PERNIKAHAN MENDADAK

PERNIKAHAN MENDADAK
Episode 39


__ADS_3

" Iya beneran ya jangan lama-lama." Ucap Ricki setelah membuang nafsnya kasar.


" Iya bawel banget sih suamiku ini." Ucap Mutia dengan tersenyum lebar.


" Bukannya bawel suamimu ini perhatian, apa lagi kita disini lagi bersembunyi dari mantan suamimu itu." Ucap Ricki tidak terima dia mengendus kesel


" Iya ya suamiku yang ganteng ini tiada taranya aku ngerti aku pergi dulu ya sayang." Ucap Mutia mengakhiri dramanya dan mendekatkan wajahnya dengan Ricki dan dengan cepat Ricki langsung menjauh.


" Kamu itu kenapa sayang gak mau lagi dicium sama aku apa?." Tanya Mutia menatap tajam Ricki yang malah menjauhinya.


" Apa kamu gak ingat kalau aku sudah ambil wudhu entar batal lagi mendingan kamu pergi aja sekarang biar cepat pulangnya kalau jalan ingat suami dan anak yang menunggu di rumah." Jawab Ricki malas.


" Hehehe lupa yaudah cium Rea aja kalau papinya kiss  jarak jauh aja biar gak batal jangan lupa sholat assalamu'alaikum." Ucap Mutia yang malah cengegesan tanpa rasa bersalah.


" Walaikumsalam hati-hati jaga mata jaga hati." Ucap Ricki setengah berteriak yang hanya dibalas dengan lambaian tangan.


Setelah kepergian Mutia Ricki yang sudah menyelesaikan sholatnya duduk ditempat tidur dengan memegang laptopnya dan tidak berapa lama Rea terbangun dia tidak menanggis malah tertawa seperti ada yang mengajaknya bermain, Ricki menoleh ke arahnya dan tidak mendapati siapapun dimana Rea yang selalu melihat ke kiri.


" Hey sayang kenapa ketawa sendiri hmm? putri papi yang cantik ini lihatin apa sih ke sana papi disi loh? kok bulu kudukku jadi berdiri semua begini sih? gak mungkin kan sore begini ada setannya biasanya juga datangnya pas malam hari? Rea sayang jangan bikin papi takut nak, mami juga ini dimana lagi kenapa belum pulang juga? tapi tadi siang juga mamimu itu bicara sama perasaan papi gak melihat mbok Ratih atau siapapun yang membukakan pintu" Ucap Ricki bertanya-tanya karena dia merasa ada yang ganjal di dalam hatinya dan dia memilih mematikan laptopnya, lalu mengendong Rea dengan erat seakan takut kehilangan.


Di tempat lain


Mutia yang sedang berjalan-jalan bertemu dengan Rio yang sedang mengendarai motor spotnya.

__ADS_1


" Mutiara ya?." Tanya seorang laki-laki menghentikan motornya, Mutia memicingkan matanya karena melihat orang yang sangat dikenalinya tidak lain adalah satrio orang yang di tunggunya dari tadi.


" Iya masa kamu gak mengenali aku lagi si Yo jahat banget sih kamu." Ucap Mutia, lalu menepuk pundak dengan keras.


" Awww... sakit tau tiara. " Ringkis Satrio mengusap pundaknya yang ditepuk Mutia.


" Lagian sama teman sendiri pura-pura lipa." Ucap Mutia.


" Ya sorry, tapi gue bukan lupa takut aja salah orang lagian kamu juga menghilang tanpa kabar dan nomor hpmu juga tidak bisa dihubungi baikan ditelan bumi eh tiba-tiba lu nongol aja didepan mata sekarang." Ucap Satrio berkilah


" Sialan kamu fikir aku hantu apa." Umpat Mutia kesel.


" Eh btw kamu tinggal dimana sekarang?." Tanya Satrio mengalihkan pembicaraan.


" Untuk sementara aku tinggal dulu di rumah kita gak apa-apa kan." Jawab Mutia santai sedangkan orang yang berbicara dengannya mimik wajahnya mulai berubah.


" Gak memangnya kenapa? kamu tidak mengizinkan aku tinggal disana tadi juga mbok Ratna bilang kamu baru saja keluar pada saat aku baru nyampek gak taunya malah ketemu disini." Ucap Mutia yang bingung akan perubahan mimik wajah Satrio yang terdapat rasa takut.


