PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 44


__ADS_3

" Siapa sebenarnya Ricki? kenapa"  dia sekarang begitu misterius? apa ada rahasia yang dia sembunyikan dari aku ya? eh bodoh banget sih namanya rahasia ya aku gak tau lah yang terpenting sekarang ketemu dulu dengan anak-anak setelah itu aku akan mencari taunya." Gumam Mutia dalam hati sambil mengendong Rea berjalan naik ke dalam pesawat dengan tangan kirinya digandeng dengan Ricki.


" Sayang kenapa malah melamun?." Tanya Ricki yang melihat Mutia yang hanya diam saja dari tadi.


" Gak aku cuma kangen aja sama putra-putra kita jadi ngebayangi kalau kita ngumpul." Kilah Mutia cepat dengan terenyum.


Bandara Soekarno-Hatta


Disana sudah ada Sifa, Nino, putrinya Nindi dan tidak ketinggalan ketiga putranya.


" Mami." Panggil keduanya dan berhambur memeluk Mutia, tetapi tidak dengan Roy yang malah memeluk leher Sifa dengan erat ketika melihat kedua kakaknya memeluk orang yang baru dia lihat.


" Kami kangen sama mami." Ucap Rey.


" Iya mami juga kangen sama kalian bertiga." Ucap Mutia mengusap kepala Rey dan bergantian dengan Ray.


" Kalian gak kangen ni sama papi masa sama mami saja." Ucap Ricki memasang wajah cemberutnya.


" Kangen juga lah pi, papi sih lama datangnya." Ucap Rey.


" Iya maaf anak-anak ganteng papi, tapi kalian gak menyusahkan tante dan om kan?." Tanya Ricki walau bagaimana pun sia tidak enak karena sudah 2 bulan ini menyusahkan Sifa dan Nino dengan menitipkan ketika anaknya terlebih Roy yang masih balita menginggat Sifa dan Nino memiliki pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan.


" Aku sih enggak cuma Rey dan Roy aja pi, tapi aku bantuin jagain adik-adik kalau sudah pulang sekolah dan tugas-tugasku sudah selesai." Adu Ray yang tidak mau kalau dirinya dibilang merepotkan dan Ricki melihat ke arah Sifa dan Nino.


" Iya Ray itu anak yang pintar kalian beruntung memilikinya selain itu dia bisa membagi waktunya aku juga mau punya anak seperti itu." Ucap Sifa bangga.


" Nindi gak nakal ya bu jangan terus-terusan memujinya." Ucap Nindi yang tidsk terima Sifa yang memuji Ray terus.


" Iya putri ibu kan anak yang baik sudah begitu cantik." Ucap Sifa yang langsung memuji putrinya yang selalu cemburu dengan Ray, Nindi yang melihat Ray yang meliriknya dengan senyum sinis membuang mukanya ke sembarang arah dengan wajah cemberut.

__ADS_1


" Mami boleh Ray gendong adik Rea?." Tanya Ray yang melihat Rea ada digendongan Mutia.


" Nanti saja ya sayang kalau sudah sampai rumah kamu boleh main sepuasnya dengan adik sekarang biarkan adiknya tidur dulu biar gak rewel nantinya." Ucap Mutia yang melihat Rea tertidur karena setelah mengunjungi rumah kita Rea selalu saja rewel dan tidurnya selalu gelisah sehingga membuat Mutia meniupkan air yang sudah dia isi dengan doa yaitu Al-Fatihah, Al- Iklas, Al- Falaq, An-naas dan ayat kursi, lalu meminumkannya ke Rea serta mengusap seluruh tubuh Rea dengan air doa.


" Rey juga mau." Sahut Rey juga tidak mau kalah.


" Iya nanti Ray dan Rey boleh main kalau sudah sampai rumah." Jawab Mutia.


" Siap bos." Ucap Rey membuat yang lainnya mengelengkan kepalanya.


" Roy gak mau peluk mami." Ucap Mutia yang melihat Roy yang memeluk leher Sifa tadinya melihat ke arahnya dan pada saat Mutia melihatnya menjadi takut seakan-akan diabil orang asing.


" Adik kok takut sih sama mami?." Tanya Rey yang melihat Roy yang malah memeluk erat leher Sifa.


