
" Sial ini orang hampir saja membuatku jantungan kalau saja tidak dalam keadaan genting seperti ini sudahkutuntut dia." Gerutu Ricki dalam hati dengan matanya yang mengintai mobil yang membawa istri dananaknya.
Di dalam mobil
Mutia cekikikan melihat ekspresi Ricki yang menurutnya sangat lucu.
" Lucu banget sih ekspresinya suamiku itu kalau diajak akting kayak nahan sesuatuyang ada para pemainnya pada mau tertawa." Ucap Mutia sambil tertawa lepas.
" Durhaka kamu sama suami, awas saja kalau ini sudah selesai aku hukum." Ucap Ricki yang terdengar lirih disertai dengan suara angin.
" Hahahaha siapa takut." Ucap Mutia yang malah menantang dan mengingat apa yang dikasih tau Ricki kemari yang dimana Ricki keluar dari rumah sakit untuk membelikan makanan ringan yang disuruh oleh Mutia malah tidak sengaja mendengar pembicaraan orang yang sangat dia kenali yaitu Nando masuk ke dalam sebuah ruangan bersama dengan beberapa orang, dia mendengar kalau Nando berniat untuk mencuik istrinya ketika sudah keluar dari rumah sakit membuatnya mengepalkan kedua tangannya dan dari situ mereka berdua mengatur siasat agar rencana Nando itu gagal.
" Buat apa kamu melakukan ini semua Nando disaat kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa? kenapa kamu tidak melakukan ini dari dulu untuk mempertahankan aku? apakah setelah kehilangan kamu baru mau memperjuangkan? itu semua hanya akan sia-sia, karena bagiku kamu sekarang hanyalah masa laluku yang tidak berarti apa-apa walau kamu berjuang sekeras apapun hati ini tidak akan bisa kamu miliki lagi. Maaf bila aku harus egois lagi, tapi aku tidak mau melakukan kesalahan lagi hanya karena tidak ingin menyakiti satu hati malah menyakiti banyak hati terlebih menyakiti suami yang aku cintai entah sejak kapan." Gumam Mutia dalam hati walau sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan dari Nando, tapi dia juga turut ikut adil dengan egonya yang begitu besar dan dia tidak bisa menerima kenyataan kalau Nando adalah keponakan dari perempuan yang telah merebut papanya dari mamanya.
" Setelah sampai ke Jakarta aku janji akan meluruskan semuanya aku tidak mau hidup selalu dibayangi oleh masa lalu dan mungkin kejadian yang menimpaku ini adalah teguran dari Allah agar aku tidak terus lari dalam masalah, terlebih aku sudah terlalu lama membenci papa. Aku tau itu memang hak papa untuk dia mendapatkan kebahagiaannya hidup dengan orang yang dia cintai dan juga mencintainya.." Gumam Mutia dalam hati lagi setelah semalaman dia mrenungi dan mendapatkan keputusan untuk mengiklaskan semua yang telah terjadi dengan membuang semua rasa egois yang ada di dalam dirinya dan berdamai dengan masa lalu.
" Nona ." Tegur pak supir krtika melihat Mutia yang melamun supir itu tidak lain adalah anak buah dari Ricki membuat lamunan Mutia buyar.
" Eh iya pak, ada apa?." Tanya Mutia.
__ADS_1
" Sebentar lagi kita akan sampai ke klinik berhati-hatilah nona karena kita sekarang diikuti 2 buah mobil, saya dan yang lainnya akan berjaga-jaga diluar jika nantinya terjadi sesuatu." Ucap pak supir memperingati dan Mutia mengikuti arah mata supir benar saja ada 2 mobil yang berada dibelakang dekat dengannya.
" Iya pak, bapak juga berhati-hati." Ucap Mutia yang sudah bersiap-siap untuk turun dari mobil dan supir memberhentikan Mutia di sebuah klinik, Mutia keluar dengan berjalan cepat dan langsung masuk dikerumunan orang. Tidak berapa lama Ricki juga sudah sampai dia juga masuk dengan berjalan cepat tanpa menoleh kebelakang dimana pak ojol masih melihatnya, Ricki memperhatikan sekitar mencari keberadaan Mutia sampai tangannya ditarik oleh seseorang dan dibawa ke sebuah ruangan disana sudah ada Mutia yang sudah berganti baju dan melihat Rea yang sedang diganti bajunya oleh Mutia.
