
Setelah Sifa menjelaskan semuanya hanya membutuhkan waktu 1 hari pacar dari Sifa yang bernama Nino mengurus surat perceraian Mutia dia mengirimkannya langsung ke rumah dr. Nando, dia sebagai laki-laki sangat menyayangkan kalau suami dari sahabat istrinya itu yang sudah dia anggap sahabatnya juga tidak bisa bersikap tegas dan malah membuat masalah baru.
Dengan senang hati dia membantu Mutia dia juga sudah mencatat jadwal persidangan dalam waktu dekat sehingga untuk mendapatka hasil tidak akan membuang waktu banyak.
" Assalamu'alaikum." Ucap dr. Nando saat memasuki rumah setelah dia melamar kerja ke rumah sakit dan ingin pergi karena dia malas membahas masalah pernikahan dan perceraiannya.
" Walaikumsalam mau pergi kemana kamu Nando?." Tanya papanya sarkas.
" Aku mau ke kamar." Jawab dr. Nando malas.
" Ini ada surat dari pengadilan, ternyata ucapan perempuan itu tidak main-main juga dan untuk anak yang dikandung olehnya biarkan saja perempuan itu yang mengurusnya karena papa gak sudi memiliki cucu dari keluarga gak jelas." Ucap papanya dengan nada sinis dan tersenyum puas.
" Iya lah pah mungkin dia juga sudah melihat anak kita diteletivi dan calon istrinya Mawar pilihan kita yang sebanding dengan keluarga kita." Ucap mamanya dengan arogan.
" Apa sekarang papa dan mama puas aku mengikuti kemauan kalian bercerai dari istriku." Ucap dr. Nando dengan menatap kedua orang tuanya tajam.
" Dan berpisah dengan calon anakku yang entah kami akan bertemu atau gak nantinya dan jika pun kami bertemu dia tidak akan mengenaliku sebagai papanya." Gumam dr. Nando langsung meninggalkan kedua orang tuanya.
" Dan ingat kamu harus mempersiapkan dirimu untuk pernikahanmu dengan Mawar." Teriak papanya sebelum dia benar-benar melihat dr. Nando menghilang dari hidupnya.
dr. Nando yang sudah masuk ke dalam kamarnya tidak kuasa lagi menahan air matanya hatinya sakit, apa lagi saat mengingat kenangan indahnya bersama Mutia pada saat mereka masih berada di desa.
" Kenapa harus jadi begini ya Allah aku kehilangan seluruh hidupku dalam sekejap." Teriak dr. Nando yang tidak bisa menerima kenyataan bahkan dia membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Hari persidangan
Mutia tidak datang hanya pengacaranya yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri Sifa yang terus menatap tajam dr. Nando dan Nino yang juga berada diruang sidang bukan dengan jabatannya sebagai panitra karena dia bertugas di pengadilan negeri bukan pengadilan agama yang dimana dia yang mencatatkan perceraian Mutia jadi dia akan memantau sejauh apa perkembangannya bahkan dia tidak segan-segan untuk menjatuhkan lawannya yang berbuat curang. Apa lagi seperti sekarang sidang berjalan dengan adanya hambatan dimana dari pihak dr. Nando tidak terima akan bukti yang di berikan Sifa sebagai pengacara menjukkan bukti'-bukti kalau dari pihak dr. Nando lah yang bersalah bahkan kesalahannya sangat fatal dimana keluarga dari pihak dr. Nando tidak menerima klaennya ditambah dengan pemberitaan dr. Nando adalah calon suami dari perempuan yang dimana dr. Nando dan klaennya masih berstatus sebagai pasangan suami istri yang sah secara agama dan hukum tidak terima atas pernyataan itu terlebih klaennya dalam keadaan mengandung. Sifa juga mengatakan bahwa klaennya tidak bisa hadir dikarenakan sakit akibat melihat dan mendengar berita dr. Nando ditelevisi setelah menyampaikan bukti-bukti yang akurat Sifa ingin melihat bagaimana reaksi dari wajah laki-laki pengecut yang menjadi suami dari sahabatnya itu. Sifa tersenyum sinis ketika melihat pucat dan terdapat kecemasan diwajahnya, setelah melihat dan mendengar semua bukti yang diberikan Sifa hakim berdiskusi sebentar dan memutuskan sidang akan dilanjutkan minggu depan setelah sidang selesai dr. Nando menghampiri Sifa.