" Iya namanya juga adik kalian masih kecil mungkin dia sudah lupa sama mami dan papi karena kelamaan tinggalin kalian." Jelas Mutia yang tau sebab Roy takut kepadanya maklum yang menjaganya selama 2 bulan terakhir ini adalah Sifa sehingga membuatnya mengira kalau Sifalah ibunya.


" Tapi kan harusnya gak seperti itu Roy." Protes Rey tidak terima.


" Enak aja tante beli aja di toko biar Nindi punya adik." Jawab Rey polos.


" Ya kalau bisa maunya begitu tidak perlu mengandung dan melahirkan tau-taunya sudah ada anak aja dan kalau bisa gak perlu dikasih makan." Ucap Sifa yang malah ngelantur.


" Mana ada yang seperti itu kalau kamu membeli anak jin juga harus di kasih makan dengan sesajian, apa lagi anak manusia kalau mau pelihara aku sarankan pelihara tuyul aja makanannya cukup kamu susui dia." Jawab Mutia sambil cekikikan.


" Sialan lu Mut ogah nyusuin anak aja sakit apa lagi nyusuin begituan yang ada lama-lama gue mat... emmm." Ucap Sifa terputus oleh bekapan Nino pada Mulutnya membuat Mutia menahan tawanya.


" Emm....." Sifa berusaha melepaskan bekapan tangan Nino dari mulutnya, tapi tidak bisa.


" Aku lepasin kalau kamu gak lagiberbicara kasar lagi, ingat disini banyak anak-anak jangan mengajarkan mereka mengunakan kata-kata yang kasar." Bisik Nino menatap tajam Sifa dia tidak mau memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak yang nantinya akan ditiru Sifa melototkan matanya menatap Mutia yang menahan tawanya, lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Hehehe iya sayangku maaf keceplosan." Ucap Sifa dengan membentuk tangannya membentuk V dengan memaksakan tersenyum.


" Kamu juga sayang jangan iseng." Peringat Ricki yang melihat Mutia tersenyum.


" Aduh aduh hidungku sakit tau kalau nantinya hidungku panjang kayak pinokio karena terus kamu tarik bagaimana." Rintih Mutia yang hidungnya ditarik oleh Ricki.


" Tinggal dipotong susah banget." Ucap Ricki simple.


" Oh gitu ya kalau adikmu dipotong mau." Ucap Mutia dengan sebelah sudut bibirnya ke atas sambil menatap Ricki.


" Kok jadi bawa-bawa adikku apa salahnya?." Tanya Ricki sambil mengerutkan keningnya.


" Karena dia panjang." Jawab Mutia, lalu berjalan meninggalkan Ricki.


" Papi punya adik kok aku gak tau? emangnya panjangnya semana? kenalin dong pi jangan disembunyiin." Tanya Rey, Ray pun penasaran dan memilih menjadi pendengar yang setia tanpa mengeluarkan suara emasnya yang begitu mahal karena disampingnya itu sudah ada juru bicara yang handal bagaikan wartawan.


" Uhuk... uhuk...." Ricki yang mendengarnya tersedak ludahya sendiri.


" Astaga kenapa aku punya anak yang pengen tau semuanya tidak seperti kakaknya, kamu sudah kenalan bahkan dia yang sudah membuatmu hingga ada di dunia ini bahkan dulu dia sering ditengokkin." Gerutu Ricki dalam hati memejamkan matanya dan memilih tidak menjawabnya lebih memilih berjalan menyusul Mutia.


Di dalam mobil


" Ric bagaimana ceritanya itu orang bisa ada di Samarinda?." Tanya Nino penasaran.


" Dia memata-matain istriku yang cantik dan menganggap dia bisa merebutnya dariku karena aku tidak ada di sampingnya." Ucap Ricki menahan kekesalannya karena dia beberapa hari ini tidak ada di samping istrinya ada aja yang ingin mengodanya, apa lagi kalau dia lama gak bisa dia bayangkan.


" Ceritai dong kok kalian bisa lolos dari kejaran tu orang." Ucap Nino.


" Ya bisalah kan aku punya otak dianya aja yang gak punya." Ucap Ricki membangakan dirinya dan sebenarnya malas untuk bercerita apa lagi itu menyangkut mantan suami sang istri.

__ADS_1


" Kalau dia gak punya otak gak mungkin dia jadi dokter." Ucap Nino bingung.


__ADS_2