" Apa rencana selanjutnya Mut?." Tanya laki-laki itu.
" Mut Mut gak enak banget dipanggilnya panggil aja aku Tia Hamid." Ucap Mutia kesel.
" Hehehe namanya juga sudah kebiasaan kan lucu kalau aku panggilnya Mut dari pada Tia sudah banyak yang pakai nama itu." Ucap Hamid yang malah terkekeh membuat istrinya Siska dan Ricki mengelengkan kepalanya.
" Sudah sudah kalian ini kalau ketemu pasti langsung kelahi kalau gak ketemu lebay bilang kangen." Ucap Siska menatap keduanya malas.
" Kami akan pergi ke jalan Swandi untuk bersembunyi terlebih dahulu disitu kamu sudah tau kan siapa yang akan aku datangin? yaudah pergi gih suamiku mau ganti baju lagian kalau kamu lama disini entar yang diluar curiga lagi, eh Mid lupa pinjam kunci motor." Jawab Mutia dengan tangan mengusir setelah itu menghentikan langkah Hamid yang ingin keluar dengan menyodorkan tangannya meminta kunci motor tanpa rasa bersalah.
" Kamu itu ya Mut dari dulu masih ngeselin untung teman kalau gak mana mau aku tolongin, cepatan ganti bajunya nanti mereka keburu datang lagi." Ucap Hamid mengelengkan kepalanya melihat sifat Mutia yang masih sama seperti dulu saat mereka kuliah.
" Untung kamu punya suami yang sabar, pendiam dan suka kamu tindas dasar istri durhakan." Ucap Hamid yang memancing kesel Mutia lagi.
" Sialan lu Mid." Ucap Mutia langsung mulutnya dibekap oleh Ricki.
__ADS_1
" Terima kasih ya mas kami malah merepotkan dan maafkan sifatnya yang gak sopan." Ucap Ricki tidak enak, apa lagi melihat sifat Mutia yang santai.
" Santai aja bro kita memang sudah terbiasa seperti itu, ini sih masih biasa malah kalau kita sudah kumpul parah banget entar kalau ada reunian datang ya kita bakar rumah." Ucap Hamid santai menepuk pudak Ricki.
" Gila sih Mutia dapat suami kalem banget dan kayaknya penurut bisa disuruh ini itu beruntung banget dia." Gumam Hamid dalam hati dan juga merasa kasihan dengan Ricki.
15 menit kemudian
Mutia dan Ricki sudah sampai di jalan Swandi dan berganti dengan motor yang lainnya sedangkan motor yang tadi dipakai oleh Mutia dan Ricki dibawa olh laki-laki dan perempuan yang membawa bayi juga, mereka melanjutkan perjalanan 10 menit dan berhenti disebuah rumah sederhana dimana dia dulu pernah tinggal atau bisa dibilang rumah hasil dari iyuran dirinya bersama beberapa teman kuliahnya yang diperuntukan untuk pertemuan mereka.
" Ini rumah siapa?." Tanya Ricki mengenyit keningnya setelah memakirkan motor dia melihat keadaan sekelilingnya yang sepi.
" Rumah kita." Jawab Mutia dan mulai memencet bel.
" Rumah kita?. emangnya kapan kita beli rumah di kalimantan?." Tanya Ricki bingung Mutia menepuk keningnya.
" Iya nama rumah ini rumah kita karena uang untuk membeli rumah ini dari beberapa orang dan kita semua sepakat menamai rumah ini dengan rumah kita dan rumah ini yang mengetahuinya hanya kita-kita saja yang punya uang, selain itu kita membeli rumah ini dengan tujuan untuk pertemuan serta beberapa dari kita ada yang tinggal disini secara bergantian." Jelas Mutia panjang lebar.
" Hebat ya kalian masih kuliah sudah membeli rumah dan memiliki ide untuk membelinya bersama-sama, apa kalian tidak takut ditipu oleh salah satu dari teman-teman kalian." Ucap Ricki yang tidak habis fikir.
__ADS_1