
" Dasar nyebelin bisanya ngadu." Ucap Rey kesel.
" Kamu juga nyebelin." Ucap Ray dengan tersenyum sinis membuat Rey menghentakkan kakinya lalu mendatangi papinya dan memeluk kalau sudah seperti ini mode manjanya sudah om.
" Roy adiknya di kasih susu dulu dan Roy juga kan harus minum susu kan ini sudah jamnya." Perintah Ray yang langsung diturutin oleh Roy
" Yoy au bobo sebelah dik." Ucap Roy dengan cadel.
" Yaudah kakak buka dulu kasurnya." Ucap Ray menurutinya agar Roy cepat meminum susunya dan cepat tertidur agar Rey dan Roy nantinya tidak membuat kegaduhan yang berimbas kepadanya.
__ADS_1
Sementara itu Mutia berbicara serius dengan papanya.
" Mutiara maafkan saya yang telah menghancurkan keluargamu." Ucap tante Sarah menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang menetes dia enggan untuk menunjukkannya karena rasa gengsinya yang begitu tinggi sedangkan papah Zainal tidak menghiraukannya dia menatap Mutia lekat dengan mata sendunya dan ketika Mutia ingin membuka suara untuk menanggapi ucapan tante Sarah papah Zainal terlebih dahulu membuka suaranya.
" Nak maafin papahmu ini yang sudah menghianatin kalian demi masa lalu dan papah lebih memilih masa lalu papah ketimbang bundamu yang jelas-jelasnya istri sah papah hingga akhir hayatnya, saking terlarutnya papah mengulangi lagi dengan menyakiti adik kandung dari istri papah sendiri padahal disini papah sendiri yang memaksanya untuk menikah dengan papah dan papah melakukannya untuk mewujudkan keinginanmu. Tapi papah di sini salah karena mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan hati papah sendiri sehingga papah menyakitinya dengan mengikatnya dengan tali pernikahan, tidak memperhatikannya bahkan papah mengabaikan anak-anak papah yang lainnya termaksud kamu demi menemani istri dan anak-anak papah yang lain." Jelas papah Zainal menyesali perbuatannya setelah dia di tinggal oleh Mutia putri semata wajangnya terlebih dulu dia selalu membeda-bedakan anak-anaknya dimana Mutia mendapatkan oleh-oleh dan uang jajan tambahan dari papahnya sedangkan yang lainnya tidak, tapi Mutia yang pernah mendengar salah satu adiknya berbicara dengan adik yang lainnya mengatakan kalau dirinya yang selalu papah sayang dan ingat sedangkan mereka tidak di anggap ada meski mereka berada di hadapannya Mutia yang sudah SMP pada saat itu merasa bersalah sehingga apapun yang papahnya berikan akan dia bagi dihadapan adik-adiknya tanpa membukanya terlebih dahulu itulah yang diajarkan oleh mama Jenny sehingga sampai sekarang Mutia selalu menerapkan apa yang telah diajarkan oleh mama Jenny.
" Papah tidak perlu minta maaf kepadaku karena papah selalu memberikanku kasih sayang itu, tapi harus meminta maaf kepada saudara-saudaraku yang telah papah abaikan keberadaannya. Aku sadar seharusnya aku gak ikut campur urusan papah dan aku sadar kalau hati tidak bisa di paksa, aku hanya kecewa karena papah gak jujur sama aku kalau papah sudah mempunyai calon ah ralat istri lain selain bunda sebelum papah menikahi mama Jennie hingga hal ini tidak membuat mama Jennie menderita selama pernikahan bahkan sampai meninggal pun dia masih tersiksa batinnya dengan cara papah sengaja menukar anak kandung mama Jennie hanya karena aku menginginkan seorang adik perempuan. Belum lagi papah dengan teganya memisahkan ibu dan anak karena anak dari bunda Fatma meninggal, apa papah tidak memikirkan bagaimana sakitnya perasaan seorang ibu yang harus berpisah dengan anaknya yang baru lahir ditambah papah memberikan anaknya kepada istri sah papah? memang dulu apa yang papah fikirkan sehingga bisa berfikiran seperti itu kepada bunda? aku yang sebagai anak saja merasakan betapa sakitnya, jika harus berpisah dengan orang tua apa lagi ini adalah ibu yang telah mengandung dan melahirkan." Jelas Mutia panjang lebar mencerahkan isi hatinya yang sudah lama dia pendam, papah Zainal menangis mendengarnya dan dia menyesali apa yang telah dia perbuat dengn menyakiti kedua perempuan yang sangat baik hingga akhir hayat mereka.
