
" Dan aku mohon kepadamu Sifa tolong uruskan perceraianku secepatnya dan hak asuh anakku." Ucap Mutia dengan wajah yang sudah kusam dengan air mata yang terus membasahi wajah cantik sahabatnya.
" Anak?." Tanyanya terkejut dan tidak habis fikir dengan sahabatnya itu dia memilih berpisah disaat sedang mengandung dan apakah kisah sahabatnya itu akan terulang kembali kepada anaknya yang membedakan anaknya tidak mendapatka kasih sayang ayahnya dari bayi sedangkan sahabatnya disaat dia sudah besar dan mengerti atau pada saat hari wisudanya.
" Mut apa tidak bisa dibicarakan baik-baik terlebih dahulu, suamimu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang kamu alami dan mungkin dia tidak tau apa yang terjadi sebelumnya. Jangan mengambil tindakan pada saat emosi yang akan membuat kamu menyesal nantinya, disini yang bersalah 2 orang sedangkan anak-anak mereka juga disini menjadi korban dari kedua orang yang menginginkan cinta mereka kembali seperti dulu." Ucap Sifa bijak, dia merasa sahabatnya perlu menenangkan pikirannya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang menyangkut hidupnya serta hidup anak yang didalam kandungannya.
" Tapi." Ucap Mutia langsung dipotong.
" Pikirkan juga anak yang ada di dalam kandunganmu dia memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya, disini kamu jangan egois." Ucap Sifa langsung meninggalkan sahabatnya yang masih keras kepala tetap menginginkan perpisahan yang membuat dirinya sendiri sakit, walau Mutia tidak membertahunya soal perasaannya Sifa tau kalau sahabatnya itu sangat mencintai laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu dia dapat melihat dari buah cinta yang ada di dalam rahim sahabatnya itu.
3 hari kemudian
" Mut itu anak dari salah satu jenderal akan menikah, wah ternyata anak dari jendral Ronald ganteng juga. Apa lagi dia seorang dokter dan calon istrinya juga cantik mereka sangat cocok, oh namanya Muhammad Nando." Ucap Sifa yang menonton televisi sambil memasukkan kripik ke dalam mulutnya berdecak kagum akan ketampanan orang yang sedang dia lihat, Mutia melihat ke arah televisi terkejut dia membeku ditempatnya dan tidak berapa lama dia mulai mengeluarkan suaranya.
" Rupanya keluarganya beneran akan menikahkan dia dengan perempuan itu, orang kaya mah bebas status masih suami orang sudah disebar menjdi calon suami perempuan lain. Ini yang kamu bilang bicarakan baik-baik yang ada aku malah dibilang pelakor lagi sama masyarakat diluar sana, menyedihkan sekali jadi aku tidak dianggap bahkan mungkin kelahiranku dulu menjadi penghambat kebahagiaan orang lain." Ucap Mutia dengan tersenyum sinis menertawakan dirinya sendiri sedangkan Sifa yang masih asik dengan memasukan kripik ke dalam mulutnya tersedak mendengarnya dan dia tidak suka dengan ucapan sahabatnya itu.
" Jadi laki-laki ini suamimu?." Tanya Sifa memastikan dan Mutia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Ih kalau kayak gitu aku juga gak mau ngapain punya wajah tampan, tapi tidak mempunyai pendirian dijodohkan dengan orang tuannya saja langsung mau ya walaupun ada ancamannya. Tapi kebahagiaan kita yang kita yang rasakan sendiri bukan orang tua kita kalau mereka suka ya suruh aja suaminya menikahi perempuan itu dan kamu Mutiara Arifin aku gak suka ya kamu bicara seperti itu, lagian kamu masih mempunyai aku, kakak, 2 adik dan calon anakmu lebih baik kamu istirahat sekarang aku juga sebentar lagi harus ke kantor." Jelas Sifa panjang lebar dia menjadi kesel dan geram ketika melihat serta mendengar langsung, apa lagi di televisi yang pastinya sekarang banyak orang yang mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu calon istri dari perempuan lain. Mutia yang mendengarnya mengelengkan kepalanya tidak habis fikir tadi dia memujinya dan setelah tau semuanya dia malah yang kesel sendiri, akhirnya Mutia pergi meninggalkan sahabatnya yang masih mengerutu tidak jelas yang akan membuatnya menjadi semakin pusing dibuatnya.
