
" Siapa lagi ini? kenapa banyak sekali orang yang mengenaliku sedangkan aku tidak mengenal mereka?." Gumam Mutia dalam hati bingung.
" Mutia sayang ini benar kamu, aku sangat merindukanmu." Ucap seorang laki-laki yang mendatangi Mutia dan langsung memeluknya.
" Lepasin aku." Ucap Mutia terkejut akan yang di lakukan laki-laki itu dia memberontak.
" Plak." Mutia menampar orang yang telah berani memeluknya, sehingga menjadi pusat perhatian orang.
" Siapa kamu berani banget memelukku." Ucap Mutia dengan wajah yang sudah merah padam.
" Aku suamimu Nando." Ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Nando.
" Hahaha suami? jangan mengaku-ngaku kamu, oh atau kamu sedang tidur sambil berjalan sehingga tidak mengenali orang? kenapa banyak sekali hari ini orang yang mengaku-ngaku mengenalku disini? lucu sekali atau kah ini kejutan yang diberikan oleh papah dan keluarga barunyanya itu." Ucap Mutia dengan tersenyum sinis menatap Nando sedangkan Nando bingung kenapa Mutia seolah-olah tidak mengenalinya.
" Mutia tolong maafkan aku jangan berpura-pura tidak mengenaliku, ini sangat menyakitkan. Apa tidak cukup 10 tahun kamu pergi menghilang tanpa jejak? aku bahkan tidak tau bagaimana keadaan anakku yang berada dikandunganmu." Ucap Nando dengan wajah sedihnya
" Apakah dia mantan suamiku dari anak yang aku kandung dulu? bagaimana bisa dia tidak mengetahui keadaanku? bukan kah kalau dia benaran suamiku dia akan berusaha mencari terlebih pada saat itu aku sedang mengandung anaknya?." Gumam Mutia dalam hati mencoba untuk mengingat.
" Aakh." Mutia meringkis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit saat mencoba mengingat karena dia memang mengetahui kalau dia memang mengalami amesia disebagian ingatannya.
" Jangan mendekat." Ucap Mutia dengan memundurkan langkahnya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
" Mut." Ucap Nando terpotong.
" Sayang kamu sudah datang papa kangen banget sama kamu." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang langsung memeluk tubuh Mutia ya orang itu adalah Zainal Arifin ayah kandung Mutia.
Deg
" Papa?." Ucap beberapa orang terkejut orang-orang itu adalah keluarga Nando.
__ADS_1
" Mas dia." Ucap seorang perempuan paruh baya yang berada disebelah papa Mutia yang tidak lain adalah istri dari Zainal yang bernama Sarah.
" Iya dia putriku bersama dengan Fatmah."Jawab papah Zainal.
" Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang dia ternyata anak dari suamiku dan perempuan yang telah aku lukai hatinya, apa lagi kalau sampai mas Zainal tau apa yang telah keluargaku lakukan kepada putrinya 10 tahun yang lalu Ya Allah tolong selamatkan rumah tanggaku anak-anakku baru berkumpul dan merasakan kasih sayang papanya setelah mereka dewasa, apakah ini karma yang engkau berikan kepadaku karena telah merebut suami orang dan membuat putrinya membenci papahnya sendiri? aku memang egois demi obsesi dan cintaku kepadanya aku sampai mengorbankan banyak orang termaksud anak-anakku, tapi aku mohon maafkan aku biarkan aku saja yang menerima karma itu jangan membuat anak-anakku kembali bersedih." Gumam Sarah dalam hati menyesali perbuatannya dimasa lalu dan tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
" Sayang." Panggil papa Zainal saat merasakan anak perempuan yang berada dipelukkannya ingin terjatuh dan dengan sigap Nando menopangnya sebelum Mutia jatuh ke lantai Nando langsung ingin membawa Mutia ke kamar tamu, tapi ditahan.
" Nando bawa Mutia ke kamarnya jangan ke kamar tamu." Ucap papa Zainal .
" Iya om." Ucap Nando mengikuti langkah kaki papa Mutia menuju kamar yang memang sudah dia sediakan khusus buat putri kesayangannya.
Di tempat yang sama beda ruangan
" Dek bagaimana ini perempuan itu ternyata anaknya Zainal? kalau dia bilang macam-macam bagaimana?." Tanya Mama Nando yang ternyata adalah kakak dari istri papanya Mutia.
" Aku gak tau mbak harus bagaimana sekarang mas Zainah pasti akan marah dengan kita." Ucap sarah ketakutan mondar-mandir di dalam kamar.
" Iya semoga saja dia tidak mengingat kita." Ucap Sarah.
" Siapa yang tidak mengingat?." Tanya seseorang.
