PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 50


__ADS_3

" Berarti kamu sudah memaafkan tante sayang?." Tanya tante Sarah dan Mutia tersenyum.


" Iya tante lagian gak ada gunanya menyimpan dendam yang ada hidup kita tidak tenang ingin membalas juga kita akan sama, jadi kita hanya mendapatkan dose dengan memutuskan tali persaudaraan dan itu sangat dilarang. Kita sudah dewasa bahkan sudah tua tidak baik menyimpan dendam dan nantinya melibatkan anak-anak ikut membenci, jadi mari kita perbaiki diri kita agar lebih baik lagi ke depannya tidak ada dendam yang ada kebahagian." Jawab Mutia agar masalah yang sudah berlarut ini cepat selesai hingga bunda dan mamahnya tenang dialam sana dan tidak khawatir lagi dengan anak-anaknya, lalu dia melihat wajah papahnya dan bergantian wajah tante Sarah.


" Dan untuk papah jangan mengulang kesalahan yang sama dengan menyakiti hati orang yang tulus menyayangi dan mencintai papah kare semua itu mungkin saja nantinya tidak papah dapatkan lagi." Ucap Mutia melihat ada yang tidak beres dari sepasang suami istri dihadapannya itu, mendengar ucapan Mutia air mata yang coba di tahan oleh tante Sarah akhirnya terjatuh.


" Hiks hiks.... hiks maafkan tante sayang hiks.... maafin tante hiks.... " Ucap tante Sara lalu berlutut dihadap Mutia.


" Sudah tante jangan begini aku sudah memaafkan tante." Ucap Mutia yang tidak enak tante Sarah berlutut dihadapannya membangunkannya, tapi tante Sarah tidak mau.


" Tapi aku yang tante lakukan kepada ibunya tidak bisa di maafkan tan te tan te." Ucap tante Sarah membuat Mutia mengenyit keningnya bingung dan jantungnya mulai dag dig dug.


" Apa tante Sarah akan membahas soal anak bunda yang telah dia bunuh secara tidak sengaja." Gumam Mutia dalam hati sebenarnya sudah tau semua yang dialami bundanya di rumah kita.

__ADS_1


" Udah tante lupakan yang sudah lalu sekarang kita buka lembaran baru." Ucap Mutia yang tidak mau lagi menambah masalah.


" Sebelum itu... tante akan memberitahu rahasia yang telah tante sembunyikan berpuluh tahun ini terserah kamu mau memaafkan tante atau tidak yang penting tante sudah memberitahu kalian kalau tante yang telah membuat ibumu keguguran dan pada akhirnya anak tantelah yang menjadi pengantinya mungkin ini adalah karma." Ucap tante Sarah mengakui apa yang telah dia lakukan.


Deg.


Mutia dan papah Zainal terkejut mendengarnya, tapi tidak dengan Ricki yang sudah tau semuanya dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya dan tanpa dia duga kalau tante Sarah mengakuinya membuatnya tersenyum karena tante Sarah berani mengambil resiko sibenci oleh suami dan anak-anaknya, Mutia memejamkam matanya mendengar kenyataan yang terlontar dari mulut tante Sarah sedangkan papah Zainal langsung menamparnya.


" Plakk.... " Tamparan keras mendarat dipipi mulus tante Sarah dan membuat merah pipi itu dengan tercetak jelas 5 jari dipipi.


" Kamu memang perempuan yang gak tau diuntung dan gak tau diri tega sekali kamu tega melakukan itu kepada Fatma padahal Fatma sudah lama pengen banget punya anak seharusnya kamu bersyukur Fatma adalah perempuan yang lemah lembut sehingga kita tidak di permalukan dengan pernikahan diam-diam kita bahkan kalau dia dan keluarganya tidak terima bisa saja melaporkan dengan atasanku dan akibatnya aku bisa dipecat di kepolisian jika sampai itu terjadi." Ucap papah Zainal dengan menatap tajam tanteĀ  Sarah yang tidak berani menatap papah sedangkan Mutia terus menenangkan papahnya meskipun hatinya juga sakit mendengar bundanya disakiti semasa hidupnya yang bisa dia lakukan hanyalah berusaha tenang.


" Maafin mama pah dulu mama hanya berfikir untuk memiliki papah seutuhnya dengan membuat Fatma tidak memiliki anak sehingga papah mempunyai alasan buat menceraikannya dan menikahiku secara sah." Ucap tante Sarah jujur walau bagaimana pun tidak ada seorang wanitapun yang mau di madu maupun menjadi madu.