" Kamu tenang aja aku akan membantu mengurus perceraianmu, aku tidak ingin kamu terluka lagi untuk ke sekian kalinya." Ucap Sifa dengan mengebu-gebu karena dia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.
Ditempat kerjanya Sifa menghubungi pacarnya yang bekerja dipengadilan.
" Assalamu'alaikum sayang." Ucap Sifa terdengar ketus saat telvonnya tersambung.
" Walaikumsalam ada apa sayang tumben telvon pada saat jam kerja? dan kayaknya kamu sedang kesel? apa kamu lagi kesel denganku karena beberapa hati tidak menelvonmu?." Tanya Nino pacarnya disebrang telvon khawatir pacarnya marah kepadanya.
" Iya, aku lagi kesel dan aku tidak marah denganmu aku marah dengan suami yang tidak bisa tegas dengan keluarganya sendiri dan meninggalkan istrinya yang sedang mengandung. Kalau aku jadi istrinya aku kebiri tu laki-laki, baru ku ceraikan biarkan saja tu laki-laki nikah sama perempuan pilihan orang tuanya." Ucap Sifa dengan kesel sedangkan pacarnya yang mendengar menelan ludahnya kasar sebenarnya dia bingung pacarnya itu kenapa dan dia dapat menyimpulkan kalau laki-laki yang dia sebutkan sudah beristri dan dijodohkan lagi dengan orang tuanya dengan perempuan lain.
" Maaf sayang aku terlalu terbawa emosi, sayang aku mau minta tolong sama kamu untuk membantu sahabatku dia ingin bercerai dengan suaminya apakah kamu bisa membantunya?." Tanya Sifa setelah meminta maaf karena dia telah meluapkan kekesalannya kepada pacarnya, dia jadi tidak enak ditambah dia meminta tolong lagi.
" Sahabatmu? maksudnya Mutia? dia ada di sini bukannya ada di luar negeri? dan tadi kamu mengatakan dia ingin bercerai, memangnya kapan dia menikahnya kok kamu gak kasih tau aku sih?." Tanya Nino bingung karena Sifa hanya mempunyai seorang sahabat dan itupun berada diluar negeri setelah apa yang ditimpanya 3 tahun yang lalu, Nino mengenal Mutia yang pada saat mereka kkn ditempat yang sama. Tetapi beda kampus walaupun jurusan mereka sama sahabarnya itu memutuskan untuk bekerja diluar negeri sekaligus menenangkan fikirannya, walau berat melepaskan mereka juga tidak mau egois.
" Iya memang siapa lagi? tapi entar aku jelaskan kamu bisa kan membantunya?." Tanya Sifa dengan memutar bola matanya lama-lama pacarnya ini jadi telmi juga.
__ADS_1
" Ya aku akan membantunya, tapi nanti malam kita ketemuan kamu harus jelaskan ada apa sebenarnya." Ucap Nino dengan rasa penasarannya.
" Siap pak panitra." Ucap Sifa sambil terkekeh.
" Oh ya sayang nanti kalau kamu ketemu dengan Mutia jangan membahas tentang perceraiannya aku tidak mau dia akan semakin terpuruk nantinya." Ucap Sifa mengingatkan.
" Iya aku mengerti, ya sudah aku kerja dulu assalamu'alaukum." Ucap Nando mematikan telvonnya secara sepihak karena dia tidak enak menelvon disaat jam kerja.
Di tempat lain
Mutia duduk ditaman kecil belakang rumah Sifa dengan mengelus perutnya yang masih rata.
" Sayang maafkan mama yang tidak mau memperjuangkan papamu, ini semua mama lakukan untuk melindungimu karena mama tidak mau kamu merasakan apa yang mama rasakan dulu tidak dianggap ada." Ucap Mutia.
" Walau ini tidak ada sangkut pautnya dengan papamu, tapi mereka adalah keluarganya yang suatu saat papamu akan terpengaruh juga dengan bujuk rayuannya. Maafkan mama yang tidak bisa memberikanmu keluarga yang utuh, tapi mama berjanji akan menjadi mama sekaligus papa untukmu." lanjut Mutia.
----------
__ADS_1
Maaf judul akan saya ganti menjadi Pernikahan Mendadak