucap Ricki, lalu menepuk jidatnya dengan menelan ludahnya dengan susah payah baru menyadari kalau dia meninggalkan anak-anaknya di mall karena panik.
" Sayang dimana anak-anak? kamu tidak melupakan mereka kan?." Tanya Mutia memicingkan matanya mulai curiga dengan sikap suaminya yang mencurigakan karena dia tau sifat Ricki kalau panik dia bisa saja melupakan semuanya termaksud anak-anaknya sendiri bahkan dulu dia pernah meninggalkan Ray yang masih berusia 4 tahun di supermarket hanya karena pekerjaan, tapi untungnya anaknya itu bisa pulang sendiri. Hal itu membuat Mutia was-was kalau Ricki membawa anak-anak mereka jalan-jalan karena mungkin saja kan dia bisa meninggalkan mereka dan beberapa jam kemudian baru mengingatnya.
" Sa yang kayaknya aku melupakan mereka." Jawab Ricki ketakutan.
" Kamu ini kebiasaan sekali mereka itu anak-anakmu kalau barang sih gak apa-apa minta punya banyak anak anak, tapi dengan mudahnya kamu meninggalkan mereka. Aku gak mau tau kamu harus mencari mereka sampai ketemu, apa lagi Roy dia masih terlalu pasti sekarang dia sedang menangis kehausan mencari maminya." Omel Mutia panjang lebar menatap tajam suaminya.
__ADS_1
" Oh ok sayang aku akan mencari mereka kamu jangan marah-marah kasihan anak kita yang ada di kandunganmu." Ucap Ricki mencoba menenangkan Mutia agar tidak banyak fikiran mengingat pesan dokter tadi jangan menambah beban fikiran Mutia, malah dirinya sendiri yang menambah beban mutia.