
" Ray jangan kebiasaan main kabur-kabur terlebih kamu tinggal di rumah orang pasti pak Handoko dan istrinya sibuk mencari kalian dan kamu juga Rey jangan meniru kakakmu." Peringat Ricki kepada anaknya yang sifatnya tidak jauh darinya.
" Papi jangan marah-marah bukannya kakak itu cuma ikuti papi." Ucap Rey yang membela diri karena dia pernah mendengar ucapan papi dan maminya kalau dulu waktu kecil papinya paling suka banget kabur dari rumah dan baru pulang kalau sudah menjelang malam.
" Ck marahin anak gak koreksi dulu sifatnya namanya kan buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya lagian sudah tau anaknya suka main kaburan juga malah dititipin ke orang." Ucap Sifa berdecak kesel mendengar perdebatan bapak dan anak di depannya.
" Terus kalian datang tadi naik apa?." Tanya Sifa penasaran.
" Mobillah emangnya apa lagi." Jawab Rey.
" Memangnya ada mobil yang mau bawa kalian selain penculik." Ucap Sifa heran dipikirannya jaman sekarang tidak ada orang yang mau mengantarkan anak kecil terlebih tidak ada imbalan yang akan dia dapatkan.
" Enak aja tante doain kami diculik, kakak itu yang pesankan mobilnya." Ucap Rey kesel dengan memanyunkan bibirnya.
" Hah pesan lewat apa?." Tanya Sifa sambil menatap Rey dan Ray bergantian sedangkan Ricki sibuk dengan laptopnya mengerjakan pesanan orang.
" Mana aku tau tanya aja sama kakak." Ucap Rey memotar bola matanya malas.
" Aplikasi dan bayarnya lewat debit." Jawab Ray dingin tanpa menoleh ke arah Sifa dia masih fokus ke arah perut Mutia yang tidak lagi buncit.
" Oh, anak sultan." Ucap Sifa sambil melirik Ricki yang selalu memanjakan keduanya dengan barang-barang yang seharusnya belum dipegang anak seusia mereka.
" Kalau kita mampu ya kita beliin buat apa juga harta kalau bukan untuk menyenangi anak istri, selain itu mereka juga bisa membagi waktu antara belajar dan main." Ucap Ricki membanggakan dirinya dan tersenyum sinis ke Sifa.
__ADS_1
" Ck mentang-mentang kerjaannya cuman di rumah paling sekali-sekali aja diluar kasihan banget kita yang kerja dari pagi sampai sore di kantor gajinya cuma dikit hihihi." Desis Sifa kesel mendengar Ricki yang membanggakan dirinya sendiri.
" Kan dulu dah ku tawarin kamunya aja yang gak mau." Ucap Ricki tidak terima pasalnya Ricki beberapa tahun yang lalu sudah mengajaknya, tetapi Sifanya yang gak mau.
" Gue cari aman man takut terciduk." Ucap Sifa bergindik ngeri kalau sampai ketahuan gak bisa dia bayangi dan mengalihkan pembicaraan.
" Ray Rey kalian apa belum makan kan?." Tanya Sifa setelah melihat jam yang melingkar manis di tangan kanannya menunjukan jam setengah 1 dan dia berniat untuk memesan makanan.
" Belum tante laper ni." Jawab Rey lirih yang tadinya sudah ingin tertidur langsung membuka matanya lebar saat ada yang menawarinya makanan karena sebenarnya perutnya ini sudah lapar, tapi takut.
" Mau makan apa hm? kenapa tidak bilang dari tadi kalau lapar?." Tanya Sifa heran biasanya Rey akan langsung beterus terang memintanya, tapi kenapa sekarang dia rela menahan laparnya. Sifa mengikuti arah Rey menatap Ricki dan Ray yang seolah-olah tidak melihat keberadaan Rey membuat Sifa geram melihatnya.
" Apa saja yang penting kenyang." Jawab Rey yang memang dia belum mengetahui ada makanan apa saja di negara itu.
" Aku samain aja dengan Rey." Jawab Ray malas jangankan makan melihat kondisi maminya yang belum sadarkan diri saja membuatnya malas melakukan apapun selain selalu ada disisi maminya.
" Aku mau ini ini ini dan ini." Ucap Ray yang bersemangat menunjuk gambar makanan yang akan dipesan Sifa.
