
" Mati aku salah bicara maksudku kan biar aku bisa berkomunikasi dengan mereka." Gumam Mutia dalam hati mengigit bibir bawahnya dan memilih untuk menunggu Ricki.
" Mba pergilah semoga hidupmu bahagia " dengan keluarga kecilmu dan jangan lupa pesan orang tuamu."
" Iya mbok saya juga akan selalu berdoa semoga mbok dipertemukan oleh orang yang bisa membawa mbok ke alam yang sebenarnya dan sesekali saya juga akan selalu datang kesini, terima kasih mbok telah menjaga rumah ini atau mbok mau ikut bersama saya." Uca Mutia sedih, jika harus berpisah.
" Maaf mbak saya gak bisa meninggalkan rumah ini, lagian nenek mbak gak akan menerima saya dia asti cemburu." Ucap mbok Ratih menolak dia menatap penjaga dari Mutia yang memang berasal dari keturunannya yang biasa dipanggil Mutia ina wai, dulu pada saat Mutia masih kecil dia memang bisa melihat, tapi penglihatannya ditutup karena Mutia kecil suka membuka rahasia orang yang seharusnya tidak dia beritahu membuat kedua orang tuanya khawatir. Dengan ditutupnya mata batinnya tidak membuat semua yang ada didalam dirinya hilang seperti dia yang sensitif, jika berdekan dengan orang memiliki aura tidak baik.Bahkan Mutia sering bermimpi hal-hal yang sama berulang kali kalau mimpi itu belum bisa dia dipecahkan, tapi hal itu selalu Mutia acuhkan karena dia gak mau berurusan dengan hal-hal seperti itu bahkan dia menyembunyikannya dari semua termaksud kedua orang tuanya dia tidak mau mereka khawatir. Hingga pada saat koma mata batinnya terbuka kembali, tapi hal itu tidak membuatnya takut karena dia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu hanya saja dia risih selalu didatangi oleh sosok-sook yang meminta pertolongannya.
Setelah berbincamg dengan mbok Ratih Mutia baru melihat Ricki berjalan ke arahnya dengan menenteng 2 tas besar, Mutia mengerutkan keningnya bingung.
" Aku kan dari tadi bicara sama mbok Ratih, tapi mbok Ratih baru pergi dia baru datang masa ambil tas saja lama banget dan kenapa ekspresi wajahnya begitu bikin penasaran aja? emangnyaada apa dengannya." Gumam Mutia dalam hati menatap wajah Ricki yang terlihat aneh, Mutia mengedikkan bahunya memilih untuk diam dan berjalan melewati tembok yang tergeser dimana ada got yang baunya terasa menyengat di indra penciumannya terus berjalan melewatinya dengan mengendong Rea tanpa melihat kebelakang dimana Ricki yang kesusahan membawa 2 tas besar ditambah dengan tubuh besarnya seperti orang terhimpit menahan tawanya sambil melihat ke kaca kecil di tangannya.
" Hahaha.... dia yang selalu memamerkan tubuh tinggi kekarnya sekarang terhimpit diantara tembok, gak tau aja dia walau aku mempunyai tubuh yang kecil ramping begini pasti muat aja jalan di tempat yang sempit seperti ini. Tapi jalan ini sudah terlalu sempit untuk pakai tidak seperti dulu rumah-rumah masih ada yang jarak antara rumah satu dengan rumah yang lainnya walaupun hanya setengah meter ngomong-ngomong dosa gak ya aku tertawakan suami." Gumam Mutia dalam hati yang sudah keluar dari gang sempit.
" Eh mbak kok bisa keluar dari sana? kan disitu bau? lagian jalan disitu juga buntu?." Tanya seorang bapak yang duduk bersama beberapa orang yang sebaya dengannya asik bermain catur terkejut melihat Mutia keluar dari gang yang sudah tidak dipakai lagi atau bisa dibilang gang buntu yang hanya dipakai untuk pembuangan air saja sekarang.
" Iya pak tadi saya fikir jalannya masih sama seperti 15 tahun yang lalu taunya saya salah jalan." Elak Mutia dengan memasang senyum terpaksa menanggapi keterkejutan bapak-bapak disana yang melihatnya.
__ADS_1
" Bapak-bapak juga kok pada nongkrong disini bukannya sebentar lagi magrib ya? apa bapak-bapak lagi halangan?."Tanya Mutia heran bukannya bapak-bapak yang ada dihadapannya ini bersiap-siap untuk ke mesjid malah asik nongkrong.