" Aku sudah katakan papah tidak perlu meminta maaf kepadaku karena disini tidak ada yang salah hanya situasi dan waktu yang tidak mendukung kalau mau mencari siapa yang bersalah disini kita semua termaksud aku karena semuanya diawali dengan permintaanku kepada papah sehingga membuat papah bingung harus memilih yang dimana disatu sisi aku sebagai putri meminta papah untuk menjadikan mama Jenny menjadi ibu sambungku karena wajahnya yang begitu mirip dngan bunda membuatku selalu memanggilnya bunda serta tidak ingin jauh dan disisi lain hati papah memilih tante Sarah perempuan yang papah cintai untuk menjadi istri papah setelah bunda meninggal, aku tau hati tidak bisa di paksa walau sekeras apapun kita memaksa yang ada malah banyak orang tersakiti hanya karena seseorang itu memaksakan diri untuk tetap bersama." Ucap Mutia panjang lebar, lalu berhenti untuk mengambil nafas sebentar.
" Jadi papah tidak perlu merasa bersalah karena kita sebagai anak kita tidak bisa egois sedangkan kita sendiri egois dengan tidak mau mengerti perasaan papan dan menyuruh papah mengerti perasaan kita sebagai anak tolong maafin kami pah yang tidak pernah peka akan perasaan papah." Ucap Mutia dengan mengingat apa yang telah dia lkukan itu tidaklah adil buat papahnya dengan membela salah satu pihak yang dia anggap orang yang paling tersakiti.
__ADS_1
" Terima kasih kamu sudah memaafkan papah, tapi bagaimana dengan saudara-saudaramu." Ucap papah Zainal mengingat keempat anaknya yang lainnya membencinya meski mereka tinggal di kota yang sama dan pada saat dia mendatanginya mereka berempat langsung menghindar bagaikan orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.
" Aku akan mencoba membujuk mereka semampuku dan aku gak bisa memaksakan mereka untuk memaafkan papah terlebih kak Fauzan yang syok belum bisa menerima kalau dia bukanlah anak dari bunda, mudah-mudahan mereka semua sudah memaafkan papah lagian ini sudah bertahun-tahun." Ucap Mutia yang belum tau kalau keempat saudaranya masih tidak mau bertemu dengan papah Zainal.
" Mereka masih marah terlebih anakku Fauzan selalu menolak untuk mengakui aku adalah ibu kandungnya dan dia merasa telah dibuang." Ucap tante Sarah dengan wajah sendunya Mutia menghela nafasnya berat.
" Kita coba lagi mendatanginya." Ucap Mutia yang memiliki sifat apa yang dia inginkan harus terwujud, jika dia menginginkannya seperti dulu saat dia masih berusia 4 tahun dia ingin bisa bersepeda seperti temannya yang sudah berusia 12 tahun sampai 15 tahun jadi dia berlatih seharian walau hujan sekalipun dan dia berhasil meski pada akhirnya dia jatuh sakit karena demam dan luka-luka akibat terjatuh.
" Percuma mereka tidak akan mau memaafkan." Ucap tante Sarah pesimis.
" Tidak ada yang percuma kalau kita mau berusaha keras, apa lagi ini adalah niat baik unuk mendapatkan maaf dari seseorang yang telah membenci kita itu memang sulit dan butuh banyak bersabar. Percayalah tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah berkehendak sekeras apapun hati manusia dia juga akan melunak kalau kita terus berusaha, percaya diri, selalu berdoa agar diperlancar jalannya dan tunjukkan kalau tante itu sudah berubah lebih baik dari sebelumnya." Jelas Mutia agar tante Sarah tidak pesimis karena meminta maaf kepada orang yang telah disakiti bukanlah hal yang mudah seperti kita menyakiti orang terlebih orang yang di sakiti adalah orang keras kepala dan meyakini kalau orang itu tidak akan pernah berubah..
__ADS_1