" Yakin makanan sebanyak ini bakalan abis?." Tanya Sifa yang meembelalakan matanya tidak percaya kalau anak sekecil Rey akan memesan makanan sebanyak ini dan dia berfikir seberapa besar perut Rey untuk menampung semua makanan ini.
" Ya kalau gak habis untuk nanti malam aja dari pada pesan-pesan terus cepetan tante pesannya Rey sudah laper ini." Ucap Rey dengan wajah memelas tidak lupa dia memegang perutnya dan sesekali dia mengusapnya membuat Sifa merasa iba melihatnya serta merutuki Ricki dan Ray.
" Ki kamu mau makan apa?." Tanya Sifa ketus.
__ADS_1
" Terserah." Jawab Ricki cuek.
" Angin." Jawab Sifa Ricki melototkan matanya sedangkan Rey cekikikan.
" Yakan tadi papi bilang terserah, jadi gak masalah dong kalau harus makan angin lagian emang ada nama makan terserah." Ucap Rey membela Sifa mengelengkan kepalanya mendingan dia saja yang memesannya dari pada harus capek-capek adu mulut yang menguras emosinya.
2 bulan kemudian
Mutia masih belum sadarkan diri sedangkan putri kecilnya sudah berangsur membaik Ray, Rey dan Roy dibawa ke Jakarta beberapa hati setelah kejadian itu walau keduanya berat meninggalkan kedua orang tuanya mereka juga harus kembali sekolah karena Ricki sudah memindahkan sekolah mereka berdua dengan sekolah yang sama dengan anaknya Sifa tentunya dengan campur tangan Sifa.
" Sayang sampai kapan kamu akan tidur terus seperti ini? kita semua merindukanmu, kembalilah sayang. Apa kamu gak ingin melihat putri kecil kita yang baru saja kamu lahirkan? bukan kah kamu sangat mengginginkan anak perempuan, tapi kenapa setelah Allah memberikannya kamu malah masih tidur? bagunlah sayang lihatlah putri kita sangat cantik seperti maminya, dia sangat merindukan maminya apakah kamu gak merindukan kita semua? Aku bahkan sudah memberikannya nama Rea Putri Wicaksono aku tidak tau apakah kamu menyukainya sayang?." Tanya Ricki dengan tangan satu mengendong putrinya sementara tangan satunya lagi memegang tangan kanan Mutia menundukkan kepalanya menanggis, dia tidak tau harus berbuat apa jika nanti Mutia tidak bangun lagi. Sampai lamunannya buyar saat merasakan tangan yang sedang dia digengam bergerak dan dia langsung melihat wajah Mutia dimana mata Mutia dengan perlahan mulai terbuka.
" Sayang terima kasih kamu sudah bangun." Ucap Ricki menciumi seuruh wajah Mutia mulai dari kening, kedua mata,pipi, hidung serta bibirnya tidak lupa dia memencet tombol untuk memanggil dokter agar dia bisa mengetahui kondisi istrinya lebih detail dan tidak berapa lama seorang dokter dibantu dengan 2 orang suster masuk ke ruangan perawatan.
" Dok bagaimana kondisi istri saya?." Tanya Ricki yang penasaran setelah dokter memeriksa kondisi Mutia walaupun Mutia sudah membuka matanya dia masih saja khawatir.
" Alhamdulilla kondisi bu Mutia sudah membaik, tapi masih memerlukan banyak istirahat terlebih bekas oprasi cessarnya yang masih belum mengering jangan biarkan bu Mutia bergerak terlalu banyak itu akan membuat luka bekas oprasinya bisa saja terbuka." Jelas dokter setelah itu tersenyum ramah dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini jadi dia sangat memaklumi keadaannya.
" Baik dok." Ucap Ricki sambil menganggukkan kepalanya
" Sayang apakah ini anak kita?." Tanya Mutia saat menyadari perutnya yang tidak lagi membuncit saat mendengar ucapan dokter dan dia melihat kalau Ricki sedang mengendong bayi.
__ADS_1
" Iya dia begitu cantik seperti maminya." Ucap Ricki dengan menatap Mutia lekat-lekat tangannya juka mengusap wajah Mutia sedangkan Mutia yang mendengarnya mengerutkan keningnya binggung bagaimana dia tidak binggung pas USG dokter mengatakan kalau anak mereka laki-laki lagi dan sekarang suaminya itu mengatakan kalau anaknya itu cantik bukan kah kata cantik menandakan kalau anaknya itu berjenis kelamin perempuan.