" Ada apa ini?." Tanya Ricki yang baru saja keluar dari gang kecil itu melihat Mutia yang berbicara dengan bapak-bapak.
" Eh masnya juga ada disana saya kirain cuma mbaknya saja." Ucap seorang bapak yang melihat Ricki keluar dari gang yang sama dengan Mutia sambil membawa tas.
" Iya pak, mana mungkin saya meninggalkan istri dan anak saya pergi tanpa diriku." Ucap Ricki ramah tidak lupa memberikan senyum.
" Maaf sebelumnya mbak dan mas ini habis dari mana? dan mencari siapa? kayaknya bukan berasal dari sini?." Tanya seorang bapak Mutia dan Ricki saling pandang memberikan kode dari mata mereka
" Kami sebenarnya sudah lama gak ke Samarinda karena suami saya bekerjanya gak tentu ditempatkan di daerah mana namanya juga kerja itu orang." Jelas Mutia meyakinkan agar tidak dicurigai dan dia tidak mau memberitahu dia tinggal dimana sebelumnya takut orang-orang Nando nantinya bertanya.
" Ck mengikuti suami kerja apa dia masih mengingat mantannya makanya dia bicara seperti itu." Gumam Ricki dalam hati tersenyum kecut, apa lagi mengingat mantan suami Mutia yang masih berharap walau dia sudah tau kalau Mutia sudah mempunyai anak membuatnya selalu curiga meski di berada di dekat Mutia.
" Ya memang dulu disini bisa dilewati, tapi jalan disini sudah ditutup setelah kejadian dirumah kita bla blak bla......" Jelas seorang bapak panjang lebar yang ternyata sudah lama tinggal disana karena orang disana ada sebagian yang sudah pindah Mutia mendengarkannya karena tidak sopan kalau memotong omongan orang dan ketika dia melihat ke bawah matanya melotoh.
" Deg." Sebuah kepala tepat berda disebelah kaki Ricki.
__ADS_1
" Itu kepala ngapain pakai ikut dibelakang Ricki segala sih, masa iya itu oleh-oleh dari rumah kita ck harus dibereskan ini." Gumam Mutia menghela nafasnya.
" Maaf bapak-bapak kita harus segera pergi tidak baik anak kecil terkena udara malam, apa lagi sebentar lagi mau magrib." Ucap Mutia agar cepat pergi dari tempat itu dan cepat membersihkan diri mereka agar tidak ada yang mereka bawa dari rumah kita.
" Oh iya mbak silahkan." Ucap bapak-bapak itu.
" Assalamu'alaikum." Ucap Mutia yang langsung memberi salam tidak lupa dia menarik tangan Ricki agar cepat-cepat menjauh.
" Walaikumsalam." Ucap bapak-bapak itu mengelengkan kepalanya melihat tingkat Mutia.
" Kenapa pakai tarik-tarik segala aku bisa jalan sendiri." ProtesĀ Ricki, tapi tidak melepaskan gengaman tangan Mutia.
" Suamiku sayangku cintaku ingatlah kita disini untuk menghindari Nando, jadi gak ada waktu untuk kita berlama-lama disini atau kamu mau aku dibawa dengannya gitu." Ucap Mutia yang mulai usil menjahili suaminya yang baru dia ketahui sebenarnya adalah orang yang paling cemburu dan dia yakin kalau selama ini Ricki bekerja dirumah itu karena takut ada laki-laki yang menghampirinya biarlah dirinya dikatakan pede
" Gak itu semua gak akan aku biarin, kamu istriku milikku gak akan ada laki-laki lain yang bisa merebutmu selama aku masih hidup kalaupun aku mati akan ku gentayangi." Ucap Ricki dengan raut wajah yang berubah merah langsung memeluk Mutia dengan tangannya yang masih memegang tas.
" Hahaha...." Tawa Mutia pecah membuat Rea yang berada di gendongannya terkejut dan menangis
__ADS_1
" Kenapa malah tertawa? emangnya ada yang lucu? lihat itu Rea sampai menanggis gara-gara tertawamu yang seperti kuntianak nanti malah Rea bingung membedakan mana maminya dan mana kuntilanaknya.." Ucap Ricki yang tau kalau dirinya dikerjain membuat mata Mutia melotot dan bibirnya cemberut mendengarnya sedangkan tangannya menimang Rea serta menepuk p*****nya agar tertidur kembali.