" Permisi maaf menganggu saya ingin menanyakan klaen anda sakit apa dan dimana dia sekarang?." Tanya seseorang sopan, Sifa yang sedang membereskan berkas-berkasnya mendonggakan kepalanya terkejut karena suami dari sahabatnya itu akan menghampirinya.
" Ehem saya tidak tau." Jawab Sifa cuek dan ketus.
" Bagaimana anda tidak tau dia klaen anda." Ucap dr. Nando yang mulai emosi.
" Maaf pak Muhammad Nando yang terhormat saya memang pengacaranya, tapi saya juga bukan bodyguardnya yang mengikutinya kemanapun dia berada dan seharusnya anda yang mengetahuinya dia berada dimana. Bukan kah anda suaminya? oh mantan calon suami, kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan saya permisi dulu." Ucap Sifa ikut terpancing juga emosinya dan dia memilih meninggalkan dr. Nando dari pada dia nantinya akan kelepasan, sehingga membuat reputasinya sebagai pengacara hancur.
" Dia fikir semudah itu dia menanyakan keberadaan Mutia setelah dia menyakitinya, aku tidak akan membiarkan sahabatku bertemu denganmu lagi nikmati saja kesengsaraanmu." Gerutu Sifa dalam hati sambil menuju mobilnya.
" Astagfirrullahallazim kamu ngagetin aja sih sayang." Ucap Sifa kesel.
Maaf maaf." Ucap Nino dengan tersenyum pepsoden yang menampilkan gigi putihnya serta 2 jarinya dia angkat.
" Lagian aku penasaran ngapain dia datangin kamu?." Tanya Nino lagi.
Oh dia nanyain keadaan Mutia." Jawab Sifa.
" Terus kamu kasih tau?."
__ADS_1
" Ya enggak lah enak aja setelah membuat sahabatku terluka, lagian dari cara dia bicara itu nyebelin banger lagi." Ucap Sifa kesel.
" Sudah sudah jangan marah-marah nanti cantiknya hilang lagian aku juga gak suka sikapnya yang pengecut dan aku akan membuat perceraian Mutia secepatnya diresmikan." Ucap Nino dengan tersenyum menyerigai.
" Hah!! apa kamu akan mengunakan cara." Ucap Sifa yang tau betul sifat pacarnya itu.
" Iya, apa lagi tadi aku melihat keluarga dari suaminya begitu emosi dan aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi sama Mutia setelah apa yang pernah terjadi kepadanya." Ucap Nino tegas
" Iya aku mendukung, tapi aku harap kamu berhati-hati jangan sampai ketahuan apa lagi keluarganya juga memiliki koneksi dengan pejabat." Ucap Sifa memperingatkan dan Nino mengangguk.
Sidang kedua
Mutia tetap tidak datang dalam persidangan, tetapi persidangab tetap berjalan dengan lancar dengan hasil akhir bahwa dr. Nando dan Mutia dinyatakan resmi bercerai dengan diketuknya 3 kali palu yang menyatakan bahwa keputusan dinyatakan memiliki kuatan hukum tetap dan tidak bisa digugat oleh pihak manapun kecuali kedua pihak bersepakat untuk berdamai atau dalam arti tidak jadi bercerai dengan hak asuh jatuh ke tangan Mutia.
Sifa puas dengan hasil akhirnya dan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya sedangkan Mutia di dalam kamar merasakan cemas gelisah serta ketakutan yang entah apa arti dari semua itu.
" Ada apa denganku? aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini dan terakhir pada saat itu? ah lebih baik aku membeli rujak saja dari pada seperti ini terus." Ucap Mutia yang mondar mandir setelah itu dia keluar dari rumah kebetulan ada tukang rujak yang biasanya keliling.
" Nah itu dia." Ucap Mutia, lalu dia melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan kalau tidak ada kendaraan yang lewat setelah dipastikan aman Mutia menyebrang bertepatan dengan itu ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang.
" Mati kau." Ucap seseorang didalam mobil.
" Brak." Tubuh Mutia ditabrak dengan begitu kencang sehingga membuat tubuh Mutia terhempas lumayan jauh dengan darah yang mengalir dikepala dan kakinya, orang-orang yang melihat kejadian didepan matanya berteriak histeris terlebih Mutia yang tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1