__ADS_1


" Maafin papah nak papah gak tau kalau perempuan yang papah pilih ternyata setega itu seharusnya aku tidak memilihmu dari dulu dan mengabaikan istriku yang tulus." Ucap papah Zainal lalu terjatuh dengan air mata seta menarik rambutnya.


" Pah maafin mama." Ucap tante Sarah ingin menyentuh, tapi langsung ditepis kasar.


" Sudahlah pah aku sudah bilang kita akan memulainya dari awal, tidak baik menyimpan dendam. Apa lagi papah dan tante Sarah sudah tua perbaiki diri dan perbanyaklah ibadah jangan memikirkan lagi duniawi yang tidak ada habisnya, jika kita terus mengikuti nafsu kita sendiri yang akan hancur nantinya." Jelas Mutia panjang lebar memperingati dan menghela nafasnya berat dan dia berharap dengan berbicara seperti itu papah Zainal tidak memperpanjang masalah yang terpenting sekarang tante Sarah sudah mau mengakui kesalahannya dan memperbaikinya itu sudah cukup.


" Nak kamu sudah mengetahuinya?." Tanya papah Zainal heran melihat Mutia yang tidak terkejut dan marah malah biasa saja mendengarnya.


" Ya aku sudah tau semuanya dan aku mohon jangan diperpanjang lagi kasihan bunda terus dibawa-bawa lagian tante Sarah juga sudah mengakui kesalahannya dia juga sudah mendapatkan karmanya tidak bisa merawat anak yang dia lahirkan walaupun anak itu masih hidup, aku harap papah bisa berdamai dengan masa lalu dan memaafkan semua yang telah terjadi walau bagaimana pun semuanya tidak bisa di ulang kembali dan tidak ada gunanya menyesalinya sekarang." Jawab Mutia dengan menatap tante Sarah yang menundukkan wajahnya tidak berani menatapnya mungki dia malu, dia tau bagaimana kalau berada diposisi tante Sarah tidak direstui kedua orang tuanya hingga mereka bertemu kemba dengan status papah Zainal yang sudah menjadi suami orang. Ingin saling memiliki kembali, tapi ada perempuan yang sudah seutuhnya memiliki laki-lakinya sehingga mereka hanya bisa menikah siri dan berharap istri sahnya tidak memiliki anak sehingga dirinya bisa dinikahkan secara sah dan menceraikan istri sahnya dengan alasan tidak memiliki anak, tapi niat itu tidak terwujud karena dia mengetahui kalau istri sahnya tengah mengandung hingga membuatnya nekat menggugurkan kandungan madunya.


Mutia yang melihat papah Zainal yang enggan dan malah tetap berdiam diri membuka suaranya lagi.


" Ayolah pah aku tidak mau ini semua terus berlarut-laruh bahkan sampai nanti ajal menjemput kita masih menyimpan dendam, aku mau kita mulai dari awal kembali lupakan dendam dan kebencian yang ada di dalam hati apakah papah gak mau melihat anak-anak dan cucu-cucu papah berkumpul dan hidup bahagia atau papah akan membawanya hingga ajal menjemput." Ucap Mutia masih terus membujuk dengan memasang wajah sedih melihat papahnya yang masih terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan setelah beberapa menit terdengar hembusan nafas yang dibuang kasar.

__ADS_1


" Baiklah kita mulai dari awal lagi dan papah gak menyangka putri kecil papah ini sudah dewasa aja bahkan sekarang sudah memberikan papah 4 orang cucu yang ganting-ganteng dan cantik, papah malu banget seharusnya papah mengajarkan kalian hal yang baik ini malah papah sebagai orang tua mencontohkan tidak baik dan papah bersyukur mempunyai putri yang mau memaafkan dan mengingatkan papah diusia papah yang sudah tua ini." Ucap papah Zainal malu karena dia yang sudah tua diingatkan dan dibujuk oleh putrinya seharusnya dia yang melakukannya bukan putrinya, tapi dia bersyukur disaat dia lupa masih ada putrinya yang mengingatkannya itu membuktikan kalau anaknya itu menyayanginya, Ricki mengengam tangan Mutia dan tersenyum dia bersyukur istrinya itu mau bertemu dan memaafkan orang tuanya karena dia tau sebenarnya tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya walau orang tua bersikap kejam itu meraka lakukan pasti ada alasannya.


__ADS_2