" Mbok Ratna? kamu bertemu dengannya?." Tanya Satrio lagi.


" Iya pertanyaanmu itu aneh banget sih kamu kan yang memperkerjakannya di rumah kita, kenapa malah kamu yang terkejut? dan kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?." Tanya Mutia yang mulai merasa ada yang tidak beres.


" Ya memang aku yang memperkerjakan mbok Ratna, tapi mbok Ratna sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena dibunuh di rumah kita dan beberapa hati setelah meninggalnya mbok Ratih pada saat malam hari ada yang melihat arwahnya, meminta tolong dengan jeritan kesakitan. Jadi semenjak kejadian itu tidak ada di antara kita yang datang lagi ke rumah Kira, tapi anehnya setelah sekian lama tidak di huni rumah kita tetap bersih kalau menurutku sih mbok Ratih yang membersihkannya karena mbok Ratih sama sepertiku cinta akan kebersihan." Jelas Satrio panjang lebar Mutia terdiam menyimaknya dan seakan di dalam dirinya ada yang menyuruhnya pulang dan memanggil dirinya.

__ADS_1


" Yaudah antar aku ke rumah kita sekarang." Ucap Mutia.


" Tapi aku takut Tia." Ucap Satrio gemetaran.


" Kamu itu jadi laki-laki gimana sih masa sama hal seperti ini aja takut yang harus kamu takuti itu manusia yang bisa membunuh dan menyakiti dari pada arwah yang tidak bisa melakukan apa-apa, lagian suami dan putriku yang masih bayi masih ada di rumah kita Yo, tolong antarin aku secepatnya aku ke sana Yo kayak tidak ingat Allah aja." Omel Mutia panjang lebar menatap Satrio kesel.


" Namanaya juga takut begini saja aku antarin kamu sampai luar dan aku akan mantau kamu kalau kamu tidak keluar juga aku akan minta bantuan bagaimana." Ucap Satrio memberi saran bagaimana pun hari sudah mau menjelang malam membuatnya menjadi semakin takut, dimana dari kecil dia selalu ditakuti oleh hal-hal yang berbau mistis membuatnya selalu menghindarinya.


" Ya ya terserah yang penting kamu anterin aku." Ucap Mutia males yang terpenting sekarang dia harus sampai ke rumah kita dan benar saja Satrio menunggu diluar tidak ingin masuk Mutia tidak mempermasalahkannya.


Saat Mutia sudah masuk dia ke dalam rumah kita dihadapannya langsung ada mbok Ratna dengan wajah pucatnya dengan darah dibagian leher yang hampir putus dan perutnya.


" Mbok." Ucap Mutia yang merasa iba akan kondisi perempuan paruh baya.


" Mbak Mutia kamu sudah tau siapa saya sebenarnya." Ucap mbok Ratih.


" Iya mbok, aku tau mbok pernah menjadi pembantu di rumah saya pada saat saya masih kecil. Maaf kalau saya baru menyadarinya dan saya perihatin dengan keadaan mbok." Ucap Mutia yang masih berdiri dibelakang pintu.


" Apa saya boleh meminta bantuan mbak?." Tanyanya.


" Bantuan apa mbok?." Tanya Mutia sedikit ragu.


" Saya bekerja disini untuk anak, menantu dan cucu saya yang membutuhkan uang, mereka masih menunggu saya datang membawa uang itu sedangkan saya sudah." Ucap mbok Ratih dengan raut sedihnya, tapi dia sudah mengubah dirinya kebentuk biasaanya tanpa ada darah.

__ADS_1


" Saya mengerti apa yang mbok rasakan, tapi apakah mereka masih tinggal ditempat yang sama terlebih ini sudah 5 tahun dan mereka tega sekali menyuruh orang tuanya untuk mencari uang untuk mereka." Ucap Mutia mengingatkan, dimana 5 tahun adalah waktu yang sangat lama dan tidak menutup kemungkinan keluarganya sudah pindah.


" Namanya juga orang tua mbak pengen banget membahagiakan anaknya walau nyawa menjadi taruhannya seperti banda dan mamanya mbak peganglah tangan mbok." Ucap mbok Ratih membuat Mutia meneteskan air matanya dan ketika mbok Ratih mengulurkan tangannya Mutia langsung memegangnya ( dalam bentuk batin)


__ADS_2