Deg
" Nicko kamu ada di sini sayang? mama merindukanmu." Tanya Sarah pada anak pertamanya dengan tidak memperlihatkan rasa gugupnya dan mengalihkan pembicaraan dia ingin memeluk Nicko, tapi dengan cepat Nicko menghindar.
" Iya aku mau melihat adik perempuanku yang baru datang meskipun dia berbeda ibu, terus dimana adikku itu? ." Tanya Nicko dingin.
" A ada didalam kamarnya." Jawab Sarah.
__ADS_1
" Maksudnya kamar yang dja sediakan?.' Tanya Nicko.
" Iya." Jawab Sarah.
Jangan pernah menyakitinya seperti kalian menyakiti ibunya dan kalau itu terjadi aku sendiri yang akan maju." Ucap Nicko menatap tajam kedua perempuan paruh baya dan langsung pergi meninggalkan ke duanya di dalam kamar Sarah menghela nafasnya kasar.
Aaaaakhh." Teriak Sarah yang melihat anaknya berubah sejak beberapa tahun yang lalu.
Di dalam kamar yang berbeda
Bagaimana kondisi putriku dan calon cucuku Nando?." Tanya papah Mutia khawatir
Dia kelelahan dan banyak fikiran om kandungannya baik-baik saja biarkan dia istirahat dulu." Jawab Nando.
Alhamdulillah, terima kasih ya Nando untung ada kamu disini." Ucap papa Mutia langsung duduk disamping tempat tidur mengusap-usap rambut serta mencium pipi Mutia dengan mata yang berkaca-kaca.
Sayang maafin papah telah membuat keputusan yang tidak kamu sukai papa tau keputusan papa beberapa tahun yang lalu telah membuatmu sangat kecewa bahkan telah banyak melukai hatimu sehingga kamu membenci papah, papah memang bukanlah papa yang baik kalau papa tau semua akan berubah drastis seperti ini papah tidak akan mengambil keputusan seperti itu." Gumam papa Mutia dalam hati menyesal bagaimana tidak karena ambisi dan obsesinya dia kehilamgan anak-anaknya, bahkan setelah kejadian itu dia tidak pernah bertemu menikahi putri satu-satunya pun hanya lewat telvon dan tidak ada vidiocall. Zainal mengalihkan tatapannya dan dia menyadari kalau Nando masih berdiri di dalam kamar menatap Mutia dengan tatapan sendu.
Apakah Nando mengenali Mutia? tatapannya menyiratkan penyesalan dan terdapat cinta didalamnya, ah apa itu hanya perasaanku saja aku saja sudah mencari putriku kemana-mana, tapi tidak ketemu juga." Gumam Papah Zainal dalam hati masih memperhatikan Nando yang menatap putrinya.
Kenapa kamu berubah sayang? kenapa kamu tidak mengenaliku atau kah kamu terlalu membenciku sehingga kamu tidak ingin mengingatku lagi, maaf maafkan aku. Aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu sehingga aku takut mereka melukaimu dan calon anak kita, ternyata semua yang aku lakukan hanya sia-sia dia tetap mencelakaimu. Aku bahkan tidak tau apakah anakku berhasil kamu lahirkan ke dunia, seandainya aku lebih memilih bersama denganmu mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia bersama dengan anak kita sekarang. Sayang kamu selama ini pergi kemana aku sudah mencarimu bertahun-tahun, tapi kamu tidak juga ditemukan seolah kamu ditelan bumi dan sekarang kamu tiba-tiba datang dihadapanku dengan perut besarmu membuatku sangat terkejut dan terpukul ternyata kamu sudah memiliki pengantiku apakah secepat itu kamu melupakan cinta kita?. Pernikahan yang diinginkan kedua orang tuaku dengan calon yang mereka pilih membuatku tersiksa bertahun-tahun, bayangan-bayangan dirimu tidak pernah mau lepas dari fikiranku membuatku ingin mengakhiri hidupku." Gumam Nando dalam hati menatap sendu Mutia yang sedang berbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur.
Nando." Panggil papah Zainal, tapi Nando tidak juga menyahut sehingga papah menepuk bahunya.
Eh ada apa om?." Tanya Nando terkejut dan bingung tiba-tiba papah Zainal sudah ada di hadapannya.
Nando kamu itu kenapa dipanggil malah melamun?." Tanya papa Zainal.
Oh tidak om aku cuma kasihan dengannya hamil besar, tapi suaminya tidak ada di sampimgnya." Jawab Nando gelagapan takut ketahuan dia melamuni Mutia.
__ADS_1
Nando jangan bermain api kalau kamu tidak mau terbakar sendiri nantinya sepertiku." Ucap papah Zainal mengingatkan.